<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812</id><updated>2012-02-23T11:32:10.509-08:00</updated><category term='hidayah'/><category term='akhwat'/><category term='Download'/><category term='pergaulan'/><category term='teroris'/><category term='ulama'/><category term='takfir'/><category term='Al-Qur&apos;an'/><category term='ikhlas'/><category term='Kisah Kesabaran'/><category term='Syaikh Utsaimin'/><category term='kisah nyata'/><category term='ujub'/><category term='bantahan'/><category term='surga'/><category term='Dakwah'/><category term='riya&apos;'/><category term='iman'/><category term='akhlaq'/><category term='takdir'/><category term='istiqomah'/><category term='poligami'/><category term='Qona&apos;ah'/><category term='manhaj'/><category term='akidah'/><category term='Kemudahan Islam. fiqh'/><category term='Wudhu&apos;'/><category term='kayy'/><category term='ruqiyah'/><category term='cerimin hati'/><category term='penguasa'/><category term='aqidah'/><category term='hak persaudaraan'/><category term='Mahrom'/><category term='istri sholihah'/><category term='Murji&apos;ah'/><category term='Sholat Tasbih'/><category term='kesehatan'/><category term='Dialog'/><category term='sabar'/><category term='sya&apos;ir'/><category term='futur'/><category term='hakikat salafy'/><category term='Nasihat'/><category term='Tokoh Islam'/><category term='Tauhid'/><category term='Tanya Jawab'/><category term='Kitab Tauhid 1'/><category term='Keutamaan'/><category term='Rumah Tangga'/><category term='Sholat Malam'/><category term='Nasihat Ulama'/><category term='adab'/><category term='ghibah'/><category term='Celaan'/><category term='Penyucian Jiwa'/><title type='text'>An-Nashiihah</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://elilmu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>84</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-5739407130607806006</id><published>2011-06-27T11:20:00.000-07:00</published><updated>2011-06-27T11:20:07.619-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hakikat salafy'/><title type='text'>HAKIKAT SALAFỈ SEJATI</title><content type='html'>Sebuah Pengantar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang mengaku-ngaku sebagai “Salafî” atau “Ahlus Sunnah”. Namun, sayangnya pengakuan mereka ini hanyalah sekedar pengakuan belaka tanpa diiringi dengan bukti dan hujjah atas klaim mereka. Apalagi sebagian mereka masih jâhil terhadap hakikat dan sifat salafî sejati, namun dengan bangganya sebagian mereka ini mengaku sebagai satu-satunya salafî dan selainnya adalah mubtadi’ (ahli bid’ah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh fenomena ini adalah fenomena yang banyak dan tampak di depan mata. Sebagian kaum yang mengaku-ngaku salafî itu, bersikap keras dan bengis terhadap saudara mereka se-Islâm. Mereka tidak mau menjawab salam apalagi memberi salam. Wajah mereka dingin dan tidak mudah senyum. Apabila berbicara, yang senantiasa keluar dari lisan mereka adalah, “Fulan dan Fulan seperti ini”, “Fulan dan Fulan melakukan ini” dan senantiasa berkisar terhadap Fulan dan Fulan… tanpa mengingkari perlunya membicarakan tentang perseorangan yang memang diperlukan saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah penjelasan Fadhîlatusy Syaikh Zaid bin Muĥammad bin Hâdi al-Madkholî, yang saya sarikan dari buku beliau yang sangat bermanfaat, “Quthūf min Nu’ūtis Salaf wa Mumayyizât Manhajuhum fî Abwâbil ‘Ilmi wal ‘Amal” [Dârul Manhaj, cet. I, 1424]. Buku ini walaupun tipis namun sarat akan faidah dan manfaat. Di dalamnya beliau menjelaskan hakikat salafî dan manhaj mereka yang khas di dalam ilmu dan amal. Di dalam buku ini, beliau terangkan hakikat manhaj salaf yang sebenarnya, yang semoga orang yang antipati dengan manhaj salaf menjadi simpati, dan orang yang mengaku-ngaku sebagai salafî namun amal dan ilmunya tidak mencerminkannya mau berkaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, semoga apa yang saya tulis ini dapat bermanfaat, baik untuk diri saya pribadi maupun untuk ummat Islâm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat Salaf dan Sifat Mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Salaf : mereka adalah para sahabat Rasŭlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam yang hidup pada masa beliau, yang menimba agama yang lurus ini dari beliau secara langsung dari sumbernya yang segar, baik dalam keilmuan dan amal, maupun dalam akhlak dan perangai. Merekalah yang pantas untuk disandarkan laqob (julukan) yang agung dan sifat yang mulia ini, termasuk pula setiap orang yang meniti di dalam meneladani mereka –Semoga Allôh meridhai mereka dan menerangi makam mereka- walaupun mereka berada di zaman ini ataupun sebelumnya ataupun setelahnya sampai hari kiamat kelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas pemahaman yang benar inilah, kalimat ahli ilmu bersatu dan mereka menegaskan bahwa siapa saja yang memusuhi mereka dengan cara menyelisihi mereka, baik dengan nama, bentuk maupun perbuatan, maka sesungguhnya orang tersebut tidaklah termasuk as-Salaf, walaupun mereka hidup di tengah-tengah mereka dan sezaman dengan hari-hari kehidupan mereka (baca : para sahabat). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar! Sesungguhnya setiap penuntut ilmu yang munshif (obyektif), akan menyaksikan bahwa as-Salaf ash-Shôlih dan para pengikut mereka yang mewarisi ilmu dari mereka dan meniti jalan mereka, sesungguhnya mereka adalah manusia yang paling berlimpah ilmunya, paling tulus/bersih jiwanya, paling agung nasehatnya dan paling terang jalan dan manhajnya di segala hal baik ‘ilmu dan ‘amal, karena mereka adalah para imam pemberi fatwa tentang segala urusan umat di setiap zaman dan tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah orang yang menjaga hak yang berkaitan dengan kehormatan, darah dan harta benda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah pemilik karya tulis yang lurus, yang dengannya maktabah-maktabah (perpustakaan) dan tempat peredaran ilmu bersinar berkilauan yang dapat menyembuhkan penyakit dan menghilangkan dahaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah para pendidik syar’îyyah dan pengajar ilmu yang bermanfaat lagi kokoh yang mensucikan jiwa dan menghidupkan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah para penegak jihad yang membawa kalimat jihad kepada makna sesuai dengan batasan syariat yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah ahlun nuhâ (orang-orang berakal) dan pemilik hikmah dan ihsân di dalam manhaj da’wah ilallôh, jihad fi sabîlillâh dan al-Amru bil Ma’rŭf wan Nahyu ‘anil Munkar, dengan kepemimpinan, dhawâbit (kriteria), batasan dan tingkatannya. Karena itulah, mereka tidaklah sama dengan selain mereka, dari jama’ah-jamaha’ah dan partai-partai yang mengelola dakwahnya baik secara sirrîyah (sembunyi-sembunyi) maupun ‘alanîyah (terang-terangan), yang menyelisihi salaf pada hampir keseluruhan dari qowâ’id (kaidah-kaidah) manhaj dakwah mereka, baik dalam wasilah dan tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya as-Salaf dan para pengikut mereka di setiap zaman dan tempat, di setiap masa, lokasi dan periode, mereka adalah pemilik manhaj yang haq, yang sempurna dan menyeluruh, baik dalam perbuatan maupun ilmu. Sesungguhnya dakwah mereka dimulai dari pokok agama yang haq dan kaidahnya yang kokoh, yang mencakup seluruh permasalahan ilmu baik perkara yang besar maupun kecil. Tidaklah heran bahwa keadaan mereka memang seperti ini, karena mereka adalah sumber keilmuan, sebab mereka adalah para ulama Robbânîyun, para Mujâhid yang sabar dan para du’at bijaksana yang lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka wajib bagi kita meniti âtsar mereka baik di dalam amal maupun ilmu, berjalan di atas manhaj mereka di dalam dakwah ilallâh dan jihâd fî sabîlillâh, di dalam amar ma’rūf dan nahi munkar, di dalam hukum al-Walâ` wal Barô`, dan di dalam mu’âmalah (interaksi) syar’îyah yang baik terhadap Allôh Azza wa Jalla dan terhadap semua makhluq. Kita wajib berpegang kepada semua ini dengan tali Allôh yang kokoh, yang tampak di dalam ittiba’ (peneladan) terhadap Kitab-Nya yang terang dan sunnahnya penghulu para Nabî dan Rasūl yang shaĥîĥ Shallâllâhu ‘alaihi wa ‘alâ Ậlihi wa Shoĥbihi Ajma’în.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh benar apa yang dikatakan oleh seorang penyair&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كل خير في اتباع من سلف وكل شر في ابتداع من خلف&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap kebaikan itu di dalam peneladan yang dilakukan oleh kaum salaf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setiap keburukan itu di dalam pengada-adaan bid’ah yang dilakukan kaum kholaf.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah wahai para pembaca budiman, sebagian kekhususan para ulama salaf dan ciri khas manhaj mereka secara ringkas :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. I’timâd (berpegangnya) mereka dengan nushush (nash-nash) al-Kitâb dan as-Sunnah dengan pemahaman yang shaĥîĥ, dan interaksi mereka terhadap nash-nash ini yang tercermin dalam kehidupan mereka, baik dalam amal dan ilmu, baik dalam perkataan dan perbuatan, secara zhahir dan bathin, sesuai batasan firman Allôh Azza wa Jalla :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah.” (QS al-Hasyr : 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Niat yang lurus dan tujuan yang baik terhadap semua hal yang mereka lakukan dan yang mereka tinggalkan. Disertai dengan kesabaran, ĥikmah dan al-Mau’izhah al-Ĥasanah (pelajaran/nasehat yang baik) yang dianggap merupakan asas utama di dalam menegakkan dakwah Islâm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Iltizâm (berpegang kuat) secara sempurna terhadap manhaj para Nabi dan Rasūl yang mulia di dalam dakwah mereka yang diridhai, berperangai dengan akhlaq mereka yang suci, yang terpancar dari kaidah-kaidah syar’iyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Jalan dan manhaj yang jelas di dalam aktivitas dakwah ilallâh dan amar ma’rūf nâhi munkar, tidak bersifat sirriyah (sembunyi-sembunyi) dan tidak pula mendirikan organisasi atau jama’ah-jama’ah rahasia sebagaimana yang dilakukan oleh kaum hizbîyūn harokîyūn di setiap negeri kaum muslimin. Namun as-Salaf, mereka menampakkan dakwah mereka secara terang-terangan di dalam dakwah ilallâh dan ta’lim (mengajarkan) hamba-hamba Allôh, mereka curahkan nasehat bagi ummat menurut keadaan dan kedudukannya, serta beramar ma’rūf nâhi munkar dalam batasan kemampuan syar’iyah dan menetapi adab-adab Islamiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mencintai sikap berlapang-lapang (at-Tawassu’) di dalam ilmu syar’iyah dan wasa`il (sarana-sarananya), dikarenakan Allôh dan Rasūl-Nya mencintai hal ini. Tidak sedikit ayat dan ĥadîts yang memuji dan menyanjung sifat ini. Oleh karena itu, tidak perlu kita menghiraukan tuduhan yang mengatakan bahwa salafîyun adalah penghafal matan dan catatan kaki [sebagaimana tuduhan DR. ’Abdullâh ’Azzâm –semoga Allô merahmati beliau dan mengampuni dosa kami dan beliau- di dalam Majalah al-Jihâd, no. 53 dalam artikel berjudul ”Jâ`al Haq wa Zahaqol Bâthil”, th. 1989]. Karena Allôh sendiri yang memuji sebagaimana dalam firman-Nya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Mujâdilah : 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Firman-Nya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Fâthir : 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga di dalam sabda Nabî Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَإِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Barangsiapa yang Allôh mengehendaki kebaikan pada seseorang, niscaya ia fahamkan ia di dalam agama, dan sesungguhnya ilmu itu adalah dengan belajar.” [Muttafaq ’alayhi].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabda beliau :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا العُلَمَاء ورَثَةُ الأَنْبِيَاءِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabî.” [HR Abū Dâwud, Tirmidzî dan Ibnu Ĥibbân].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. At-Tawâdhu’ (rendah hati) di dalam belajar dan menyebarkan ilmu, beradab yang baik terhadap makhluk, terutama terhadap para ulama karena mereka pemilik ilmu yang keutamaannya tinggi dan kedudukannya mulia, maka wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk beradab terhadap makhluk. Allôh Ta’âlâ berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS al-Furqân : 63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabda Nabî Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَ مَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلّهِ إَلا رَفَعَهُ اللهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah seseorang itu bersikap rendah hati karena Allôh melainkan Allôh akan angkat kedudukannya.” [HR Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh indah apa yang dikatakan oleh seorang penyair :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تواضع تكن كالبدر لاح لناظر على صفحات الماء وهو رفيع&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولا تك كالدخان يعلو بنفسه إلى طبقات الجو وهو وضيع&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tawâdhu’ (rendah hati) itu menjadikanmu laksana bulan bergemerlap bagi orang yang memandangnya di atas permukaan air sedangkan bulan itu tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah kamu bagai asap yang terbang melayang meninggikan dirinya di lapisan udara padahal asap itu hina/rendah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, perangai yang kaku keras lagi bengis, yang merasa tinggi hati lagi pembual, maka sesungguhnya sifat-sifat ini akan menghinakan seorang penuntut ilmu. Maka bersegera dan bersegeralah menuju kepada akhlaq yang mulia, dan jauhi da jauhilah akhlaq yang buruk lagi tercela! Di dalam sebuah hikmah dikatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;العلم حرب للمتعالي كالسيل حرب للمكان العالي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ilmu itu memerangi sikap tinggi hati sebagaimana banjir itu memerangi tempat yang tinggi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Menaruh perhatian di dalam meramaikan halaqoh ilmu terutama di pusat utamanya, yaitu Masjid sebagai tempat termulia dan paling dicintai oleh Allôh, dan di tempat-tempat lainnya seperti lembaga-lembaga pengajaran semisal sekolah-sekolah, atau bahkan di setiap tempat yang memungkinkan untuk menyebarkan ilmu dengan cara yang benar. Menurut salaf ilmu-ilmu yang patut difokuskan adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur`ânul Karîm dan kaidah-kaidah tajwîd bacaannya, untuk meluruskan lisân dan membenarkan bacaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsîr Al-Qur`ân beserta ilmu-ilmunya, yang dipilihkan dari buku-buku tafsîr salafîyah yang lurus, seperti Tafsîr Ibnu Jarîr, Ibnu Katsîr dan selainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu ‘Aqîdah dalam semua babnya, beserta tahqîq (penelitian) terhadap segala hal yang menafikan tauĥîd dan mengoyak kesempurnaan I’tiqâd. Buku-buku ‘aqîdah yang mu’tabar di dalam masalah ‘aqîdah adalah “Kitâbut Tauĥîd” karya Ibnu Khuzaimah, “Kitâbut Tauĥîd” karya Ibnu Mandah, “Kitâbus Sunnah” karya ‘Abdullâh bin Aĥmad, “Kitâbus Sunnah” karya al-Khollâl, “Ushulul I’tiqâd” karya al-Lâlikâ`î, “al-Ibânah” karya Ibnu Baththoh al-Ukbarî, karya-karya tulis Imâm Ibnu Taimîyah, Ibnu Qoyîm al-Jauzîyah dan buku-buku lainnya di dalam bidang ini, sebagai tambahan pula kitab-kitab tauhid yang termaktub di dalam kitab ash-Shiĥâh dan as-Sunan pada kitab-kitab ĥadîts. Termasuk pula buku-buku ‘aqîdah yang ada di hadapan kita di zaman ini, yaitu tulisan-tulisan dan fatâwâ di dalam masalah ‘aqidah oleh asy-Syaikh al-Imâm al-Mujaddid Muĥammad bin ‘Abdil Wahhâb, termasuk buku-buku karya putera-putera, keturunan dan murid-murid beliau dari kalangan ulama Najd ar-Robbâniyîn serta selain mereka, terutama yang patut disebut adalah penulis buku “Ma’ârijul Qabūl” dan “A’lâmus Sunnah al-Mansyūrah fî I’tiqâd ath-Thô`ifah al-Manshūrah”, seorang Allâmah di zamannya, Ĥâfizh bin Aĥmad bin ‘Alî al-Ĥakamî, asy-Syaikh yang mulia ‘Abdūl ‘Azîz bin Baz al-Atsarî, asy-Syaikh yang mulia Muĥammad Nâshiruddîn al-Albânî, asy-Syaikh yang mulia Muĥammad bin Shâliĥ al-‘Utsaimîn, asy-Syaikh yang terhormat Ĥammūd at-Tuwaijirî, asy-Syaikh yang terhormat Muĥammad Amân ‘Alî al-Jâmî –semoga Allôh merahmati mereka semua-. Juga asy-Syaikh yang terhormat Shâliĥ bin Fauzân bin ‘Abdillâh al-Fauzân, asy-Syaikh yang terhormat ‘Abdūl ‘Azîz al-Muĥammad as-Salmân, asy-Syaikh yang terhormat Rabî’ bin Ĥâdî al-Madkholî, asy-Syaikh yang terhormat Shâliĥ bin Sa’d as-Suĥaimî, asy-Syaikh yang terhormat ‘Alî bin Nâshir al-Faqîhî, asy-Syaikh yang terhormat ‘Ubaid al-Jâbirî, asy-Syaikh yang terhormat Muĥammad bin Ĥadî al-Madkholî, asy-Syaikh yang terhormat Mu­ĥammad bin Robî’ al-Madkholî, asy-Syaikh Aĥmad Yahyâ an-Najmî, asy-Syaikh Shâliĥ bin ‘Abdil ‘Azîz Ậlusy Syaikh dan selain mereka dari para ulama as-Salaf di zaman ini, semoga Allôh memperbanyak jumlah mereka dan menjadikan mereka dan ilmu mereka bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya. Mereka semua ini memiliki karya-karya tulis yang bermanfaat dan rekaman-rekaman ceramah yang membahas masalah ‘aqîdah as-Salafîyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ilmu al-Ĥadîts, yang dipetik darinya dan dari al-Qur`ân, fikih yang terperinci bagi rukun-rukun Islâm, Ỉmân, Iĥsân dan keterangan ĥalâl dan ĥarâm, dan perincian seluruh ĥukum yang Allôh bebankan kepada manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ilmu Farô`idh yang mana begitu butuhnya umat ini terhadap ilmu ini yang apabila mereka memahaminya, niscaya akan terpenuhilah hak-hak kepada para pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ilmu as-Sîrah an-Nabawîyah dan segala pelajaran yang terkandung di dalamnya. Inilah bidang-bidang ilmu syar’iyah mulai dari yang terpenting hingga yang ke penting, dan kesemuanya ini harus dipelajari menurut tingkatan dan kebutuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Bersikap ar-Rifq (ramah), ĥilm (lembut) dan ‘anât (tenang) kepada makhluk pada batasan syar’i. Kesemua sifat yang baik ini merupakan sifat yang harus dimiliki du’at yang berdakwah ke jalan Allôh. Banyak sekali ayat-ayat yang terang dan tegas dan ĥadîts-ĥadîts yang shaĥîĥ yang mendorong untuk bersifat dengan sifat-sifat yang mulia ini. Diantaranya adalah firman Allôh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS al-A’râf : 199)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firman-Nya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah Telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS Fushshilat : 34-35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Nabî kepada Asyaj ’Abdul Qays : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ فِيْكَ خُصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ, الحِلْمُ وَالأَنَةُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sesungguhnya engkau memiliki dua perangai yang dicintai Allôh, yaitu kelemahlembutan dan ketenangan.” [HR. Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabda beliau Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنّ اللهَ رَفِيْقُ يُحِبُّ الرِفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allôh itu Maha Lembut, dan mencintai kelemahlembutan pada segala hal.” [HR Muslim].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunguh indah apa yang dikatakan oleh seorang penyair :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أحب مكارم الأخلاق جهدي وأكره أن أعيب وأن أعاب&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأصفح عن سباب الناس حلما وشر الناس من يهوي السبابا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;و من هاب الرجال تهيبوه ومن حقر الرجال فلن يهاب&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku menyukai akhlaq yang mulia maka kutekuni dan kubenci mencela dan dicela orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpaling dari cercaan manusia dengan kelemahlembutan dan seburuk-buruk manusia itu adalah orang yang gemar mencerca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang memuliakan orang lain maka ia akan dimuliakan, dan barangsiapa yang merendahkan orang lain ia takkan dihormati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari nash-nash dan hikmah inilah, salafîyun menganggap sifat-sifat yang mulia ini –yaitu ar-Rifq, al-Ĥilm dan al-Anât- sebagai penopang dakwah mereka dan mereka pun berperangai dengannya. Oleh karena itulah Allôh menentukan kesukesan bagi dakwah mereka di setiap zaman dan tempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar” (QS al-Ĥadîd : 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Pemahaman yang benar dan penerapan yang syar’i terhadap hukum al-Walâ` wal Barô` bagi Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah, yang berangkat dari sabda Nabî Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَوْثَق عُرَى الإِيْمَان الحُبٌّ فِي اللهِ والبُغْضُ فِي اللهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tali iman yang terkuat adalah mencinta karena Allôh dan membenci karena Allôh” [HR Aĥmad].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam lafazh lain dikatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَوْثَق عُرَى الإِيْمَان المُوَلاَة فِي اللهِ وَالمُعَادَة فِي اللهِ الحُبٌّ فِي اللهِ والبُغْضُ فِي اللهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tali iman yang terkuat adalah berloyal dan berlepas diri karena Allôh serta mencinta dan membenci karena Allôh” [HR as-Suyūthî dalam al-Jâmi’ ash-Shaghîr dan diĥasankan oleh al-Albânî].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang semakna dengan kedua ĥadîts di atas, adalah ucapan Ibnu ’Abbâs radhiyallâhu ’anhu, seorang sahabat yang bergelar Turjumânul Qur`ân (penterjemah al-Qur`ân) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Barangsiapa yang mencinta, membenci dan berwala’ karena Allôh, maka ia akan mendapatkan wilâyah (kecintaan) dari Allôh yang tidak akan diperoleh oleh seorang hamba rasa iman ini walaupun ia banyak melakukan sholat dan puasa, sampai ia melakukan kesemua hal ini.” [Lihat Jâmi’ al-’Ulūm wal Ĥikam karya Ibnu Rojab al-Hanbalî hal. 30].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kurang lebih apa yang dapat disarikan dari ulasan Fadhîlatusy Syaikh Zaid al-Madkholî hafizhullâhu. Semoga apa yang beliau sampaikan bisa menjadi bahan bercermin bagi kita semua. Semoga Allôh memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, agar dapat menjadi seorang salafî sejati…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://abusalma.wordpress.com/2007/11/19/hakikat-salafi-sejati/"&gt;sumber&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-5739407130607806006?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/5739407130607806006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/5739407130607806006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/06/hakikat-salafi-sejati.html' title='HAKIKAT SALAFỈ SEJATI'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-508543365248823357</id><published>2011-06-04T15:59:00.001-07:00</published><updated>2012-02-23T11:32:10.757-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>LIDAH....PEDANG BERMATA DUA</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله الذي أكرم خواص عباده بالألفة في الدين، ووفقهم لإكرام عباده المخلصين، وزينهم بالأخلاق الكريمة والشيم الرضية، تأدباً بأفضل البشرية، وسيد الأمة محمد بن عبد الله بن عبد المطلب صلى الله عليه وسلم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidah itu memang lunak tidak bertulang, oleh karena itu orang yang tidak menguasai ilmu beladiri sekalipun bisa bersilat lidah. Lihatlah ..si fulan yang kemarin mengatakan ‘a’ hari ini berbalik mengatakan ‘b’. si fulan yang lain,&amp;nbsp; dusta ibarat gula-gula di lidahnya …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidah itu tajam laksana pedang bahkan ia adalah pedang bermata dua. Jika luka tersayat pedang tidaklah susah untuk diobati ..tetapi hati yang terluka ditikam kata-kata kemana kan dicarikan penawarnya? Entah berapa banyak persaudaraan terputus ditebas lidah dan tidak sedikit pula dua yang bersahabat jadi musuh bebuyutan karena tikaman lidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama ketika ditanya siapa muslim yang paling afdhol? Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallama menjawab, “Orang yang selamat kaum muslimin dari lisan dan tanganya”.[1]&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Lidah itu berbisa bagai lidah ular yang bercabang dua. Bahkan ia bisa lebih berbahaya dari pada bisa ular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidah juga bisa berobah menjadi binatang buas yang bahkan memangsa tuannya sendiri. Makanya mulutmu harimaumu …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ia Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia mendengar Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata, “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang dia tidak tahu apakah itu baik atau buruk,ternyata menggelincirkannya ke dalam neraka lebih jauh dari antara timur dan barat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Ketahuilah, bahwasanya seyogyanya bagi setiap mukallaf hendaklah ia menjaga lisannya dari seluruh ucapan kecuali ucapan yang ada maslahat padanya. Apabila berbicara atau diam sama maslahatnya, maka yang sesuai sunnah adalah memilih diam. Karena terkadang ucapan yang mubah dapat menyeret kepada yang haram atau makruh, bahkan galibnya inilah yang terjadi, dan keselamatan tidak ada yang bisa menyamai harganya”.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Termasuk baiknya islamnya seseorang meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya”.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jagalah lidahmu duhai saudara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sampai ia mematukmu, karena dia adalah ular yang bisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit orang yang terkubur dibunuh lidahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal para pemberani takut menghadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim, ketika dia hendak berbicara,&amp;nbsp; ia menimbang apakah berguna atau tidak? Jika tidak berguna dia memilih diam. Jika ternyata berguna dia menimbang lagi ..apakah jika dia diam manfaatnya lebih besar dari pada berbicara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Asy-Syafi’I berkata, “Jika seseorang berbicara hendaklah ia memikirkan sebelum mengucapkannya, jika nyata maslahatnya ia berbicara dan jika ia ragu, ia diam sampai jelas maslahatnya”.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga pernah menasehati sahabat yang juga muridnya, “Hai Robi’, janganlah kamu berbicara dalam perkara yang tidak berguna bagimu. Sesungguhnya jika engkau mengucapkan satu kata, ia akan menguasaimu dan engkau tidak bisa menguasainya”.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidah adalah duta hati, jika engkau ingin mengetahui hati seseorang, lihatlah apa yang biasa dia ucapkan. Sesungguhnya itu akan menyingkap apa yang dihatinya, suka atau tidak suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena lidah itu itu seperti kuali yang mendidih, lidah adalah sendoknya. Perhatikanlah ketika seseorang berbicara, sesungguhnya ia sedang menyendokkan isi hatinya kepadamu, dengan&amp;nbsp; beragam rasa, pahit, manis, asam, pedas dan lainnya. Sebagaimana engkau bisa merasakan masakan dalam kuali dengan lidah. Engkau juga bisa merasakan hati lawan bicaramu dengan gerak lidahnya ketika bertutur-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh mengherankan, seseorang bisa dengan mudah menjaga dirinya dari memakan yang haram, berbuat zalim, zina, mencuri, meminum khamar dan dari memandang yang haram, tetapi tidak bisa menahan gerak lidahnya yang lunak tidak bertulang. Bahkan seseorang yang zohirnya ta’at, berwibawa, sopan tetapi dia membiarkan lidahnya mengucapkan kalimat yang dianggapnya sepele padahal satu kalimat itu saja cukup untuk mencampakkannya ke dalam neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, di salah satu villa Malibuanai Padang Panjang, saya berkumpul bersama beberapa ikhwan yang sebagian besarnya masih awwam dalam hal agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu secara dadakan, mereka meminta kesediaan saya untuk memberikan sepatah dua kata naseha. Dalam rombongan itu ada seorang pria yang baru mulai belajar mendekatkan diri kepada Allah ..sisa-sisa kelalaian masih membekas diraut wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang yang tampak agak lebih tua, membuka majelis. Entah apa yang ada dalam benaknya ketika itu, dia berbicara menyindir salah seorang yang hadir – mungkin niatnya baik, ingin mengingatkan si fulan – ia berkata, “Nanti di hari kiamat, pak fulan masuk surga. Saya masih mencari-cari. Saya bertanya, ‘Pak&amp;nbsp; fulan, mana si fulan’[6]. Pak … menjawab di sebelah’. Saya lihat ke sebelah rupanya di neraka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang hadir gelak terbahak-bahak. Rasa sedih, kasihan, marah membuat saya bungkam menghimpun aksara dan petuah yang semoga berguna bagi diri saya dan yang hadir khususnya pembuka acara yang salah kaprah menghunus lidahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat hadits Nabi shollallahu ‘alahi wasallama yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jundub rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, ‘Seseorang berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak mengampuni si fulan’. Maka Allah berkata, “Siapa orang yang lancang mendahuluiku mengatakan bahwa Aku tidak mengampuni fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan Aku hapus amalanmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kalimat saja yang dianggapnya remeh menghapuskan amal-amalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilanglah sholat yang dulu dikerjakannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lenyaplah puasa yang dulu ditunaikannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirnalah zakat, qiyam dan amal kebajikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kelancangan lidahnya mendahului apa yang menjadi hak Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan orang yang dipandangnya rendah dan hina, yang dia kira masuk neraka. Malah diampuni Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu, para salafus sholeh sangat menjaga lidah mereka. Setiap saat mereka meng-hisab kalimat yang mereka ucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Buraidah berkata, “Aku melihat Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma memegang lidahnya lalu berkata, ‘Katakanlah yang baik engkau pasti beruntung. Atau diamlah dari keburukan engkau pasti selamat’. Maka ditanyakan kepadanya, ‘Kenapa engkau mengucapkan ini?’. Ia menjawab, “Aku dengar, bahwasanya seorang manusia tidak lebih menyesal dan marah kepada anggota tubuhnya selain dari pada lidahnya kecuali orang yang mengucapkan kata-kata yang baik atau menukilkan yang baik dengan lidahnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat Ibnu Mas’ud bersumpah dengan nama Allah yang tidak ada Ilah yang diibadati dengan hak melainkan Dia bahwa tidak ada dimuka bumi ini yang lebih patut untuk dipenjarakan dari pada lidahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yunus bin ‘Ubaid berkata, “Aku tidak melihat seseorang yang lidahnya terjaga melainkan aku melihatnya pula pada seluruh amalannya. Dan seorang yang rusak tutur katanya melainkan aku melihatnya tampak pada seluruh amalanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fudhoil bin ‘Iyadh berpetuah, “Barangsiapa yang menganggap perkataannya bagian dari amalnya, niscaya sedikit perkataannya pada sesuatu yang tidak bermanfaat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan anggota tubuh yang paling ringan adalah lidah, namun itu pula yang paling besar bahayanya bagi seorang manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hatim rahimahullah berkata, “Wajib bagi orang yang berakal agar berlaku adil kepada telinga dan mulutnya. Dia harus tahu, bahwa ia diberi dua telinga dan satu mulut adalah agar ia lebih banyak mendengar dari pada berbicara. Karena kalau dia berbicara bisa jadi dia akan menyesali dan apabila tidak berbicara dia tidak menyesal. Dan dia akan lebih mudah membantah apa yang tidak dia ucapkan dari pada membantah apa yang telah dia ucapkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, sebagian ulama tidak menerima hadits dari orang-orang yang berbicara atau mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak patut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah dikatakan kepada&amp;nbsp; Al-Hakam bin Utaibah, “Kenapa engkau tidak menulis hadits dari Zaadaan?”. Ia menjawab, “Dia banyak bicara”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidah dapat menyebabkan dua petaka besar, jika seseorang selamat dari yang satunya belum tentu selamat dari yang berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua petaka atau bencana itu adalah : petaka berbicara dan petaka diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang bungkam dan mendiamkan kebenaran adalah setan yang bisu, bermaksiat kepada Allah, bermuka dua dan menjilat , jika dia tidak mengkhawatirkan bahaya atas dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan orang yang mengucapkan perkataan yang batil adalah setan yang berbicara, bermaksiat kepada Allah dengan kata-kata yang ia ucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun orang-orang yang berjalan di atas jalan yang lurus – semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan mereka – berada di antara dua petaka tersebut. Mereka menahan lidah mereka dari perkataan yang batil dan melepaskannya untuk sesuatu yang mendatangkan manfaat kepada mereka di akhirat. Oleh karena itu, kita tidak adakan dapatkan salah seorang mereka melontarkan kata-kata yang tidak mendatangkan manfaat apalagi yang bisa membahayakan di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang mukmin sepatutnya memiliki tutur-kata yang santun, bersih dan terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Bukanlah seorang mukmin itu suka mencela, melaknat, berkata yang keji dan kotor”.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang hamba, bisa jadi di hari kiamat datang membawa kebaikan sebesar gunung, lalu dia dapatkan ternyatalidahnya telah memusnahkan semuanya. Atau sebaliknya, dia datang membawa kesalahan yang banyak ternyata lidahnya menghapusnya karena dia banyak berdzikir dan yang berkaitan dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama lalu berkata, “Hai Rasulullah nasehatilah aku’”. Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallama, “Jika engkau berdiri dalam sholatmu, maka sholatlah seolah-olah itu sholat terakhirmu. Dan janganlah engkau mengucapkan kalimat yang esok membuatmu menyesal dan bulatkanlah bersungguh-sungguhlah memutus harapan terhadap apa yang ada ditengan manusia”[8].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja setiap kita memegang tiga wasiat ini; sholat dengan khusyu’, menjaga lidah, dan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; menggantungkan harapan hanya kepada Allah, niscaya keberuntungan menyertai langkahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu ketika Uqbah bin Amir bertanya kepada Rasulullah, “Apa keselamatan itu?”. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama menjawab, “Tahanlah lidahmu dan jadikanlah rumahmu lapang bagimu, serta tangisilah kesalahanmu”[9].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah menjaga kita semua dari petaka lidah …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah menguatkan kita untuk menyuarakan kebenaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah menguatkan kita untuk menahan lidah dari kebatilan, amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Al-Adzkar Imam An-Nawawi (1/332).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (2318) dari Abu Hurairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Al-Adzkar oleh Imam An-Nawawi (1/332).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Al-Adzkar oleh Imam An-Nawawi (1/335).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Maksudnya menyindir&amp;nbsp; seseorang yang saya sebutkan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari di Adabul Mufrod, At-Tirmidzi, Al-Hakim dan lainnya. Dishohihkan Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi dan Al-Albani. (Ash-Shohihah 1/319 no. 320).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Diriwayatkan oleh Ahmad dan Baihaqi dan dishohihkan oleh Al-Albani (Shohih Al-Jami’ no. 742)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Diriwayatkan oleh Abdullah bin Al-Mubaarok dalam Az-Zuhud (no.134), Ahmad (5/259) dan At-Tirmidzi (2/65) (Ash-Shohihah 2/581).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://abuzubair.net/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-508543365248823357?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/508543365248823357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/508543365248823357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/06/lidahpedang-bermata-dua.html' title='LIDAH....PEDANG BERMATA DUA'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-207450086058345381</id><published>2011-06-02T15:15:00.000-07:00</published><updated>2011-06-02T15:15:24.640-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penyucian Jiwa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>Sebagaimana Engkau Menjalani Hidupmu Demikianlah Kondisimu Tatkala Ajal Menjemputmu…..!!!</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Mn5NsalngUc/TegLQFkVyzI/AAAAAAAAAFU/ABjI5NH_L6E/s1600/kematian2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="135" src="http://4.bp.blogspot.com/-Mn5NsalngUc/TegLQFkVyzI/AAAAAAAAAFU/ABjI5NH_L6E/s200/kematian2.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Nabi shallahu 'alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya" (HR Muslim no 2878)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Al-Munaawi, أَيْ يَمُوْتُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ وَيُبْعَثُ عَلَى ذَلِكَ "Yaitu ia meninggal di atas kehidupan yang biasa ia jalani dan ia dibangkitkan di atas hal itu" (At-Taisiir bi Syarh Al-Jaami' As-Shogiir 2/859)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang budiman… kita semua tahu bahwasanya kematian datang tiba-tiba…tidak peduli dengan kondisi seorang hamba apakah dalam keadaan ketaatan kepada Allah atau dalam keadaan sedang bermaksiat…, apakah dalam keadaan sakit ataupun dalam keadaan sehat… semuanya terjadi tiba-tiba…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penyair berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تَزَوَّدْ مِنَ التَّقْوَى فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي***  إِذَا جَنَّ لَيْلٌ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الْفَجْرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekallah ketakwaan karena sesungguhnya engkau tidak tahu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika malam telah tiba apakah engkau masih bisa hidup hingga pagi hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَكَمْ مِنْ صَحِيْحٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ *** وَكَمْ مِنْ عَلِيْلٍ عَاشَ حِيْناً مِنَ الدَّهْرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak orang yang sehat kemudian meninggal tanpa didahului sakit…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan betapa banyak orang yang sakit yang masih bisa hidup beberapa lama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَكَمْ مِنْ فَتًى أَمْسَى وَأَصْبَحَ ضَاحِكًا *** وَقَدْ نُسِجَتْ أَكْفَانُهُ وَهُوَ لاَ يَدْرِِي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak pemuda yang tertawa di pagi dan petang hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kafan mereka sedang ditenun dalam keadaan mereka tidak sadar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَكَمْ مِنْ صِغَارٍ يُرْتَجَى طُوْلُ عُمْرِهِمْ *** وَقَدْ أُدْخِلَتْ أَجْسَامُهُمْ ظُلْمَةَ الْقَبْرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak anak-anak yang diharapkan panjang umur…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal tubuh mereka telah dimasukkan dalam kegelapan kuburan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَكَمْ مِنْ عَرُوْسٍ زَيَّنُوْهَا لِزَوْجِهَا *** وَقَدْ قُبِضَتْ أَرْوَاحُهُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak mempelai wanita yang dirias untuk dipersembahkan kepada mempelai lelaki…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal ruh mereka telah dicabut tatkala di malam lailatul qodar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya setiap kita berharap dianugrahi husnul khotimah… ajal menjemput tatkala kita sedang beribadah kepada Allah… tatkala bertaubat kepada Allah…sedang ingat kepada Allah… , akan tetapi betapa banyak orang yang berharap meninggal dalam kondisi husnul khotimah akan tetapi kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya…. Suul khootimah… maut menjemputnya tatkala ia sedang bermaksiat kepada Penciptanya dan Pencipta alam semesta ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin seseorang meninggal dalam kondisi husnul Khotimah sementara hari-harinya ia penuhi dengan bermaksiat kepada Allah… hari-harinya ia penuhi tanpa menjaga pendengarannya… pandangannya ia umbar… hatinya dipenuhi dengan beragam penyakit hati… lisannya jauh dari berdzikir dan mengingat Allah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah para pembaca yang budiman… sesungguhnya seseorang akan dicabut nyawanya berdasarkan kehidupan yang biasa ia jalankan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah kisah-kisah yang mencoba menggugah hati kita untuk membiasakan diri beramal sholeh sehingga tatkala maut menjemput kitapun dalam keadaan beramal sholeh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Pertama: kisah seorang ahli ibadah Abdullah bin Idriis (190-192 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ حُسَيْن الْعَنْقَزِي قَالَ: لَمَّا نَزَلَ بِابْنِ إِدْرِيْسَ الْمَوْتُ بَكَتْ ابْنَتُهُ فَقَالَ: لاَ تَبْكِي يَا بُنَيَّة، فَقَدْ خَتَمْتُ الْقُرْآنَ فِي هَذَا الْبَيْتِ أَرْبَعَةَ آلاَف خَتْمَة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Husain Al-'Anqozi, ia bertutur :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kematian mendatangi Abdullah bin Idris, maka putrinya pun menangis, maka Dia pun berkata: "Wahai putriku, jangan menangis! Sungguh, Aku telah mengkhatamkan al Quran dirumah ini 4000 kali" (Lihat Taariikh Al-Islaam karya Ad-Dzahabi 13/250, Ats-Tsabaat 'inda Al-Mamaat karya Ibnil Jauzi hal 154)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah kedua : Kisah Abu Bakr bin 'Ayyaasy (193 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لما حضرت أبا بكر بن عَيَّاش الوفاةُ بَكَتْ أُخْتُهُ فقال : لاَ تَبْكِ اُنْظُرِي إِلىَ تِلْكَ الزَّاوِيَةِ الَّتِي فِي الْبَيْتِ قَدْ خَتَمَ أَخُوْكَ فِي هَذِهِ الزَّاوِيَةِ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ أَلَف خَتْمَة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala kematian mendatangi Abu Bakr bin 'Ayaasy maka saudara perempuannya pun menangis. Maka Abu Bakrpun berkata kepadanya, "Janganlah menangis, lihatlah di pojok rumah ini, sesungguhnya saudara laki-lakimu ini telah mengkhatamkan Al-Qur'an di situ sebanyak 18 ribu kali" (Lihat Hilyatul Auliyaa' karya Abu Nu'aim 8/304 dan Taariikh Baghdaad 14/383)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah para pembaca yang budiman…Ahli ibadah ini Abdullah bin Idris telah mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak 4000 kali… Abu Bakr bin 'Ayyaasy telah mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak 18 ribu kali…..semuanya demi menghadapi waktu yang sangat kritis ini… waktu untuk meninggalkan dunia ke alam akhirat yang abadi….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Ketiga : Kisah Aamir bin Abdillah Az-Zubair&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mush'ab bin Abdillah bercerita tentang 'Aamir bin Abdillah bin Zubair yang dalam keadaan sakit parah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سمع عامر المؤذن وهو يجود بنفسه فقال: خذوا بيدي إلى المسجد، فقيل: إنك عليل فقال: أسمع داعي الله فلا أجيبه فأخذوا بيده فدخل مع الإمام في صلاة المغرب فركع مع الإمام ركعة ثم مات&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Aaamir bin Abdillah mendengar muadzin mengumandangkan adzan untuk shalat maghrib, padahal ia dalam kondisi sakaratul maut pada nafas-nafas terakhir, maka iapun berkata, “Pegang tanganku ke mesjid…!!” merekapun berkata, "Engkau dalam kondisi sakit !" , Diapun berkata,”Aku mendengar muadzin mengumandangkan adzan sedangkan aku tidak menjawab (panggilan)nya? Pegang tanganku…! Maka merekapun memapahnya lalu iapun sholat maghrib bersama Imam berjama'ah, diapun shalat satu rakaat kemudian meninggal dunia. (Lihat Taariikh Al-Islaam 8/142)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kondisi seorang alim yang senantiasa mengisi kehidupannya dengan beribadah sesegera mungkin… bahkan dalam kondisi sekarat tetap ingin segera bisa sholat berjama'ah…. Bandingkanlah dengan kondisi sebagian kita… yang tatkala dikumadangkan adzan maka hatinya berbisik : "Iqomat masih lama…., entar lagi aja baru ke mesjid…, biasanya juga imamnya telat ko'…, selesaikan dulu pekerjaanmu.. tanggung…", dan bisikan-bisikan yang lain yang merupakan tiupan yang dihembuskan oleh Iblis dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Di masa Sekarang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Kisah Penumpang Kapal Mesir “Salim Express”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki ini telah Allah selamatkan dari tenggelam pada kecelakaan kapal, “Salim Express” menceritakan kisah istrinya yang tenggelam dalam perjalanan pulang dari menunaikan ibadah haji. Orang-orang berteriak-teriak “kapal akan tenggelam” maka aku pun berteriak kepada istriku …“ayo cepat keluar!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun berkata, “Demi Allah aku tidak akan keluar sampai aku memakai hijabku dengan sempurna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaminya pun berkata,” inikah waktu utk memakai hijab??? Cepat keluar! Kita akan mati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun berkata, “Demi Allah aku tidak akan keluar kecuali jika telah kukenakan hijabku dengan sempurna, seandainya aku mati aku pun akan bertemu Allah dalam keadaan mentaati-Nya”. Maka dia pun memakai hijabnya dan keluar bersama suaminya, maka ketika semuanya hampir tenggelam, dia memegang suaminya dan berkata, “Aku minta engkau bersumpah dengan nama Allah, apakah engkau ridho terhadapku?” Suaminya pun menangis. Sang istripun berkata, ”Aku ingin mendengarnya.” Maka Suaminya Menjawab, “Demi Allah aku ridho terhadapmu.” Maka wanita tersebut pun menangis dan berucap ”Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah” senantiasa dia ulangi syahadat tersebut sampai tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaminya pun menangis dan berkata, “Aku berharap kepada Allah agar mengumpulkan aku dan dia di surga”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Kisah seorang tukang adzan (Muadzdzin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia adalah seorang yang selama 40 tahun telah mengumandangkan adzan, tanpa mengharap imbalan selain wajah Allah. Sebelum meninggal ia sakit parah, maka dia pun didudukkan di atas tepat tidur. Dia tak dapat berbicara lagi dan juga untuk pergi kemasjid. Ketika sakit semakin parah diapun menangis, orang-orang disekitarnya melihat adanya tanda-tanda kesempitan di wajahnya. Seakan-akan dia berucap ya Allah aku telah beradzan selama 40 tahun, engkau pun tahu aku tidak mengharap imbalan kecuali dari Engkau kemudian akan terhalangi dari adzan di akhir hidupku?. Kemudian berubahlah tanda-tanda diwajahnya menjadi kegembiraan dan kesenangan. Anak-anaknya bersumpah bahwasanya  ketika tiba waktu adzan ayah mereka pun berdiri di atas tempat tidurnya dan menghadap kiblat kemudian mengumandangkan adzan di kamarnya, ketika sampai pada kalimat adzan yang terkahir "laa ilaaha illallah” dia pun jatuh di atas tempat tidurnya. Anak-anaknya pun segera menghampirinya, mereka pun mendapati ruhnya telah menuju Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang budiman…jika kematian telah tiba maka seluruh harta dan kekuasaan yang telah kita usahakan dan perjuangakan dengan mengerahkan seluruh tenaga dan peras keringat akan sirna…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Khalifah Al-Ma'muun,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sakaratul maut mendatanginya diapun memanggil para tabib di sekelilingnya berharap agar bisa menyembuhkan penyakitanya. Tatkala ia merasa berat (parah sakitnya) maka ia berkata, "Keluarkanlah aku agar aku melihat para pasukan perangku dan aku melihat anak buahku serta aku menyaksikan kekuasaanku", takala itu di malam hari. Maka Khalifah Al-Makmuun pun dikeluarkan lalu ia melihat kemah-kemah serta pasukan perangnya yang sangat banyak jumlahnya bertebaran di hadapannya, dan dinyalakan api. (Tatkala melihat itu semua) iapun berkata, يَا مَنْ لاَ يَزُوْلُ مُلْكُهُ اِرْحَمْ مَنْ قَدْ زَالَ مُلْكُهُ “Wahai Dzat yang tidak akan pernah musnah kerajaannya… Sayangilah orang yang telah hilang kerajaannya…". Lalu iapun pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian datanglah seseorang disampingnya hendak mentalqinnya kalimat syahadah, lalu Khalafah Al-Makmuun membuka kedua matanya tatkala itu dalam keadaan wajahnya yang merah dan berat, ia berusaha untuk berbicara akan tetapi ia tidak mampu. Lalu iapun memandang ke arah langit dan kedua matanya dipenuhi dengan tangisan maka lisannya pun berucap tatkala itu, يَا مَنْ لاَ يَمُوْتُ اِرْحَمْ مَنْ يَمُوْتُ "Wahai Dzat Yang tidak akan mati sayangilah hambaMu yang mati", lalu iapun meninggal dunia. (Lihat Muruuj Adz-Dzahab wa Ma'aadin Al-Jauhar karya Al-Mas'uudi 2/56 dan Taariik Al-Islaam karya Adz-Dzahabi 15/239)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Khalifah Abdul Malik bin Marwaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala ajal menjemput Khalifah Abdul Malik bin Marwaan maka iapun memerintahkan untuk dibukakan pintu istana, tiba-tiba ada seorang penjaga istana yang sedang mengeringkan bajunya di atas batu, maka iapun berkata, "Siapa ini?", maka mereka menjawab, "Seorang penjaga istana". Maka iapun berkata, "Seandainya aku adalah seorang penjaga istana…". Ia juga berkata, "Seandainya aku adalah budak miliki seorang yang tinggal di pegunungan Tihaamah, lantas akupun menggembalakan kambing di pegunungan tersebut".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara perkataan terakhir yang diucapkannya adalah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ إِنْ تَغْفِرْ تَغْفِرْ جَمًّا، لَيْتَنِي كُنْتُ غَسَّالاً أَعِيْشُ بِمَا أَكْتَسِبُ يَوْماً بِيَوْمٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yaa Allah, jika engkau mengampuniku maka berilah pengampunanMu yang luas, seandainya aku hanyalah seorang tukang cuci, aku hidup dari hasil penghasilanku sehari untuk kehidupan sehari"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diriwayatkan bahwsanya tatkala Khalifah Abdul Malik bin Marwan sakit parah maka iapun berkata, "Keluarkanlah aku di beranda istana…", kemudian ia melihat megahnya kekuasaannya lalu iapun berkata, يَا دُنْيَا مَا أَطْيَبَكِ أَنَّ طَوِيْلَكِ لَقَصِيْرٌ وَأَنَّ كَبِيْرَكِ لَحَقِيْرٌ وَأَنْ كُنَّا مِنْكِ لَفِي غُرُوْرٍ "Wahai dunia sungguh indah engkau…, ternyata lamanya waktumu sangatlah singkat, kebesaranmu sungguh merupakan kehinaan, dan kami ternyata telah terpedaya olehmu". Lalu iapun mengucapkan dua bait berikut ini ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنْ تُنَاقِشْ يَكُنْ نِقَاشُكَ يَارَبَّ  عَذَابًا لاَ طَوْقَ لِي بِالْعَذَابِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau menyidangku wahai Robku maka persidanganMu itu merupakan sebuah adzab yang tidak mampu aku hadapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَوْ تَجَاوَزْتَ فَأَنْتَ رَبٌّ صَفُوْحٌ  عَنْ مُسِيْءٍ ذُنُوْبَهُ كَالتُّرَابِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau jika engkau memaafkan aku maka engkau adalah Tuhan Yang Maha memaafkan dosa-dosa seorang hamba yang bersalah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lihat Mukhtashor Taariikh Dimasyq 5/88-89 dan Al-Kaamil fi At-Taariikh 4/238-239)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang budiman…. Janganlah terpedaya dengan gemerlapnya dunia ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perbanyaklah kalian mengingat penghancur keledzatan", yaitu kematian (Dishahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam irwaa al-goliil 3/145)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Qurthubi berkata: "Ketahuilah sesungguhnya mengingat kematian menyebabkan kegelisahan dalam kehidupan dunia yang akan sirna ini, dan menyebabkan kita untuk senantiasa mengarah ke kehidupan akhirat yang abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang tidak akan terlepas dari dua kondisi, kondisi lapang dan sulit, kondisi di atas kenikmatan atau di atas ujian. Jika ia berada pada kondisi sempit dan di atas ujian maka dengan mengingat mati akan terasa ringanlah sebagian ujian dan kesempitan hidupnya, karena ujian tersebut tidak akan langgeng dan kematian lebih berat dari ujian tersebut. Atau jika ia berada dalam kondisi penuh kenikmatan maka mengingat mati akan menghalanginya agar tidak terpedaya dengan kenikmatan tersebut"  (At-Tadzkiroh 1/123-124)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Qurthubi juga berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;و كان يزيد الرقاشي يقول لنفسه : و يحك يا يزيد من ذا يصلي عنك بعد الموت ؟ من ذا يصوم عنك بعد الموت؟ من ذا يترضى عنك ربَّك بعد الموت؟ ثم يقول : أيها الناس ألا تبكون وتنوحون على أنفسكم باقي حياتكم؟ من الموت طالبه والقبر بيته والثرى فراشه والدود أنيسه وهو مع هذا ينتظر الفزع الأكبر يكون حاله؟ ثم يبكي حتى يسقط مغشيا عليه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yazzid Ar-Ruqoosyi berkata kepada dirinya : "Celaka engkau wahai Yaziid, siapakah yang akan sholat mewakilimu jika engkau telah meninggal?, siapakah yang akan mewakilimu berpuasa setelah kematianmu?, siapakah yang mendoakan engkau agar Robmu meridhoimu setelah matimu?". Lalu ia berkata, "Wahai manusia, janganlah kalian menangisi diri kalian sepanjang hidup kalian, barangsiapa yang kematian mencarinya, kuburan merupakan rumahnya, tanah merupakan tempat tidurnya, dan ulat-ulat menemaninya, serta ia dalam kondisi demikian menantikan tibanya hari kiamat yang sangat dahysat maka bagaimanakah kondisinya?". Lalu iapun menangis dan menangis hingga jatuh pingsan. (Lihat At-Tadzikorh 1/124)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah penutup :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah putra Imam Ahmad bin Hambal berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَمَّا حَضَرَتْ أَبِي الْوَفَاةُ جَلَسْتُ عِنده وَبِيَدِي الْخِرْقَةُ لأَشُدَّ بِهَا لِحْيَيْهِ فَجَعَلَ يَعْرَقُ ثُمَّ يُفِيْقُ ثُمَّ يفتح عينيه ويقول بيده هكذا : "لاَ بَعْدُ" ففعل هذا مرةً وثانيةً، فلما كان في الثالثة قلت له : يَا أَبَةِ أَيُّ شَيْءٍ هَذَا قَدْ لَهَجْتَ بِهِ فِي هَذَا الْوَقْتِ تَعْرَقُ حَتَّى نَقُوْلُ قَدْ قُبِضْتَ ثُمَّ تَعُوْدُ فَتَقُوْلَ : لاَ، لاَ بَعْدُ. فقال لي : يا بُنَيَّ مَا تَدْرِي؟ قلتُ :لاَ، قال : إبليس لعنه الله قائم حذائي عَاضٍّ على أَنَامِلِهِ يقول لي : يا أحمدُ فُتَّنِي فَأَقُوْلُ لَهَ : لاَ بَعْدُ حَتَّى أَمُوْتَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala kematian mendatangi ayahku maka akupun duduk disampingnya, dan di tanganku ada sepotong kain untuk mengikat dagu beliau (yang dalam keadaan tidak sadarkan diri). Maka beliaupun mencucurkan keringat lalu beliau tersadar dan membuka kedua mata beliau dan beliau berkata, "Tidak, belum…!" seraya menggerakkan tangan beliau (memberi isyarat penolakan). Lalu beliau melakukan hal yang sama untuk sekali lagi, kedua kali lagi. Dan tatkala beliau mengulangi hal ini (mengucapkan : "Tidak, belum..!, seraya menebaskan tangan beliau) untuk ketiga kalinya maka akupun berkata, "Wahai ayahanda, ada apa gerangan?, engkau mengucapkan perkataan ini dalam kondisi seperti ini?". Engkau mencucurkan keringat hingga kami menyangka bahwa engkau telah meninggal dunia, akan tetapi kembali engkau berkata, "Tidak, tidak…, belum…!". Lalu ia berkata, "Wahai putraku, engkau tidak tahu?", aku berkata, "Tidak". Ia berkata, "Iblis –semoga Allah melaknatnya- telah berdiri dihadapanku seraya menggigit jari-jarinya, dan berkata, "Wahai Ahmad engkau telah lolos dariku", maka aku berkata kepadanya, "Tidak, belum, aku belum lolos dan menang darimu hingga aku meninggal" (lihat Sifat As-Sofwah 2/357)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini mengingatkan kepada kita bahwasanya pertempuran melawan Iblis dan para pengikutnya tidak pernah berhenti hingga maut menjemput kita. kita tidak boleh pernah lalai dan merasa telah mengalahkan Iblis, karena Iblis dan para pengikutnya akan senantiasa mengintai dan mencari celah-celah untuk menjeremuskan kita sehingga bisa menemaninya di neraka Jahannam yang sangat panas….!!!!, Maka wasapadalah selalu… melawan musuh yang melihatmu padahal engkau tidak melihatnya… musuh yang senantiasa mendatangimu dari arah depan, belakang, kanan, dan kiri sementara engkau dalam keadaan lalai…. Musuh yang sudah sangat berpengalaman dalam menjerumuskan anak keturunan Adam dengan berbagai metode dan jerat…. Hanya kepada Allahlah kita mohon keselamatan dari musuh yang seperti ini modelnya… walaa haulaa wa laa quwwata illaa billaaah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yang mulia…!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Yang Maha Mulia telah memberlakukan sunnatullahNya bahwasanya: “Orang yang hidup di atas sesuatu pola/model kehidupan maka ia pun akan mati di atas model tersebut, dan kelak ia akan dibangkitkan di atas model tersebut”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapkanlah dirimu menyambut tamu yang akan mendatangimu secara tiba-tiba…yaitu kematian, jangan sampai tamu tersebut menemuimu dalam kondisi engkau sedang bermaksiat kepada Robmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengamalkan ilmunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madinah, 28 06 1432H / 31 05 2011M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.firanda.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-207450086058345381?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/207450086058345381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/207450086058345381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/06/sebagaimana-engkau-menjalani-hidupmu.html' title='Sebagaimana Engkau Menjalani Hidupmu Demikianlah Kondisimu Tatkala Ajal Menjemputmu…..!!!'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Mn5NsalngUc/TegLQFkVyzI/AAAAAAAAAFU/ABjI5NH_L6E/s72-c/kematian2.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-4865558033473940936</id><published>2011-05-30T04:34:00.000-07:00</published><updated>2011-05-30T05:27:41.342-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poligami'/><title type='text'>KUNJUNGAN TEMAN YANG BURUK (2)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i1184.photobucket.com/albums/z327/mrkey2010/p1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://i1184.photobucket.com/albums/z327/mrkey2010/p1.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ummu Dahlia :” baiklah , kalau begitu jangan minta minta talak darinya selama itu adalah haram. Akan tetapi ,mintalah dia untuk menceraikan istrinya yang kedua !&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Mahmud :” Aku berlindung kepada Allah dari murka-Nya. Apa kamu tidak pernah mendengar hadist Rasulullah dari Abu Hurairah Ra bahwa Rasulullah bersabda yang artinya :” DAN JANGANLAH SEORANG WANITA MEMINTA TALAK SAUDARINYA UNTUK MENGOSONGKAN PIRINGNYA DAN AGAR IA DINIKAHI. SESUNGGUHNYA BAGINYA APA YANG TELAH DITAKDIRKAN UNTUKNYA.” (Hr.Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam lafal lain : “ TIDAK HALAL BAGI SEORANG WANITA MEMINTA SUAMINYA MENALAK SAUDARINYA UNTUK MENGOSONGKAN PIRINGNYA.” (Hr. Bukhari)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahwasannya Rasulullah melarang WANITA MENSYARATKAN UNTUK MENCERAIKAN SAUDARINYA. Oleh karena itu, para ulama menyepakati termasuk syarat –syarat yang batil dalam pernikahan adalah SYARAT SEORANG WANITA UNTUK MENCERAIKAN MADUNYA.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Dalia :” Baiklah. Akan tetapi kamu adalah wanita adalah wanita yang TAAT BERAGAMA, CANTIK, MENUNAIKAN KEWAJIBAN KEWAJIBANMU, KAMU TIDAK SAKIT, TIDAK PULA MENOPAUSE DAN TIDAK MANDUL sehingga suamimu tidak harus menikah lagi. Kenapa dia menikah lagi dengan wanita lain ? bukankah ini melecehkan kehormatanmu ? bukankah ini MELUKAI PERASAAN MU ? apakah ini balasan untukmu setelah 10 tahun yang panjang bersamanya ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Mahmud :” Pertama, terimakasih terimakasi atas perasaanmu yang baik terhadapku. Akan tetapi, izinkan aku menjawab setiap point yang telah kamu sebutkan. Berkaitan dengan perkataanmu untukku,” KAMU TIDAK SAKIT, TIDAK MANDUL DAN TIDAK ADA CACAT PADAMU, maka kenapa ia menikah lagi. Tidak ada sebab baginya untuknya menikah lagi. Masalah sebenarnya bukan seperti yang kamu pahami.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Dalia :” Tolong jelaskan untukku lebih banyak.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Mahmud :” Baiklah, TA’ADDUD dibolehkan dengan syarat ADIL. Bukan karena SAKIT ATAU MANDUL, atau lain sebagainya. Poligami dibolehkan dengan syarat adil, bukan karena sakit, atau mandul atau lain sebagainya. Ta’addud boleh dilakukan selama seorang laki-laki terpenuhi pada dirinya syarat adil yang dia mampui sanggup untuk mewujudkan keadilan yaitu menyamakan antara dalam hal makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, mu’amalah yang baik bagi setiap istri dan giliran waktu serta apa yang telah diwajibkan Allah untuknya. Seorang istri tidak berhak melarang suami nya dari suatu hak yang telah dibolehkan Allah untuknya, yaitu Ta’addud. Tidak ada hubungan antara cantik tidaknya seorang wanita, mandul atau suburnya, dan tho’at atau tidaknya kepada suami dengan ta’addud. Ta’addud dibolehkan dengan syarat adil,bukannya dengan sebab sebab tersebut. Perlu digaris bawahi bahwasannya Allah mensyari’atkan ta’addud untuk suatu hikmah yang agung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diantaranya adalah sebab sebab yang kamu sebutkan. Masih banyak sebab sebab yang lain. Seperti mengentaskan masalah bertambahnya jumlah yang terlambat menikah, menjaga kesucian, mengayomi janda janda dari wanita muslimah dan lain sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ta’addud disyariatkan untuk kemaslahatan yang besar. Agama tidak datang untuk mengikuti hawa nafsu wanita dan tidak pula hawa nafsu laki – laki. Sesungguhnya Islam datang adalah untuk mewujudkan kemaslahatan umum. Perlu diketahui bahwasannya hukum asal dalam pernikahan adalah ta’addud “ Poligami “ dengan syarat adil, dan pengecualian satu (monogami) adalah ketika takut tidak bisa berlaku adil berdasarkan firman Allah : “ ….. Maka nikahilah apa yang baik bagimu dari wanita ; dua atau tiga atau empat, maka jika kamu takut tidak (bisa) berlaku adil, maka nikahilah satu ….. (An-Nisa ; 3).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Ayat ini Allah memulai dengan ta’addud dan ini adalah hukum asal, kemudian Allah kecualikan menikah dengan satu (monogami) apabila dikhawatirkan tidak mampu mewujudkan keadilan. Sehubungan dengan itu, berdasarkan ayat ini Allah memerintahkan kaum laki – laki untuk berta’addud “ Poligami “ dan kalimat “ maka nikahilah “ merupakan perintah dari Allah Swt. Akan tetapi, dikaitkannya dengan syarat adil sebagaimana firman-Nya : “ Maka jika kamu takut tidak (bisa) berlaku adil , maka nikahilah satu.” Maksudnya . apabila tidak terpenuhi syarat adil , maka cukup dengan satu istri lebih utama dan lebih baik. Saudariku, hal ini berbeda dengan pemahaman keliru yang selama ini tertanam dipikiran kebanyakan manusia, yaitu bahwasannya yang asal dalam menikah adalah cukup satu istri, sedangkan pengecualian dalam ta’addud dan syarat ta’addud menurut pandangan mereka mempunyai sebab – sebab lain selain adil, seperti, penyakit istri, kemandulannya atau yang semisalnya. Tidak diragukan lagi bahwasannya pemahaman yang keliru ini bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Saw.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Telah sampai kepada mufti besar kerajaan Arab Saudi, Syaikh Abdul Aziz Bin Bazz Ra, sebuah pertanyaan, yang intinya adalah :” apakah hokum asal dalam menikah, Ta’addud “poligami” atau satu (monogamy) ?” beliaumenjawan :” Hukum asal dalam hal itu adalah disyariatkan ta’addud bagi siapa saja yang mampu dan tidak takut akan berlaku dzalim karena banyaknya maslahah dalam hal itu, seperti menjaga kesucian kemaluannya, kesucian wanita2 yang dinikahinya, berbuat baik kepada mereka, dan memperbanyak keturunan sehingga menambah jumlah umat ini.sehubungan dengan itu , bertambah pula org2 yang beribadah kepada Allah semata. Sebagai dalil atas itu adalah firman Allah :”Dan jika kamu takut tidak berlaku adil terhadap anak2 yatim,maka nikahilah apa yang baik bagimu dari wanita wanita dua tiga atau empat, maka jika kamu takut tidak (bisa) berlaku adil, maka nikahilah satu…. (an-Nisaa;3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menikah lebih dari satu, dan Allah telah berfirman :” Sungguh bagi kalian pada (diri) Rasulullah itu ada suri teladan yang baik….:” (al Ahzab ;21)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah juga berkata ketika sebagian sahabat berkata,” Adapun aku, tidak akan makan daging, berkata yang lain ,” dan aku akan terus sholat dan tidak tidur, dan berkata yang lainnya ,” adapun aku, tidak akan menikahi wanita.” Tatkala sampai hal tersebut kepada RAsulullah maka beliau berbicara dihadapan manusia, beliau memuji dan mengagungkan Allah kemudian berkata :” sesungguhnya telah sampai kepadaku begini dan begini, akan tetapi, aku berpuasa dan aku berbuka, shalat dan tidur dan aku juga menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk dari (golongan)ku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ucapan yang agung dari beliau ini mencakupi menikahi satu wanita atau lebih…. Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Dalia :” Kamu telah menyebutkan syarat adil sedangkan Allah berfirman :” dan kalian tidak akan bisa berlaku adil diantara wanita walaupun kalian berusaha (untuk itu) …” (an-Nisaa;129)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana suamimu akan mampu berlaku adil ?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Mahmud :” yang dimaksud dengan adil diayat ini adalah keadilan hati.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Dalia :” Maksudnya ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Mahmud ,” Adil itu ada dua macam :Pertama, adil dari segi materi. Bentuknya adalah pada apa yang telah kusebutkan padamu tadi; adil dalam masalah makan, pakaian, minuman, tempat tinggal dan pembagian hari menginap serta mu’amalah yang baik bagi setiap istri dan lain sebagainya. Kedua, Adil hati. Inilah yang dimaksud ayat yang kamu sebutkan. Maknanya, perkara perkara yang tidak disanggupi kaum laki laki, seperti rasa dan kecendrungan hati, maka ia tidak dibebankan berlaku adil dalam hal ini karena Allah berfirman :” Allah tidak membebankan seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya….(albaqarah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;;286)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah membagi diantara istri istrinya secara adil, kemudian berkata :” Ya Allah, ini pembagianku pada apa yang aku miliki,maka janganlah cela aku pada apa yang Engku miliki dan aku tidak memilikinya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksudkan Rasulullah didalam hadist ini adalah kecendrungan hati dan cinta. Berdasarkan itu, maka makna ayat sebagaimana yang dikatakan oleh ahli tafsir adalah bahwa kamu tidak akan bisa menyamakan diantara istri2 dalam masalah cinta dihati karena ini adalah perkata yang sudah ditentukan, bukannya pilihan. Oleh karena itu, tidak berdosa dalam hal itu apabila tidak sanggup berlaku adil walaupun kalian telah berusaha untuk berlaku adil. Pembagian dan keadilan adalah dalam nafkah dan pemberian. Adapun orang2 yang berdalil dengan ayat ini atas dilarangnya ta’addud sebgaimana yang dipahami oleh orang2 yang jahil maka perkataan mereka itu mardud”tertolak” karena ayat ini membolehkan ta’addud. Ayat tersebut membolehkan tidak sama dalam rasa cinta. Adapun yang diharamkan adalah tidak menyamakan dalam nafkah dan pemberian diantara istri istri. Rasanya masalah ini telah jelas bagimu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu mahmud melanjutkan :” adapun perkataanmu padaku, suamimu telah merusak kehormatan dan kemuliaanmu.” Sesungguhnya suamiku tidak merusak kehormatanku sebagaimana yang kamu kira karena hak secara syar’i ada bersama suami. Islam telah memuliakan wanita, bukannya merendahkan kemuliaan mereka. Bahkan, islam menjadikan baginya kedudukan yang tinggi. Undang2 ta’addud menjaga wanita dari kotoran, menjaga hak haknya, menjaga kemuliaanya, dan kebanyakan ta’addud mendatangkan maslahah bagi istri pertama.misalnya apabila ia sakit, maka suaminya menikahi wanita lain sebagai istri kedua serta tetap menjadikannya sebagai istrinya adalah lebih baik daripada ia diceraikan dan disia siakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun ucapanmu ,” Ia telah mematahkan hatimu” yang patah hati adalah saudarimu yang terlambat menikah dan janda janda yang ditalak atau ditinggal mati suaminya yang hidup tanpa tujuan dan tanpa kebahagiaan. Siapa yang akan mengayomi wanita wanita yang ditalak ? siapa yang akan mengayomi gadis gadis setelah bapak mereka mati ? bagaimana boleh engkau menyimpan suami untuk dirimu sendiri ? tidakkah kamu lihat sikap egoisme ini membahayakan saudari2 muslimahmu ? ikut sertanya salah seorang dari para mukminah tersebut bersamamu mendampingi suamimu dengan cara yang halal adalah lebih utama daripada suamimu mencari jalan untuk menikah dan mengikat hubungan yang tidak syar’i misalnya pernikahan “urfii” nikah mu’aqqat, nikah khathaf atau yang semisalnya atau nikah misyar yang diperselisihkan hukumnya ? semua itu tidak lain adalah karena kamu tidak memahami urgensi ta’addud dalam islam. Kebaikan kebaikannya dan hikma Allah yang tersembunyi yang telah membolehkannya bagi hamba – hamba –Nya yang mukmin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun ucapanmu “SUAMIMU TELAH MELUKAI PERASAANMU” ia tidak melukai perasaanku walau seharipun. Kenapa engkau begitu memperhatikan perasaanku saja, tapi tidak memperhatikan perasaan wanita wanita lain yang tidak mendapatkan suami dan orang yang mengayomi ? pandangan yang dangkal ini berdampak pada kerusakan kerusakan sosial dalam masyarakat yang berbahaya terhadap umat Muhammad.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah merupakan kebaikan sebagaian wanita merasakan kenikmatan dan kebanyakan lainnya tidak mendapatkan kasih sayang pria dan orang yang mengayomi ? Dosa apa yang telah mereka perbuat sehingga kita menimpakan hukuman yang seram ini kepada mereka dan menghalangi mereka dari mendapatkan kasih sayan gyang mereka dambakan dalam pernikahan ? berdasarkan hal ini, maka tidak akan membahayakan seorang wanita yang telah bersuami apabila suaminya menyatukannya dengan istri kedua,ketiga,dan keempat. Selama ia mampu memberikan nafkah atas semuanya atau berlaku adil antara mereka. Walau bagaimanapun saya beritahukan kepadamu bahwasannya suamiku mencintaiku dan aku juga sangat mencintainya dan ia merupakan keutamaan yang Allah limpahkan kepada kami.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bersambung ……..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ainulmardhiyah.abatasa.com &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-4865558033473940936?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/4865558033473940936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/4865558033473940936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/05/kunjungan-teman-yang-buruk-2.html' title='KUNJUNGAN TEMAN YANG BURUK (2)'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-221366151298670653</id><published>2011-05-30T04:32:00.000-07:00</published><updated>2011-05-30T05:28:56.513-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poligami'/><title type='text'>KUNJUNGAN TEMAN YANG BURUK (1)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i1184.photobucket.com/albums/z327/mrkey2010/p1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://i1184.photobucket.com/albums/z327/mrkey2010/p1.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari , ia berkata : Rasulullah Saw telah bersabda :” sesungguhnya permisalan teman yang shalih dan teman yang buruk seperti penjual misik dan pandai besi. Penjual misik, engkau bisa membeli darinya atau mendapatkan darinya bau yang baik. Adapun pandai besi dia dapat membakar bajumu, atau engkau akan mendapatkan darinya bau yang tidak sedap. (diriwayatkan Bukhari &amp;amp; Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suara bel pintu berbunyi, tiba tiba Ummu Dalia melongok dengan muka masam. Ummu Mahmud menyambutnya dengan hangat dan menghidangkan makanan untuknya. Keduanya mulai berbincang bincang. Dibalik kegembiraan Ummu Mahmud dengan kunjungan Ummu Dalia , ia menangkap ada sesuatu dibalik kunjungannya dan sebelum ia menanyakan sebab kedatangannya , Ummi Dalia langsung masuk kepokok pembicaraan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Dalia :” Apa yang telah kami dengar dikampung ini tentang suamimu, hai ummu Mahmud ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Mahmud :” Apa yang telah engkau dengar ? mudah mudahan adalah kebaikan.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Dalia :” apa benar Abu Mahmud ,imam mesjid kita dikampung ini memadumu dengan menikahi wanita lain ? dan apakah engkau telah pergi bersamanya untuk meminangnya ?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Mahmud :” ya , benar.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Dalia :” Oh.. Musibah ! saya tidak percaya dengan apa yang saya dengar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Mahmud :” Musibah apa dalam hal itu ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Dalia :” Ia menikah lagi, kamu diam saja, dan pergi bersamanya untuk meminang wanita selainmu ! apa kamu sudah gila ? apa sesuatu telah menimpa akalmu, semoga saja tidak ?!”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Mahmud :” saya baik baik saja. Alhamdulillah akal saya sehat, tidak ada kegilaan pada saya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Dalia :” itu adalah kegilaan ! suamimu menikah lagi dan kamu mendiamkannya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Mahmud:” Menurutmu apa yang harus kulakukan !”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Dalia : “ kamu harus berbuat banyak karena suamimu seorang imam mesjid , suami suami kami akan melakukan seperti yang dilakukannya. Ini masalah yang berbahaya , tidak boleh mendiamkanya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Mahmud :” pastinya, apa yang kamu inginkan dariku ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Dalia : kamu tinggalkan rumah dan anak anak. Kamu minta agar ia menceraikanmu karena ia telah merusak kehormatanmu, melukai perasaanmu dan melukai hatimu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Mahmud :” Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan-Nya. Tidakkah kamu mengetahui bahwasannya wanita meminta talak (cerai) dari suaminya dengan tanpa sebab, maka ia tidak akan mendapatkan syurga ? Rasulullah bersabda yang artinya : “ Siapa saja dari wanita yang meminta talak dari suaminya dengan tanpa sebab, maka haram atasnya bau syurga.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Asy-Syaukani Rahimahullah mengomentari hadist ini:” padanya ada dalil yang menunjukkan bahwasannya permintaan talak seorang wanita dari suaminya adalah sangat haram, dia tidak akan mendapatkan bau syurga, tidak akan masuk kedalamnya selama lamanya. Cukuplah dosa yang menyebabkan pelakunya seperti itu menunjukkan kekejiannya. (Nailul Authar)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan hal tersebut, maka tidak boleh bagi wanita meminta talak dari suaminya, selama tidak ada sebab yang membahayakan bagi dirinya, atau sebab yang membolehkan nya meminta talak karenanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Dalia :” apakah ada bahaya atau sebab yang lebih besar dari pada ia memadumu ? ini membahayakanmu dan merupakan sebab yang disyariatkan untuk meminta talak.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Mahmud :” sangat disayangkan dan mengherankan bahwasannya kebanyakan wanita tidak memahami hak dan kewajiban mereka terhadap agama serta suami mereka. Biar saya jelaskan kepadamu apa yang belum engkau pahami dalam hadist yang mulia ini. Bahaya yang dimaksud didalam hadits tersebut tidak bisa diartikan meminta talak. Ta’addud bukan sebab syar’ie untuk meminta talak. Ta’addud adalah perkara yang disyari’atkan , yang telah dibawa oleh islam. Ayat-ayat Al-Qur’an dan sunnah yang suci telah menunjukkan bolehnya menikah dengan empat wanita bagi laki laki.. tidak mengapa baginya selama ia memberikan hak kepada setiap yang berhak dalam pembagian hari dan apa yang telah Allah wajibkan untuknya (wanita). Istri tidak berhak melarangnya dari menggunakan hak yang telah dibolehkan Allah untuknya., Allah mensyari’atkan ta’addud untuk suatu maslahah besar dan hikmah yang agung. DIA tidak mensyariatkan untuk hambanya, melainkan ap ayang mendatangkan kebahagiaan bagi mereka didunia dan akhirat, tidak untuk mendatangkan bahaya bagi mereka. Sangat disayangkan banyak sekali wanita yang meminta talak dari suami mereka karena ia menikah lagi dengan wanita lain. Ini dalam pandangan mereka adalah kesalahan besar. Ini berbahaya sekali karena bisa mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah, dan juga menentang hokum Allah. Hendaklah kamu berhati hati dari hal itu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Dalia :” saya punya dalil dari sunnah yang menunjukkan bahwa meminta talak dari suami disyariatkan apabila ia menikah lagi dengan wanita lain karena adanya keburukan yang menimpanya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Mahmud :” silakan sebutkan apa yang ada padamu. Apabila kebenaran bersamamu, saya akan mengikutinya karena hikmah adalah sesuatu yang dicari cari seorang mukmin. Jika ia mendapatkannya, ia mengamalkannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Dalia :” ada peristiwa yang menunjukkan sikap Rasulullah yaitu ketika Ali bin Abu Thalib Ra hendak menikah dengan putrid Abu Jahal, maka Rasulullah mencegahnya dengan berkata :” Jika Ali menikahi putrid Abu Jahal, hendaklah ia menalak putriku, kemudian Ali tidak jadi memadu fathimah.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Mahmud :” bagus. Hadist ini shohih diriwayatkan Bukhari &amp;amp; Muslim. Biar saya jelaskan kepadamu hadist ini dengan sempurna karena kamu menyebutkan sebagian hadist dan menyembunyikan bagian yang lain. Atau mungkin kamu tidak tahu kelanjutkan hadits tersebut karena bagian hadits yang tidak kamu sebutkan menjelaskan bagian pertama. Penyebab Rasulullah melarang ali menikahi putri abu jahal adalah ketika kedatangan fatimah ra kepada Nabi Saw dan berkata :” sesungguhnya Quraisy mengatakan bahwasannya engkau tidak cemburu terhadap putri putrimu.” Sehubungan dengan itu , Rasulullah berbicara dihadapan manusia :” Sesungguhnya keluarga bani Hasyim bin Al-Mughiroh minta izin kepadaku untuk menikahi putri mereka dengan Ali, maka aku tidak mengizinkannya, kecuali Ali menalak putriku. Ketahuilah! Sesungguhnya aku tidak mengharamkan yang halal dan tidak menghalalkan yang haram. Akan tetapi, demi Allah tidak akan berkumpul putri Rasulullah dengan putri musuh Allah dibawah satu atap. Sesungguhnya aku khawatir mereka akan memfitnah putriku. Sesungguhnya fathimah adalah bagian dariku. Meragukanku apa yang meragukannya, dan menyakitiku apa yang menyakitinya.” Intinya disini bahwa Rasulullah Saw melarang Ali menikah dan meminta darinya untuk tidak menyatukan antara Putri Nabi Saw dan putri Musuh Allah yang bernama Abu jahal dibawah satu atap. Rasulullah tidak mengharamkan atas umatnya sesuatu yang halal yaitu Ta’addud. Hal ini berdasarkan dalil perkataan beliau : “ Sesungguhnya aku tidak mengharamkan yang halal dan tidak menghalalkan yang haram.” Bagaimana mungkin Rasulullah Saw mengharamkan itu karena Allah telah berfirman , “ ….. Maka nikahilah apa yang baik bagimu dari wanita – wanita, dua, atau tiga, atau empat …… (An-Nisa; 3).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya nabi melarang pernikahan Ali dengan putrid Abu jahal hanyalah karena sebab sebab yang disebut dalam hadits ,yaitu :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Agar tidak berkumpul Fathimah binti Rasulullah bersama putrid musuh Allah dibawah satu atap dan disatu temapt. Kalau ali menikah dengan selain putrid Nabi, atau wanita keuda yang akan dinikahi Ali bukan putrid abu jahal, niscaya beliau tidak mengingkarinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. kekhawatiran Rasulullah bahwa Fathimah akan terfitnah dalam agamanya apabila terjadi pernikahan tersebut. Oleh karena itu, beliau berkata :” sesungguhnya aku khawatir akan menfitnah putriku.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Hal ini khusus mengenai putrid Rasulullah bukan untuk setiap wanita muslimah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. untuk tidak menyakiti Rasulullah disebabkan berkumpul nya putrid musuh Allah bersama putrid&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah disatu tempat. Oleh karena itu, beliau berkata :…. Meragukan saya apa yang meragukannya dan menyakitiku apa yang menyakitinya.” Menyakiti Rasulullah adalah haram dengan kesepakatan ulama, sebagaimana yang disebutkan oleh al hafizh ibnu hajar didalam Fathul bari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Ada hikmah yang menakjubkan dibalik dilarangnya ali menyatukan antara fathimah dan putrid abu jahal. Ibnu Qayyim menyebutkan : “ wanita bersama suaminya dan mengikuti suaminya dalam hal derajat. Jika ia memiliki derajat jiwa yang tinggi dan suaminya juga begitu, maka ia berada pada kedudukan yang tinggi, inilah keadaan Fatimah dan Ali Ra. Allah tidak menjadikan putrid abu jahal sama kedudukannya dengan Fathimah Ra. Baik dengan dirinya sendiri maupun karena mengikuti suaminya. Diantara keduanya ada perbedaan2. sehubungan dengan itu, berkumpulnya ia dengan pemimpin wanita sedunia bukanlah suatu yang baik, secara syar’I maupun qadar. Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah mengisyaratkan ini dengan perkataannya :” DEMI ALLAH ! tidak akan berkumpul putri Rasulullah dan putri musuh Allah disatu tempat selama lamanya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Agaknya masalah ini telah jelas bagimu. Jadi, hadist ini jelas sejelas jelasnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bersambung…………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ainulmardhiyah.abatasa.com &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-221366151298670653?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/221366151298670653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/221366151298670653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/05/kunjungan-teman-yang-buruk-1.html' title='KUNJUNGAN TEMAN YANG BURUK (1)'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-382834108459682596</id><published>2011-05-25T06:49:00.000-07:00</published><updated>2011-05-25T06:49:03.746-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penyucian Jiwa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>Kutitip Surat ini Untukmu....</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-gAHV-yJTXwc/Td0IrYoW0JI/AAAAAAAAAFM/8eM2rR1Ldwo/s1600/whitetulip.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://2.bp.blogspot.com/-gAHV-yJTXwc/Td0IrYoW0JI/AAAAAAAAAFM/8eM2rR1Ldwo/s200/whitetulip.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk anakku yang ku sayangi di bumi Alloh ta’ala&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segala puji ku panjatkan ke hadirat Alloh ta’ala, yang telah memudahkan ibu untuk beribadah kepada-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sholawat serta salam, ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-, keluarga, dan para sahabatnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wahai anakku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;surat ini datang dari ibumu, yang selalu dirundung sengsara. Setelah berpikir panjang, ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap kali menulis, setiap itu pula gores tulisan ini terhalangi oleh tangis. Dan setiap kali menitikkan air mata, setiap itu pula, hati ini terluka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wahai anakku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak. Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau akan remas kertas ini, lalu engkau robek-robek, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati ibu, dan telah engkau robek pula perasaannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wahai anakku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu ketika dokter datang menyampaikan tentang kehamilanku, dan semua ibu sangat mengerti arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini, sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi ibu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semenjak kabar gembira tersebut, aku membawamu sembilan bulan. Tidur, berdiri, makan, dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi, itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku mengandungmu wahai anakku, pada kondisi lemah di atas lemah. Bersamaan dengan itu, aku begitu gembira tatkala merasakan dan melihat terjalan kakimu, atau balikan badanmu di perutku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku merasa puas, setiap aku menimbang diriku, karena bila semakin hari semakin berat perutku, berarti dengan begitu engkau sehat wal afiat di dalam rahimku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anakku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah tiba pada malam itu, yang aku tidak bisa tidur sekejap pun, aku merasakan sakit yang tidak tertahankan, dan merasakan takut yang tidak bisa dilukiskan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sakit itu berlanjut, sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula, aku melihat kematian di hadapanku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia, dan engkau lahir. Bercampur air mata kebahagiaanku dengan air mata tangismu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika engkau lahir, menetes air mata bahagiaku. Dengan itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku kepadamu semakin bertambah, dengan bertambah kuatnya sakit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku raih dirimu, sebelum ku raih minuman. Aku peluk cium dirimu, sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkongan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wahai anakku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Telah berlalu setahun dari usiamu. Aku membawamu dengan hatiku, memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Sari pati hidupku, kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur, demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu. Harapanku pada setiap harinya, agar aku selalu melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat, adalah setiap permintaanmu agar aku berbuat sesuatu untukmu. Itulah kebahagiaanku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu berlalulah waktu, hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, selama itu pula, aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai… menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti… menjadi pekerjamu yang tidak pernah lelah… dan mendoakan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku selau memperhatikan dirimu, hari demi hari, hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu, wahai anakku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tatkala itu, aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan, demi mencari pasangan hidupmu, semakin dekat hari perkawinanmu anakku, semakin dekat pula hari kepergianmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tatkala itu, hatiku serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka. Tangis telah bercampur pula dengan tawa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan… karena engkau telah mendapatkan jodoh… karena engkau telah mendapatkan pendamping hidup… Sedangkan sedih karena engkau adalah pelipur hatiku, yang akan berpisah sebentar lagi dari diriku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Waktu pun berlalu, seakan-akan aku menyeretnya dengan berat, kiranya setelah perkawinan itu, aku tidak lagi mengenal dirimu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihanku, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam, seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran, aku benar-benar tidak mengenalmu lagi, karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terasa lama hari-hari yang ku lewati, hanya untuk melihat rupamu. Detik demi detik ku hitung demi mendengar suaramu. Akan tetapi penantianku seakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu, aku menyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering, aku merasa bahwa engkau yang akan menelponku. Setiap suara kendaraan yang lewat, aku merasa bahwa engkaulah yang datang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akan tetapi semua itu tidak ada, penantianku sia-sia, dan harapanku hancur berkeping. Yang ada hanya keputus-asaan… Yang tersisa hanya kesedihan dari semua keletihan yang selama ini ku rasakan, sambil menangisi diri dan nasib yang memang ditakdirkan oleh-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anakku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibumu tidaklah meminta banyak, ia tidaklah menagih padamu yang bukan-bukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang ibu pinta kepadamu:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan ibu memohon kepadamu nak, janganlah engkau pasang jerat permusuhan dengan ibumu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jangan engkau buang wajahmu, ketika ibumu hendak memandang wajahmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang ibu tagih kepadamu:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana, sekalipun hanya sedetik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi. Atau sekiranya terpaksa engkau datang sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anakku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Telah bungkuk pula punggungku… bergemetar tanganku… karena badanku telah dimakan oleh usia, dan telah digerogoti oleh penyakit… Berdirinya seharusnya telah dipapah… duduk pun seharusnya dibopong…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akan tetapi, yang tidak pernah sirna -wahai anakku- adalah cintaku kepadamu… masih seperti dulu… masih seperti lautan yang tidak pernah kering… masih seperti angin yang tidak pernah berhenti…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikan dengan kebaikan, sedangkan ibumu, mana balas budimu, mana balasan baikmu?! bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air serupa?! bukan sebaliknya air susu dibalas dengan air tuba?! Dan bukankah Alloh ta’ala, telah berfirman:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;هل جزاء الإحسان إلا الإحسان&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukankah balasan kebaikan, melainkan kebaikan yang serupa?!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sampai begitukah keras hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wahai anakku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak?! Karena engkau adalah buah dari kedua tanganku… Engkau adalah hasil dari keletihanku… Engkaulah laba dari semua usahaku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dosa apakah yang telah ku perbuat, sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernahkah suatu hari aku salah dalam bergaul denganmu?!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak dapatkah engkau menjadikanku pembantu yang terhina dari sekian banyak pembantu-pembantumu yang mereka semua telah engkau beri upah?!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu?!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dapatkah engkau sekarang menganugerahkan sedikit kasih sayang demi mengobati derita orang tua yang malang ini?!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;إن الله يحب المحسنين&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berbuat baik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wahai anakku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wahai anakku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hatiku terasa teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan, bahwa engkau adalah laki-laki yang supel, dermawan dan berbudi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wahai anakku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah hatimu tidak tersentuh, terhadap seorang wanita tua yang lemah, binasa dimakan oleh rindu berselimutkan kesedihan, dan berpakaian kedukaan?!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengapa? Tahukah engkau itu?! Karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… Karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… Karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wahai anakku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibumu inilah sebenarnya pintu surga, maka titilah jembatan itu menujunya… Lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, kemaafan, dan balas budi yang baik… Semoga aku bertemu denganmu di sana, dengan kasih sayang Alloh ta’ala sebagaimana di dalam hadits:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;الوالد أوسط أبواب الجنة فإن شئت فأضع ذلك الباب أو احفظه&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang tua adalah pintu surga yang paling tinggi. Sekiranya engkau mau, sia-siakanlah pintu itu, atau jagalah! (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dishohihkan oleh Albani)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anakku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku mengenalmu sejak dahulu… semenjak engkau telah beranjak dewasa… aku tahu engkau sangat tamak dengan pahala… engkau selalu cerita tentang keuatamaan berjamaah… engkau selalu bercerita terhadapku tentang keutamaan shof pertama dalam sholat berjamaah… engkau selalu mengatakan tentang keutamaan infak, dan bersedekah…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akan tetapi satu hadits yang telah engkau lupakan… satu keutamaan besar yang telah engkau lalaikan… yaitu bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdulloh bin Mas’ud, ia mengatakan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم، قلت: يا رسول الله أي العمل أفضل؟ قال: الصلاة على ميقاتها. قلت: ثم أيُّ؟ قال: ثم بر الوالدين. قلت: ثم أيُّ؟ قال: الجهاد في سبيل الله. فسكت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولو استزدته لزادني. (متفق عليه)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku bertanya kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-: Wahai Rosululloh, amal apa yang paling mulia? Beliau menjawab: sholat pada waktunya. Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Kemudian berbakti kepada kedua orang tua. Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Kemudian jihad di jalan Alloh. Lalu aku pun diam (tidak bertanya) kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- lagi, dan sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Itulah hadits Abdulloh bin Mas’ud…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wahai anakku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah aku, ibumu… pahalamu… tanpa engkau harus memerdekakan budak atau banyak-banyak berinfak dan bersedekah… aku inilah pahalamu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernahkah engkau mendengar, seorang suami yang meninggalkan keluarga dan anak-anaknya, berangkat jauh ke negeri seberang, ke negeri entah berantah untuk mencari tambang emas, guna menghidupi keluarganya?! Dia salami satu persatu, dia ciumi isterinya, dia sayangi anaknya, dia mengatakan: Ayah kalian, wahai anak-anakku, akan berangkat ke negeri yang ayah sendiri tidak tahu, ayah akan mencari emas… Rumah kita yang reot ini, jagalah… Ibu kalian yang tua renta ini, jagalah…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berangkatlah suami tersebut, suami yang berharap pergi jauh, untuk mendapatkan emas, guna membesarkan anak-anaknya, untuk membangun istana mengganti rumah reotnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akan tetapi apa yang terjadi, setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, yang ia bawa hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia gagal dalam usahanya. Pulanglah ia kembali ke kampungnya. Dan sampailah ia ke tempat dusun yang selama ini ia tinggal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa lagi yang terjadi di tempat itu, setibanya di lokasi rumahnya, matanya terbelalak. Ia melihat, tidak lagi gubuk reot yang ditempati oleh anak-anak dan keluarganya. Akan tetapi dia melihat, sebuah perusahaan besar, tambang emas yang besar. Jadi ia mencari emas jauh di negeri orang, kiranya orang mencari emas dekat di tempat ia tinggal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Itulah perumpaanmu dengan kebaikan, wahai anakku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Engkau berletih mencari pahala… engkau telah beramal banyak… tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar… di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu masuk surga…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibumu adalah orang yang dapat menghalangimu untuk masuk surga, atau mempercepat amalmu masuk surga… Bukankah ridloku adalah keridloan Alloh?! Dan bukankan murkaku adalah kemurkaan Alloh?!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anakku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku takut, engkaulah yang dimaksud oleh Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- di dalam haditsnya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;رغم أنفه ثم رغم أنفه ثم رغم أنفه قيل من يا رسول الله قال من أدرك والديه عند الكبر أحدهما أو كليهما ثم لم يدخل الجنة (رواه مسلم)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Celakalah seseorang, celakalah seseorang, dan celakalah seseorang! Ada yang bertanya: Siapakah dia wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Dialah orang yang mendapati orang tuanya saat tua, salah satu darinya atau keduanya, akan tetapi tidak membuat dia masuk surga. (HR. Muslim 2551)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Celakalah seorang anak, jika ia mendapatkan kedua orang tuanya, hidup bersamanya, berteman dengannya, melihat wajahnya, akan tetapi tidak memasukkan dia ke surga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anakku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit, aku tidak akan adukan duka ini kepada Alloh, karena jika seandainya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan, yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku tidak akan melakukannya wahai anakku… tidak… bagaimana aku akan melakukannya, sedangkan engkau adalah jantung hatiku… bagaimana ibu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit, sedangkan engkau adalah pelipur lara hatiku… bagaimana ibu tega melihatmu merana terkena doa mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bangunlah nak… bangunlah… bangkitlah nak… bangkitlah… uban-uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa, sehingga engkau akan menjadi tua pula.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;الجزاء من جنس العمل&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagaimana engkau akan berbuat, seperti itu pula orang akan berbuat kepadamu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;الجزاء من جنس العمل&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ganjaran itu sesuai dengan amal yang engkau telah tanamkan. Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku tidak ingin engkau menulis surat ini… aku tidak ingin engkau menulis surat yang sama, dengan air matamu kepada anak-anakmu, sebagaimana aku telah menulisnya kepadamu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wahai anakmu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;bertakwalah kepada Alloh… takutlah engkau kepada Alloh… berbaktilah kepada ibumu… peganglah kakinya, sesungguhnya surga berada di kakinya… basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya… kencangkan tulang ringkihnya… dan kokohkan badannya yang telah lapuk…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anakku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;setelah engkau membaca surat ini, terserah padamu. Apakah engkau sadar dan engkau akan kembali, atau engkau akan merobeknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wa shollallohu ala nabiyyina muhammadin wa ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari Ibumu yang merana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Disadur dari kajian Ustadz Armen -rohimahulloh- dan akan disambung dengan jawaban si anak kepada sang ibu)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-382834108459682596?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/382834108459682596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/382834108459682596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/05/kutitip-surat-ini-untukmu.html' title='Kutitip Surat ini Untukmu....'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-gAHV-yJTXwc/Td0IrYoW0JI/AAAAAAAAAFM/8eM2rR1Ldwo/s72-c/whitetulip.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-2097302582222664251</id><published>2011-05-25T06:42:00.000-07:00</published><updated>2011-05-25T06:42:58.274-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>Kepada yg tercinta, bundaku yg kusayang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-md5e-o4Oz-w/Td0G30yXrtI/AAAAAAAAAFE/4s6FcZ6AGsA/s1600/batudipantai.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="135" src="http://4.bp.blogspot.com/-md5e-o4Oz-w/Td0G30yXrtI/AAAAAAAAAFE/4s6FcZ6AGsA/s200/batudipantai.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segala puji bagi Allah… yg telah memuliakan kedudukan kedua orang tua, dan telah menjadikan mereka berdua sebagai pintu tengah menuju surga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Shalawat serta salam hamba -yg lemah ini- panjatkan keharibaan Nabi yg mulia, keluarga serta para sahabatnya hingga hari kiamat. Amin…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku terima suratmu yg engkau tulis dg tetesan air mata dan duka… aku telah membaca semuanya… tidak ada satu huruf pun yg aku sisakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi tahukah engkau, wahai Ibu… bahwa aku membacanya semenjak shalat Isya’… Semenjak sholat isya’… aku duduk di pintu kamar, aku buka surat yg engkau tuliskan untukku… dan aku baru selesaikan membacanya setelah ayam berkokok… setelah fajar terbit dan adzan pertama telah dikumandangkan…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya, surat yg engkau tulis tersebut, jika ditaruhkan di atas batu, tentu ia akan pecah… Jika engkau letakkan di atas daun yg hijau, tentu dia akan kering…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya, surat yg engkau tulis tersebut tidak akan tertelan oleh ayam… Sebenarnya, wahai ibu, suratmu itu bagiku bagaikan petir kemurkaan, yg jika dipecutkan ke pohon yg besar, dia akan rebah dan terbakar…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suratmu wahai ibu, bagaikan awan Kaum Tsamud, yg datang berarak dan telah siap dimuntahkan kepadaku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku telah baca suratmu, sedangkan air mataku tidak pernah berhenti!! Bagaimana tidak… Jika surat itu ditulis oleh seorang yg bukan ibu dan bukan ditujukan pula kepadaku, layaklah orang yg paling bebal, untuk menangis sejadi-jadinya… Bagaimana kiranya, jika yg menulis itu adalah ibuku sendiri… dan surat itu ditujukan untukku sendiri…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sungguh aku sering membaca kisah sedih, tidak terasa bantal yg dijadikan tempat bersandar telah basah karena air mata… Bagaimana pula dg surat yg ibu tulis itu!? bukan cerita yg ibu karang, atau sebuah drama yg ibu perankan, akan tetapi dia adalah kenyataan hidup yg ibu rasakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibuku yg kusayangi…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sungguh berat cobaanmu… sungguh malang penderitaanmu… semua yg engkau telah sebutkan benar adanya…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku masih ingat ketika engkau ditinggalkan ayah pada masa engkau hamil tua mengandung adikku. Ayah pergi entah kemana tanpa meninggalkan uang belanja, jadilah engkau mencari apa yg dapat dimasak di sekitar rumah dari dedaunan dan tumbuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dg jalan berat engkau melangkah ke kedai untuk membeli ala kadarnya, sambil engkau membisikkan kepada penjual bahwa apa yg engkau ambil tersebut adalah hutang… hutang… yg engkau sendiri tidak tahu, kapan engkau akan dapat melunasinya…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku masih ingat ketika kami anak-anakmu menangis untuk dibuatkan makanan, engkau tiba-tiba menggapai atap dapur untuk mengambil kerak nasi yg telah lama engkau jemur dan keringkan…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak jarang pula engkau simpan untukku sepulang sekolah tumbung kelapa, hanya untuk melihat aku mengambilnya dg segera.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku masih ingat… engkau sengaja ambilkan air didih dari nasi yg sedang dimasak, ketika engkau temukan aku dalam keadaan sakit demam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;maafkanlah anakmu ini… aku tahu bahwa semenjak engkau gadis, sebagaimana yg diceritakan oleh nenek sampai engkau telah tua seperti sekarang ini, engkau belum pernah mengecap kebahagiaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Duniamu hanya rumah serta halamannya, kehidupanmu hanya dg anak-anakmu… Belum pernah aku melihat engkau tertawa bahagia, kecuali ketika kami anak-anakmu datang ziarah kepadamu. Selain dari itu, tidak ada kebahagiaan… Semua hidupmu adalah perjuangan. Semua hari-harimu adalah pengorbanan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maafkan anakmu ini! Semenjak engkau pilihkan untukku seorang istri, wanita yg telah engkau puji sifat dan akhlaknya… yg engkau telah sanjung pula suku dan negerinya! Semenjak itu pula aku seakan-akan lupa deganmu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wahai ibu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keberadaan dia sebagai istriku telah membuatku lupa posisi engkau sebagai ibuku… senyuman dan sapaannya telah melupakanku dg himbauanmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu… aku tidak menyalahkan wanita pilihanmu tersebut, karena kewajibannya untuk menunaikan tanggung-jawabnya sebagai istri… Aku berharap pada permasalahan ini, engkau tidak membawa-bawa namanya, dan mengaitkan kedurhakaanku kepadamu karenanya… Karena selama ini, di mataku dia adalah istri yg baik, istri yg telah berupaya berbuat banyak untuk suami dan anak-anaknya… Istri yg selalu menyuruh untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika seorang laki-laki menikah dg seorang wanita, maka seolah-olah dia telah mendapatkan permainan baru, seperti anak kecil mendapatkan boneka atau orang-orangan. Maafkan aku ibu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku tidaklah membela diriku, karena dari awal dan akhir pembicaraan ini kesalahan ada padaku, anakmu ini… Akan tetapi aku ingin menerangkan keadaan yg aku alami, perubahan suasana setelah engkau dan aku berpisah, tidak satu atap lagi…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perkawinanku membuatku masuk ke alam dunia baru… dunia yg selama ini tidak pernah aku kenal… dunia yg hanya ada aku, istri dan anak-anakku… Bagaimana tidak, istri yg baik, anak-anak yg lucu-lucu! Maafkan aku Ibu… Maafkan aku anakmu… aku merasa dunia hanya milik kami, aku tidak peduli dg keadaan orang yg penting bagiku… yg penting bagiku adalah keadaan mereka: anak-anak dan istriku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maafkan aku, anakmu… Ampunkan aku, anakmu… Aku telah lalai… aku telah alpa… aku telah lupa… aku telah menyia-nyiakanmu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku pernah mendengar kajian, bahwa orang tua difitrahkan untuk cinta kepada anaknya, akan tetapi anak difitrahkan untuk menyia-nyiakan orang tuanya… Oleh sebab itu, dilarang mencintai anak secara berlebihan, sebagaimana anak dilarang berbuat durhaka kepada orang tuanya… Itulah yg terjadi pada diriku, wahai Ibu!!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku pasti akan gila ketika melihat anakku sakit… Aku seperti orang kebingungan ketika melihat anakku diare… Tapi itu sulit, aku rasakan jika hal itu terjadi padamu wahai ibu… Itu sulit aku rasakan, jika seandainya hal itu terjadi pada ibu, dan pada ayah…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sulit aku merasakan perasaanmu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalaulah bukan karena bimbingan agama yg telah engkau talqinkan kepadaku, tentu aku telah seperti kebanyakan anak-anak yg durhaka kepada orang tuanya!!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalaulah bukan karena baktimu pula kepada orang tuamu dan orang tua ayahmu, niscaya aku tidak akan pernah mengenal arti bakti kepada orang tua.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah suratmu datang, baru aku mengerti… Karena selama ini hal itu tidak pernah engkau ungkapkan, semuanya engkau simpan dalam-dalam seperti semua permasalahan berat, yg engkau hadapi selama ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang baru aku mengerti, wahai ibu… bahwa hari yg sulit bagi seorang ibu, adalah hari di mana anak laki-lakinya telah menikah dg seorang wanita… wanita yg telah mendapat keberuntungan…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana tidak… Dia dapatkan seorang laki-laki yg telah matang pribadinya dan matang ekonominya, dari seorang ibu yg telah letih membesarkannya… Dari hidup ibu itulah ia dapatkan kematangan jiwa, dan dari uang ibu itu pulalah ia dapatkan kematangan ekonomi… Sekarang, -dg ikhlas- ia berikan kepada seorang wanita yg tidak ada hubungan denganya, kecuali hubungan dua wanita yg saling berebut perhatian seorang laik-laki… Dia sebagai anak dari ibunya dan dia sebagai suami dari istrinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibuku sayang…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maafkan aku… Ampunkan diriku… Satu tetesan air matamu adalah lautan api neraka bagiku… Janganlah engkau menangis lagi, janganlah engkau berduka lagi!… Karena duka dan tangismu menambah dalam jatuhku ke dalam api neraka!! Aku takut Ibu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau itu pula yg akan kuperoleh… kalau neraka pula yg akan aku dapatkan… ijinkan aku membuang semua kebahagiaanku selama ini, hanya demi untuk dapat menyeka air matamu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau engkau masih akan murka kepadaku, izinkan aku datang kepadamu membawa segala yg aku miliki lalu menyerahkannya kepadamu, lalu terserah engkau… terserah engkau, mau engkau buat apa…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sungguh ibu, dari hati aku katakan, aku tidak mau masuk neraka, sekalipun aku memiliki kekuasaan Firaun… kekayaan Karun… dan keahlian Haman… Niscaya aku tidak akan tukar dg kesengsaraan di akhirat sekalipun sesaat… Siapa pula yg tahan dg azab neraka, wahai Bunda… maafkan aku anakmu, wahai ibu!!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun sebutanmu tentang keluhan dan pengaduan kepada Allah ta’ala, bahwa engkau belum mau mengangkatnya ke langit… bahwa engkau belum mau berdoa kepada Alloh akan kedurhakaanku… Maka, ampun, wahai Ibu!!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalaulah itu yg terjadi… dan do’a itu tersampaikan ke langit! Salah pula ucapan lisanmu!! Apalah jadinya nanti diriku… Apalah jadinya nanti diriku… Tentu aku akan menjadi tunggul yg tumbang disambar petir… apalah gunanya kemegahan, sekiranya engkau do’akan atasku kebinasaan, tentu aku akan menjadi pohon yg tidak berakar ke bumi dan dahannya tidak bisa sampai ke langit, di tengahnya dimakan kumbang pula…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalaulah do’amu terucap atasku, wahai bunda… maka, tidak ada lagi gunanya hidup… tidak ada lagi gunanya kekayaan, tidak ada lagi gunanya banyak pergaulan…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu dalam sepanjang sejarah anak manusia yg kubaca, tidak ada yg bahagia setelah kena kutuk orang tuanya. Itu di dunia, maka aku tidak dapat bayangkan bagaimana nasibnya di akherat, tentu ia lebih sengsara…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah membaca suratmu, baru aku menyadari kekhilafan, kealfaan dan kelalaianku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu… Suratmu akan kujadikan “jimat” dalam hidupku… setiap kali aku lalai dalam berkhidmat kepadamu akan aku baca ulang kembali… tiap kali aku lengah darimu akan kutalqinkan diriku dengannya… Akan kusimpan dalam lubuk hatiku, sebelum aku menyimpannya dalam kotak wasiatku… Akan aku sampaikan kepada anak keturunanku, bahwa ayah mereka dahulu pernah lalai di dalam berbakti, lalu ia sadar dan kembali kepada kebenaran… ayah mereka pernah berbuat salah, sehingga ia telah menyakiti hati orang yg seharusnya ia cintai, lalu ia kembali kepada petunjuk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bunda…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tua… engkau berbicara tentang tua, wahai bunda…?! siapa yg tidak mengalami ketuaan, wahai ibu!!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Burung elang yg terbang di angkasa, tidak pernah bermain kecuali di tempat yg tinggi… suatu saat nanti dia akan jatuh jua, dikejar, dan diperebutkan oleh burung-burung kecil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Singa, si raja hutan yg selalu memangsa, jika telah tiba tua, dia akan dikejar-kejar oleh anjing kecil tanpa ada perlawanan… Tidak ada kekuasaan yg kekal, tidak ada kekayaan yg abadi, yg tersisa hanya amal baik atau amal buruk yg akan dipertanggungjawabkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Do’akan anakmu ini, agar menjadi anak yg berbakti kepadamu, di masa banyak anak yg durhaka kepada orang tuanya… Angkatlah ke langit munajatmu untukku, agar aku akan memperoleh kebahagiaan abadi di dunia dan di akherat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;sesampainya suratku ini, insya Allah tidak akan ada lagi air mata yg jatuh karena ulah anakmu… setelah ini tidak ada lagi kejauhan antaraku denganmu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;bahagiamu adalah bahagiaku… kesedihanmu adalah kesedihanku… senyumanmu adalah senyumanku… tangismu adalah tangisku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku berjanji, untuk selalu berbakti kepadamu buat selamanya, dan aku berharap agar aku dapat membahagiakanmu selagi mataku masih bisa berkedip… maka bahagiakanlah dirimu… buanglah segala kesedihan, cobalah tersenyum… Ini kami… aku, istri, dan anak-anak sedang bersiap-siap untuk bersimpuh di hadapanmu, mencium tanganmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salam hangat dari anakmu yg durhaka…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Disadur dari kajian Ustadz Armen -rohimahulloh-)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://addariny.wordpress.com/2010/04/12/ibuku-sayang/#more-1646" target="_blank&amp;quot;"&gt;sumber&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-2097302582222664251?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/2097302582222664251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/2097302582222664251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/05/kepada-yg-tercinta-bundaku-yg-kusayang.html' title='Kepada yg tercinta, bundaku yg kusayang'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-md5e-o4Oz-w/Td0G30yXrtI/AAAAAAAAAFE/4s6FcZ6AGsA/s72-c/batudipantai.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-6265514250862539043</id><published>2011-05-25T06:22:00.000-07:00</published><updated>2011-05-25T06:22:37.961-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sya&apos;ir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penyucian Jiwa'/><title type='text'>Pesan dari… Maqomatul Hariri</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-rj_VXR84Kwk/Td0B_-WCtiI/AAAAAAAAAE8/LPN4CD6lH7Q/s1600/jalan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ZufSng9jzXw/Td0Cb0LkD2I/AAAAAAAAAFA/Lt-zci2qpFU/s1600/mn-Saudi_Iranian_0501016005.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="149" src="http://2.bp.blogspot.com/-ZufSng9jzXw/Td0Cb0LkD2I/AAAAAAAAAFA/Lt-zci2qpFU/s200/mn-Saudi_Iranian_0501016005.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Bismillah… walhamdulillah… was sholatu wassalamu ala rosulillah… wa ala alihi wa man tabi’a hudah…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berikut ini adalah syair dari seorang pujangga terkemuka… Abu Muhammad Alqosim bin Ali al-Hariri namanya… Penulis kitab Al-Maqomat yg sangat tinggi keindahan bahasanya… Sehingga Nabi Gadungan Mirza Ghulam Ahmad sering mencomot kata-katanya…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tahun 446 adalah tahun kelahirannya… dan tahun 517 H beliau meninggalkan dunia… banyak sekali hikmah yg terkandung di dalam syairnya… berikut adalah sebagian untaian hikmahnya…&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Wahai orang yg mengaku memiliki pemahaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wahai orang (yg secara tabiat) bersaudara dg kesalahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapan engkau terus melakukan dosa &amp;amp; tercelanya perbuatan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapan kau terus melakukan banyak kesalahan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah sudah jelas keburukan yg ada padamu?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah ubanmu telah memperingatkanmu?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah ada keraguan dalam nasihat &amp;amp; peringatannya itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan tidak pula tuli telingamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kematian telah memanggilmu?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah suara (tangisan terhadap mayit) telah banyak menyerumu?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah kau takut akan hilangnya kesempatan?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga membuatmu lebih hati-hati dan menaruh perhatian&lt;br /&gt;Sudah berapa kali engkau acuh dalam kelalain…?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sombong karena baiknya keadaan…?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenggelam dalam perkara yg melalaikan…?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan kematian tidak untuk semua insan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapan engkau jauh dari amal kebaikan…?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapan engkau terus dalam penundaan…?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabiat-tabiat buruk telah mengumpulkan untukmu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aib-aib yg terus menumpuk dan menyatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila engkau membuat murka Bagindamu… engkau tidak gelisah dengan hal itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bila gagal usaha duniamu… engkau menjadi tersiksa dg kegundahanmu&lt;br /&gt;Bila tampak ukiran dinar dg warna kuningnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau menari tanda bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jika lewat peti mayat di depan mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau tampak sedih, padahal sebenarnya kesedihan itu tiada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus-menerus tidak engkau patuhi setiap orang baik yg menasehatimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan engkau benci dan lari dari nasehat itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya engkau mengikuti orang yg menipu dan membohongimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serta menyebar namimah yg merugikanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau terus berjalan dalam godaan hawa nafsu…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus memburu fulus dg berbagai tipu…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus melalaikan gelapnya liang lahat…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa yg ada di sana, tidaklah kau ingat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja engkau mendapatkan bagian taufiqNya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niscaya engkau takkan melirik dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak akan tampak kesedihan dan kegelisahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat engkau mendapatkan pesan kebaikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di padang makhsyar nanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau akan menangis darah dan bukan air mata lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kau lihat tidak ada keluarga yg melindungimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pula saudara bapak maupun ibumu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan aku melihat engkau tenggelam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk ke liang lahat dan tertutup dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelompok orang telah melepaskanmu terpencil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke tempat yg lebih sempit dari lubang yg kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sanalah jasad tergeletak lemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kemudian dimakan cacing tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga rapuh batang tubuhnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tulang belulang pun rusak pada akhirnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan selanjutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia harus mempertanggung-jawabkan amalannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila telah disiapkan siroth yg jembatannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dibentangkan di atas neraka bagi mereka yg menujunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak orang dulunya juru dakwah, menjadi sesat jalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pula orang yg dulunya berpangkat, menjadi hina kedudukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak orang alim yg dulunya alim, ternyata disandung kesalahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan: sekarang, telah menjadi besar semua permasalahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka cepatlah wahai orang yg belum tahu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melakukan kebaikan yg dapat memaniskan pahitnya sesuatu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hampir saja lemah usiamu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang engkau belum juga meninggalkan amalan tercelamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah engkau terus bersandar kepada masa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski hidupmu menyenangkan dan berada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga engkau seperti orang yg terperdaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh ular yg bisa menyemburkan bisanya (dg tiba-tiba)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وخفّضْ منْ تـراقـيكْ *** فإنّ المـوتَ لاقِـيكْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وسارٍ فـي تـراقـيكْ *** وما ينـكُـلُ إنْ هـمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah angkuh dan turunkan pundakmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kematian pasti akan menjumpaimu dan menjalari pundakmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia takkan melemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika telah menentukan arah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauhilah sikap memalingkan wajahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila engkau terbantukan oleh kebaikan nasibmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jagalah ucapan, agar tidak kelepasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh suatu kebahagiaan, untuk orang yg bisa menjaga lisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantulah saudaramu yg sedang kesusahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan percayalah kepadanya saat ia mengadukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempurnakanlah kurangnya amalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh beruntung orang menyempurnakan amalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandangilah mereka yg kekurangan hidupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik dg sesuatu yg banyak maupun yg sekedarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sedih dg kurangnya harta (karena sedekah dan amal kebaikan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pula berambisi mengumpulkan dunia (hingga menghalangimu bersedekah kepada yg membutuhkan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah engkau musuh akhlak tercela&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasakan tanganmu untuk memberi harta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan dengarkan celaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jauhkan tanganmu dari belenggu kebakhilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekalilah dirimu dg kebaikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggalkan apapun yg menyebabkan keburukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapkan tunggangan bahtera untuk perjalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan takutlah dg banyaknya ombak di lautan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku, dg ini aku mewasiatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah ku jelaskan (kebaikan) padamu, sebagaimana orang lain melakukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka beruntunglah pemuda yg pergi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dg adab-adabku ini dan menerapkannya dalam diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;أيا مَن يدّعي الفَـهْـمْ *** إلى كمْ يا أخا الوَهْـمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تُعبّي الـذّنْـبَ والـذمّ *** وتُخْطي الخَطأ الجَـمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أمَا بانَ لـكَ الـعـيْبْ *** أمَا أنْـذرَكَ الـشّـيبْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وما في نُصحِـهِ ريْبْ *** ولا سمْعُكَ قـدْ صـمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أمَا نادَى بكَ الـمـوتْ *** أمَا أسْمَعَك الصّـوْتْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أما تخشَى من الفَـوْتْ *** فتَحْـتـاطَ وتـهـتـمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فكمْ تسدَرُ في السهْـوْ *** وتختالُ من الـزهْـوْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وتنْصَبُّ إلى الـلّـهـوْ *** كأنّ الموتَ مـا عَـمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وحَـتّـام تَـجـافـيكْ *** وإبْـطـاءُ تـلافـيكْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;طِباعاً جمْعـتْ فـيكْ *** عُيوباً شمْلُها انْـضَـمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إذا أسخَطْـتَ مـوْلاكْ *** فَما تقْلَـقُ مـنْ ذاكْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وإنْ أخفَقَ مسـعـاكْ *** تلظّيتَ مـنَ الـهـمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وإنْ لاحَ لكَ النّـقـشْ *** منَ الأصفَرِ تهـتَـشّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وإن مرّ بك النّـعـشْ *** تغامَـمْـتَ ولا غـمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تُعاصي النّاصِحَ البَـرّ *** وتعْـتـاصُ وتَـزْوَرّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وتنْقـادُ لـمَـنْ غَـرّ *** ومنْ مانَ ومـنْ نَـمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وتسعى في هَوى النّفسْ *** وتحْتالُ على الفَـلْـسْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وتنسَى ظُلمةَ الرّمـسْ *** ولا تَـذكُـرُ مـا ثَـمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولوْ لاحظَـكَ الـحـظّ *** لما طاحَ بكَ اللّـحْـظْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولا كُنتَ إذا الـوَعـظْ *** جَلا الأحزانَ تغْـتَـمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ستُذْري الدّمَ لا الدّمْـعْ *** إذا عايَنْتَ لا جـمْـعْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَقي في عَرصَةِ الجمعْ *** ولا خـالَ ولا عــمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كأني بـكَ تـنـحـطّ *** إلى اللحْدِ وتـنْـغـطّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقد أسلمَك الـرّهـطْ *** إلى أضيَقَ مـنْ سـمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هُناك الجسمُ مـمـدودْ *** ليستـأكِـلَـهُ الـدّودْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إلى أن ينخَرَ الـعـودْ *** ويُمسي العظمُ قـد رمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومنْ بـعْـدُ فـلا بُـدّ *** منَ العرْضِ إذا اعتُـدّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صِراطٌ جَـسْـرُهُ مُـدّ *** على النارِ لـمَـنْ أمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فكمْ من مُرشـدٍ ضـلّ *** ومـنْ ذي عِـزةٍ ذَلّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وكم مـن عـالِـمٍ زلّ *** وقال الخطْبُ قد طـمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فبادِرْ أيّها الـغُـمْـرْ *** لِما يحْلو بـهِ الـمُـرّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فقد كادَ يهي العُـمـرْ *** وما أقلعْـتَ عـن ذمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولا ترْكَنْ إلى الدهـرْ *** وإنْ لانَ وإن ســرّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فتُلْفى كمـنْ اغـتَـرّ *** بأفعى تنفُـثُ الـسـمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وجانِبْ صعَرَ الـخـدّ *** إذا ساعـدَكَ الـجـدّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وزُمّ اللـفْـظَ إنْ نـدّ *** فَما أسـعَـدَ مَـنْ زمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ونفِّسْ عن أخي البـثّ *** وصـدّقْـهُ إذا نــثّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ورُمّ العـمَـلَ الـرثّ *** فقد أفـلـحَ مَـنْ رمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ورِشْ مَن ريشُهُ انحصّ *** بما عمّ ومـا خـصّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولا تأسَ على النّقـصْ *** ولا تحرِصْ على اللَّمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعادِ الخُلُـقَ الـرّذْلْ *** وعوّدْ كفّـكَ الـبـذْلْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولا تستمِـعِ الـعـذلْ *** ونزّهْها عنِ الـضـمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وزوّدْ نفسَكَ الـخـيرْ *** ودعْ ما يُعقِبُ الضّـيرْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وهيّئ مركبَ الـسّـيرْ *** وخَفْ منْ لُـجّةِ الـيمّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بِذا أُوصـيتُ يا صـاحْ *** وقد بُحتُ كمَـن بـاحْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فطوبى لـفـتًـى راحْ *** بآدابـــيَ يأتَـــمّ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: Kitab Syarah Maqomat Hariri, jilid 2, hal 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://addariny.wordpress.com/2011/02/25/pesan-dari-maqomatul-hariri/#more-1770" target="_blank&amp;quot;"&gt;link sumber&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-6265514250862539043?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/6265514250862539043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/6265514250862539043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/05/pesan-dari-maqomatul-hariri.html' title='Pesan dari… Maqomatul Hariri'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ZufSng9jzXw/Td0Cb0LkD2I/AAAAAAAAAFA/Lt-zci2qpFU/s72-c/mn-Saudi_Iranian_0501016005.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-846742252190049775</id><published>2011-05-19T19:25:00.000-07:00</published><updated>2011-05-19T19:25:53.880-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Murji&apos;ah'/><title type='text'>Dakwah Salafiyah Bukan Murji’ah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;الدعوة السلفية ليست المرجعة&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dakwah Salafiyah Bukan Murji’ah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh : Al-Ustadz Abu’Abdirrahman bin Thayyib, Lc.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-K3k7kbu6Vu0/TdXQszZ9Z_I/AAAAAAAAAE4/VQr0u69h5gs/s1600/images.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-K3k7kbu6Vu0/TdXQszZ9Z_I/AAAAAAAAAE4/VQr0u69h5gs/s200/images.jpeg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada akhir-akhir ini banyak sekali tuduhan-tuduhan miring yang dilontarkan kepada Dakwah Salafiyah yang mubarokah, terutama oleh para aktivis gerakan (harokah termasuk adanya gerakan Khowarij Kontemporer) yang merasa telah banyak dibongkar kedok mereka oleh dakwah ini. Dan yang paling banyak atau sering mendapat tuduhan tersebut adalah Al-'Allaamah Al-Muhaddits Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahu beserta murid-murid beliau -hafizhahumullahu-.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan ini merupakan suatu kebiasaan ahli bid'ah sejak zaman dahulu sampai sekarang untuk menjauhkan umat dari para ulama Robbaniyyin yang berdakwah kepada tauhid serta menebarkan sunnah dan membasmi syirik serta bid'ah. Hal ini seperti yang telah dialami oleh Dakwah Salafiyah yang dijalankan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullahu yang dituduh dengan berbagai macam celaan, bahkan sebagian orang awam yangl termakan syubhat-syubhat mereka ketika mendengar gelar wahabi Iangsung merinding dan lari ketakutan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diantara tuduhan yang sekarang lancar disebarkan adalah tuduhan bahwa Dakwah Salafiyah adalah Dakwah Murji'ah. Padahal kalau mereka mau membuka mata lebar-lebar dan membersihkan hati, sungguh mereka akan banyak beristighfar dan bertobat dari semua tuduhan ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siapakah Murji'ah menurut Ulama Salaf?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata : “Adapun Murji'ah mereka mengatakan iman hanyalah ucapan tanpa amal per buatan, barangsiapa yang bersyahadat Laa ilaha illa Allohu wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu maka dia telah sempuma keimanannya. Imannya seperti imannya Jibril dan para malaikat meskipun dia membunuh (orang yang haram darahnya-pent) dia tetap dikatakan sebagai mukmin, dan meskipun dia meninggalkan mandi janabat serta tidak sholat. Mereka juga menghalalkan darah kaum muslimin. "&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Waki' bin Jarroh rahimahullahu berkata “Ahlu Sunnah mengatakan bahwa iman itu adalah ucapan dan perbuatan. Adapun Murji’ah mengatakan bahwa iman adalah ucapan belaka tanpa perbuatan. Sedangkan Jahmiyah mengatakan iman hanyalah ma’rifah (pengenalan).”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fadhl bin Ziyad rahimahullahu berkata : “Pernah Imam Ahmad ditanya tentang Murji'ah, lalu beliau berkata : Murji'ah adalah kelompok yang menyatakan iman itu hanyalah ucapan.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Muhammad bin Husein Al-Ajurri rahimahullahu berkata : "Berhati-hatilah kalian -rohimakumullahu- dari ucapan orang yang mengatakan : Sesungguhnya imanku seperti imannya Jibril dan Mikail. Dan barangsiapa yang mengatakan : Saya adalah orang mukmin di sisi Alloh dan saya adalah orang yang sempurna keimanannya, maka ini adalah ucapan kelompok Murji'ah.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syuraih bin Nu’man rahimahullahu berkata : "Aku pernah bertanya kepada Yahya bin Salim Ath-Thoo`i ketika kami berada di belakang maqom Ibrahim (di masjidil Haram Mekah-pent). Apa yang dikatakan oleh Murji'ah? Beliau menjawab, Mereka mengatakan : Thowaf di Ka'bah bukan termasuk keimanan.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Abdurrohman bin Mahdi rahimahullahu berkata: "Telah sampai kepadaku bahwa Syu'bah berkata kepada Syariik rahimahullahu : Mengapa engkau tidak memperbolehkan persaksian Murji'ah? Beliau menjawab : Bagaimana mungkin aku membolehkan persaksian kaum yang menyatakan bahwa sholat bukan termasuk keimanan?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berkata Imam Ibnu Baththoh Al-Akburi rahimahullahu (meninggal tahun 387 H) : "Berhati-hatilah kalian -rahimakumullahu- dari bermajlis dengan suatu kaum yang keluar dari agama ini, karena mereka mengingkari Al-Qur’an dan menyelisihi Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Salam serta keluar dari ijma ulama kaum muslimin. Mereka adalah kelompok yang mengatakan : Iman adalah ucapan tanpa amal perbuatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka juga mengatakan : Sesungguhnya Alloh Azza wa Jalla menurunkan kepada mereka kewajiban-kewajiban tapi tidak memerintahkan mereka untuk mengamalkannya dan tidak memadhorotkan mereka jika mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban tersebut. Dan Alloh melarang mereka dari hal-hal yang haram, dan manusia tetap menjadi orang yang beriman (secara sempurna-pent) meskipun melakukan hat-hal yang dilarang tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya iman menurut mereka adalah mengakui kewajiban-kewajiban dan tidak perlu untuk dikerjakan dan mengetahui yang haram meskipun mereka halalkan. Mereka mengatakan : Sesungguhnya mengenal Alloh itu disebut sebagai iman yang tidak membutuhkan ketaatan. Sesungguhnya orang yang tahu tentang Alloh dengan hatinya maka dia adalah seorang mukmin dan orang yang beriman dengan lisannya serta mengakui dergan hatinya adalah orang yang sempurna keimanannya seperti Jibril. Iman itu tidak bertingkat dan tidak bertambah serta tidak berkurang. Tidak ada perbedaan antara manusia (dalam tingkatan keimanan-pent), orang yang rajin (ibadah) dan yang malas, yang taat dan yang berbuat maksiat semuanya sama...”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau juga berkata : "Berhati-hatilah katian –rahimahumullahu- dari orang yang mengatakan saya mukmin di sisi Alloh dan saya mukmin yang sempurna imannya, dan berhati-hatilah dari orang yang mengatakan imanku seperti imannya Jibril dan Mikail. Sesungguhnya mereka adalah Murji'ah, kelompok sesat dan menyimpang dari agama...”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berkata Imam Abdul Qohir bin Thohir Al-Baghdadi rahimahullahu (meninggal pada tahun 429 H) : "Mereka dinamakan Murji'ah karena mereka mengakhirkan amal perhuatan dari keimanan.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata : "Murji'ah yang mengatakan iman adalah pembenaran dalam hati serta ucapan dengan lisan dan bahwasanya amal bukan termasuk iman, diantara mereka adalah fuqoha' Kufah dan para ahli ibadah...”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau juga berkata : "Adapun masalah istitsna' (mengatakan insya Alloh,-ed) dalam Iman yaitu seseorang mengatakan : Saya mukmin insya Alloh, maka manusia ada tiga pendapat dalam hal ini : ada yang mewajibkan, ada pula yang mengharaman dan ada juga yang membolehkan kedua-duanya. Dan pendapat ketiga inilah yang paling benar. Yang mengharamkan istitsna' adalah orang-orang Murji’ah dan Jahmiyah serta selain mereka dari orang-orang yang menyatakan bahwa iman itu satu (tidak bercabang,-pent)…”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Ibnu Atsir rahimahullahu berkata : "Murji'ah adalah suatu kelompok (sempalan) dalam Islam yang meyakini bahwa makiat tidaklah memadhorotkan keimanan sebagaimana tidak bermanfaat ketaatan bersama kekufuran. Mereka dinamakan Murji'ah karena keyakinan mereka bahwa Alloh mengakhirkanlmenjauhkan adzab dari mereka karena perbuatan maksiat...”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari ucapan-ucapan ulama salaf di atas dan yang lain yang tidak mungkin kami sebutkan semuanya di sini, telah jelas bagi kita tanda-tanda atau ciri-ciri Murji'ah sebenarnya. Inilah tanda-tanda Murji'ah menurut ulama salaf :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Ucapan bahwasanya iman adalah ucapan lisan atau pembenaran hati atau ucapan dan pembenaran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Ucapan bahwasanya iman itu tidak bisa bertambah dan tidak bisa berkurang. Dan bahwasanya iman itu tidak bercabang serta tidak bertingkat-tingkat keimanan pemiliknya dan keimanan semua orang itu sama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Mereka mengharamkan istitsna' dalam iman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Pernyataan bahwasanya meninggalkan kewajiban dan melakukan yang dilarang tidak memadhorotkan keimanan dan tidak merubahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Menyempitkan kekufuran hanya dengan takdzib/pendustaan hati saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. Mensifatkan perbuatan kufur yang tidak bisa diganggu gugat kekufurannya seperti menghina/mengolok-olok (Alloh dan Rasul-Nya serta agama-Nya) dengan ucapan :Itu bukan kufur sebenarnya, namun hanya menunjukkan pendustaan dalam hatinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah ciri-ciri Murji’ah menurut Ahlu Sunnah, maka barangsiapa yang memiliki salah satu perangai darinya maka diaah Murji'ah khabits (yang busuk). Dan barangsiapa yang tidak memiliki sedikitpun tanda-tanda tersebut maka diharamkan untuk dia dituduh dengan Murji'ah selamanya, karena daging/kehormatan para ulama dan penuntut ilmu itu beracun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan Dakwah Salafiyah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah adalah manusia yang paling tahu tentang kebenaran serta paling kasih sayang kepada manusia. Mereka tidak menuduh siapapun juga dengan tuduhan batil/dusta, karena kehormatan adalah tanah larangan yang tidak boleh didekati kecuali dengan bukti yang jelas sejelas matahari di siang bolong. Mereka Ahlu Sunnah bukan sepertl kebanyakan (aktivis gerakan-pent) sekarang yang menuduh orang-orang yang tak bersalah dengan tuduhan-tuduhan batil karena dorongan hizbiyah (fanatik golongan) atau karena latar belakang dunia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siapakah yang Tidak Bisa Dikatakan Murji’ah Menurut Salaf?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para ulama salaf telah menyebutkan kepada kita tentang ciri-ciri orang-orang yang terlepas dan keluar dari Murji'ah, diantaranya :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1- Ucapan bahwasanya iman itu ucapan dan perbuatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Abdullah bin Mubarok rahimahullahu pernah ditanya : “Apakah anda Murji'ah?” Beliau menjawab : “Saya mengatakan iman adalah ucapan dan perbuatan, bagaimana mungkin saya menjadi Murji’ah?!”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2- Ucapan bahwasanya iman itu bertambah dan berkurang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Ahmad rahimahullahu, pernah ditanya tentang orang yang mengatakan bahwasanya iman itu bertambah dan berkurang ? Beliaupun menjawab: “Orang ini telah terlepas dari Murji'ah.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Al-Barbahari rahimahullahu. mengatakan "Barangsiapa yang mengatakan iman itu ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang maka dia telah keluar dari Murji'ah mulai dari awal sampai akhlrnya."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3- Ucapan bahwasanya maksiat bisa mengurangi keimanan dan dapat memadhorotkannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4- Bolehnya mengatakan saya mukmin insya Alloh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Abdurrohman bin Mahdi rahimahullahu berkata: "Apabila dia meninggalkan istitsna' maka ini termasuk prinsip Murji'ah.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5- Ucapan bahwasanya kekufuran bisa dengan perbuatan sebagaimana kekufuran juga bisa disebabkan oleh keyakinan dan ucapan. Dan bahwasanya amal perbuatan terkadang bisa dianggap kafir tanpa melihat keyakinan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Murji’ah Menurut Ahli Bid’ah Terdahulu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dahulu ahli bid'ah dari kalangan khowarij dan selainnya menuduh Ahlu Sunnah wal Jama'ah dengan Murji'ah, karena Ahlu Sunnah berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar tidak kafir kecuali dengan adanya istihlal (penghalalan akan dosa tersebut) dan bahwasanya orang yang meninggalkan sholat karena malas tidak menyebabkannya kafir yang mengeluarkan dari Islam. Semua ini menjelaskan kepada kita bahwa tuduhan terhadap Ahlu Sunnah ini sudah ada sejak dahulu dan yang menuduh tersebut lebih dekat kepada bid’ah dari pada kepada sunnah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disini kita cukupkan dengan menyebutkan dua atsar dari salaf&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Ishaq bin Rohawaih rahimahullahu menceritakan dari Syaiban bin Farukh bahwasanya dia pernah berkata : "Aku bertanya kepada Abdullah bin Mubarok : “Apa pendapatmu mengenai orang yang berzina, meminum khomer dan selainnya, apakah dia mukmin?” Abdullah bin Mubarok menjawab : “Aku tidak mengeluarkannya dari keimanan.” Syaiban berkata : “Dengan usiamu yang tua engkau menjadi Murji'ah?!” Abdullah bin Mubarok menjawab : “Wahai Abu Abdulah, sesungguhnya Murji'ah tidak mernerimaku. Aku mengatakan iman itu bertambah sedangkan Murji'ah tidak mengatakan seperti itu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Syaikh Al-'Allamah Abul Fadhl As-Saksaki Al-Hambali rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya sekelompok ahli bid'ah yang bernama Al-Manshuriyah menuduh Ahlu Sunnah sebagai Murji'ah karena mereka (Ahlu Sunnah) mengatakan bahwa orang yang meninggalkan sholat jika tidak diiringi dengan pengingkaran akan kewajibannya maka dia masih muslim menurut pendapat yang kuat dari madzhab Imam Ahmad. Mereka (ahli bid'ah) mengatakan : Pendapat ini menjadikan iman menurut mereka hanyalah ucapan tanpa amal perbuatan.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Padahal sangat jelas perbedaan antara hukum orang yang meninggalkan sholat karena malas menurut Ahlu Sunnah dan menurut Murji'ah. Imam Ibnu Abdil Bar rahimahullahu berkata : "Ucapan (tentang tidak kafirnya orang yang meninggalkan sholat karena malas) telah dikatakan oleh sekelompok dari para imam yang mengatakan iman adalah ucapan dan perbuatan. Dan Murji'ah juga mengatakan seperti itu, akan tetapi Murji'ah mengatakan orang tersebut sempurna keimanannya. Dan kami telah menyebutkan perbedaan ulama Ahli Sunnah wal Jama'ah tentang orang yang meninggalkan sholat (Karena malas tapi masih mengakui hukum kewajibannya,-pent). Adapun ahli bid'ah seperti Murji'ah mereka mengatakan Orang yang meninggalkan sholat imannya sempurna jika dia masih meyakini kewajibannya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahkan mereka mengatakan Imannya seperti iman Jibril dan Mikail!! Adapun Salaf Ahli Hadits mereka mengatakan : "Sesungguhnya dia kurang imannya, dan berada di bawah kehendak Alloh, jika Dia berkehendak Dia akan mengadzabnya di neraka (meski tidak kekal didalamnya,-pent) dan jika Dia mau, Dia ampuni serta Dia masukkan kedalam surga-Nya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Ash-Shobuni juga berkata : “Ahli hadits berselisih pendapat tentang seorang muslim yang meninggalkan sholat fardhu dengan sengaja. orang tersebut dikatakan kafir oleh Imam Ahmad bin Hambal dan sekelompok ulama salaf yang lain dan mereka mengeluarkannya dari agama Islam seperti yang tercantum dalam hadits shohih yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam : "Antara seorang hamba dengan kesyirikan adalah meninggalkan sholat, maka barangsiapa yang meninggalkan sholat ia kafir.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Syafi’i rahimahullahu beserta para sahabat-sahabat beliau dari ulama salaf -semoga rohmat Alloh atas mereka semua- berpendapat bahwa orang tersebut tidak kafir selama meyakini kewajibannya. Akan tetapi orang tersebut berhak untuk dibunuh, seperti orang murtad dari Islam yang juga berhak dibunuh. Mereka menafsirkan hadits diatas dengan : “Barangsiapa yang meninggalkan sholat dengan mengingkari kewajibannya (maka dia kafir)...”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Definisi Murji’ah Menurut Ahli Bid’ah Sekarang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang-orang yang menyelisihi Ahlu Sunnah dan menuduh mereka dengan Murji'ah telah melakukan suatu kedustaan dan kebohongan. Tapi Alloh enggan melainkan menjatuhkan mereka kedalam lingkaran ahli bid'ah terdahulu yang juga sama-sama menuduh Ahlu Sunnah sebagai Murji'ah yang ekstrim.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika ahli bid'ah terdahulu menuduh orang yang tidak mengkafirkan pelaku dosa besar seperti zina, minum khomer dan semisalnya dengan Murji'ah, maka orang-orang yang menyelisihi (Dakwah Salafiyah,-pent) sekarang menuduh orang yang tidak mengkafirkan orang yang berhukum dengan selain hukum Alloh tanpa adanya istihlal/penghalalan dengan tuduhan sebagai Murji'ah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh pembuat makalah Aqidah Jama'ah Salafiyah di Majalah “An-Najah” dalam penutup hal. 5 : "Jika anda telah memahami bahwa aqidah “JS” (Jama’ah Salafiyah) dalam bab iman adalah aqidah Murji'ah Fuqaha' dan aqidah mereka dalam bab kekafiran adalah aqidah Jahmiyah (Murji'ah Ekstrim), maka anda bisa memahami dengan baik :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;· (Kenapa ???) mereka sangat gigih memperjuangkan aqidah; kekafiran itu hanya karena istihlal semata, terlebih dalam kaitannya dengan realita para pemerintah yang mengganti syariat Alloh Ta'ala dengan undang-undang positif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;· (Kenapa ???) mereka menganut aqidah sekte sesat Jahmiyah (yang telah dikafirkan oleh para ulama Ahlu Sunnah) supaya bisa menutup-nutupi kemurtadan dan kekafiran para pemerintah murtad hari ini dengan selimut syar'i...” (selesai penukilan sampai di sini)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka kita katakan kepada pembuat makalah ini : "Inikah yang melatar belakangi kalian untuk menuduh Dakwah Salafiyah sebagai Murji'ah? Tidakkah kalian membuka mata Iebar-lebar untuk membaca ucapan para ulama salaf tentang ketidakkafiran orang yang berhukum dengan selain hukum Alloh jika tidak diiringi oleh istihlal?!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan tentang firman Alloh :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;وَ مَا لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولـئِكَ هُمُ الكَافِرُوْن&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS.Al-Maidah : 44)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;sebagai kekufuran yang tidak mengeluarkan dari Islam.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Abu Ubeid Al-Qosim bin Sallam rahimahullahu berkata : “Adapun pemutus dan saksi atas semua ini adalah firman Alloh, “Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” Dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : “Bukanlah kekufuran yang mengeluarkan dari agama.” Dan Atha’ bin Abi Robah berkata, “Kufrun Duna Kufrin” (Kekufuran yang tidak mengkafirkan/kufur kecil).” Sungguh jelas bagi kita bahwa hal tersebut tidak mengeluarkan dari Islam dan bahwasanya agamanya tetap berdiri meskipun dilumuri dosa…”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibnul Qoyyim rahimahullahu berkata : “Yang benar bahwa berhukum dengan selain hukum Alloh mencakup dua bentuk kekufuran, kufur kecil dan besar sesuai dengan keadaan orang tersebut. Apabila dia masih meyakini wajibnya berhukum dengan apa yang diturunkan Alloh pada suatu kejadian dan dia menyimpang dari hukum Alloh dalam keadaan maksiat beserta keyakinannya bahwa dia berhak mendapat sanksi maka ini kufur kecil. Tapi jika dia meyakini tidak wajibnya berhukum dengan hukum Alloh, dan bahwasanya dia diberi pilihan sedang dia meyakini itu hukum Alloh maka ini termasuk kufur besar, tapi jika dia tidak tahu (hukum Alloh) dan dia keliru maka hukumnya seperti hukum orang yang khilaf. Kesimpulannya : Semua maksiat termasuk kufur kecil...”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah mereka para ulama seperti Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Atho' bin Abi Robah rahimahullahu, Abu Ubeid Al-Qosim bin Sallam rahimahullahu, Ibnul Qoyyim rahimahullahu dan selain mereka yang menyelisihi kalian itu adalah Murji'ah karena tidak mengkafirkan orang yang berhukum dengan selain hukum Alloh jika tidak ada istihlal???!!!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengapa kalian hanya mengkhususkan pengkafiran ini hanya kepada pemerintah kaum muslimin saja? Bukankah ayat dalam surat Al-Maidah 44 tersebut umum mencakup siapa saja yang tidak berhukum dengan hukum Alloh?! Bukankah orang yang berbuat bid'ah dan yang berbuat maksiat itu juga berhukum dengan selain hukum Alloh ?! Alloh berfirman :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;أَمْ لَهُمْ شُرَكَــؤُاْ شَرَعُوْا لَهُمْ مِنَ الدِّيْنِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهِ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Alloh yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Alloh?” (QS. Asy-Syuura : 21)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukankah kalian sendiri telah berhukum dengan selain hukum Alloh dengan mengkafirkan pemerintah kaum muslimin seenaknya saja?!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُوْنَ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Mengapa kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(QS. Al-Qolam : 36)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata : “Pewajiban dan pengharaman, dosa dan pahala serta takfir (pengkafiran) dan tafsiq (penfasikan) adalah hak Alloh dan Rasul-Nya saja. Tidak ada seorang pun yang memiliki hak untuk menghukumi di dalamnya” .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibnu al-Qoyyim rahimahullahu berkata dalam Qosidah Nuniyah-nya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;الكٌفْرُ حَقُّ اللهِ ثُمَّ رَسُوْلِهِ بِالنِّصِ يَثْبُتُ؛ لاَ بِقَوْلِ فُلاَنِ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;مَنْ كَانَ رَبُّ العَالَمِيْنَ وَ عَبْدُهُ قَدْ كَفَّرَاهُ فَذَاكَ ذُوْالكُفْرَانِ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Penetapan sesuatu) kufur adalah hak Alloh kemudian Rasul-Nya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan penetapan nash bukan dengan ucapan si fulan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Barangsiapa yang oleh Robb semesta Alam dan Rasul-Nya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dikafirkan maka dialah orang kafir&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau kalian mengkafirkan pemerintah kaum muslimin karena tidak berhukum dengan hukum Alloh meskipun tidak diiringi oleh istihlal, maka mengapa kalian tidak mengkafirkan orang yang berbuat bid'ah atau maksiat?! Dan mengapa kalian tidak mengkafirkan orang tua dan saudara-saudara kalian sendiri yang masih berbuat bid’ah dan maksiat?! Dan mengapa kalian tidak mengkafirkan diri kalian sendiri yang juga masih berbuat bid’ah dan maksiat?! Tapi memang kalian ingin menelusuri jejak Khowarij yang membunuh Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu, dengan alasan beliau tidak berhukum dengan hukum Alloh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Al-Hafizh Abu Bakr Muhammad bin Al-Husein Al-Ajurri rahimahullahu berkata dalam kitabnya Asy-Syari'ah : “Diantara syubhat khowarij adalah (berpegangnya mereka dengan-pent) firman Alloh “Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Alloh maka mereka itu adalah orang-orang kafir”. Mereka membacanya bersama firman Alloh : “Namun orang-orang kafir itu mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka” (Surat Al-An'am : 1). Apabila mereka melihat seorang hakim yang tidak berhukum dengan kebenaran mereka berkata : Orang ini telah kafir dan barangsiapa yang kafir maka dia telah mempersekutukan Tuhannya. Maka mereka para pemimpin-pemimpin itu adalah orang-orang musyrik.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al-Imam Al-Qodhi Abu Ya'la rahimahullahu berkata dalam masalah iman : "Khowarij berhujjah dengan firman Alloh Ta’ala "Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Alloh maka mereka itu adalah orang-orang kafir". Zhohirnya dalil mereka ini mengharuskan pengkafiran para pemimpin-pemimpin yang zholim dan ini adalah perkataan khowarij padahal yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah orang-orang yahudi.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Abu Hayyan rahimahullahu berkata dalam tafsirnya: “Khowarij berdalil dengan ayat ini untuk menyatakan bahwa orang yang berbuat maksiat kepada Alloh itu kafir, mereka mengatakan : Ayat ini adalah nash pada setiap orang yang tidak berhukum dengan hukum Alloh bahwa dia itu kafir.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Abu Abdillah Al-Qurthubi rahimahullahu menukil perkataan dari Al-Qusyairi rahimahullahu : "Madzhabnya khowarij adalah barangsiapa yang mengambil uang suap dan berhukum dengan selain hukum Alloh maka dia kafir.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan siapakah yang kalian maksud dengan pemerintah kaum muslimin yang telah kafir dan murtad itu?! SBY kah atau Raja Fahd atau Raja Abdullah??? Jelaskan kepada umat dan umumkan bahwa aqidah kalian adalah aqidah Khowarij yang gemar lagi hobi mengkafirkan pemimpin kaum muslimin!!! Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu. Mengatakan : “Kelompok Khowarij adalah kelompok pertama yang mengkafirkan kaum muslimin dan mengatakan kafir bagi setiap pelaku dosa. Mereka mengkafirkan orang yang menyelisihi bid'ah mereka serta menghalalkan darah serta hartanya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para salaf menyebutkan bahwa diantara ciri ahli bid'ah adalah mencaci maki atau melaknat pemimpin kaum muslimin, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ahlu Sunnah lmam Al-Barbahari rahimahullahu di dalam kitabnya Syarhus Sunnah : “Apabila engkau melihat seseorang melaknat pemimpin kaum muslimin maka ketahuilah bahwa dia itu pengekor hawa nafsu (ahlu bid'ah)...”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketahuilah wahai kaum Muslimin, bahwa pemikiran takfir seperti infah yang mendasari adanya peledakan dan pengeboman di beberapa negeri Islam. Maka berhati-hatilah dari pemikiran Khowarij ini dan dari orang-orangnya!!!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian tanda kedua Murji'ah menurut ahli bid'ah sekarang adalah tidak adanya pengkafiran terhadap orang yang meninggalkan sholat karena malas, meski dia masih meyakini akan kewajibannya dan ini adalah jalan/metode pendahulu mereka seperti yang telah disebutkan di atas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal ini seperti yang dilakukan oleh Safar Hawali penulis kitab Zhohiratul Irja' yang menuduh Syaikh Al-Albani sebagai Murji'ah. Dia mengatakan : “Dan tidaklah yang mengatakan bahwa orang yang meninggalkan sholat (karena malas,-pent) tidak kafir melainkan yang telah kemasukan pemikiran Murji'ah, baik dia merasa atau tidak.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syaikh Al-Albani Sangat Jauh Dari Murji’ah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Aqidah beliau dalam masalah Iman&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau rahimahullahu berkata dalam ta'liq Aqidah Thohawiyah ketika mengomentari ucapan Imam Thohawi rahimahullahu “Iman adalah ucapan dilisan dan keyakinan dalam hati”, Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ini adalah aqidah Hanafiyah Maturidiyah yang berseberangan dengan salaf serta jumhur ulama seperti Malik, Syafi’i, Ahmad, Al-Auza'i dan selainnya. Mereka semuanya menambahkan amal perbuatan diatas ucapan dan keyakinan. Bukanlah perselisihan antara kedua madzhab hanya perselisihan yang abstrak (tidak ada wujudnya) seperti yang dikatakan oleh (Ibnu Abil 'Izzi Al-Hanafi) dengan alasan mereka semua sepakat bahwa pelaku dosa besar tidak keluar dari keimanan dan bahwasanya semua di bawah kehendak Alloh, jika Alloh menghendaki maka Alloh akan mengadzabnya dan jika Alloh menghendaki maka Alloh akan mengampuninya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya kesepakatan ini meskipun benar, namun seandainya madzab Hanafi tidak menyelisihi jumhur dengan sebenar-benarnya penyelisihan dalam pengingkaran mereka bahwa amal bukan termasuk Iman maka sungguh mereka akan menyepakati bersama jumhur bahwa iman itu bisa bertambah (dan bisa berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan sesuai dengan dalil dari Al-Qur'an dan sunnah serta atsar para salaf. Sebagian dalil-dalil tersebut telah disebutkan oleh Imam Ibnu Abil 'Izzi (hal.384-387) [344-342], akan tetapi madzhab Hanafi bersikeras untuk menyelisihi dalil-dalil yang jelas tersebut dalam hal bertambah dan berkurangnya iman. Mereka berusaha untuk menta'wilkan dalil-dalil tersebut dengan ta'wil yang dipaksakan bahkan ta'wil yang batil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Ibnu Abil 'Izzi menyebutkan pada hal.(385) [342] sebagian dari ucapan mereka. Bahkan diriwayatkan dari Abi Mu'in An-Nasafi bahwa dia mencela keabsahan hadits “iman memiliki 70 lebih cabang..." meskipun para imam-imam hadits berhujjah dengan hadits tersebut diantaranya Imam Bukhori dan Imam Muslim di dalam kedua kitab shohih mereka. Hadits tersebut tercantum dalam Silsilah Shohihah no.1769.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidaklah hadits ini ditolak melainkan karena menyelisihi madzhab mereka! Kemudian bagaimana mungkin perselisihan ini hanyalah perselisihan yang abstrak, sedangkan mereka membolehkan bagi orang yang sangat fajir/fasik diantara mereka untuk mengatakan : Imanku seperti imannya Abu Bakar bahkan seperti imannya para nabi dan rasul, Jibril dan Mikail -alaihimush sholatu was Salam!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana hal tersebut bisa dibenarkan sedangkan menurut madzhab mereka tidak boleh bagi seorangpun meskipun dia fasik/fajir untuk mengatakan : saya mukmin insya Alloh Ta’ala. Bahkan mereka mengharuskan untuk mengatakan : Saya mukmin dengan sebenar-benarnya!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alloh Ta’ala berfirman :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (ni'mat) yang mulia.” (QS.Al-Anfal : 2-4)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Alloh?” (QS. An-Nisa' : 122)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan hal ini semua mereka tenggelam dalam kefanatikan mereka. Mereka menyebutkan bahwa barangsiapa yang mengatakan saya mukmin insya Alloh maka dia telah kafir. Tidak cukup di sini saja, bahkan mereka menyatakan bahwa tidak boleh bagi seorang yang bermadzhab Hanafi untuk menikah dengan perempuan dari madzhab Syafi’i! Tapi sebagian mereka membolehkan dengan alasan seperti ahli kitab (yang dibolehkan bagi seorang muslim mengawini perempuan-perempuan mereka).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan saya pernah kenal seorang dari syaikh madzhab Hanafi yang putrinya dilamar oleh salah seorang syaikh madzhab Syafi’i namun lamarannya ditolak dengan mengatakan: Seandainya anda bukan dari madzab Syafi’i! Apakah setelah penjelasan seperti ini masih ada keraguan bahwa perselisihan ini bukan sembarangan? Barangsiapa yang ingin perincian dalam masalah ini silahkan lihat kembali kitab Al-Iman karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu karena kitab ini merupakan kitab terbaik dalam pembahasan tentang iman.” (selesai penukilan ucapan Syaikh Al-Albani rahimahullahu)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau rahimahullahu juga berkata ketika membantah salah seorang yang mencela Musnad Ahmad rahimahullahu :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sesungguhnya orang ini bermadzhab Hanafi dan beraqidah Maturidi. Telah diketahui bersama bahwa mereka tidak mengatakan seperti apa yang ada dalam Al-Qur'an dan sunnah serta atsar para sahabat bahwasanya iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang dan bahwasanya amal termasuk bagian dari keimanan. Ini adalah aqidah jumhur ulama salaf dan kholaf selain madzhab Hanafi. Mereka (orang madzhab Hanafi) bersikeras untuk menyelisihi salaf dalam masalah ini bahkan sebagian mereka menyatakan bahwa aqidah seperti di atas adalah aqidah kufur dan murtad -wal 'iyadzu billah-.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disebutkan dalam kitab Al-Bahru Ar-Roo`iq bab Al-Karohiyah (VIII/205) oleh Ibnu Najim Al-Hanafi bahwasanya “iman tidak bisa bertambah dan tidak bisa berkurang karena iman menurut kami bukan bagian dari amal.” Ini jelas-jelas menyelisihi hadits Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah ditanya : “Amalan apa yang paling utama?” Beliau menjawab : “Iman kepada Alloh dan Rasul-Nya...” (HR. Bukhori dan selainnya. Bisa dilihat dalam At-Targhib II/107).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah memperinci masalah keberadaan iman merupakan bagian dari amal dan bahwasanya iman itu bertambah dan berkurang dalam kitab beliau Al-Iman. Silahkan lihat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku (Syaikh Al-Albani) katakan "Inilah yang selalu aku katakan sejak lebih dari 20 tahun yang lalu untuk menguatkan madzhab salaf dan aqidah Ahlu Sunnah -walillahi al-hamdu- tentang masalah iman. Tapi sekarang tiba-tiba muncul sebagian orang yang bodoh lagi ingusan yang menuduh kami sebagal Murji'ah !! Kepada Allohlah kami mengadukan kebodohan, kesesatan dan kejahatan mereka.” (selesai sampai di sini ucapan Syaikh Al-Albani)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah aqidah Syaikh Al-Albani rahimahullahu yang menyatakan bahwa iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang dan bahwasanya iman itu bercabang. Beliau juga membolehkan istitsna' dan bahwasanya amal termasuk bagian dari keimanan. Dari sini beliau telah mendapat rekomendasi (secara logis konsekuensi) dari para imam-imam salaf seperti Abdullah bin Mubarok, Ahmad bin Hanbal, dan Imam Al-Barbahari – rahimahumullahu jami’an- bahwasanya beliau telah terlepas dan selamat dari Murji'ah mulai awal sampai akhir. Bahkan beliau adalah bumerang bagi Murji'ah. Oleh karenanya beliau mentahqiq kitab-kitab yang menguatkan aqidah salaf ini seperti Kitabul Iman karya Ibnu Abi Syaibah, Kitabul Iman karya Abu Ubeid dan Kitabul Iman oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – rahimahumulahu jami’an-.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di dalam majelis ta'lim pernah dibacakan kepada beliau fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullahu tentang pengkafiran orang yang mencela dan memperolok (Alloh, Rasul dan agama-Nya –pent.) lalu beliaupun menguatkannya dan bahwasanya inilah yang juga beliau yakini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan didalam majlis ta'lim yang sudah dikenal antara Syaikh rahimahullahu dengan penulis ini (i.e. Syaikh Kholid Al-Anbari -hafizhahullahu-), beliau dengan jelas, menyatakan bahwa kekufuran itu bisa dengan perbuatan seperti sujud kepada berhala, membuang mushaf di tempat kotor, dan bisa juga dengan ucapan seperti memperolok dan mencela Alloh dan Rasul.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau juga menyatakan bahwa kekufuran itu ada enam macam, yaitu :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Takdzib (pendustaan dengan hati dan lisan).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Juhud (pendustaan dengan lisan saja).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. ‘Inad (menentang).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. I’rodh (berpaling).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Nifaq (munafik).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. Syak (Ragu)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau menyatakan bahwa Murji’ah adalah orang-orang yang menyatakan bahwa kufur itu hanyalah takdzib saja. Murji'ah mengatakan bahwa setiap orang yang dikafirkan Alloh adalah yang tidak ada pembenaran dalam hatinya tentang Alloh Ta'ala.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun masalah apakah kafir atau tidakkah orang yang meninggalkan jinsul (jenis) amal atau aahadul (individu) amal? maka Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin berkata "Siapakah yang mengatakan kaidah seperti ini?! Apakah Alloh dan Rasul-Nya?! ini adalah ucapan yang tidak bermakna! Kita katakan : Barangsiapa yang dikafirkan Alloh dan Rasul-Nya maka dia yang disebut orang kafir dan barangsiapa yang tidak dikafirkan oleh Alloh dan Rasul-Nya maka dia bukan orang kafir. Inilah yang benar. Adapun masalah jinsul amal atau na'ul (macam) amal serta aahadul amal maka ini hanyalah filsafat yang tidak ada manfaatnya.” Kalau ada yang mengatakan bahwa kafir orang yang meninggalkan jinsul amal maka bagaimana pendapatnya tentang hadits syafaat Alloh bagi orangorang yang tidak beramal kebaikan sama sekali?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian pula dengan masalah apakah amal termasuk syarthul kamal (syarat kesempurnaan) ataukah syarthus shihah (syarat sahnya iman), maka ini juga termasuk masalah yang muhdats (baru) yang tidak pernah dikatakan oleh para ulama salaf, yang ada dari mereka -para salaf- adalah amal termasuk bagian dari iman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun kalau ada yang membawa ucapan salaf (Iman adalah ucapan, perbuatan dan niat. Salah satu dari ketiganya tidak sah (mencukupi) kecuali dengan adanya yang lain) untuk menyatakan bahwa amal adalah syarat sahnya iman dan kafir orang yang meninggalkan jinsul amal, maka apakah orang yang tidak berniat dalam berucap atau berbuat itu kafir?! dan kafirkah orang yang beramal, dan berucap serta berniat namun tidak sesuai dengan sunnah seperti ungkapan sebagian salaf tentang iman?!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah Syaikh Al-Albani rahimahullahu hanya menyempitkan kekufuran pada juhud atau takdzib saja? Inilah jawaban murid beliau Syaikh Ali bin Hasan –hafidzahullahu- akan syubhat ini : “Terkadang ada didalam ucapan Syaikh Al-Albani bahwa kekufuran itu dengan juhud dan takdzib! Maka sebagian orang memahami bahwa Syaikh rahimahullahu menyempitkan kekufuran hanya pada juhud atau takdzib saja dan meniadakan macam-macam kekafiran yang lainnya seperti kufur iba'/istikbar (sombong), imtina' (menolak), syak, nifak dan selainnya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemahaman mereka terhadap ucapan Syaikh rahimahullahu ini batil karena penyebutan sesuatu tanpa selainnya bukan berarti meniadakan akan selainnya tersebut. Bahkan mungkin bisa jadi penyebutan tersebut berlandaskan kebanyakan atau mayoritas. Penyebutan seperti ini juga pernah diucapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu dalam Majmu 'Fatawa (III/354) : "Asal kekufuran itu ada pada pengingkaran kepada Alloh." Apakah dengan ini kita mengatakan bahwa beliau menyempitkan kekufuran hanya pada pengingkaran semata ?!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian pula Ibnul Qoyyim rahimahullahu mengatakan dalam Ahkam Ahlidz Dzimmah (III/1156) : “Kekufuran itu ada pada juhud.” Apakah akan kita katakan bahwa beliau menyempitkan kekufuran hanya pada juhud saja ?! Beliau juga mengatakan dalam Qosidah Nuniyah (II/453) dengan syarah Syaikh Kholil Harros rahimahullahu :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;الكُفْرُ لَيْسَ سِوَى اْلعِنَادِ وَرَدِّ مَا جَاءَ الرَّسُوْلُ بِهِ لِقَوْلِ فُلاَنِ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kekufuran itu tidak lain melainkan dengan 'inad/penentangan dan menolak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;apa yang dibawa oleh Rasul karena ucapan seseorang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ucapan yang senada dengan yang di atas juga dikatakan oleh Syaikh Abdurrohman As-Sa’di rahimahullahu dalam Minhajus Salikin (hal.112) : “Telah disebutkan oleh para ulama -rohimahumullahu- perincian hal-hal yang bisa mengeluarkan seorang hamba dari Islam. Dan semua itu kembalinya kepada juhud (pengingkaran) terhadap apa yang dibawa Rasul baik secara keseluruhan atau sebahagiannya.” Apakah kita akan mengatakan bahwa beliau telah menyempitkan kekufuran hanya pada juhud saja ?!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lihatlah ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu yang akan menjelaskan semua ini dalam Majmu' Fatawa (XX/98) tentang orang yang meninggalkan sholat : "Barangsiapa dari kalangan fuqoha' yang memutlakkan/menyatakan bahwa tidak kafir kecuali yang juhudl menentang kewajibannya maka yang dia maksud dengan juhud tersebut telah mencakup takdzib akan kewajibannya dan imtina’ ketika mengucapkannya…”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lantas, apakah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah dan Syaikh Abdurrohman As-Sa’di –rohimahumullahu jami’an- adalah Murji'ah karena ucapan mereka itu?!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;أَفَلاَ تَعْقِلُوْنَ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Maka tidakkah kamu berpikir?" (QS. Al-Baqoroh : 44)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Rekomendasi ulama Ahlu Sunnah akan aqidah Syaikh Al-Albani&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al-'Allamah Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullahu pernah ditanya sebagai berikut : “Sebagian orang menebarkan syubuhat tentang aqidah al-‘Allamah Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani hafizhahullahu dan mereka menisbatkan kepada beliau sebagai kelompok sesat seperti Murji’ah. Apa ucapan (nasehat) Anda terhadap mereka?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau rahimahullahu menjawab : “Syaikh Nashiruddin Al-Albani termasuk saudara-saudara kita ahli hadits yang terkenal dari kalangan ahli sunnah wal jama'ah. Kita mohon kepada Alloh semoga Dia selalu memberikan kepada kita dan beliau taufiq serta pertolongan di atas kebaikan. Yang wajib bagi setiap Muslim adalah selalu bertakwa kepada Alloh dan merasa takut kepada Alloh (dari menuduh) para ulama dan janganlah dia berbicara kecuali diatas ilmu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al-‘Allamah Faqiihuz Zaman Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rahimahullahu pernah ditanya : “Berkata sebagian orang : Sesungguhnya Syaikh Al-Albani rahimahullahu ucapannya dalam masalah iman adalah ucapan Murji'ah. Bagaimana menurut pendapat anda ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau rahimahullahu menjawab : “Aku katakan kepada kalian sebagaimana yang dikatakan oleh orang terdahulu :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;أَقِلُّوْا عَلَيْهِمْ لاَ أَبَا لِأَبِيْكُمْ مِنَ اللَّوْمِ أَوْ سَدُّ المَكَانَ الَّذِيْ سَدُّ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tinggalkan segala celaan terhadap mereka&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;atau berbuatlah (kebaikan) sebagaimana mereka telah berbuat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syaikh Al-Albani rahimahullahu adalah seorang alim ahli hadits dan faqih, meskipun lebih kuat ahli haditsnya dari faqih. Saya tidak pernah selamanya mendapatkan beliau memiliki ucapan yang menunjukkan bahwa beliau Murji'ah. Akan tetapi orang-orang yang ingin mengkafirkan manusia (kaum muslimin) menuduh beliau dan yang semisal beliau dengan tuduhan murji'ah! Ini semuanya hanyalah pemberian gelar yang buruk. Dan saya bersaksi akan keistiqomahan Syaikh Al-Albani rahimahullahu serta kebaikan aqidah dan keikhlasan beliau. Meskipun demikian kita tidak mengatakan bahwa beliau tidak pernah bersalah karena tidak ada seorang pun yang tidak bersalah melainkan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Salam.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau rahimahullahu juga berkata : “Barangsiapa yang menuduh Syaikh Al-Albani dengan Murji'ah maka dia telah keliru. Mungkin orang itu tidak tahu siapa Syaikh Al-Albani atau mungkin dia tidak tahu tentang siapa Murji'ah!! Syaikh Al-Albani adalah ahli sunnah rahimahullahu, pembela sunnah, imam dalam ilmu hadits, kita tidak mengetahui seorangpun yang menandingi beliau pada zaman ini. Akan tetapi sebagian orang -kita mohon kepada Alloh keselamatan- ada di dalam hatinya rasa hasad, jika melihat ada orang yang diterima oleh manusia diapun bersegera mengolok-oloknya seperti perbuatan orang-orang munafik&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“(orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya” (QS. At-Taubah:79)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau rahimahullahu telah kita kenal lewat buku-buku beliau dan aku juga mengenal terkadang lewat majlis-majlis beliau. Beliau adalah salafi dalam aqidah dan selamat manhajnya. Akan tetapi sebagian orang yang ingin mengkafirkan hamba-hamba Alloh dengan hal-hal yang tidak Alloh kafirkan mereka dengannya menuduh dengan kedustaan dan kebohongan bahwa orang yang menyelisihi mereka dalam pengkafiran adalah Murji'ah. Oleh karena itu janganlah kalian mendengarkan tuduhan ini dari siapapun juga.” (Selesai ucapan beliau)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al-'Allamah Ahli Hadits Madinah Syaikh Abdul Muhsin Al-'Abbad -hafidzahullahu- berkata : “Syaikh Al-Albani seorang alim besar, ahli hadits terkenal, pembela sunnah, aqidah beliau benar dan beliau memiliki perjuangan dalam aqidah. Kitab-kitab beliau tentang aqidah semuanya selamat dan tidak ada seorang penuntut ilmu pun yang bisa lepas dari ilmu dan kitab-kitab beliau.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al-‘Allamah asy-Syaikh At-Tuweijiri rahimahullahu berkata “Syaikh Al-Albani adalah pembela sunnah, mencela Syaikh Al-Albani berarti mencela sunnah.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sungguh indah dan benar apa yang dikatakan oleh Abu Mu'awiyah Ali bin Ahmad bin Suuf –hafidzahullahu- : “Cukuplah Alloh sebagai pelindung dan penolong kami, Bagaimana bisa orang yang selama hidupnya memerangi bid'ah (Murji'ah-pent) dan para pelakunya dituduh sebagai Murji'ah?! Dan bagaimana bisa dikatakan orang itu berada di atas bid'ah sedang seluruh hidupnya selalu bersama sunnah?! Setiap orang yang melihat Imam (Al-Albani) dengan kedua matanya dia pasti akan melihat sendiri sunnah berjalan di atas bumi ini di dalam ucapan, pakaian dan gerak-gerik beliau. Akan tetapi orang-orang bodoh tidak bisa diam.Tidaklah karya-karya besar yang menghabiskan usia beliau dalam meneliti keshohihan hadits dari kelemahannya seperti Silsilah Shohihah dan Dho'ifah dan selainnya melainkan bukti yang paling konkret bahwa beliau tidaklah menyelisihi manhaj salaf dalam prinsip yang agung ini (masalah iman-pent).” (selesai di sini ucapan beliau)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang yang menuduh Syaikh Al-Albani dengan Murji’ah atau tuduhan yang lainnya ibaratnya seperti yang dikatakan seorang penyair:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;لاَ يَضُرُّ الْبَحْرَ أَمْسَى زَاخِرًا أَنَّ رَمَى فِيْهِ غُلاَمٌ بِحَجَرِ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidaklah memadharatkan samudera yang luas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika seorang anak kecil melemparinya dengan batu kerikil&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;كَنَاطِحِ صَخْرَةٍ يَوْمًا لِيُوْهِنَهَا فَلَمْ يَضُرُّهَا وَأَوْهَا قَرْنَهُ الْوَعِلُ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti kambing hutan yang menanduk batu besar untuk meruntuhkannya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi dia tidak bisa memadharatkannya dan kambing itu merusak tanduknya sendiri&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada Apa dengan Syaikh Ali Al-Halabi dan Syaikh Kholid Al-Anbari&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diantara sekian banyak para masyayikh dakwah Salafiyah yang tidak selamat dari tuduhan Murji'ah yang dilontarkan oleh para harokiyyin, sururiyin dan takfiriyin adalah Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari dan Syaikh Kholid bin Ali bin Muhammad Al-Ambari -hafidzahumallohu-.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan yang amat disayangkan adalah adanya fatwa Lajnah Daimah yang juga ikut serta mendukung orang-orang tersebut dengan menuduh bahwa di dalam beberapa kitab kedua Syaikh tersebut terdapat pemikiran Murji'ah. Padahal kalau ditilik kembali kitab-kitab mereka tersebut sangat jauh dari pemikiran Murji'ah. Mereka adalah masyayikh Ahlu Sunnah yang jauh dari pemikiran Murji'ah, aqidah mereka aqidah Salaf Ashabul Hadits khususnya yang berkaitan dengan masalah iman. Oleh karenanya Syaikh Ali bin Hasan dan Syaikh Kholid menulis jawaban terhadap fatwa Lajnah Daimah tersebut. Mereka berdua meminta kepada Lajnah Daimah untuk membuktikan dengan jelas mana pemikiran Murji’ah yang terdapat dalam kitab mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi -hafidzahullahu-, maka dalam menanggapi fatwa Lajnah Daimah serta tuduhan Murji'ah ini beliau banyak menulis kitab yang menjelaskan kepada siapa saja yang hatinya masih bersih, akan jauhnya beliau dari Aqidah Murji'ah. Maka barangsiapa yang telah teracuni oleh syubhat bahwa Syaikh Ali Murji'ah atau sebagian buku beliau ada pemikiran Murji'ah hendaklah membaca kitab-kitab berikut ini agar dia tidak berbicara kecuali dengan ilmu dan bukti yang nyata: Al-Ajwibah Al-Mutalaaimah 'Ala Fatwal Lajnah Ad-Daimah, At-Ta'rif Wat Tanbi`ah, At-Tanbihaat al-Mutawaa`imah, Al-Hujjah Al-Qo`imah ‘ala Fatwal Lajnah Ad-Daimah, Ar-Roddul Burhani, Kalimatun Sawaa' dan lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diantara yang beliau ucapkan dalam menanggapi fatwa Lajnah Da`imah adalah: "Oleh karena ucapan ulama meski tinggi derajat dan kedudukannya, bisa diterima dan bisa ditolak serta kemungkinan bisa salah bisa benar, maka saya ingin menulis sebuah dialog ilmiah yang ringkas untuk menjawab fatwa lajnah yang terhormat. Semoga apa yang akan saya sampaikan ini dari hujjah-hujjah dan dalil-dalil menjadi penjelas bagi jalan kebenaran. Semoga rahmat Alloh bagi Imam Abdurrohman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahab yang telah berkata :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Wajib bagi orang yang masih mengasihi dirinya, apabila membaca kitab-kitab para ulama dan melihat isinya serta mengetahui ucapan mereka agar dia menimbangnya dengan Al-Qur'an dan sunnah. Karena setiap mujtahid dari kalangan para ulama dan yang mengikuti mereka serta yang menisbatkan diri kepada mereka haruslah menyebutkan dalilnya. Kebenaran hanya satu dalam setiap permasalahan dan para imam-imam itu diberi pahala akan ijtihad mereka. Orang yang bijak ketika membaca ucapan mereka dan mempelajarinya, dia menjadikannya sebagai jalan untuk mengetahui permasalahan dan untuk mengetahui yang benar dan salah dengan melihat dalil-dalilnya...” Dari sinilah saya ingin memulai jawaban saya dengan penuh hormat terhadap para masyayyikh yang mulia dan semoga ucapanku dan dialog ini -insya Alloh- sesuai dengan apa yang ada dalam hati kami dari penghormatan terhadap mereka...” . (Selesai ucapan beliau)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terlebih lagi fatwa tersebut tidak disepakati oleh seorang alim robbani faqiihul ummah yang juga anggota kibarul ulama serta anggota Lajnah Daimah yaitu Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-’Utsaimin rahimahullahu. Inilah pendapat beliau tentang fatwa tersebut : "Ini adalah suatu kesalahan dari lajnah dan aku merasa terganggu dengan adanya fatwa ini. Fatwa ini telah memecah-belah kaum muslimin di seluruh negeri sampai-sampai mereka menghubungiku baik dari Amerika maupun Eropa. Tidak ada yang dapat mengambil manfaat dari fatwa ini melainkan takfiriyun (tukang mengkafirkan) dan tsauriyun (para pemberontak)." Beliau juga berkata : "Saya tidak suka keluarnya fatwa ini, karena membuat bingung manusia. Dan nasehatku kepada para penuntut ilmu agar tidak terlalu berpegang teguh dengan fatwa fulan atau fulan.” (selesai ucapan syaikh)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan renungkanlah -wahai saudaraku ucapan emas dari seorang ahli ushul serta imam dan khotib Masjidil Rasul; Fadhilatusy Syaikh Husein bin Abdul Aziz Alu Syaikh -hafidzahullahu-. Beliau pernah ditanya : "Fadhilatusy Syaikh - jazakumullahu khoiron- : Apa pendapat Anda tentang fatwa yang dikeluarkan oleh Lajnah Da`imah seputar dua kitab Syaikh Ali bin Hasan -hafidzahullahu- “At-Tahdzir” dan “Shoihatu Nadzir”, bahwa kedua kitab tersebut menyeru kepada pemikiran Murji'ah, bahwasanya amal bukan syarat sahnya iman, padahal kedua kitab tersebut tidak membahas sama sekali tentang syarat sah atau syarat sempurnanya iman?!"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau menjawab :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Pertama-tama : wahai saudaraku! Syaikh Ali dan Masyayikh di atas manhaj yang satu. Dan Syaikh Ali, beliau adalah saudara besar seperti para masyayikh yang mengeluarkan fatwa tersebut. Beliau mengenal baik mereka dan mereka juga mengenal baik beliau. Mereka saling mencintai (karena Alloh -pent). Syaikh Ali telah diberi oleh Alloh ilmu dan pengetahuan -wa lillahil hamdu- yang akan dapat mengobati perkara ilmiah antara beliau dan Masyayikh. Dan perkara ini -alhamdulillah- masih di tengah perjalanan menuju titik terang kebenaran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun Syaikh Ali dan guru beliau Syaikh Al-Albani dan yang di atas manhaj sunnah tidak diragukan lagi -walillahil hamdu- berada diatas manhaj yang diridhoi. Dan Syaikh Ali sendiri -walillahil Hamdu-termasuk yang membela manhaj Ahli sunnah wal jama'ah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fatwa Lajnah tidaklah memvonis Syaikh Ali sebagai Murji'ah dan ini tidak mungkin dilakukan oleh Lajnah!! Lajnah hanya berbeda pendapat dan berdialog dengan Syaikh Ali. Adapun orang lain yang menginginkan dari munculnya fatwa ini untuk menvonis syaikh sebagai Murji’ah, maka aku tidak faham (apa maksud mereka). Dan saya kira saudara-saudaraku tidak memahaminya seperti itu. Mereka para Masyaikh sangat menghormati dan menghargai beliau.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan Syaikh Ali telah menjawab dengan jawaban ilmiah dalam kitab "Al-Ajwibah AI-Mutalaaimah ‘ala fatwal Lajnah Daimah" sebagaimana yang dilakukan oleh salafush sholeh. Tidaklah ada diantara kita seorang pun melainkan bisa diambil ucapannya atau ditolak kecuali Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Salam seperti yang dikatakan oleh Imam Malik rahimahullahu :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;كُلُّ كَلاَمٍ مِنْهُ ذُوْ قَبُوْلٍ وَمِنْهُ مَرْدُوْدٌ سِوَى الرَّسُوْلِ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua ucapan kadang bisa diterima&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;dan terkadang bisa ditolak kecuali Rasul&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikianlah keadaan umat ini, terkadang ditolak dan terkadang diterima ucapannya. Akan tetapi manusia secara tabiatnya terkadang saat pembicaraan atau dialog terdapat sedikit nada keras sampai para sahabat radhiyallahu ‘anhum juga demikian, seperti yang terjadi antara Abu Bakar dan Umar dan selain mereka dari kalangan para sahabat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kesimpulannya bahwa fatwa ini menurutku tidak memvonis dan tidak menghukumi Syaikh Ali Murji'ah, akan tetapi fatwa tersebut hanyalah suatu dialog seputar buku beliau. Dan Syaikh Ali –semoga Alloh selalu memberinya taufiq- ketika menulis “Al-Ajwibah al-Mutala`imah” setelah munculnya fatwa tersebut bukan untuk membantah, namun hanya sekedar menjelaskan manhaj beliau dan guru beliau Syaikh Al-Albani rahimahullahu. Kami yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa Syaikh Ali dan guru beliau Syaikh Albani rahimahullahu amat jauh sekali dari pemikiran Murji'ah seperti yang telah aku katakan dahulu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syaikh Ali misalnya kalau aku tanya tentang apa itu iman? demikian juga dengan Syaikh Al-Albani, maka tidaklah kami dapatkan sedikitpun dari ucapan mereka yang berbau Murji'ah yaitu bahwasanya amal bukan termasuk bagian dari iman. Bahkan ucapan-ucapan Syaikh Al-Albani rahimahullahu jelas-jelas menyatakan bahwa iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan dalam lisan dan perbuatan anggota badan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya kira Syaikh Ali menyetujuiku dalam hal ini yaitu bahwasanya fatwa lajnah bukan seperti yang didangungkan oleh sebagian orang bahwa Syaikh Ali itu Murji'ah. Sekali-kali tidak, mereka para Masyayikh tidak mengucapkan seperti ini. Mereka hanya berdialog seputar kitab tersebut. Dan tidaklah para salaf dahulu berdialog kecuali karena rasa kasih sayang dan kecintaan mereka terhadap sunnah dan untuk membela sunnah. Terlebih lagi dialog tersebut bukan tentang keseluruhan kitab akan tetapi bagian kecilnya saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Samahatusy Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh mufti Kerajaan Saudi Arabia termasuk orang yang amat cinta terhadap Syaikh Ali dan aku tahu benar akan hal ini. Beliau sangat amat menghormati dan selalu mendoakan Syaikh Ali sampai setelah Syaikh Ali berjumpa dengan beliau, Samahatusy Syaikh tetap seperti itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau juga amat menghormati dan mencintai Syaikh Al-Albani rahimahullahu dan dahulu kala. Aku mengetahui hal ini semenjak Samahatus Syaikh mengajar di kuliah Syariah tahun 1406 H, beliau selalu menyebut nama Syaikh dengan pujian dan doa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syaikh Al-Albani dan para masyayikh di Saudi Arabiah dipersatukan oleh satu hal yaitu manhaj salafush sholeh. Seandainya kita bersatu diatas hawa nafsu maka sungguh kita akan berpecah-belah. Akan tetapi inilah perwujudan kasih sayang yang benar dan jujur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun kalau ada orang ketiga yang mengambil fatwa Lajnah Daimah ini dan bergembira ria karena sesuai dengan hawa nafsu mereka, tapi mereka meninggalkan yang tidak sesuai dengan mereka maka inilah jalannya ahli bid'ah.” (Selesai jawaban beliau sampai di sini)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian pula dengan Syaikh Kholid bin Ali bin Muhammad Al-Anbari -hafizhahullahu- yang juga tertimpa musibah dengan datangnya fatwa lajnah yang mencekal buku beliau “Al-Hukmu Bighoiri Maa Anzalallohu”. Padahal beliau termasuk masyayikh Dakwah Salafiyah yang gigih memperjuangkan aqidah ahli sunnah sekaligus memerangi bid’ah serta hizbiyah dan amat jauh dari Murji'ah. Terlebih kitab beliau tersebut telah mendapat pujian dari para ulama semisal Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rahimahullahu dan Syaikh DR. Sholeh bin Ghonim Sadlan hafizhahullahu, Dosen pasca sarjana di Universitas Islam Imam Muhammad bin Su'ud.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun pujian Syaikh Al-Albani rahimahullahu maka beliau mengatakan : “Saudara Kholid bin Ali Al-Anbari telah menghadiahkan kepadaku kitab karangannya "Al-Hukmu Bighoiri Maa Anzalallohu” dan aku meodapati kitab tersebut telah memenuhi temanya yang tidak butuh lagi tambahan penjelasan.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syaikh Sholeh bin Ghonim as-Sadlan hafizhahullahu berkata : “Aku mendapatkan kitab Syaikh Kholid bin Ali bin Muhammad Al-Anbari yang berjudul “al-Hukmu bighoyri ma anzalallahu”… telah menepati judulnya dalam berpegang teguh dengan metode kenabian serta jalannya salafush shalih dalam segala permasalahannya. Semoga Alloh menganu-gerahkan kepada beliau pahala akan apa yang telah beliau bahas dan teliti. Dan semoga Alloh memberikan manfaat lewat kitab beliau ini, kaum muslimin baik para ulama, cendekiawan, masyaikh, penuntut ilmu, para dai maupun masyarakat umum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau memulai kitabnya ini dengan menjelaskan macam-macam kufur akbar yang mengeluarkan dari Islam, berupa kufur takdzib, juhud, ‘inad, i'rodh, syak dan nifaq. Dan bahwasanya kekufuran itu bisa dengan keyakinan, ucapan maupun amal perbuatan. Beliau juga menyinggung tentang kekufuran menurut Murji’ah yang menyempitkan hanya pada kufur takdzib di dalam hati saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau juga berkata, bahwa kitab ini ditulis dengan metode ilmiah yang kokoh, tidak ada caci maki maupun celaan yang buruk. Kitab ini amat spesial di dalam pembahasannya. Dan penulis di dalam masalah perincian hukum orang yang tidak berhukum dengan hukum Alloh telah sesuai pendapatnya dengan pendapat Samahatul Walid Mufti Kerajaan Arab Saudi Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Bazz , Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.” (selesai ucapan beliau)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fatwa lajnah ini pun juga ditentang dan disalahkan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin seperti yang telah berlalu diatas dan bahwasanya tidak ada yang dapat mengambil manfaat dari fatwa ini melainkan takfiriyin dan tsauriyin (revolusionis). Begitu juga dengan Syaikh Sholeh As-Sadlan yang tidak bisa menerima fatwa tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syaikh Kholid pun menanggapi fatwa ini dengan menulis sebuah makalah yang berjudul “Al-Maqoolaat Al-Anbariyah fi Tahkiimil Qowaaniin Al-Wadh'iyah”, diantaranya beliau mengatakan : "Tidak tersembunyi lagi bagi anda sekalian bahwa mewajibkan, mengharamkan hanyalah hak Alloh dan Rasul-Nya sebagaimana yang telah dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu. Oleh karenanya, saya memohon kepada anda sekalian untuk menjelaskan hujjah-hujjah syar'i mengenai keputusan Lajnah yang terhormat yang melarang dicetaknya kembali kitab (Al-Hukmu..) yang telah terbit sejak lima tahun yang lalu…”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka di sini penulis menasehatkan kepada siapa saja yang telah termakan isu atau syubhat bahwa buku Syaikh Kholid ini berada diatas manhaj Murji'ah agar dia membaca sendiri buku tersebu dan meneliti manakah pemikiran Murji'ah yang dituduhkan itu!!! Demikian pula yang menuduh Syaikh Kholid Murji'ah agar dia membaca karangan Syaikh Kholid yang berjudul Murjiatul Ashr (Murji’ah abad ini). Buktikan apakah beliau Murji'ah atau malah sebaliknya membantah Murji'ah!!!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika demikian ini keadaannya, masihkah kita berani menuduh Dakwah Salafiyah sebagai Murji'ah atau Jahmiyah?I&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dan peliharalah dirimu dari (adzab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Alloh. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. AI-Bagarah : 281)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (QS. AI-Fajr : 14)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitu jelasnya bukti-bukti akan jauhnya Syaikh Al-Albani, Syaikh Ali Al-Halabi dan Syaikh Kholid Al-Anbari dari Murji'ah, namun masih ada saja orang yang buta akan hal ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;الْحَقُّ شَمْسٌ وَالْعُيُوْنُ نَوَاظِرُ لَكِنَّهَا تَخْفَى عَلَى الْعَمْيَانِ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebenaran bak matahari dan mata-mata ini yang melihatnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akan tetapi matahari itu tersembunyi bagi si buta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;أَصَمَّكَ سُوْءُ فَهْمِكَ عَنْ خِطَابِيْ وَأَعْمَاكَ الضَّلاَلُ عَنْ اهْتِدَاءِ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kejelekan pemahamanmu membuatmu tuli dari ucapanku&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan kesesatan membuat dirimu buta dari petunjukku&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai penutup, simak dan renungkan ucapan berharga dari seorang doktor spesialis kelompok-kelompok sempalan, Syaikh DR. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql -hafizhahullahu- :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Tidak semua orang yang dituduh Murji'ah dia benar Murji'ah. Terlebih di zaman ini, karena tukang-tukang pengkafiran dan orang-orang ekstrim dari kalangan Khowarij atau yang seperti mereka yang bodoh akan kaidah-kaidah salaf tentang vonis, menuduh orang yang menyelisihi mereka dari kalangan ulama maupun penuntut ilmu dengan Murji'ah. Dan kebanyakan yang digembar-gemborkan mereka adalah masalah berhukum dengan selain hukum Alloh dan masalah wala' serta baro'.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan terkadang sebagian yang menisbatkan dirinya kepada ilmu dan sunnah ikut andil dalam menuduh tanpa adanya kehati-hatian. Bahkan sebagian penuntut ilmu yang sudah tinggi keilmuaannya ketika menulis masalah takfir pada zaman ini menuduh orang yang menyelisihinya dalam masalah yang juga diperselisihkan oleh salaf dengan tuduhan Murji'ah. Padahal permasalahannya jika diteliti kembali tidak termasuk prinsip Murji'ah.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wallahu Ta'ala A'lam&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-846742252190049775?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/846742252190049775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/846742252190049775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/05/dakwah-salafiyah-bukan-murjiah.html' title='Dakwah Salafiyah Bukan Murji’ah'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-K3k7kbu6Vu0/TdXQszZ9Z_I/AAAAAAAAAE4/VQr0u69h5gs/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-2257111501117032952</id><published>2011-05-19T19:14:00.000-07:00</published><updated>2011-05-19T19:14:17.024-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Murji&apos;ah'/><title type='text'>Bantahan Terhadap Pemikiran Murji'ah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-TOnF1_RKfb8/TdXNvQ1un_I/AAAAAAAAAE0/pbmEUSv9tpI/s1600/california-wallpaper-nature-11.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://4.bp.blogspot.com/-TOnF1_RKfb8/TdXNvQ1un_I/AAAAAAAAAE0/pbmEUSv9tpI/s200/california-wallpaper-nature-11.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya kebaikan manusia, baik di dunia maupun di akhirat, itu semua tergantung pada keimanannya yang benar. Dengan iman yang benar, seorang hamba akan hidup bahagia, dan ia selamat dari berbagai keburukan dan kesusahan di dunia dan di akhirat. Dengan iman, seorang hamba meraih pahala dan masuk surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Di dalamnya terdapat berbagai kesenangan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas pada hati manusia. Demikian juga, dengan iman seorang hamba akan selamat dari neraka, dengan berbagai siksanya yang tiada tara. Maka menjadi keharusan, jika pengetahuan tentang iman yang benar merupakan ilmu yang sangat penting dan pantas untuk diperhatikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Makna Iman Menurut Ahlus Sunnah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara bahasa, iman ada yang mengartikan dengan tashdîq (membenarkan), tuma`nînah (ketentraman), dan iqrar (pengakuan). Dan makna poin ketiga inilah yang paling tepat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Telah diketahui bahwasanya iman adalah iqrar (pengakuan), tidak semata-mata tashdîq (membenarkan). Dan iqrar (pengakuan) memuat perkataan hati, yakni tashdîq (membenarkan), dan perbuatan hati, yakni inqiyad (ketundukan hati)” .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian, iman adalah iqrar (pengakuan) hati yang mencakup dua hal. Pertama, keyakinan hati, yaitu membenarkan terhadap berita. Kedua, perkataan hati, yaitu ketundukan terhadap perintah. Sehingga maknanya, yaitu keyakinan yang disertai dengan kecintaan dan ketundukan terhadap segala yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah Ta’ala.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun menurut syara’ (agama), iman yang sempurna mencakup qaul (perkataan) dan 'amal (perbuatan). Syaikul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Di antara prinsip Ahlus-Sunnah wal- Jama’ah, bahwasanya ad-dîn (agama) dan al-iman, adalah perkataan dan perbuatan; perkataan hati dan lisan, perbuatan hati, lisan dan anggota badan”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari perkataan Syaikhul-Islam di atas, nampak bahwa iman menurut Ahlus-Sunnah wal Jama’ah mencakup lima perkara, yaitu perkataan hati, perkataan lisan, perbuatan hati, perbuatan lisan, dan perbuatan anggota badan. Banyak dalil yang menunjukkan masuknya lima perkara di atas ke dalam istilah iman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Iman Menurut Pendapat Murji'ah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Murji'ah adalah sebuah firqah yang memiliki pemahaman irja`. Maksud irja` ini memiliki dua makna.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama. Mengakhirkan. Yaitu mereka mengakhirkan amal dari iman. Dalam arti, bahwa menurut mereka, amal tidak termasuk bagian dari iman. Pendapat ini merupakan kesesatan karena menyelisihi 'aqidah Ahlus-Sunnah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedua. Memberikan raja' (harapan). Mereka mengatakan, dengan adanya iman maka maksiat tidak membahayakan. Sebagaimana juga ketaatan itu tidak bermanfaat dengan adanya kekufuran. Anggapan ini juga merupakan kesesatan, karena mereka memandang remeh terhadap nash-nash ancaman yang terdapat dalam Al-Kitab dan as-Sunnah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para salafush-shalih telah menyatakan kesesatan firqah Murji`ah ini. Az-Zuhri rahimahullah berkata; ''Tidaklah muncul bid'ah di dalam Islam yang lebih berbahaya terhadap pemeluk (agama Islam) dari irja`''.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada beberapa firqah Murji`ah, namun secara umum terbagi dalam tiga golongan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama: Golongan yang mengatakan bahwa iman hanyalah apa yang ada di dalam hati saja. Sebagaimana Asy'ariyah menyatakan iman adalah keyakinan dan amalan hati. Begitu pula Jahmiyah menyatakan iman hanyalah keyakinan hati saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedua: Golongan yang mengatakan, iman hanyalah perkataan lisan saja. Mereka ini dikenal sebagai golongan Karamiyyah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketiga: Golongan yang mengatakan, iman adalah keyakinan hati dan perkataan lisan. Mereka ini Murji`ah dari kalangan fuqahâ (para ahli fiqih).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menegaskan dalam Majmû' Fatâwa: Murji`ah itu ada tiga golongan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendapat Pertama, orang-orang yang mengatakan bahwa iman hanyalah apa yang ada di dalam hati saja. Kemudian di antara mereka ini, ada yang memasukkan amal-amal hati di dalam iman. Mereka ini merupakan mayoritas golongan Murji`ah. Sebagaimana Abul-Hasan al-Asy'ari telah menyebutkan perkataan-perkataan mereka di dalam kitabnya. Banyak golongan yang beliau paparkan. Tetapi kami akan menyebutkan pokok-pokok pendapat mereka. Di antara mereka ada yang tidak memasukkan amal hati ke dalam iman, seperti Jahm dan pengikutnya, as-Shalihi. Inilah yang dia bela dan diikuti oleh mayoritas pengikutnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendapat Kedua, orang yang menyatakan bahwa iman adalah perkataan lisan saja. Pendapat ini tidak dikenal oleh seorang pun sebelum kemunculan firqah al-Karrâmiyyah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendapat Ketiga, bahwasanya iman adalah keyakinan hati dan perkataan lisan. Inilah yang terkenal dari ahli fiqih dan ahli ibadah dari golongan Murji`ah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiga golongan ini sepakat menyatakan bahwa amal anggota badan tidak termasuk bagian iman. Pendapat ini tentu merupakan penyimpangan dan kesesatan, walaupun kadarnya berbeda-beda. Karena ijma' (kesepakatan) Salaf menetapkan bahwa amal anggota badan termasuk iman, bahkan hal ini ditunjukkan oleh Al-Kitab dan as-Sunnah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bantahan Terhadap Pendapat Murji'ah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bantahan-bantahan berikut dikupas secara ringkas, dan diarahkan terhadap pengertian iman menurut Murji'ah sebagaimana telah diungkapkan di atas:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Golongan yang mengatakan iman hanyalah apa yang ada di dalam hati saja, berupa keyakinan dan amalan hati, seperti pendapat Asy'ariyah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bantahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut pendapat mereka ini, bahwa orang yang meyakini berita yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah Ta'ala, baik berupa Al-Qur'an maupun As-Sunnah, dan hatinya tunduk, maka dia telah beriman, walaupun tidak mengikrarkan syahâdatain dan walaupun dia sama sekali tidak melakukan amalan lahiriyah. Maka pendapat ini bertentangan dengan ijma' yang mewajibkan mengikrarkan syahadatain. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: ''Jika seseorang tidak mengucapkan dua syahadat, padahal dia mampu, maka dia kafir dengan kesepakatan kaum Muslimin''.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian juga bertentangan dengan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan hubungan amal hati dengan amalan anggota badan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik maka seluruh tubuh juga baik. Jika segumpal daging itu rusak maka seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentang hadits ini, Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: ''Jika hati itu baik dengan apa yang ada di dalamnya, yaitu berupa keimanan, secara ilmu dan amal yang berkaitan dengan hati, pasti mengharuskan kebaikan tubuh dengan perkataan yang nampak dan beramal dengan keimanan yang sempurna''.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau juga menyatakan: ''Adalah suatu kemustahilan, seseorang beriman dengan keimanan yang kokoh di dalam hatinya, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan shalat, zakat, puasa, dan haji atasnya, dan (kemudian) selama hidupnya, dia tidak pernah bersujud kepada Allah sama sekali, tidak berpuasa Ramadhan, tidak membayar zakat, dan tidak berhaji ke Baitullah; ini mustahil; ini tidaklah muncul kecuali bersamaan dengan kemunafikan dan kezindiqan di dalam hati, tidak dengan iman yang benar''.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Golongan yang mengatakan bahwa iman hanyalah keyakinan hati atau ma'rifat saja, seperti yang dinyatakan oleh Jahm bin Shafwân.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bantahan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernyataan demikian merupakan pendapat yang sangat rusak. Karena jika begitu, berarti Fir'aun dan kaumnya termasuk orang-orang yang beriman, karena hati mereka membenarkan Nabi Musa dan Nabi Harun, namun ia tidak beriman kepada keduanya. Allah Yang Maha Mengetahui isi hati manusia telah memberitakan isi hati Fir'aun dan kaumnya dengan firman-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dan mereka (Fir'aun dan kaumnya) mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan” [an-Naml :14]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Padahal sudah pasti jika Fir'aun dan kaumnya termasuk orang-orang kafir yang akan masuk neraka. Allah berfirman&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ia (Fir'aun) berjalan di muka kaumnya di hari Kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi” [Huud : 98]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian juga, konsekuensi dari anggapan mereka itu, berarti Iblis termasuk orang-orang yang beriman, karena dia mengetahui Rabbnya, bahkan berdoa kepada-Nya. Allah berfirman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Iblis berkata: "Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan” [al-Hijr : 36]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menanggapi pemikiran Jahm bin Shafwan, Imam Ibnu Abil-'Izzi al-Hanafi rahimahullah berkata: ''Kekafiran menurut Jahm, yaitu bodoh (tidak mengenal) terhadap ar-Rabb Ta'ala, padahal tidak ada orang yang lebih bodoh dari Jahm terhadap Rabbnya. Karena dia menjadikan ar-Rabb sebagai wujud semata, dan meniadakan seluruh sifat-sifat yang ada pada-Nya. Tidak ada kebodohan yang lebih besar dari anggapan yang seperti ini, sehingga dia menjadi kafir dengan pengakuannya sendiri''.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Golongan yang mengatakan bahwa iman hanyalah perkataan lisan saja. Ini merupakan pendapat Murji`ah dari firqah Karrâmiyyah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bantahan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika iman hanya perkataan lisan saja, maka berarti orang-orang munafik termasuk sebagai orang yang beriman. Pendapat ini sangat jelas kerusakannya. Allah berfirman:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka adzab yang kekal” [at-Taubah : 68]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata: ''Ahlus-Sunnah telah sepakat berkaitan dengan hilangnya keimanan; bahwasanya tashdîq (meyakini berita) tidak bermanfaat- jika tidak disertai dengan amalan hati, kecintaan hati dan ketundukannya''.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Golongan yang mengatakan, iman ialah keyakinan hati dan perkataan lisan. Mereka adalah Murji'ah dari kalangan fuqaha (para ahli fiqih).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bantahan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendapat seperti ini menyelisihi ijma' Salafush-Shalih yang mengatakan amal termasuk iman. Amalan (perbuatan) anggota badan adalah perbuatan yang tidak bisa dilakukan kecuali dengan anggota badan. Seperti: berdiri shalat, ruku’, sujud, haji, puasa, jihad, membuang barang menggaggu dari jalan, dan lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di antara dalil yang menunjukkan amal anggota badan termasuk dari iman, yaitu firman Allah Ta'ala:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan” [al-Hajj : 77]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan ruku', sujud, dan beribadah kepada Allah. Perintah ini menunjukkan bahwa melaksanakannya merupakan iman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lebih jelas lagi dapat ditelaah dari firman Allah Ta'ala:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia” [al-Baqarah :143]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang firman Allah ''Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu'', yaitu shalat kamu ke Baitul-Maqdis sebelum itu. Allah tidak akan menyia-nyiakan pahalanya di sisi-Nya. Di dalam kitab Shahîh (Shahîh Bukhari, no 4486 - Pen) disebutkan dari al-Barâ`, dia berkata; '' Sebagian orang yang dahulu shalat ke arah Baitul-Maqdis telah meninggal, maka orang-orang berkata: 'Bagaimana keadaan mereka dalam hal itu?' Maka Allah menurunkan 'Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu'.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ayat di atas secara jelas menunjukkan, bahwa amal anggota badan termasuk iman, karena Allah menyebut shalat dengan iman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kesesatan Murji'ah Lainnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada uraian di atas telah disampaikan pendapat dari berbagai firqah Murji'ah tentang pengertian iman. Pendapat sesat mereka berpangkal dari pemahaman-pemahaman menyimpang sebagai berikut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Menurut kelompok Murji`ah, iman merupakan satu bagian dan tidak terbagi-bagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bantahan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anggapan mereka ini bertentangan dengan 'aqîdah Ahlus-Sunnah yang berpendapat bahwa iman memiliki bagian-bagian atau cabang-cabang. Jumlah cabang-cabang iman itu lebih dari 73 bagian. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Iman ada 73 lebih atau 63 lebih bagian. Yang paling utama ialah perkataan Laa ilaaha illallah, dan yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu merupakan satu bagian dari iman” [HR Muslim, no. 35]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di antara cabang-cabang iman itu ada yang merupakan pokok-pokok iman. Jika cabang tersebut hilang maka keimanan juga hilang. Cabang-cabang ini, seperti rukun iman yang enam. Demikian juga ada sebagian cabang iman yang merupakan furu` (cabang kecil). Jika cabang tersebut hilang maka keimanan tidak hilang, akan tetapi nilai dan kadarnya berkurang. Misalnya seperti menyingkirkan gangguan dari jalan. Oleh karena itulah iman itu bisa bertambah dan berkurang. Bertambah dengan ketaatan, dan berkurang karena kemaksiatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian anggapan kaum Murji`ah yang berpendapat bahwa iman itu hanya satu bagian, berarti keimanan orang yang paling fasik sama dengan keimanan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, bahkan bisa dianggap setara dengan keimanan para nabi dan malaikat. Sehingga adakah kerusakan yang lebih besar dari anggapan ini?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Dengan anggapan karena iman itu hanya satu bagian, maka keimanan tidak bertambah dan tidak berkurang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bantahan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anggapan mereka ini bertentangan dengan Al-Kitab dan as-Sunnah yang menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah dan dapat berkurang. Allah Ta'ala berfirman:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka, dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung". [Ali 'Imran :173]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika Imam Sufyan bin 'Uyainah ditanya, apakah iman itu bertambah dan berkurang? Maka beliau menjawab: ''Tidakkah kamu membaca 'maka perkataan itu menambah keimanan mereka' -Qs Ali 'Imran/3 ayat 173- 'dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk' -Qs al-Kahfi/18 ayat 13''.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Tidak boleh berkata "insya Allah" dalam menyatakan keimanan. Karena berarti menunjukkan keragu-raguan. Bahkan sebagian kaum Murji`ah mengafirkan orang yang melakukannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bantahan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika perkataan "insya Allah" untuk menyatakan keimanan itu sebagai bentuk keraguan, maka perkataan itu tidak boleh. Karena keimanan harus dengan keyakinan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seseorang menyatakan "insya Allah" dalam menyatakan keimanan, bisa jadi karena hal lainnya, seperti karena tidak mengetahui akhir hayat seseorang. Sebagaimana kita ketahui, penilaian keimanan itu adalah di akhir hayatnya. Atau karena iman yang sempurna itu mencakup melakukan seluruh kebaikan yang diperintahkan Allah, dan juga meninggalkan seluruh keburukan yang dilarang-Nya. Sehingga, jika seseorang mengatakan ''saya mukmin'', berarti dia memuji diri sendiri dengan mengatakan sebagai seorang mukmin. Jika persaksiaannya benar, berarti ia menyatakan diri sebagai ahli surga. Tentu hal ini batil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kesimpulannya, berkata "insya Allah" dalam menyatakan keimanan, bisa terlarang dan bisa saja dibolehkan, sebagaimana perincian di atas. Wallahu a'lam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Murji`ah berpendapat bahwa amalan anggota badan tidak termasuk iman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bantahan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendapat seperti ini tentu bertentangan dengan ijma' Salaf yang menyatakan bahwa amal anggota badan termasuk iman. Penjelasan masalah ini telah dijelaskan dalil-dalilnya di depan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Dengan prinsip sesat ini, kaum Murji`ah berpandangan bahwa tidak kekufuran yang terjadi pada anggota badan. Begitu pula perbuatan maksiat tidak mengeruhkan kemurnian iman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bantahan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pandangan ini bertentangan dengan ijma' Salaf yang menyatakan bahwa kekafiran bisa terjadi karena kayakinan, perkataan, perbuatan, atau keraguan. Begitu pula perbuatan maksiat itu bisa mengurangi nilai keimanan. Bahkan bagi pelakunya dikhawatirkan menemui su’ul khatimah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembuktian Bersih dan Terbebas Dari Pemikiran Murji'ah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para ulama salaf telah menyebutkan beberapa penjelasan yang menunjukkan bersih dan terbebasnya seseorang dari pemikiran irja'. Maknanya, barangsiapa mengatakannya maka ini menunjukkan indikasi bahwa orang tersebut bersih dari sifat irja' yang tercela.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perkataan itu ialah sebagai berikut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Mengatakan bahwasanya iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Menyatakan bahwa dosa-dosa akan membahayakan walaupun ada keimanan, dan dosa-dosa itu akan mengurangi keimanan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Ahmad rahimahullah ditanya tentang orang yang mengatakan ''iman itu bertambah dan berkurang'', maka beliau menjawab: ''Orang itu bersih dari irja`"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam al-Barbahari rahimahullah berkata: ''Barangsiapa mengatakan iman adalah perkataan dan perbuatan, iman itu bertambah dan berkurang, maka dia telah keluar dari irja' semuanya, (dari) awal hingga dan akhirnya''.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Menyatakan boleh mengucapkan "insya Allah" dalam keimanan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Abdur-Rahman bin Mahdi rahimahullah berkata: ''Jika seseorang meninggalkan pernyataan 'insya Allah' (istitsnâ) dalam keimanan, maka itu adalah prinsip irja`''&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Menyatakan bahwa kekufuran bisa terjadi pada amalan-amalan anggota badan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal ini karena semua firqah Murji`ah menyatakan bahwa tidak terjadi kekafiran dengan sebab amalan-amalan anggota badan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Menyatakan bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Ahmad rahimahullah berkata: ''Dikatakan kepada Ibnul-Mubarak 'engkau berpemahaman irja`?', (namun) beliau menjawab 'aku menyatakan iman adalah perkataan dan perbuatan, maka bagaimana (mungkin) aku menjadi orang yang memiliki pemahaman irja'?''&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari riwayat ini kita mengetahui bahwa tuduhan terhadap seorang ulama sebagai seorang Murji'ah –padahal tidak- sudah terjadi pada zaman Imam Ibnul-Mubarak. Sehingga tidak heran jika tuduhan-tuduhan itu juga bergema pada masa kini terhadap sebagian tokoh-tokoh Salafiyyin, sebagaimana dituduhkan kepada Imam al-Albani dan sebagian murid beliau- padahal mereka bersih dari tuduhan tersebut. Oleh karena itu, orang-orang yang melontarkan tuduhan itu hendaklah mengingat sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Barangsiapa berkata tentang seorang mukmin sesuatu yang tidak ada padanya, Allah akan menempatkannya pada lumpur neraka, sehingga dia keluar dari apa yang telah dia katakana”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian sedikit penjelasan tentang firqah Murji`ah dan kesesatannya. Semoga bermanfaat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maraji`:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;• Al-Imâm al-Albâni wa Mauqifuhu minal-Irja`, Abdul 'Aziz bin Rayyis ar-Rayyis, Darul-Hijrah, hlm. 23.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;• [ 'Aqidah Wasithiyah, Syaikul-Islam Ibnu Taimiyyah, dengan syarah-syarahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;• Al-Minhah Ilâhiyah fî Tahdzîb Syarh ath-Thahâwiyah, 'Abdul-Akhir Hammad al-Ghunaimi, Darush-Shahabah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;• Majmu’ Fatâwa, Syaikul-Islam Ibnu Taimiyyah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;• Tafsir Ibni Katsir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XI/1428H/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-2257111501117032952?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/2257111501117032952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/2257111501117032952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/05/bantahan-terhadap-pemikiran-murjiah.html' title='Bantahan Terhadap Pemikiran Murji&apos;ah'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-TOnF1_RKfb8/TdXNvQ1un_I/AAAAAAAAAE0/pbmEUSv9tpI/s72-c/california-wallpaper-nature-11.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-196665886491057640</id><published>2011-05-19T15:38:00.000-07:00</published><updated>2011-05-19T15:38:06.542-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poligami'/><title type='text'>Poligami Anugerah Alloh yang Terdzolimi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-MiHQUejk1a0/TdWZ9ktDWrI/AAAAAAAAAEw/S8uAaZs3XZI/s1600/red-flower-ed.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="135" src="http://1.bp.blogspot.com/-MiHQUejk1a0/TdWZ9ktDWrI/AAAAAAAAAEw/S8uAaZs3XZI/s200/red-flower-ed.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah disempurnakan oleh Allah -Subhanahu wa Ta’ala- sebagai rahmat bagi seluruh hamba-Nya, sehingga agama ini tidak butuh tambahan,pengurangan dan otak-atik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku,dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. Al-Ma`idah: 3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di antara rahmat Allah -Ta’ala- kepada hamba hamba-Nya, disyari’atkannya “poligami” (seorang laki laki memiliki lebih dari satu istri) berdasarkan dalil- dalil yang akan datang. Namun berbicara masalah poligami akan mengundang berbagai tanggapan. Ada yang menanggapinya secara posotif&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;dan ini datangnya dari ulama’dan kaum beriman. Tetapi, ada pula yang menanggapinya secara negatif, bahkan menentangnya dengan keras di antara segelintir orang dari kalangan orang-orang munafiq, dan orang-orang yang jahil dari kaum wanita dan laki-laki. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbagai alasan dilontarkan intuk menolak poligami, entah dengan alasan kecemburuan, emosi, atau tidak siap dimadu, bahkan dengan alasan ketidakadilan. Mungkin dengan dasar inilah, ada seorang penulis wanita (kami tidak sebutkan namanya) berusaha menentang, dan menzholimi “anugerah poligami” ini untuk membela kaum wanita -menurut sangkaannya-, padahal sebenarnya ia menzholimi kaum wanita. Maka dia pun menuangkan “ pembelaannya” (baca:penzholimannya) tersebut dalam bentuk tulisan yang dimuat oleh koran “Kompas”, edisi 11 Desember 2006, dengan judul, “Wabah itu Bernama Poligami”. Sebuah judul yang memukau bagi orang-orang jahil, terlebih lagi orang-orang munafiq. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun hal itu sangat berbahaya bagi keimanannya, dan mengerikan bagi kaum beriman. Betapa tidak, dia telah berani menyebut poligami sebagai “wabah”, dan telah lancang berani menyebut syari’at yang Allah -Ta’ala- sendiri yang menurunkan-Nya sebagai “wabah”. Dia telah menghina, menentang dan mengingkari anugerah yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Kalau wanita ini menganggap&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;poligami adalah wabah, berarti dia telah menganggap bahwa Allah -Ta’ala- telah menurunkan wabah kepada para hamba-Nya,“Subhanallah wa -Ta’ala- ‘an qaulihim uluwwan kabiran !!!” Maha Suci, dan Maha Tinggi Allah atas apa yang mereka ucapkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wanita untuk memuntahkan kebenciannya, dan penolakannya kepada syari’at poligami, maka ia pun tidak tanggung-tanggung membawakan hadits untuk menguatkan pendapatnya. Padahal hadits itu tidaklah menguatkan dirinya sedikitpun, bahkan menolak dengan kejahilannya: Wanita itu membawakan hadits, bahwa dilaporkan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- marah ketika beliau mendengar putrinya Fatimah akan di poligami suaminya, Ali bin Abi Thalib.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau bergegas menuju mesjid, naik mimbar dan menyampaikan pidato, “Keluarga Bani Hasim bin Al-Mughiroh telah meminta izinku untuk menikahkan putri mereka dengan Ali Bin Abi Thalib saya tidak mengizinkan sama sekali kecuali Ali menceraikan putri Saya terlebih dahulu”.Kemudian Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melanjutkan, “Fatimah adalah bagian dari-ku. Apa yang mengganggu dia adalah menggangguku dan apa yang menyakiti dia adalah menyakitiku juga”. Akhirnya, Ali bin Abi Thalib tetap monogami hingga Fatimah wafat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah membaca hadits diatas, mungkin kita akan menganggukkan kepala dan membenarkan wanita tersebut. Namun Saking “pandainya” wanita ini, ia lupa riwayat lain dalam Shohih Muslim (2449), “Sesungguhnya aku tidak mengharamkan yang halal dan tidak menghalalkan yang haram. Tapi, demi Allah, tidak akan berkumpul putri Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dengan putri musuh Allah selamanya”. Artinya, Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tidak mengharamkan atas umatnya sesuatu yang halal, yaitu poligami. Selain itu, Syaikh Al-Adawiy dalam Fiqh Ta’addud Az-Zaujat (126) berkata, “Di antara kekhususan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, putrinya tidak boleh dimadu. Ini yang dikuatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari (9/329)”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perlu diketahui bahwa para sahabat sepeninggal Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,bahkan Ali sendiri berpoligami setelah Fathimah wafat. Ali bin Rabi’ah berkata, “Dulu Ali memiliki dua istri”. [HR. Ahmad dalam Fadho’il Ash-Shohabah (no.889)].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini menunjukkan bahwa poligami tetap diamalkan oleh para sahabat sepeninggal Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bukan bersifat kondisional !! Lebih jauh lagi, Wanita itu mengomentari ayat berikut,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS. An-Nisa`: 3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wanita ini berkata, “Ayat tersebut turun setelah perang Uhud, dimana banyak sahabat wafat di medan perang. Ayat ini memungkinkan lelaki muslim mengawini janda, atau anak yatim, jika dia yakin inilah cara melindungi kepentingan mereka, dan hartanya dengan penuh keadilan. Jadi, ayat ini bersifat kondisional”. Yang menjadi pembahasan kita dalam perkataannya adalah bahwa ayat ini bersifat kondisional, padahal seandainya ayat ini bersifat kondisional, justru ayat ini sangat memungkinkan untuk diamalkan pada zaman sekarang, karena melihat perbandingan jumlah wanita jauh lebih banyak dibandingkan jumlah laki-laki.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu, poligami di saat sekarang ini mestinya lebih disemarakkan! Selain itu, para ulama membuat kaedah, “Barometer dalam menafsirkan ayat dilihat pada keumuman lafazhnya, bukan pada kekhususan sebab turunnya ayat tertentu”. Jadi, dilihat cakupan dan keumuman ayat di atas dan lainnya, maka mencakup semua lelaki yang memiliki kemampuan lahiriah. Kemudian, dia pun mengomentari firman Allah berikut -layaknya sebagai ahli tafsir, padahal ia bukan termasuk darinya-,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nisa`:129)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wanita ini berkata dengan congkak, “Ayat ini dapat disimpulkan, Islam pada dasarnya agama monogami”. Pembaca -semoga dirahmati Allah- beginilah apabila menafsirkan ayat dengan penafsiran sendiri, tanpa mau melihat bagaimana para ulama tafsir ketika menafsirkan ayat-ayat Allah. Ayat ini justru menunjukan disyari’atkannya poligami. Dengarkan para ahli tafsir ketika mereka menafsirkan ayat di atas (QS. An-Nisa`: 129)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ath-Thabariy -rahimahullah-berkata, “Kalian, wahai kaum lelaki, tak akan mampu menyamakan istri-istrimu dalam hal cinta di dalam hatimu sampai kalian berbuat adil di antara mereka dalam hal itu. Maka tidak di hati kalian rasa cinta kepada sebagiannya, kecuali ada sesuatu yang sama dengan madunya, karena hal itu kalian tidak mampu melakukannya, dan urusannya bukan kepada kalian”. [Lihat Jami’ Al-Bayan (9/284)]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syaikh Muhammad bin Nashir As-Sa’diy-rahimahullah- dalam menafsirkan ayat di atas (QS.An-Nisa`: 129), “Allah -Ta’ala-mengabarkan bahwa suami tidak akan mampu. Bukanlah kesanggupan mereka berbuat adil secara sempurna di antara para istri, sebab keadilan mengharuskan adanya kecintaan, motivasi, dan kecenderungan yang sama dalam hati kepada para istri, kemudian demikian pula melakukan konsekuensi hal tersebut. Ini adalah perkara yang susah dan tidak mungkin. Oleh karena itu, Allah -Ta’ala- memaafkan perkara yang tidak sangup untuk dilakukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian, Allah -Ta’ala- melarang sesuatu yang mungkin terjadi (yaitu, terlalu condong kepada istri yang lain, tanpa menunaikan hak-hak mereka yang wajib-pent), “Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung”. (QS. An-Nisa`: 129)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maksudnya, janganlah engkau terlalu condong (kepada istri yang lain) sehingga engkau tidak menunaikan hak-haknya yang wajib, bahkan kerjakanlah sesuatu yang berada pada batas kemampauan kalian berupa keadilan. Maka memberi nafkah, pakaian, pembagian dan semisalnya, wajib bagi kalian untuk berbuat adil di antara istri-istri dalam hal tersebut, lain halnya dengan masalah kecintaan, jimak (bersetubuh), dan semisalnya, karena seorang istri, apabila suaminya meninggalkan sesuatu yang wajib (diberikan) kepada sang istri, maka jadilah sang istri dalam kondisi terkatung-katung bagaikan wanita yang tidak memiliki suami, lantaran itu sang istri bisa luwes dan bersiap untuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;menikah lagi serta tidak lagi memiliki suami yang menunaikan hak-haknya”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 207)]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lebih gamblang, seorang mufassir ulung, Syaikh Asy-Syinqithiy -rahimahullah- berkata dalam Adhwa’ Al-Bayan (1/375) ketika menafsirkan ayat di atas,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Keadilan ini yang disebutkan oleh Allah disini bahwa ia tak mampu dilakukan adalah keadilan dalan cinta, dan kecenderungan secara tabi’at, karena hal itu bukan di bawah kemampaun manusia. Lain halnya dengan keadilan dalam hak-hak yang syar’iy, maka sesuangguhnya itu mampu dilakukan”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi, dari komentar para ahli tafsir tadi, tidak ada di antara mereka yang berdalil dengan ayat itu untuk menolak poligami. Lantas kenapa wanita ini tak mau menoleh ucapan para ulama’ tafsir? Jawabnya, karena tafsiran mereka tidak tunduk kepada hawa nafsu wanita ini. Adapun dalil dalil yang menunjukan disyariatkannya poligami antara lain, maka telah berlalu dalam (QS. An-Nisa`:3).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di antara dalil poligami, Seorang tabi’in, Sa’id bin Jubair, “Ibnu&amp;nbsp; Abbbas berkata kepadaku:“Apakah engkau telah menikah ?” Aku menjawab “ Belum”. Ibnu Abbas berkata, “Maka menikahlah, karena sebaik baik manusia pada umat ini adalah orang yang paling banyak istrinya”. [HR. Al-Bukhariydalam Shohih-nya).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu lagi dalil poligami -namun sebenarnya masih banyak-, Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Termasuk sunnah jika seorang laki laki menikahi perawan setellah istri sebelumnya janda maka sang suami pun tinggal di rumah istri yang perawan ini selama tujuh hari maka sang suami tinggal dirumah istri yang janda selama tiga hari kemudian dia bagi”. [HRBukhariy dalam Ash-Shohih]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang ulama’ Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah-dalam Fatul Bari (9/10) berkata, “Dalam hadits ini, ada anjuran untuk menikah dan meninggalkan hidup membujang”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah kita mengetahui dalil-dalil yang menunjukan disyari’atkannya seorang muslim,laki-laki maupun wanita melakukan poligami. Jadi, kami nasihatkan kepada diri kami dan para suami dan calon suami untuk menikah hingga empat orang istri, jika dia sanggup untuk berbuat adil dalam perkara lahirah, seperti, pembagian malam, dan nafkah. Adapun adil dalam perkara batin (seperti, cinta, kesenangan jimak, perasaan bahagia bersama dengan salah satu diantara mereka), maka ini bukan merupakan syarat berdasarkan hadits-hadits dari Nabi - Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana yang diterangkan oleh para ulama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terakhir, Kami nasihatkan kepada para wanita agar bersiap untuk dimadu dan berlapang dada untuk menerima anugerah poligami ini, serta tidak menentang syari’at poligami, karena ini adalah kekufuran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Samahatusy Syaikh Abdul Azizi bin Baz-rahimahullah- berkata, “Barangsiapa yang membenci sedikitpun dari sesuatu yang dibawa Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, meskipun dia mengamalkannya, maka sungguh dia telah kafir. Allah - Ta’ala- berfirman,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;ذ“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka”. (QS. Muhammad: 9)[LihatNawaqid Al-Islam]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;sumber: www.almakassari.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-196665886491057640?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/196665886491057640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/196665886491057640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/05/poligami-anugerah-alloh-yang-terdzolimi.html' title='Poligami Anugerah Alloh yang Terdzolimi'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-MiHQUejk1a0/TdWZ9ktDWrI/AAAAAAAAAEw/S8uAaZs3XZI/s72-c/red-flower-ed.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-3567942171849359835</id><published>2011-05-19T14:55:00.000-07:00</published><updated>2011-05-19T14:55:06.639-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poligami'/><title type='text'>Poligami, Wahyu Ilahi yang Ditolak</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-0vNf7qR8haU/TdWRfGfA7rI/AAAAAAAAAEs/M5ohun5rcF8/s1600/3gelas-ed.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="135" src="http://3.bp.blogspot.com/-0vNf7qR8haU/TdWRfGfA7rI/AAAAAAAAAEs/M5ohun5rcF8/s200/3gelas-ed.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang semoga dirahmati Allah. Suatu hal yang patut disayangkan pada saat ini. Wahyu yang sudah semestinya hamba tunduk untuk mengikutinya, malah ditolak begitu saja. Padahal wahyu adalah ruh, cahaya, dan penopang kehidupan alam semesta. Apa yang terjadi jika wahyu ilahi ini ditolak?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahyu Adalah Ruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala menyebut wahyu-Nya dengan ruh. Apabila ruh tersebut hilang, maka kehidupan juga akan hilang. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (wahyu) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu nur (cahaya), yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy Syuro: 52). Dalam ayat ini disebutkan kata ‘ruh dan nur’. Di mana ruh adalah kehidupan dan nur adalah cahaya. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan Hanya Akan Diraih Dengan Mengikuti Wahyu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah merahmati beliau- mengatakan, “Kebutuhan hamba terhadap risalah (wahyu) lebih besar daripada kebutuhan pasien kepada dokter. Apabila suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan kecuali dengan dokter tersebut ditangguhkan, tentu seorang pasien bisa kehilangan jiwanya. Adapun jika seorang hamba tidak memperoleh cahaya dan pelita wahyu, maka hatinya pasti akan mati dan kehidupannya tidak akan kembali selamanya. Atau dia akan mendapatkan penderitaan yang penuh dengan kesengsaraan dan tidak merasakan kebahagiaan selamanya. Maka tidak ada keberuntungan kecuali dengan mengikuti Rasul (wahyu yang beliau bawa dari Al Qur’an dan As Sunnah, pen). Allah menegaskan hanya orang yang mengikuti Rasul -yaitu orang mu’min dan orang yang menolongnya- yang akan mendapatkan keberuntungan, sebagaimana firman-Nya yang artinya,”Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al A’raf: 157) (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poligami, Wahyu Ilahi yang Ditolak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, poligami telah menjadi perdebatan yang sangat sengit di tengah kaum muslimin dan sampai terjadi penolakan terhadap hukum poligami itu sendiri. Dan yang menolaknya bukanlah tokoh yang tidak mengerti agama, bahkan mereka adalah tokoh-tokoh yang dikatakan sebagai cendekiawan muslim. Lalu bagaimana sebenarnya hukum poligami itu sendiri [?!] Marilah kita kembalikan perselisihan ini kepada Al Qur’an dan As Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala telah menyebutkan hukum poligami ini melalui wahyu-Nya yang suci, yang patut setiap orang yang mengaku muslim tunduk pada wahyu tersebut. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisa’: 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poligami juga tersirat dari perkataan Anas bin Malik, beliau berkata,”Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menggilir istri-istrinya dalam satu malam, dan ketika itu beliau memiliki sembilan isteri.” (HR. Bukhari). Ibnu Katsir -semoga Allah merahmati beliau- mengatakan, “Nikahilah wanita yang kalian suka selain wanita yang yatim tersebut. Jika kalian ingin, maka nikahilah dua, atau tiga atau jika kalian ingin lagi boleh menikahi empat wanita.” (Shohih Tafsir Ibnu Katsir). Syaikh Nashir As Sa’di -semoga Allah merahmati beliau- mengatakan, “Poligami ini dibolehkan karena terkadang seorang pria kebutuhan biologisnya belum terpenuhi bila dengan hanya satu istri (karena seringnya istri berhalangan melayani suaminya seperti tatkala haidh, pen). Maka Allah membolehkan untuk memiliki lebih dari satu istri dan dibatasi dengan empat istri. Dibatasi demikian karena biasanya setiap orang sudah merasa cukup dengan empat istri, dan jarang sekali yang belum merasa puas dengan yang demikian. Dan poligami ini diperbolehkan baginya jika dia yakin tidak berbuat aniaya dan kezaliman (dalam hal pembagian giliran dan nafkah, pen) serta yakin dapat menunaikan hak-hak istri. (Taisirul Karimir Rohman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafi’i mengatakan bahwa tidak boleh memperistri lebih dari empat wanita sekaligus merupakan ijma’ (konsensus) para ulama, dan yang menyelisihinya adalah sekelompok orang Syi’ah. Memiliki istri lebih dari empat hanya merupakan kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Shohih Tafsir Ibnu Katsir). Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i ketika ditanya mengenai hukum berpoligami, apakah dianjurkan atau tidak? Beliau menjawab: “Tidak disunnahkan, tetapi hanya dibolehkan.” (Lihat ‘Inilah hakmu wahai muslimah’, hal 123, Media Hidayah). Maka dari penjelasan ini, jelaslah bahwa poligami memiliki ketetapan hukum dalam Al Qur’an dan As Sunnah yang seharusnya setiap orang tunduk pada wahyu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Mau Poligami, Janganlah Menolak Wahyu Ilahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sebenarnya poligami sifatnya tidaklah memaksa. Kalau pun seorang wanita tidak mau di madu atau seorang lelaki tidak mau berpoligami tidak ada masalah. Dan hal ini tidak perlu diikuti dengan menolak hukum poligami (menggugat hukum poligami). Seakan-akan ingin menjadi pahlawan bagi wanita, kemudian mati-matian untuk menolak konsep poligami. Di antara mereka mengatakan bahwa poligami adalah sumber kesengsaraan dan kehinaan wanita. Poligami juga dianggap sebagai biang keladi rumah tangga yang berantakan. Dan berbagai alasan lainnya yang muncul di tengah masyarakat saat ini sehingga dianggap cukup jadi alasan agar poligami di negeri ini dilarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah Wahyu Ilahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap wahyu yang diturunkan oleh pembuat syariat pasti memiliki hikmah dan manfaat yang besar. Begitu juga dibolehkannya poligami oleh Allah, pasti memiliki hikmah dan manfaat yang besar baik bagi individu, masyarakat dan umat Islam. Di antaranya: (1) Dengan banyak istri akan memperbanyak jumlah kaum muslimin. (2) Bagi laki-laki, manfaat yang ada pada dirinya bisa dioptimalkan untuk memperbanyak umat ini, dan tidak mungkin optimalisasi ini terlaksana jika hanya memiliki satu istri saja. (3) Untuk kebaikan wanita, karena sebagian wanita terhalang untuk menikah dan jumlah laki-laki itu lebih sedikit dibanding wanita, sehingga akan banyak wanita yang tidak mendapatkan suami. (4) Dapat mengangkat kemuliaan wanita yang suaminya meninggal atau menceraikannya, dengan menikah lagi ada yang bertanggung jawab terhadap kebutuhan dia dan anak-anaknya. (Lihat penjelasan ini di Majalah As Sunnah, edisi 12/X/1428)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menepis Kekeliruan Pandangan Terhadap Poligami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini terdapat berbagai macam penolakan terhadap hukum Allah yang satu ini, dikomandoi oleh tokoh-tokoh Islam itu sendiri. Di antara pernyataan penolak wahyu tersebut adalah : “Tidak mungkin para suami mampu berbuat adil di antara para isteri tatkala berpoligami, dengan dalih firman Allah yang artinya,”Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja.” (An Nisaa’: 3). Dan firman Allah yang artinya,”Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian.” (QS. An Nisaa’: 129).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanggahan: Yang dimaksud dengan “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil” dalam ayat di atas adalah kamu sekali-kali tidak dapat berlaku adil dalam rasa cinta, kecondongan hati dan berhubungan intim. Karena kaum muslimin telah sepakat, bahwa menyamakan yang demikian kepada para istri sangatlah tidak mungkin dan ini di luar kemampuan manusia, kecuali jika Allah menghendakinya. Dan telah diketahui bersama bahwa Ibunda kita, Aisyah radhiyallahu ‘anha lebih dicintai Rasulullah daripada istri beliau yang lain. Adapun hal-hal yang bersifat lahiriah seperti tempat tinggal, uang belanja dan waktu bermalam, maka wajib bagi seorang suami yang mempunyai istri lebih dari satu untuk berbuat adil. Hal ini sebagaimana pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Nawawi, dan Ibnu Hajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga di antara tokoh tersebut yang menyatakan bahwa poligami akan mengancam mahligai rumah tangga (sering timbul percekcokan). Sanggahan: Perselisihan yang muncul di antara para istri merupakan sesuatu yang wajar, karena rasa cemburu adalah tabiat mereka. Untuk mengatasi hal ini, tergantung dari para suami untuk mengatur urusan rumah tangganya, keadilan terhadap istri-istrinya, dan rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga, juga tawakkal kepada Allah. Dan kenyataannya dalam kehidupan rumah tangga dengan satu istri (monogami) juga sering terjadi pertengkaran/percekcokan dan bahkan lebih. Jadi, ini bukanlah alasan untuk menolak poligami. (Silakan lihat Majalah As Sunnah edisi 12/X/1428)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Terjadi Jika Wahyu Ilahi Ditolak ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin –yang semoga dirahmati Allah-. Renungkanlah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berikut ini, apa yang terjadi jika wahyu ilahi yang suci itu ditentang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah banyak mengisahkan di dalam al-Qur’an kepada kita tentang umat-umat yang mendustakan para rasul. Mereka ditimpa berbagai macam bencana dan masih nampak bekas-bekas dari negeri-negeri mereka sebagai pelajaran bagi umat-umat sesudahnya. Mereka di rubah bentuknya menjadi kera dan babi disebabkan menyelisihi rasul mereka. Ada juga yang terbenam dalam tanah, dihujani batu dari langit, ditenggelamkan di laut, ditimpa petir dan disiksa dengan berbagai siksaan lainnya. Semua ini disebabkan karena mereka menyelisihi para rasul, menentang wahyu yang mereka bawa, dan mengambil penolong-penolong selain Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menyebutkan seperti ini dalam surat Asy Syu’ara mulai dari kisah Musa, Ibrahim, Nuh, kaum ‘Aad, Tsamud, Luth, dan Syu’aib. Allah menyebut pada setiap Nabi tentang kebinasaan orang yang menyelisihi mereka dan keselamatan bagi para rasul dan pengikut mereka. Kemudian Allah menutup kisah tersebut dengan firman-Nya yang artinya,”Maka mereka ditimpa azab. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti yang nyata, dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dan Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. Asy Syu’ara: 158-159). Allah mengakhiri kisah tersebut dengan dua asma’ (nama) -Nya yang agung dan dari kedua nama itu akan menunjukkan sifat-Nya. Kedua nama tersebut adalah Al ‘Aziz dan Ar Rohim (Maha Perkasa dan Maha Penyayang). Yaitu Allah akan membinasakan musuh-Nya dengan ‘izzah/keperkasaan-Nya. Dan Allah akan menyelamatkan rasul dan pengikutnya dengan rahmat/kasih sayang-Nya. (Diringkas dari Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beriman terhadap apa yang beliau bawa. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar Do’a hamba-Nya. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ashabihi ath thoyyibina ath thohirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-3567942171849359835?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/3567942171849359835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/3567942171849359835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/05/poligami-wahyu-ilahi-yang-ditolak.html' title='Poligami, Wahyu Ilahi yang Ditolak'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-0vNf7qR8haU/TdWRfGfA7rI/AAAAAAAAAEs/M5ohun5rcF8/s72-c/3gelas-ed.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-9096105107403238063</id><published>2011-05-13T20:03:00.000-07:00</published><updated>2011-05-19T06:20:16.713-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='takdir'/><title type='text'>Macam-macam takdir</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ddTSxDlDB5U/TdUYzajUsOI/AAAAAAAAAEo/kuWqwej9hMo/s1600/Burgess+Falls+State+Natural+Area%252C+Sparta%252C+Tennessee.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://2.bp.blogspot.com/-ddTSxDlDB5U/TdUYzajUsOI/AAAAAAAAAEo/kuWqwej9hMo/s200/Burgess+Falls+State+Natural+Area%252C+Sparta%252C+Tennessee.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Macam-macam takdir itu antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. At-Taqdiirul 'Aam (Takdir yang bersifat umum).&lt;br /&gt;2. At-Taqdiirul Basyari (Takdir yang berlaku untuk manusia).&lt;br /&gt;3. At-Taqdiirul 'Umri (Takdir yang berlaku bagi usia).&lt;br /&gt;4. At-Taqdiirus Sanawi (Takdir yang berlaku tahunan).&lt;br /&gt;5. At-Taqdiirul Yaumi (Takdir yang berlaku harian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. At-Taqdiirul 'Aam (Takdir yang bersifat umum).&lt;br /&gt;Ialah takdir Rabb untuk seluruh alam, dalam arti Dia mengetahuinya (dengan ilmu-Nya), mencatatnya, menghendaki, dan juga menciptakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis ini ditunjukkan oleh berbagai dalil, di antaranya firman Allah Ta'ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah". [Al-Hajj: 70]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahiih Muslim dari 'Abdullah bin 'Amr Radhiyallahu 'anhuma bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah menentukan berbagai ketentuan para makhluk, 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. "Beliau bersabda, "Dan adalah 'Arsy-Nya di atas air."[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. At-Taqdiirul Basyari [3] (Takdir yang berlaku untuk manusia).&lt;br /&gt;Ialah takdir yang di dalamnya Allah mengambil janji atas semua manusia bahwa Dia adalah Rabb mereka, dan menjadikan mereka sebagai saksi atas diri mereka akan hal itu, serta Allah menentukan di dalamnya orang-orang yang berbahagia dan orang-orang yang celaka. Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), Bukankah Aku ini Rabb-mu. Mereka menjawab, Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)." [Al-A'raaf:172]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Hisyam bin Hakim, bahwa seseorang datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu mengatakan, "Apakah amal-amal itu dimulai ataukah ditentukan oleh qadha'?" Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah mengambil keturunan Nabi Adam Alaihissalam dari tulang sulbi mereka, kemudian menjadikan mereka sebagai saksi atas diri mereka, kemudian mengumpulkan mereka dalam kedua telapak tangan-Nya seraya berfirman, 'Mereka di Surga dan mereka di Neraka.' Maka ahli Surga dimudahkan untuk beramal dengan amalan ahli Surga dan ahli Neraka dimudahkan untuk beramal dengan amalan ahli Neraka." [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. At-Taqdiirul 'Umri (Takdir yang berlaku bagi usia).&lt;br /&gt;Ialah segala takdir (ketentuan) yang terjadi pada hamba dalam kehidupannya hingga akhir ajalnya, dan juga ketetapan tentang kesengsaraan atau kebahagiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut ditunjukkan oleh hadits ash-Shadiqul Mashduq (Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam) dalam Shahiihain dari Ibnu Mas'ud secara marfu':&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama mpat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah seperti itu pula (empat puluh hari), kemudian menjadi segumpal daging seperti itu pula, kemudian Dia mengutus seorang Malaikat untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan (untuk menulis) dengan empat kalimat: untuk menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia(nya)."[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. At-Taqdiirus Sanawi (Takdir yang berlaku tahunan).&lt;br /&gt;Yaitu dalam malam Qadar (Lailatul Qadar) pada setiap tahun. Hal itu ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." [Ad-Dukhaan: 4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada malam itu turun para Malaikat dan juga Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." [Al-Qadr: 4-5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan, bahwa pada malam tersebut ditulis apa yang akan terjadi dalam setahun (ke depan,-ed.) mengenai kematian, kehidupan, kemuliaan dan kehinaan, juga rizki dan hujan, hingga (mengenai siapakah) orang-orang yang (akan) berhaji. Dikatakan (pada takdir itu), fulan akan berhaji dan fulan akan berhaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan ini diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma, demikian juga al-Hasan serta Sa'id bin Jubair. [6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. At-Taqdiirul Yaumi (Takdir yang berlaku harian)&lt;br /&gt;Dalilnya ialah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap waktu Dia dalam kesibukan." [Ar-Rahmaan: 29]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan mengenai tafsir ayat tersebut: Kesibukan-Nya ialah memuliakan dan menghinakan, meninggikan dan merendahkan (derajat), memberi dan menghalangi, menjadikan kaya dan fakir, membuat tertawa dan menangis, mematikan dan menghidupkan, dan seterusnya. [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]&lt;br /&gt;__________&lt;br /&gt;Footenotes&lt;br /&gt;[1]. Lihat, A'laamus Sunnah al-Mansyuurah, hal. 129-133 dan komentar Syaikh Ibnu Baz atas al-Waasithiyyah, hal. 78-80.&lt;br /&gt;[2]. HR. Muslim, (VIII/51).&lt;br /&gt;[3]. Syaikh Abdul Aziz bin Baz memberikan komentar terhadap pembagian yang kedua ini seraya berucap, 'Bahwa takdir yang kedua ini masuk kedalam takdir yang pertama, oleh sebab itu Abul 'Abbas, Ibnu Taimiyyah, menolaknya dalam kitab al-Aqiidah al-Waasitiyyah, begitu juga banyak dari para ulama lainnya yang saya ketahui.&lt;br /&gt;[4]. HR. Ibnu Abi 'Ashim dalam as-Sunnah, yang diteliti oleh Syaikh al-Albani, (I/73), dan al-Albani menilai sanadnya shahih dan para perawinya semuanya terpercaya, dan as-Suyuthi dalam ad-Durul Mantsuur, (III/604), ia mengatakan, Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Jarir, al-Bazzar, ath-Thabrani, al-Ajurri dalam asy-Syarii'ah, Ibnu Mardawaih, dan al-Baihaqi dalam al-Asmaa' wash Shifaat.&lt;br /&gt;[5]. HR. Al-Bukhari, (VII/210, no. 3208), Muslim, (VIII/44, no. 2643), dan Ibnu Majah, (I/29, no. 76). (Dan lafazhnya adalah dari riwayat Muslim,-ed.)&lt;br /&gt;[6]. Lihat, Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, (VII/338), Tafsiir al-Qur-aanil 'Azhiim, Ibnu Katsir, (IV/140), dan Fat-hul Qadiir, asy-Syaukani, (IV/572).&lt;br /&gt;[7]. Lihat, Zaadul Masiir, (VIII/114), Tafsiir al-Qur-aanil Azhiim, Ibnu Katsir, (IV/275), dan Fat-hul Qadiir, (V/136)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://abunamirahasna.blogspot.com/2011/05/macam-macam-takdir1.html"&gt;sumber&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-9096105107403238063?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/9096105107403238063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/9096105107403238063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/05/macam-macam-takdir.html' title='Macam-macam takdir'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ddTSxDlDB5U/TdUYzajUsOI/AAAAAAAAAEo/kuWqwej9hMo/s72-c/Burgess+Falls+State+Natural+Area%252C+Sparta%252C+Tennessee.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-8510020185253888440</id><published>2011-05-10T21:05:00.000-07:00</published><updated>2011-05-10T21:09:18.009-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='takfir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teroris'/><title type='text'>Nasihat Kepada Teroris: Ketahuilah, Jihad Beda dengan Terorisme!!!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-li46Wb-Pki8/TcoKgNPLWAI/AAAAAAAAAEk/foUbBx3Rna4/s1600/bom-teroris2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-li46Wb-Pki8/TcoKgNPLWAI/AAAAAAAAAEk/foUbBx3Rna4/s1600/bom-teroris2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Nasihat Kepada Teroris: Ketahuilah, Jihad Beda dengan Terorisme!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita mengadukan segala fitnah dan ujian yang mendera. Akibat ulah sekolompok anak muda yang hanya bermodalkan semangat belaka dalam beragama, namun tanpa disertai kajian ilmu syar’i yang mendalam dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta bimbingan para ulama, kini ummat Islam secara umum dan Ahlus Sunnah (orang-orang yang komitmen dengan Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam) secara khusus harus menanggung akibatnya berupa celaan dan citra negatif sebagai pendukung terorisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi-aksi terorisme yang sejatinya sangat ditentang oleh syari’at Islam yang mulia ini justru dianggap sebagai bagian dari jihad di jalan Allah sehingga pelakunya digelari sebagai mujahid, apabila ia mati menjadi syahid, pengantin surga, calon suami bidadari…!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah, akal dan agama mana yang mengajarkan terorisme itu jihad…?! Akal dan agama mana yang mengajarkan buang bom di sembarang tempat itu amal saleh…?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berikut ini kami akan menunjukkan beberapa penyimpangan terorisme dari syari’at Islam dan menjelaskan beberapa hukum jihad syar’i yang diselisihi para Teroris. Penjelasan ini insya Allah berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta keterangan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah para pengikut generasi salaf (generasi sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam).&lt;br /&gt;Pelanggaran-pelanggaran hukum Jihad Islami yang dilakukan Teroris:&lt;br /&gt;Pelanggaran Pertama: Tidak memenuhi syarat-syarat Jihad dalam syari’at Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jihad melawan orang kafir terbagi dua bentuk: Pertama, jihad difa’ (defensif, membela diri). Kedua, jihad tholab (ofensif, memulai penyerangan lebih dulu). Adapun yang dilakukan oleh para Teroris tidak diragukan lagi adalah jihad ofensif sebab jelas sekali mereka yang lebih dahulu menyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jihad defensif, ketika ummat Islam diserang oleh musuh maka kewajiban mereka untuk membela diri tanpa ada syarat-syarat jihad yang harus dipenuhi (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Al-Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah, hal. 532 dan Al-Fatawa Al-Kubrô, 4/608).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, untuk ketegori jihad ofensif terdapat syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi sebelum melakukan jihad tersebut. Di sinilah salah satu perbedaan mendasar antara jihad dan terorisme. Bahwa jihad terikat dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah Ta’ala dalam syari’at-Nya, sedangkan terorisme justru menerjang aturan-aturan tersebut. Maka inilah syarat-syarat jihad ofensif kepada orang-orang kafir yang dijelaskan para ulama:&lt;br /&gt;Syarat Pertama: Jihad tersebut dipimpin oleh seorang kepala negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعِ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي وَإِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang taat kepadaku maka sungguh ia telah taat kepada Allah dan siapa yang bermaksiat terhadapku maka sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah. Dan siapa yang taat kepada pemimpin maka sungguh ia telah taat kepadaku dan siapa yang bermaksiat kepada pemimpin maka sungguh ia telah bermaksiat kepadaku. Dan sesungguhnya seorang pemimpin adalah tameng, dilakukan peperangan di belakangnya dan dijadikan sebagai pelindung.” [HR. Al-Bukhari, no. 2957 (konteks di atas milik Al-Bukhary), Muslim, no. 1835, 1841, Abu Daud, no. 2757 dan An-Nasai, 7/155]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Dan makna “dilakukan peperangan di belakangnya”, yaitu dilakukan peperangan bersamanya melawan orang-orang kafir, Al-Bughôt (para pembangkang terhadap penguasa), kaum khawarij, dan seluruh pengekor kerusakan dan kezaliman.” (Syarah Muslim, 12/230)&lt;br /&gt;Syarat Kedua: Jihad tersebut harus didukung dengan kekuatan yang cukup untuk menghadapi musuh&lt;br /&gt;Sehingga apabila kaum muslimin belum memiliki kekuatan yang cukup dalam menghadapi musuh, maka gugurlah kewajiban tersebut dan yang tersisa hanyalah kewajiban untuk mempersiapkan kekuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhânahu wa Ta’âlâ menegaskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُون&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah dan (juga) musuh kalian serta orang-orang selain mereka yang kalian tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (Al-Anfâl : 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara dalil akan gugurnya kewajiban jihad bila tidak ada kemampuan, adalah hadits An-Nawwâs bin Sam’ân radhiyallâhu‘anhu tentang kisah Nabi ‘Isâ ‘alaissalâm membunuh Dajjal…, kemudian disebutkan keluarnya Ya`jûj dan Ma`jûj,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ، إِذْ أَوْحَى اللهُ إِلَى عِيْسَى: إِنِّيْ قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَاداً لِيْ لَا يَدَانِ لِأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ، فَحَرِّزْ عِبَادِيْ إِلَى الطُّوْرِ وَيَبْعَثُ اللَّهُ يَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Dan tatkala (Nabi ‘Isâ) dalam keadaan demikian maka Allah mewahyukan kepada (Nabi) ‘Isâ, “Sesungguhnya Aku akan mengeluarkan sekelompok hamba yang tiada tangan (baca: kekuatan) bagi seorangpun untuk memerangi mereka, maka bawalah hamba-hamba-Ku berlindung ke (bukit) Thûr.” Kemudian, Allah mengeluarkan Ya`jûj dan Ma`jûj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi….” (HR. Muslim, no. 2937 dan Ibnu Majah, no. 4075)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan hadits ini, tatkala kekuatan Nabi ‘Isâ ‘alaissalâm dan kaum muslimin yang bersama beliau waktu itu lemah untuk menghadapi Ya`jûj dan Ma`jûj, maka Allah tidak memerintah mereka untuk mengobarkan peperangan dan menegakkan jihad, bahkan mereka diperintah untuk berlindung ke bukit Thûr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, ketika Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat masih lemah di Makkah, Allah Ta’ala melarang kaum Muslimin untuk berjihad, padahal ketika itu kaum Muslimin mendapatkan berbagai macam bentuk kezhaliman dari orang-orang kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullâh berkata, “Dan beliau (Nabi shollallâhu ‘alaihi wa sallam) diperintah untuk menahan (tangan) dari memerangi orang-orang kafir karena ketidakmampuan beliau dan kaum muslimin untuk menegakkan hal tersebut. Tatkala beliau hijrah ke Madinah dan mempunyai orang-orang yang menguatkan beliau, maka beliaupun diizinkan untuk berjihad.” (Al-Jawâb Ash-Shohîh, 1/237)&lt;br /&gt;Syarat Ketiga: Jihad tersebut dilakukan oleh kaum muslimin yang memiliki wilayah kekuasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara ini tampak jelas dari sejarah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, bahwa beliau diizinkan berjihad oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika telah terbentuknya satu kepemimpinan dengan Madinah sebagai wilayahnya dan beliau sendiri sebagai pimpinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, “Awal disyariatkannya jihad adalah setelah hijrahnya Nabi shollallahu‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam ke Madinah menurut kesepakatan para ulama.” (Fathul Bari, 6/4-5 dan Nailul Authar, 7/246-247).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah syarat-syarat jihad dalam syari’at Islam. Adapun dari sisi akal sehat bahwa tujuan jihad adalah untuk meninggikan agama Allah Ta’ala sehingga Islam menjadi terhormat dan berwibawa di hadapan musuh, hal ini tidak akan tercapai apabila tidak dipersiapkan dengan matang dengan suatu kekuatan, persiapan dan pengaturan yang baik. Maka ketika syarat-syarat di atas tidak terpenuhi, sebagaimana dalam aksi-aksi terorisme, hasilnya justru bukan membuat Islam menjadi tinggi, malah memperburuk citra Islam, sebagaimana yang kita saksikan saat ini.&lt;br /&gt;Pelanggaran Kedua: Memerangi orang kafir sebelum didakwahi dan ditawarkan apakah memilih Islam, membayar jizyah atau perang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelanggaran ini menunjukkan kurangnya semangat para Teroris untuk mengusahakan hidayah kepada manusia dan semakin jauh dari tujuan jihad itu sendiri, padahal hakikat jihad hanyalah sarana untuk menegakkan dakwah kepada Allah Ta’ala. Ini juga merupakan bukti betapa jauhnya mereka dari pemahaman yang benar tentang jihad, sebagaimana tuntunan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam kepada para mujahid yang sebenarnya, yaitu para sahabat radhiyallahu‘anhum. Dalam hadits Buraidah radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa âlihi wa salllam apabila beliau mengangkat amir/pimpinan pasukan beliau memberikan wasiat khusus untuknya supaya bertakwa kepada Allah dan (wasiat pada) orang-orang yang bersamanya dengan kebaikan. Kemudian, beliau berkata, “Berperanglah kalian di jalan Allah dengan nama Allah, bunuhlah siapa yang kafir kepada Allah, berperanglah kalian dan jangan mencuri harta rampasan perang dan janganlah mengkhianati janji dan janganlah melakukan tamtsîl (mencincang atau merusak mayat) dan janganlah membunuh anak kecil dan apabila engkau berjumpa dengan musuhmu dari kaum musyrikin dakwailah mereka kepada tiga perkara, apa saja yang mereka jawab dari tiga perkara itu maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka ; serulah mereka kepada Islam apabila mereka menerima maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka, apabila mereka menolak maka mintalah jizyah (upeti) dari mereka dan apabila mereka memberi maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka, apabila mereka menolak maka mintalah pertolongan kepada Allah kemudian perangi mereka”. (HR. Muslim, no. 1731, Abu Dâud, no. 2613, At-Tirmidzi, no. 1412, 1621, An-Nasâ`i dalam As-Sunan Al-Kubrô, no. 8586, 8680, 8765, 8782 dan Ibnu Mâjah, no. 2857, 2858)&lt;br /&gt;Pelanggaran Ketiga: Membunuh orang muslim dengan sengaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami katakan bahwa mereka sengaja membunuh orang muslim yang tentu sangat mungkin berada di lokasi pengeboman karena jelas sekali bahwa negeri ini adalah negeri mayoritas muslim. Dan mereka sadar betul di sini bukan medan jihad seperti di Palestina dan Afganistan, bahkan mereka tahu dengan pasti kemungkinan besar akan ada korban muslim yang meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah mereka mengetahui adab Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sebelum menyerang musuh di suatu daerah?! Disebutkan dalam hadits Anas bin Mâlik radhiyallâhu‘anhu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا غَزَا بِنَا قَوْمًا لَمْ يَكُنْ يَغْزُوْ بِنَا حَتَّى يُصْبِحَ وَيَنْظُرَ فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا كَفَّ عَنْهُمْ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْ أَذَانًا أَغَارَ عَلَيْهِمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Nabi shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam apabila bersama kami untuk memerangi suatu kaum, beliau tidak melakukan perang tersebut hingga waktu pagi, kemudian beliau menunggu, apabila beliau mendengar adzan maka beliau menahan diri dari mereka dan apabila beliau tidak mendengar adzan maka beliau menyerang mereka secara tiba-tiba. ”(HR. Al-Bukhâri, no. 610, 2943, Muslim, no. 382, Abu Daud, no. 2634, dan At-Tirmidzi, no. 1622)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah mereka mengetahui betapa terhormatnya seorang muslim itu di sisi Allah Ta’ala?! Tidakkah mereka mengetahui betapa besar kemarahan Allah Ta’ala atas pembunuh seorang muslim?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya”. (An-Nisâ`: 93)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menegaskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh sirnanya dunia lebih ringan di sisi Allah dari membunuh (jiwa) seorang muslim.” (Hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma riwayat At-Tirmidzi, no. 1399, An-Nasa`i, 7/ 82, Al-Bazzar, no. 2393, Ibnu Abi ‘ashim dalam Az-Zuhd, no. 137, Al-Baihaqy, 8/22, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 7/270 dan Al-Khathib, 5/296. Dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany rahimahullah dalam Ghayatul Maram, no. 439)&lt;br /&gt;Pelanggaran Keempat: Membunuh orang kafir tanpa pandang bulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah salah satu pelanggaran Teroris dalam berjihad yang menunjukkan pemahaman mereka yang sangat dangkal tentang hukum-hukum agama dan penjelasan para ulama. Ketahuilah, para ulama dari masa ke masa telah menjelaskan bahwa tidak semua orang kafir yang boleh untuk dibunuh, maka pahamilah jenis-jenis orang kafir berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: kafir harbiy, yaitu orang kafir yang memerangi kaum muslimin. Inilah orang kafir yang boleh untuk dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: kafir dzimmy, yaitu orang kafir yang tinggal di negeri kaum muslimin, tunduk dengan aturan-aturan yang ada dan membayar jizyah (sebagaimana dalam hadits Buraidah di atas), maka tidak boleh dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: kafir mu’ahad, yaitu orang kafir yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin untuk tidak saling berperang, selama ia tidak melanggar perjanjian tersebut maka tidak boleh dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: kafir musta’man, yaitu orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin atau sebagian kaum muslimin, maka tidak boleh bagi kaum muslimin yang lainnya untuk membunuh orang kafir jenis ini. Dan termasuk dalam kategori ini adalah para pengunjung suatu negara yang diberi izin masuk (visa) oleh pemerintah kaum muslimin untuk memasuki wilayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak dalil yang melarang pembunuhan ketiga jenis orang kafir di atas, bahkan terdapat ancaman yang keras dalam sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيْحَهَا تُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang membunuh kafir mu’ahad ia tidak akan mencium bau surga dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun”. (HR. Al-Bukhari, no. 3166, 6914, An-Nasa`i, 8/25 dan Ibnu Majah, no. 2686)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berpendapat bahwa kata mu’ahad dalam hadits di atas mempunyai cakupan yang lebih luas. Beliau berkata, “Dan yang diinginkan dengan (mu’ahad) adalah setiap yang mempunyai perjanjian dengan kaum muslimin, baik dengan akad jizyah (kafir dzimmy), perjanjian dari penguasa (kafir mu’ahad), atau jaminan keamanan dari seorang muslim (kafir musta’man).” (Fathul Bary, 12/259)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Disarikan dari buku Meraih Kemuliaan melalui Jihad Bukan Kenistaan, karya Al-Ustadz Dzulqarnain hafizhahullah. Semua dalil, takhrij hadits dan perkataan ulama di atas dikutip melalui perantara buku tersebut, jazallahu muallifahu khairon).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/07/03/105/" target="_blank&amp;quot;"&gt;sumber&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-8510020185253888440?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/8510020185253888440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/8510020185253888440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/05/nasihat-kepada-teroris-ketahuilah-jihad.html' title='Nasihat Kepada Teroris: Ketahuilah, Jihad Beda dengan Terorisme!!!'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-li46Wb-Pki8/TcoKgNPLWAI/AAAAAAAAAEk/foUbBx3Rna4/s72-c/bom-teroris2.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-2796187188038115794</id><published>2011-05-10T20:04:00.000-07:00</published><updated>2011-05-10T20:10:07.095-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='takfir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bantahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>Tuntunan Islam dalam Menasihati Penguasa  (Sebuah Renungan bagi Para Pencela Pemerintah)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-bJ89g6okpuY/Tcn6r_Sb5dI/AAAAAAAAAEg/3rzD3dKH-IU/s1600/163494_181481791869462_110283468989295_567216_1454093_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/-bJ89g6okpuY/Tcn6r_Sb5dI/AAAAAAAAAEg/3rzD3dKH-IU/s200/163494_181481791869462_110283468989295_567216_1454093_n.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Telah dimaklumi bersama bahwa merubah kemungkaran dan menasihati pelakunya adalah kewajiban setiap muslim sesuai dengan kemampuannya. Sebagaimana sabda Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam-:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من رأى منكم منكراً فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, no. 186)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, masih banyak kaum muslimin yang belum memahami bahwa untuk merubah kemungkaran yang dilakukan oleh pemerintah muslim tidak sama dengan merubah kemungkaran yang dilakukan oleh selainnya. Bahkan lebih parah lagi, kemungkaran yang dilakukan penguasa dijadikan sebagai komoditi untuk meraih keuntungan oleh sebagian media massa. Mahasiswa pun turun ke jalan untuk berdemonstrasi, tak ketinggalan pula para “aktivis Islam” atau “aktivis dakwah” melakukan “aksi damai” yang menurut mereka itulah demo Islami, sehingga pada akhirnya masyarakatlah yang menjadi korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang sangat mengherankan, ada sebagian orang yang mengaku Ahlus Sunnah, pengikut sunnah Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- pun turut serta melakukan demonstrasi (yang mereka namakan dengan aksi damai) dan mengkritik pemerintah muslim secara terang-terangan di media massa. Maka seperti apakah bimbingan Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- dan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- yang ma’shum, yang tidak berkata kecuali wahyu yang diwahyukan kepadanya. Semua perkataan bisa diterima atau ditolak, kecuali perkataan beliau -shallallahu’alaihi wa  sallam-, beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من أراد أن ينصح لذي سلطان فلا يبده علانية ولكن يأخذ بيده فيخلوا به فإن قبل منه فذاك وإلا كان قد أدى الذي عليه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang penguasa, lalu menyepi dengannya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban (menasihati penguasa).” [HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah dari ‘Iyadh bin Ganm -radhiyallahu’anhu-. Hadits ini di-shahih-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani –rahimahullah- dalam Zhilalul Jannah, (no. 1096)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah bimbingan Nabi yang mulia teladan kita –shallallahu’alaihi wa sallam- dalam menasihati penguasa. Lalu seperti apakah pemahaman dan pengamalan terhadap hadits di atas oleh para pengikut sunnah yang sejati, yakni para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim -rahimahumallah- dalam Shahih keduanya meriwayatkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قيل لأسامة لو أتيت فلانا (عند الامام مسلم: عثمان بن عفان –رضي الله عنه-) فكلمته . قال إنكم لترون أنى لا أكلمه إلا أسمعكم ، إنى أكلمه فى السر دون أن أفتح بابا لا أكون أول من فتحه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dikatakan kepada Usamah (bin Zaid) radhiyallahu’anhuma, “Kalau sekiranya engkau mendatangi si fulan (dalam riwayat Al-Imam Muslim, si fulan yang dimaksud adalah: Utsman bin Affan radhiyallahu‘anhu) lalu engkau menasihatinya?” Usamah menjawab, “Sesungguhnya kalian benar-benar mengira bahwa aku tidak menasihatinya, kecuali jika aku memperdengarkannya kepada kalian?! Sungguh aku telah menasihatinya secara diam-diam, tanpa aku membuka sebuah pintu yang semoga aku bukanlah orang pertama yang membuka pintu tersebut.” [HR. Al-Bukhari, (no. 3267, 7098) dan Muslim, (no. 7408) dari Abu Wa’il radhiyallahu’anhu]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah- menjelaskan maksud perkataan Usamah bin Zaid -radhiyallahu’anhuma-, “Sungguh aku telah berbicara (menasihati) beliau tanpa aku membuka sebuah pintu“, maknanya adalah: “Aku telah menasihatinya dalam perkara yang kalian isyaratkan tersebut, tetapi dengan memperhatikan maslahat dan adab (dalam menasihati penguasa), yakni secara rahasia, sehingga tidak terjadi pada perkataan (nasihatku) ini sesuatu yang bisa mengobarkan fitnah.” [Lihat Fathul Bari, (13/51)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah- juga menukil penjelasan sebagian ulama tentang kemungkaran yang diisyaratkan kepada Usamah bin Zaid -radhiyallahu’anhuma- ternyata bukanlah kemungkaran yang tersembunyi dari masyarakat, tetapi kemungkaran yang zhahir dan telah tersebar beritanya di tengah-tengah masyarakat, yaitu tentang salah seorang pejabat Utsman bin Affan -radhiyallahu’anhu- yang bernama Al-Walid bin ‘Uqbah yang tercium dari mulutnya bau nabidz (sejenis khamar), kemudian Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata dalam menjelaskan perkataan Usamah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh aku telah menasihatinya secara rahasia (tidak terang-terangan), tanpa aku membuka sebuah pintu”, makna (pintu) yang dimaksud adalah: “Pintu pengingkaran atas kemungkaran para penguasa secara terang-terangan, karena khawatir akan memecah belah kalimat (yakni persatuan kaum muslimin di bawah seorang pemimpin)”, kemudian beliau (Usamah) memberitahu mereka bahwa ia tidak sedikitpun mencari muka pada seseorang meskipun pada seorang pemimpin, akan tetapi ia telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk menasihati pemimpin secara rahasia (tidak terang-terangan)”. [Lihat Fathul Bari, (13/52)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qodhi ‘Iyadh –rahimahullah- berkata, “Maksud Usamah, bahwa ia tidak ingin membuka pintu (memberi contoh) cara mengingkari penguasa dengan terang-terangan, karena ia khawatir dampak buruk dari cara tersebut. Akan tetapi yang beliau lakukan adalah dengan lemah lembut dan menasihati secara rahasia, karena cara tersebut lebih dapat diterima”. [Lihat Fathul Bari, (13/52)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-‘Allamah Badruddin Al-‘Aini Al-Hanafi –rahimahullah- juga menjelaskan perkataan Usamah bin Zaid -radhiyallahu’anhuma-, “Sungguh aku telah menasihatinya secara rahasia“, maknanya, “Aku menasehati penguasa secara diam-diam, sehingga aku tidak membuka sebuah pintu dari pintu-pintu fitnah. Kesimpulannya, aku (Usamah) menasihatinya demi meraih kemaslahatan bukan untuk memprovokasi munculnya fitnah (masalah), karena cara mengingkari para penguasa dengan terang-terangan terdapat semacam sikap penentangan terhadapnya. Sebab pada cara tersebut terdapat pencemaran nama baik para pemimpin yang mengantarkan kepada terpecahnya kalimat (persatuan kaum muslimin) dan tercerai-berainya jama’ah”. [Lihat Umdatul Qari Syarh Shahih Al-Bukhari, (23/33)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam An-Nawawi –rahimahullah- dalam menerangkan perkataan Usamah pada riwayat Muslim, beliau berkata: “Aku membuka perkara yang aku tidak suka jika akulah yang pertama membukanya (yakni mencontohkan keburukan),” maknanya adalah, “Terang-terangan dalam menasihati penguasa di depan khalayak, sebagaimana pernah terjadi pada para pembunuh ‘Utsman -radhiyallahu’anhu-. Dalam hadits ini terdapat adab bersama penguasa, lemah lembut terhadap mereka, menasihati mereka secara rahasia dan menyampaikan perkataan manusia tentang mereka agar mereka berhenti dari kemungkaran tersebut. Ini semua dilakukan jika memungkinkan, namun jika tidak memungkinkan untuk menasihati dan mengingkari kemungkaran penguasa secara rahasia, maka hendaklah seseorang melakukannya terang-terangan, agar pokok kebenaran itu tidak ditelantarkan.” [Lihat Syarah Muslim, (18/118)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan: Perkataan Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- pada bagian akhir yang kami garisbawahi di atas maksudnya adalah jika keadaan memaksa untuk itu (bukan pada semua keadaan) karena hal tersebut bukanlah kebiasaan para sahabat, sebagaimana perbuatan sahabat Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallahu’anhu- yang dijadikan dalil oleh hizbiyun untuk membolehkan menasihati pemerintah secara terang-terangan, yang insya Allah akan kami jawab dalam penjelasan syubhat dan bantahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Al-Qurthubi -rahimahullah- menerangkan perkataan Usamah dalam riwayat Muslim: “Sungguh aku telah menasihatinya secara empat mata”, maksudnya adalah, “Ia (Usamah) telah menasihati Utsman -radhiyallahu’anhu- secara langsung dengan perkataan yang lembut, karena yang demikian itu lebih hati-hati untuk menghindari cara terang-terangan dalam mengingkari penguasa dan menghindari sikap penentangan terhadap penguasa, sebab cara menasihati penguasa dengan terang-terangan sangat berpotensi melahirkan berbagai macam fitnah dan kerusakan.” [Lihat Al-Mufhim Syarah Shohih Muslim, (6/619)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Asy-Syaukani -rahimahullah- berkata, “Sepatutnya bagi orang yang mengetahui kesalahan penguasa dalam sebagian masalah agar ia menasihati penguasa tersebut, dan janganlah ia menampakan celaan kepada penguasa di depan publik. Akan tetapi sebagaimana terdapat dalam hadits (yakni hadits ‘Iyadh bin Ganm -radhiyallahu’anhu-), hendaklah ia meraih tangan sang penguasa dan menyepi dengannya, lalu menasihatinya, dan janganlah ia menghinakan sultan (penguasa) Allah”.[Lihat As-Sail Al-Jarrar, (4/556)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di –rahimahullah- berkata, “Bagi siapa yang melihat suatu kemungkaran yang dilakukan oleh penguasa, hendaklah ia memperingatkan mereka secara rahasia, tidak terang-terangan di khalayak, dengan cara yang lembut dan perkataan yang sesuai dengan keadaan.” [Lihat Ar-Riyadh An-Nadhirah, (hal. 50)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz –rahimahullah- berkata, “Bukan termasuk manhaj salaf, membeberkan aib-aib penguasa, dan menyebutkannya di atas mimbar-mimbar, karena hal itu akan mengantarkan kepada ketidakstabilan (negara), sehingga masyarakat tidak mau dengar dan taat kepada pemerintah dalam perkara ma’ruf, dan mengantarkan kepada pemberontakan yang merusak dan tidak bermanfaat. Tapi metode yang dicontohkan Salaf adalah menasehati secara empat mata, menyurat, dan menghubungi para ulama yang memiliki akses langsung kepada penguasa, sehingga sang penguasa bisa diarahkan kepada kebaikan”. [Lihat Haqqur Ro’iy war-Ro’iyyah, (hal. 27)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faqihuz Zaman Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin –rahimahullah- berkata, “Mempublikasikan nasihat yang kita sampaikan kepada pemerintah terdapat dua mafsadat (kerusakan). Pertama: Hendaklah setiap orang khawatir, jangan sampai dirinya tertimpa riya’, sehingga terhapus amalannya. Kedua: Jika pemerintah tidak menerima nasihat tersebut, maka jadilah itu sebagai alasan bagi masyarakat awam untuk menentang pemerintah. Pada akhirnya mereka melakukan revolusi (pemberontakan) dan terjadilah kerusakan yang lebih besar.” [Dari kaset Asilah haula Lajnah Al-Huquq As-Syar’iyah, sebagaimana dalam Madarikun Nazhor, (hal. 211)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan para ulama di atas, telah sangat jelas bahwa dalam menasihati penguasa tidak boleh dilakukan secara terang-terangan, baik melalui demonstrasi, berbicara di mimbar-mimbar terbuka, ataupun melalui kolom opini dan artikel yang disebarkan secara terbuka di media-media. Apabila hal tersebut dilakukan, maka akan melahirkan mafsadat-mafsadat yang besar diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memprovokasi masyarakat untuk memberontak kepada penguasa, terlebih jika nasihat tersebut tidak diindahkan oleh penguasa, maka akibatnya akan menceraiberaikan kesatuan kaum muslimin (lihat penjelasan Ibnu Hajar, Al-‘Aini dan Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin –rahimahumullah-)&lt;br /&gt;2. Cara mengingkari kemungkaran penguasa dengan terang-terangan terdapat semacam sikap penentangan terhadapnya (lihat penjelasan Al-Imam Al-‘Aini dan Al-Imam Al-Qurthubi –rahimahumallah-)&lt;br /&gt;3. Pencemaran nama baik dan ghibah kepada penguasa yang dapat mengantarkan kepada perpecahan masyarakat dan pemerintah muslim (lihat penjelasan Al-Imam Al-‘Aini –rahimahullah-)&lt;br /&gt;4. Membuat masyarakat tidak mau menaati penguasa dalam hal ma’ruf (lihat penjelasan Asy-Syaikh Bin Baz –rahimahullah-)&lt;br /&gt;5. Menyebabkan permusuhan antara pemimpin dan rakyatnya (lihat penjelasan Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan –hafizhahullah- dalam Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 99)&lt;br /&gt;6. Menjadi sebab ditolaknya nasihat oleh penguasa (lihat penjelasan Al-Qodhi ‘Iyadh –rahimahullah-)&lt;br /&gt;7. Menyebabkan tertumpahnya darah seorang muslim, sebagaimana yang terjadi pada para pembunuh Utsman -radhiyallahu’anhu- (lihat penjelasan Al-Imam An-Nawawi –rahimahullah- dan juga penjelasan Asy-Syaikh Al-Albani -rahimahullah- dalam Mukhtashor Shahih Muslim, hal. 335)&lt;br /&gt;8. Menghinakan sulthan Allah (lihat penjelasan Al-Imam Asy-Syaukani –rahimahullah-)&lt;br /&gt;9. Munculnya riya’ dalam diri pelakunya (lihat penjelasan Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin -rahimahullah-)&lt;br /&gt;10. Menyelisihi dalil dan jalan As-Salafus Shalih&lt;br /&gt;11. Mengikuti jalan ahlul bid’ah (Khawarij)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan Bagi para Pencela Pemerintah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menasihati penguasa secara terang-terangan termasuk dalam kategori pemberontakan yang merupakan karakter Khawarij, yakni satu sekte sesat yang dikenal dengan sikap pemberontakannya kepada pemerintah muslim yang mereka anggap zalim dan tidak berhukum dengan hukum Allah. Maka janganlah sampai engkau tergolong dalam kelompok Khawarij -wahai pencela pemerintah- yang telah diperingatkan oleh Nabi –shallallahu’alaihi wa sallam-:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كلاب النار شر قتلى تحت أديم السماء خير قتلى من قتلوه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka adalah anjing-anjing neraka; seburuk-buruknya makhluk yang terbunuh di bawah kolong langit, sedang sebaik-baiknya makhluk yang terbunuh adalah yang dibunuh oleh mereka.” [HR. At-Tirmidzi, (no. 3000), dari Abu Umamah Al-Bahili -radhiyallahu’anhu-, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah, (no. 3554)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul –hafizhahullah- berkata, “Nasihat kepada penguasa secara rahasia merupakan salah satu pokok dari pokok-pokok Manhaj Salaf yang diselisihi oleh ahlul ahwa’ wal bida’, seperti Khawarij.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau (Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul –hafizhahullah-) juga menjelaskan bahwa menyebarkan aib-aib penguasa merupakan bentuk pertolongan kepada Khawarij dalam membunuh penguasa muslim, sehingga jelas bahwa pemberontakan itu tidak hanya dengan senjata, tapi juga dengan lisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berkata: “Hal tersebut dilarang karena bisa mengantarkan kepada perbuatan menumpahkan darah dan pembunuhan, sebagaimana yang dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dalam At-Tabaqot, dari Abdullah bin Ukaim al-Juhani, bahwa beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak akan menolong pembunuhan seorang Khalifah selamanya setelah Utsman”, maka dikatakan kepadanya, “Wahai Abu Ma’bad, apakah engkau telah membantu (Khawarij) dalam membunuh Utsman?” Maka beliau berkata, “Sungguh aku menganggap perbuatan membicarakan keburukan-keburukan beliau sebagai bentuk pertolongan kepada (Khawarij) dalam membunuhnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka camkanlah baik-baik atsar ini, tatkala beliau menganggap pembicaraan tentang kejelekan-kejelekan penguasa termasuk perkara yang membantu pembunuhannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau (Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul hafizhahullah) memberikan komentar pada catatan kaki, “Atsar ini berfaedah pelajaran bahwa pemberontakan itu dapat terjadi dengan senjata (pedang), maupun dengan ucapan. Berbeda dengan pendapat (yang salah) bahwa pemberontakan itu tidak terjadi kecuali dengan senjata. Maka camkanlah ini baik-baik dan ingatlah selalu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga menukil penegasan Asy-Syaikh Bin Baz –rahimahullah-, “Bukan termasuk manhaj Salaf menelanjangi aib-aib penguasa dan membicarakannya di atas mimbar-mimbar, karena hal tersebut mengantarkan kepada kudeta dan ketidaktaatan masyarakat dalam hal yang ma’ruf kepada penguasa. Lebih dari itu, mengantarkan kepada pemberontakan yang hanya membahayakan dan tidak bermanfaat.” [Lihat artikel As-Sunnah fii maa Yata’allaqu bi Waliyyil Ummah, oleh Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul –hafizhahullah-, softcopy dari www.sahab.net]&lt;br /&gt;Syubhat dan Bantahannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta penjelasan para ulama di atas sekaligus sebagai bantahan terhadap tuduhan hizbiyun bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ahlus Sunnah mendiamkan kemungkaran penguasa. Karena para ulama Ahlus Sunnah adalah budak penguasa yang kerjanya hanya mencari muka kepada penguasa&lt;br /&gt;2. Mengapa Ahlus Sunnah mengharamkan demokrasi namun tetap menaati pemimpin yang dihasilkan dari pesta demokrasi!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua syubhat ini telah terjawab dalam keterangan di atas, yang ringkasnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Ahlus Sunnah tidak menasihati penguasa secara terang-terangan di depan khalayak bukan berarti diam dengan kemungkaran penguasa, bukan pula karena mencari muka kepada penguasa, tetapi karena mengikuti tuntunan Islam dalam menasihati penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Ahlus Sunnah tidak mengkafirkan secara serampangan terhadap pemerintah muslim yang terlibat dalam system kufur demokrasi atau yang tidak berhukum dengan syari’at Islam, karena ada syarat-syarat pengkafiran yang harus terpenuhi dan terangkatnya penghalang-penghalang. Olehnya, Ahlus Sunnah tetap menaati seorang pemimpin yang dihasilkan dari pesta demokrasi karena menganggapnya masih muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada beberapa syubhat yang sering dilontarkan oleh hizbiyun dan ingin kami jelaskan bantahannya –insya Allah- demi untuk menghilangkan kekaburan dalam masalah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syubhat pertama: Menasihati penguasa secara terang-terangan bukan termasuk pemberontakan dan bukan pula karakter Khawarij&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas, jelaslah kesalahan sebagian orang yang mengaku Ahlus Sunnah, namun menganggap bahwa menasihati penguasa dengan membicarakan aib-aib penguasa secara terang-terangan bukan termasuk pemberontakan dan karakter Khawarij, sebagaimana yang dikatakan penulis buku Siapa Teroris? Siapa Khawarij?:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih dari itu, sekedar melakukan demonstrasi saja sudah dianggap sebagai tindak pemberontakan dan dikatakan sebagai Khawarij dan teroris. Hal ini tercermin dalam perkataan beliau (Al-Ustadz Luqman Ba’abduh -pen), “Perlu ditekankan di sini, bahwa bentuk pemberontakan terhadap penguasa itu tidak hanya dalam bentuk gerakan fisik atau gerakan bersenjata saja”. Kemudian beliau (Al-Ustadz Luqman Ba’abduh -pen) mengutip pendapat Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al-Jazairi di buku Madarik An-Nazhar (tanpa penyebutan halaman) yang mengatakan, “Wal hasil, hanya sekedar memprovokasi massa untuk menentang penguasa muslim (walaupun penguasa tersebut seorang fasik) sudah layak dicap sebagai cara-cara khawarij.” [Lihat Siapa Teroris? Siapa Khawarij?, (hal. 224)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullah- menjawab syubhat ini, dalam menjelaskan hadits tentang tuduhan kaum Khawarij kepada Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- bahwa beliau belum berlaku adil dalam pembagian ghanimah. Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini merupakan dalil terbesar bahwa pemberontakan terhadap pemerintah bisa dengan senjata, ucapan dan komentar. Yakni, orang ini (Dzul Khuwaisirah) tidak mengangkat pedang melawan Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-, tetapi hanya sekedar mengingkari beliau (dengan ucapan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sangat memahami bahwa biasanya tidak akan terjadi pemberontakan dengan senjata, kecuali telah didahului oleh pemberontakan dengan kata-kata. Manusia tidaklah mungkin menyandang senjata mereka untuk memerangi penguasa tanpa ada sesuatu yang dapat memprovokasi mereka. Pasti ada sesuatu yang bisa memprovokasi mereka, itulah ucapan (provokator). Maka pemberontakan kepada penguasa dengan kata-kata adalah pemberontakan secara hakiki, berdasarkan sunnah dan kenyataan.” [Lihat Fatawa Al-‘Ulama Al-Akabir, (hal. 96)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan di atas mengingatkan kita kepada salah satu sekte Khawarij yang bernama Al-Qo’adiyah. Mereka ini tidak ikut mengangkat senjata melawan penguasa dalam pemberontakan berdarah, tetapi kerjaan mereka hanyalah memprovokasi masyarakat untuk memberontak kepada penguasa dengan bait-bait syair maupun orasi-orasi di mimbar bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Al-Qa’adiyah memprovokasi pemberontakan kepada para penguasa, meskipun mereka tidak terlibat langsung.” [Lihat Hadyus Sari, oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah-, hal. 459, sebagaimana dalam Syarru Qatla tahta Adimis Sama’, hal. 20]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sebenarnya merekalah yang paling berbahaya dan paling dahsyat fitnahnya, karena biasanya orang-orang yang bisa melakukan provokasi adalah yang memiliki sedikit ilmu yang dengannya dia menipu manusia. Seakan ia juga “termasuk dalam jajaran ulama terpandang”, sehingga disebutkan dalam satu atsar dari Abdullah bin Muhammad Adh-Dha’if –rahimahullah-, ia berkata: “Kelompok al-Qa’adiyah ini merupakan pecahan khawarij yang paling jelek!” [Riwayat Abu Dawud dalam Masaa’il Al-Imam Ahmad, (hal. 271), sebagaimana dalam Syarru Qatla tahta Adimis Sama’, (hal. 21)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syubhat kedua: Boleh menasihati penguasa secara terang-terangan jika kemungkaran tersebut dilakukan secara terang-terangan, dengan dalil perbuatan sahabat Abu Sa’id Al-Khudri –radhiyallahu’anhu- dalam menasihati Marwan, walikota Madinah dan fatwa Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud –rahimahullah-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pembolehan menasihati penguasa secara terang-terangan, jika penyimpangan penguasa dilakukan terang-terangan sebagaimana dalam kisah sahabat yang mulia Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallahu’anhu- dan fatwa Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud –rahimahullah-, beliau berkata dalam salah satu fatwa beliau, “Karenanya, saya memandang jika perkara yang hendak disampaikan sebagai nasihat merupakan perkara zahir, jelas dan nampak dalam artian kemungkaran itu nampak dan jelas, maka tidak mengapa memberi nasehat kepada penguasa dengan cara berhadapan dengannya, atau melalui kolom opini di koran-koran (termasuk artikel), melalui mimbar-mimbar, atau dengan metode-metode lainnya jika kemungkaran tersebut jelas dan nampak di tengah-tengah manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syubhat ini kami jawab dari beberapa sisi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Kalau fatwa ini benar dari beliau, maka beliau sendiri (dalam fatwa yang sama) telah memberikan batasan-batasan dan siapa yang berhak melakukannya, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Dengan memperhatikan maslahat dan mafsadat. Jika kita lihat mafsadat-mafsadat besar yang sangat mungkin ditimbulkan dari cara menasihati pemerintah dengan terang-terangan, tentunya hal tersebut tidak boleh untuk dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Bukan semua orang yang boleh melakukannya, tetapi para ulama yang benar-benar memiliki ilmu dalam masalah tersebut dan memiliki kedudukan dalam pandangan pemerintah dan masyarakat. Hal ini jelas dari perkataan beliau dan pendalilan beliau dengan kisah Abu Sa’id al-Khudri -radhiyallahu’anhu-. Siapa Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallahu’anhu-, seorang ulama besar di kalangan sahabat dibandingkan dengan Marwan seorang Tabi’in[1]? Kedudukannya adalah guru (Sahabat) dan murid (Tabi’in). Demikian pula, tidak semua Sahabat dan Tabi’in yang hadir pada saat itu melakukan pengingkaran secara terang-terangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh sahabat Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallahu’anhu-, maka itu adalah perkara yang sangat mendesak dan sangat terkait dengan waktu yang singkat (yakni pelaksanaan shalat ‘ied) dan terjadi di depan matanya dan di depan khalayak ramai, sehingga tidak mungkin untuk ditunda. Karena kaidah yang disepakati, “Menunda penjelasan dari waktu yang dibutuhkan tidak boleh”. Inilah maksud perkataan Al-Imam An-Nawawi –rahimahullah- yang kami garis bawahi di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul –hafizhahullah- menjelaskan perkataan Al-Imam An-Nawawi –rahimahullah- tersebut, “Perkataan beliau, “Ini semua dilakukan jika memungkinkan”, yakni jika memungkinkan seseorang menasihati penguasa secara rahasia,  maka inilah yang wajib atasnya, tidak yang lainnya (yakni tidak boleh terang-terangan).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun perkataan beliau (An-Nawawi), “Namun jika tidak memungkinkan untuk menasihati dan mengingkari kemungkaran penguasa secara rahasia, maka hendaklah seseorang melakukannya terang-terangan, agar pokok kebenaran itu tidak ditelantarkan.” Maknanya adalah, “Janganlah seseorang mengingkari kemungkaran penguasa secara terang-terangan, kecuali dalam keadaan sangat genting (daruroh syadidah).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau (Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul –hafizhahullah-) berkata dalam catatan kakinya, “Atas dasar inilah (yakni dalam keadaan darurat) dibawa perbuatan Salaf (dalam mengingkari kemungkaran penguasa terang-terangan), seperti kisah Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallahu’anhu- bersama Marwan, walikota Madinah ketika ia mendahulukan khutbah atas shalat ‘ied.” [Lihat Shahih Al-Bukhari (2/449 no. 956 bersama Fathul Bari kitab Al-’Idain, bab Al-Khuruj ilal Musholla bi ghayri Minbar]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oleh karenanya, ketika ‘Iyadh bin Ganm -radhiyallahu’anhu- mengingkari perbuatan Hisyam -radhiyallahu’anhu- (yaitu, dengan menyampaikan hadits di atas) karena pengingkaran Hisyam terhadap kemungkaran penguasa secara terang-terangan, tanpa ada kebutuhan mendesak (darurat). Tidaklah yang dilakukan Hisyam -radhiyallahu’anhu-, kecuali tunduk (kepada hadits tersebut), wallahu A’lam.” (Lihat As-Sunnah fii maa Yata’allaqu bi Waliyyil Ummah, Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul, softcopy dari www.sahab.net)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Pengingkaran Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu benar-benar di depan penguasa tersebut, sehingga memungkinkan bagi sang penguasa untuk mengambil faedah “secara langsung” dari nasihat beliau, atau sebaliknya sang penguasa bisa memberikan bantahan jika ia memiliki dalil atau pertimbangan khusus sebagai seorang pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun jika dengan menyebarkan artikel-artikel di media massa dan berorasi di mimbar-mimbar bebas yang tidak dihadiri oleh penguasa, maka belum tentu bisa dibaca atau didengarkan oleh penguasa (sebagai orang yang dinasihati), malah yang terjadi adalah ghibah atau buhtan, pencemaran nama baik dan provokasi untuk memberontak kepada penguasa. Bagaimana bisa seseorang mengharamkan ghibah dan pencemaran nama baik dirinya dan para tokoh idolanya sementara untuk penguasa dia bolehkan…Ma lakum kayfa tahkumun?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin –rahimahullah- menjelaskan, “Sesungguhnya mengingkari kemungkaran yang tersebar adalah hal yang dituntut dan tidak ada masalah dalam hal ini. Tapi yang menjadi masalah dalam pembahasan kita adalah pengingkaran terhadap seorang penguasa, seperti jika seseorang berpidato di masjid, kemudian ia berkata misalnya, “Negara (pemerintahnya) ini telah berbuat zhalim”, “Pemerintah telah melakukan (kesalahan)”, ia terus berbicara tentang kemungkaran penguasa dengan cara terang-terangan ini, padahal para penguasa tersebut tidak hadir dalam majelis itu. Jelas berbeda jika pemimpin atau penguasa yang ingin engkau nasihati itu ada di hadapan Anda dan ketika dia tidak ada. Karena semua pengingkaran secara terang-terangan yang dilakukan oleh generasi Salaf terjadi langsung di hadapan pemimpin atau penguasa. Bedanya, jika ia hadir, memungkinkan baginya untuk membela diri dan menjelaskan sisi pandangnya, dan bisa jadi ia yang benar dan kita yang salah. Akan tetapi jika ia tidak hadir, tentunya ia tidak bisa membela diri dan ini termasuk kezhaliman. Maka wajib bagi setiap kita untuk tidak berbicara tentang kejelekan seorang penguasa tatkala ia tidak hadir. Olehnya, jika engkau sangat menginginkan kebaikan (bagi seorang penguasa) pergilah kepadanya, temuilah ia, lalu nasihati secara empat mata.” [Lihat Liqo’ Al-Babil Maftuh, pertemuan ke-62, hal. 46)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Jika fatwa Asy-Syaikh Ibnu Qu’ud –rahimahullah- diterima secara mutlak tanpa ada batasan-batasan sebagaimana yang beliau jelaskan sendiri dan batasan-batasan lain yang dijelaskan oleh para ulama lainnya, maka hal tersebut sangat jelas bertentangan dengan dalil dan fatwa-fatwa para ulama lainnya sebagaimana yang kami nukil di atas. Oleh karena itu kami mengingatkan kepada saudara-saudara kami yang menasihati penguasa secara terang-terangan karena mengikuti fatwa Asy-Syaikh Ibnu Qu’ud –rahimahullah-. Ketahuilah –kami mencintai kebaikan untuk kalian sebagaimana kami cintai kebaikan itu untuk diri kami-:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Kalaupun benar sebagaimana yang kalian katakan (bahwa ada khilaf dalam masalah ini), bukankah yang terbaik bagi kita untuk berhati-hati dengan memilih jalan yang lebih selamat?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Jika kita mencari setiap keringanan para ulama, niscaya kita akan binasa, sebagaimana diriwayatkan dari sebagian Salaf, “Barangsiapa yang mencari-cari keringanan para ulama, maka dia telah mengarah kepada kemunafikan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Tidakkah kalian memikirkan mafsadat yang besar –terutama bagi orang-orang awam- jika pintu ini dibuka?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul –hafizhahullah- menerangkan, sedikitnya tiga kemungkaran besar yang menyelisihi manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah ketika seseorang menasihati penguasa secara terang-terangan, padahal masih memungkinkan untuk dinasihati secara rahasia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Menyelisihi hadits ‘Iyadh bin Ganm -radhiyallahu’anhu- yang memerintahkan untuk diam-diam dalam menasihati penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Menyelisihi atsar-atsar dan manhaj Salaf, seperti atsar Usamah bin Zaid dan Abdullah bin Abi Aufa dan selainnya radhiyallahu’anhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Menyelisihi hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang menghinakan penguasa Allah di muka bumi maka Allah akan menghinakannya.” (HR. Al-Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lihat As-Sunnah fii maa Yata’allaqu bi Waliyyil Ummah, Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul, softcopy dari www.sahab.net)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syubhat ketiga: Tidak mungkin menasihati penguasa seperti hadits ‘Iyadh bin Ganm maupun atsar Usamah bin Zaid -radhiyallahu’anhum- di zaman ini, dikarenakan aturan protokoler pemerintahan modern terlalu berbelit-belit, sehingga tidak memungkinkan setiap orang bisa bertemu empat mata dengan seorang pejabat, maka terpaksa diambil jalan terakhir, yaitu dengan melakukan demonstrasi, tapi demo yang Islami atau aksi damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjawab syubhat ini kami katakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Hadits ‘Iyadh bin Ganm dan atsar Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhum itu tidak bermakna harus persis seperti teksnya, yaitu setiap orang yang ingin menasihati harus memegang tangan penguasa, menyepi dengannya atau bertemu empat mata dengannya. Masih ada cara lain yang dibolehkan, asalkan tidak terang-terangan, seperti penjelasan Asy-Syaikh Bin Baz –rahimahullah-, “Tapi metode yang dicontohkan Salaf adalah: menasihati secara empat mata, menyurat, dan menghubungi para ulama yang memiliki akses langsung kepada penguasa, sehingga sang penguasa bisa diarahkan kepada kebaikan.” (Haqqur Ro’iy war-Ro’iyyah, hal. 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Jika ternyata memang semua jalan yang disebutkan Asy-Syaikh Bin Baz –rahimahullah- tidak bisa sama sekali atau penguasa tidak mau menuruti nasihat dan merubah kebijakannya yang zalim, apakah kemudian boleh melakukan demonstrasi atau menyebar artikel nasihat dan teguran kepada pemerintah di media massa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya: Tetap tidak boleh, sebab hal tersebut bertentangan dengan dalil dan petunjuk Salaf dalam menghadapi keadaan semacam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnu Abdil Barr –rahimahullah- berkata, “Jika tidak memungkinkan untuk menasihati penguasa (dengan cara yang syar’i), maka solusi akhirnya adalah sabar dan doa, karena dahulu mereka –yakni Sahabat- melarang dari mencaci penguasa”. Kemudian beliau menyebutkan sanad satu atsar dari Anas bin Malik -radhiyallahu’anhu-, beliau (Anas) berkata, “Dahulu para pembesar Sahabat Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- melarang dari mencaci para penguasa.” [Lihat At-Tamhid, Al-Imam Ibnu Abdil Barr, (21/287)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri –rahimahullah- berkata, “Demi Allah, andaikan manusia bersabar dengan musibah berupa kezhaliman penguasa, maka tidak akan lama Allah Ta’ala mengangkat kezhaliman tersebut dari mereka, namun apabila mereka mengangkat senjata melawan penguasa yang zhalim, maka mereka akan dibiarkan oleh Allah. Dan demi Allah, hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan kapan pun. Kemudian beliau membaca firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka sempurnalah kalimat Allah (janji-Nya) kepada Bani Israel disebabkan kesabaran mereka dan Kami musnahkan apa yang diperbuat oleh Fir’aun dan kaumnya dan apa yang mereka bina.” (Al-A’rof: 137).” [Lihat Madarikun Nazhor, (hal. 6)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan para ulama di atas dipahami dari banyak hadits Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-, diantaranya sabda beliau -shallallahu’alaihi wa sallam-:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من رأى من أميره شيئاً يكرهه فليصبر عليه ، فإنه من فارق الجماعة شبراً فمات إلا مات ميتة جاهلية&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak ia sukai (kemungkaran) yang ada pada pemimpin negaranya, maka hendaklah ia bersabar, karena sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah (pemerintah) kemudian ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abbas -radhiyallahu’anhuma-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga sabda Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam-:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنكم سترون بعدي أثرة وأموراً تنكرونها قالوا: ما تأمرنا يا رسول الله قال: أدوا إليهم حقهم وسلوا الله حقكم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kelak kalian akan melihat (pada pemimpin kalian) kecurangan dan hal-hal yang kalian ingkari (kemungkaran)”. Mereka bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tunaikan hak mereka (pemimpin) dan mintalah kepada Allah hak kalian (berdoa).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu’anhu-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabda Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam-:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قلنا يا رسول الله : أرأيت إن كان علينا أمراء يمنعونا حقنا ويسألونا حقهم ؟ فقال : اسمعوا وأطيعوا . فإنما عليهم ما حملوا وعليكم ما حملتم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami bertanya, wahai Rasulullah, “Apa pendapatmu jika para pemimpin kami tidak memenuhi hak kami (sebagai rakyat), namun tetap meminta hak mereka (sebagai pemimpin)?” Maka Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda, “Dengar dan taati (pemimpin negara kalian), karena sesungguhnya dosa mereka adalah tanggungan mereka dan dosa kalian adalah tanggungan kalian.” (HR. Muslim dari Wail bin Hujr -radhiyallahu’anhu-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jelaslah, ketika sudah tidak ada lagi solusi lain untuk merubah kemungkaran penguasa, tidak dibenarkan sama sekali melakukan demonstrasi, meskipun berupa aksi damai dan tidak pula dengan menyebar artikel dan berbicara tentang kejelekan penguasa di khalayak ramai, karena semua itu bertentangan dengan tuntunan Allah Ta’ala yang lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Jadi, tidak ada dalam Islam istilah demonstrasi Islami. Adapun yang dituntunkan oleh teladan kita, Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- dan para sahabat -radhiyallahu’anhum- adalah sabar dan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sebaik-baiknya solusi bagi orang-orang yang beriman kepada ayat Allah Ta’ala dan sunnah Rasul-Nya -shallallahu’alaihi wa sallam-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A’la wa A’lam wa Huwal Muwaffiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Artikel ini dialihtuliskan untuk umum dari artikel khusus kami di www.almakassari.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Meskipun Marwan lahir dua atau empat tahun setelah hijrahnya Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- ke Madinah, namun ia tidak pernah melihat Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam-. Demikian pendapat Al-Imam Al-Bukhari –rahimahullah- [Lihat At-Tahdzib, (10/82/no. 167) dan At-Taqrib, (no. 6567)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/07/05/tuntunan-islam-dalam-menasihati-penguasa-sebuah-renungan-bagi-para-pencela-pemerintah/" target=_blank"&gt;sumber&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-2796187188038115794?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/2796187188038115794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/2796187188038115794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/05/tuntunan-islam-dalam-menasihati.html' title='Tuntunan Islam dalam Menasihati Penguasa  (Sebuah Renungan bagi Para Pencela Pemerintah)'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-bJ89g6okpuY/Tcn6r_Sb5dI/AAAAAAAAAEg/3rzD3dKH-IU/s72-c/163494_181481791869462_110283468989295_567216_1454093_n.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-4580501513258153701</id><published>2011-05-09T06:04:00.000-07:00</published><updated>2011-05-09T06:04:11.904-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penguasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manhaj'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='takfir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akidah'/><title type='text'>Pemerintah Indonesia, Masihkah Layak Ditaati?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div separator=""&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-XGiXL4IAA4I/Tcfl0xirIOI/AAAAAAAAAEU/Sa9WnCkRLg4/s1600/island-ed%2B1.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="136" src="http://4.bp.blogspot.com/-XGiXL4IAA4I/Tcfl0xirIOI/AAAAAAAAAEU/Sa9WnCkRLg4/s200/island-ed%2B1.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;Pemerintah Indonesia, Masihkah Layak Ditaati...?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para ulama kaum muslimin seluruhnya sepakat akan kewajiban taat kepada pemerintah muslim dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Tabaraka wa Ta’ala telah memerintahkan hal tersebut sebagaimana dalam firman-Nya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (An-Nisa’: 59)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian pula, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah berwasiat:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Aku wasiatkan kalian agar senantiasa taqwa kepada Allah serta mendengar dan taat kepada pemimpin (negara) meskipun pemimpin tersebut seorang budak dari Habasyah.” (HR. Abu Dawud, no. 4609 dan At-Tirmidzi, no. 2677)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah menjelaskan diantara prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dan kami tidak memandang bolehnya memberontak kepada para pemimpin dan pemerintah kami, meskipun mereka berbuat zhalim. Kami tidak mendoakan kejelekan kepada mereka. Kami tidak melepaskan diri dari ketaatan kepada mereka dan kami memandang ketaatan kepada mereka adalah ketaatan kepada Allah sebagai suatu kewajiban, selama yang mereka perintahkan itu bukan kemaksiatan (kepada Allah). Dan kami doakan mereka dengan kebaikan dan keselamatan.” (Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi Al-Hanafi rahimahullah)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;AI-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah juga menukil ijma’. Dari Ibnu Batthal rahimahullah, ia berkata: “Para fuqaha telah sepakat wajibnya taat kepada pemerintah (muslim) yang berkuasa, berjihad bersamanya, dan bahwa ketaatan kepadanya lebih baik daripada nnemberontak.” (Fathul Bari, 13/7)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bolehkah Membangkang Kepada Pemerintah Indonesia karena Tidak Berhukum dengan Syari’at Islam?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Telah dimaklumi bersama bahwa pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini adalah pemerintah muslim. Sebagaimana juga dimaklumi bahwa hukum Islam belum diterapkan secara menyeluruh di negeri tercinta ini. Apakah dengan sebab tersebut pemerintah (dan rakyatnya) telah  menjadi murtad? Kemudian boleh bagi kaum muslimin memberontak atau membangkang kepada pemerintah Indonesia?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syubhat ini dijawab oleh Faqihul ‘Ashr Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam fatwa berikut ini:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaan: Fadhilatusy Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya tentang hukum menaati pemerintah yang tidak berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulillah shallallaahu ‘alaihi wa sallam?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jawab: “Pemerintah yang tidak berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah tetap wajib ditaati dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta tidak wajib memerangi mereka dikarenakan hal itu, bahkan tidak boleh diperangi kecuali kalau ia telah menjadi kafir, maka ketika itu wajib untuk menjatuhkannya dan tidak ada ketaatan baginya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berhukum dengan selain Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya sampai kepada derajat kekufuran dengan dua syarat:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1)      Dia mengetahui hukum Allah dan Rasul-Nya. Kalau dia tidak tahu, maka dia tidak menjadi kafir karena penyelisihannya terhadap hukum Allah dan Rasul-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2)      Motivasi dia berhukum dengan selain hukum Allah adalah keyakinan bahwa hukum Allah sudah tidak cocok lagi dengan zaman ini dan hukum lainnya lebih cocok dan lebih bermanfaat bagi para hamba.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan adanya kedua syarat inilah perbuatan berhukum dengan selain hukum Allah menjadi kekufuran yang mengeluarkan dari Islam, berdasarkan firman Allah:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَآ أَنْزَلَ اللهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْكَافِرُوْنَ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah: 44)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah yang demikian telah batal kekuasaannya, tidak ada haknya untuk ditaati rakyat, serta wajib diperangi dan dilengserkan dari kekuasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun jika dia berhukum dengan selain hukum Allah, namun dia tetap yakin bahwa berhukum dengan apa yang diturunkan Allah itu adalah wajib dan lebih baik untuk para hamba, tetapi dia menyelisihinya karena hawa nafsu atau hendak menzalimi rakyatnya, maka dia tidaklah kafir, melainkan fasik atau zhalim, dan kekuasaannya tetap sah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mentaatinya dalam perkara yang bukan kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah wajib. Tidak boleh diperangi, atau dilengserkan dengan kekuatan (senjata) dan tidak boleh memberontak kepadanya. Sebab Nabi shallallahu’alaihi wa sallam melarang pemberontakan terhadap pemerintah (muslim) kecuali jika kita melihat kekafiran nyata dimana kita mempunyai alasan (dalil) yang jelas dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibni ‘Utsaimin, 2/147-148, no. 229)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah juga menjelaskan, “Apabila seorang pemimpin muslim berhukum dengan selain hukum Allah, maka tidak boleh dihukumi kafir kecuali dengan syarat-syarat: Pertama: Dia tidak dipaksa melakukannya. Kedua: Dia tahu bahwa hukum tersebut bukan hukum Allah. Ketiga: Dia memandang hukum tersebut sama baiknya atau bahkan lebih baik dari hukum Allah.” (Lihat Al-Makhraj minal Fitnah, hal. 82)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kesimpulan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wajib taat kepada pemerintah Indonesia dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah Ta’ala. Tidak boleh memberontak atau membangkang meskipun mereka tidak berhukum dengan hukum Allah, sebab kafirnya seseorang karena tidak berhukum dengan hukum Allah perlu adanya syarat-syarat yang terpenuhi (syuruth at-takfir) dan terangkatnya penghalang (intifaul mawani’). Selama syarat-syarat itu belum terpenuhi dan penghalang-penghalangnya belum terangkat maka hukum asalnya ia adalah muslim. Jika ia seorang penguasa, berlaku baginya hak-hak seorang penguasa muslim.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan perlu juga dicatat, bahwa para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak ada satupun yang mempersoalkan dasar negara pemimpin tersebut, apakah dasarnya Islam atau sekuler. Tetapi yang menjadi ukuran apakah pemimpinnya muslim atau kafir, baik muslim yang adil dan bertakwa atau yang zalim dan fasik, tetap wajib menaatinya dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka yang mempersoalkan dasar negara dalam hal ketaatan kepada pemimpin muslim dan haramnya pemberontakan –baik dengan senjata maupun dengan kata-kata- terhadap pemerintah muslim, hanyalah orang-orang jahil dari kalangan NII dan jenis Khawarij Takfiri lainnya yang tidak mengerti ushul dan qawa’id dalam aqidah dan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Wallahul Musta’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/07/15/pemerintah-indonesia-masihkah-layak-ditaati/#comment-1178"&gt;Nasihatonline&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;b&gt;Berikut ini beberapa Komentar an dan Tanggapan yang juga saya muat dengan maksud agar para pembaca lebih memahami kesalahan kaum yang mudah mengkafirkan penguasa.... masih dari blog tersebut. silahkan disimak....&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Chaedar says:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;17 Juli 2010 pukul 10:23 am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana nasehatkan buat antum bahwa, hadist diatas adalah hak untuk penguasa kaum muslimin, bukan hak penguasa murtad dan bukan pula hak penguasa kafir…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;nasihatonline says:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;17 Juli 2010 pukul 11:21 am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah. Assalamu’alaykum. Sepakat, hanya saja kami tidak mudah mengkafirkan seorang muslim sebelum terpenuhi syuruth at-takfir dan intifaul mawani’. Karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah berpesan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أيما امرئٍ قال لأخيه كافر فقد باء بها أحدهما إن كان كما قال وإلا رجعت عليه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa saja berkata kepada saudaranya, “Wahai kafir!” maka salah seorang di antara dua orang itu menjadi kafir. Jika yang dipanggil benar-benar kafir, jika tidak maka kembali kepada yang mengatakannya”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini mengingatkan kita, agar tidak mudah memvonis kafir terhadap seorang yang asalnya muslim. Oleh karena itu, gegabah dan terburu-buru dalam mengkafirkan bukanlah karakter Ahlus Sunnah, melainkan karakter Khawarij, orang-orang bodoh yang dikendalikan oleh semangat yang tinggi bukan dengan ilmu. Allahu yahdiyk.&lt;br /&gt;Balas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Chaedar says:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;17 Juli 2010 pukul 10:43 am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pd tulisan di atas dinyatakan bahwa ‘pemerintahnya tdklah kafir, melainkan fasik atau dzolim dan kekuasaannya tetap sah’, ana katakan,&lt;br /&gt;1. Apakah antum mau mentaati, menuruti, dan membela orang yg fasik dan dzolim?&lt;br /&gt;2. Kekuasaannya tetap sah menurut siapa, apakah menurut aturan demokrasi yg kalian HAROMKAN…?&lt;br /&gt;3. Jika ternyata penguasanya dari kalangan IM/PKS, apakah fatwa antum tentang harokah tsb akan berubah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;nasihatonline says:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;17 Juli 2010 pukul 12:34 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pd tulisan di atas dinyatakan bahwa ‘pemerintahnya tdklah kafir, melainkan fasik atau dzolim dan kekuasaannya tetap sah’, ana katakan,&lt;br /&gt;1. Apakah antum mau mentaati, menuruti, dan membela orang yg fasik dan dzolim?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajib menaati penguasa muslim meskipun zalim dan fasik dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah. Adapun jika dia perintahkan berbuat maksiat maka tidak boleh taat kepada siapapun juga. Kenapa demikian? Karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah berpesan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قلنا يا رسول الله : أرأيت إن كان علينا أمراء يمنعونا حقنا ويسألونا حقهم ؟ فقال : اسمعوا وأطيعوا . فإنما عليهم ما حملوا وعليكم ما حملتم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami bertanya, wahai Rasulullah, “Apa pendapatmu jika para pemimpin kami tidak memenuhi hak kami (sebagai rakyat), namun tetap meminta hak mereka (sebagai pemimpin)?” Maka Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda, “Dengar dan taati (pemimpin negara kalian), karena sesungguhnya dosa mereka adalah tanggungan mereka dan dosa kalian adalah tanggungan kalian.” (HR. Muslim dari Wail bin Hujr -radhiyallahu’anhu-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah hadits ini, Nabi shallalahu’alaihi wa sallam ditanya tentang pemimpin yang tidak menunaikan hak rakyatnya, bukankah itu berarti dia telah meninggalkan syari’at Islam dan berhukum dengan hawa nafsunya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tetap memerintahkan kaum muslimin untuk mendengar dan taat. Tentunya selama dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah Ta’ala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kekuasaannya tetap sah menurut siapa, apakah menurut aturan demokrasi yg kalian HAROMKAN…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaannya sah menurut Islam selama dia belum kafir, walaupun dia zalim dan fasik. Perhatikan dalam hadits di atas, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ditanya tentang pemimpin yang tidak memenuhi hak rakyatnya, artinya dia seorang pemimpin zalim. Akan tetapi Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tetap memerintahkan dengar dan taat, andaikan kekuasaannya tidak sah lagi tentunya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam akan memerintahkan kita untuk memeranginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jika ternyata penguasanya dari kalangan IM/PKS, apakah fatwa antum tentang harokah tsb akan berubah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Al-Qur’an dan As-Sunnah telah menyatakan sesat maka selamanya tidak pantas untuk dirubah. Hanya saja berbeda cara menasihati penguasa dan selainnya. Demikian pula berbeda menasihati kelompok sesat dan menasihati penguasa negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu yahdiyk.&lt;br /&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Chaedar says:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;21 Juli 2010 pukul 2:38 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh ana tambahkan dr jawaban :&lt;br /&gt;1. Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam, melarang meminta jbtan, memberikan jbtan pd orang yg meminta, dan mengemis jabatan. Anehnya dari cara yg harom(pemilu), namun jabatan yg sudah sah menurut DEMOKRASI (bukan menurut Allah Ta’ala dan Rosul-Nya) harus ditaati, walaupun fasik dan dzolim. Padahal sangat jelas bahwa orang yg fasik dan dzolim adalah orang yg jauh dari Qur’an. Kenapa pemimpin seperti ini diikuti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;nasihatonline says:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;21 Juli 2010 pukul 10:49 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu tidaklah aneh bagi orang yang memahami permasalahannya. Sebab permasalahannya bukanlah melegalkan demokasi, tapi ketaatan kepada seorang pemimpin muslim, tentunya ketaatan tersebut hanya dalam perkara yang tidak bertentangan dengan syari’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus menaati pemimpin muslim meski zhalim dan fasik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Nabi shallalahu’alaihi wa sallam telah memerintahkan hal tersebut. Perhatikan kembali hadits berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akan datang sesudahku para pemimpin, mereka tidak mengambil petunjukku dan juga tidak melaksanakan sunnahku. Dan kelak akan ada para pemimpin yang hatinya seperti hati setan dalam jasad manusia.” Maka aku (Hudzaifah) berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang aku perbuat jika aku mendapati hal ini?” Beliau bersabda: “Hendaklah engkau mendengar dan taat kepada pemimpinmu walaupun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas, tetaplah dengar dan taat kepadanya.” (HR. Muslim dari Hudzaifah Ibnul Yaman radliyallahu’anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah, “pemimpin berhati setan dalam jasad manusia”, “memukul dan merampas harta”, bukankah ini termasuk sebesar-besarnya bentuk kezaliman dan kefasikan?! Akan tetapi Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tetap memerintahkan untuk mendengar dan taat. Maka tunduklah dengan keputusan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, tinggalkan akal dan perasaan kita yang bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi permasalahannya bukanlah menganggap benar demokrasi, tapi kewajiban taat kepada pemimpin muslim meskipun dihasilkan dari proses demokrasi. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan pemahaman yang baik kepada kaum muslimin. Baarokallahu fiyk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;perangsalib says:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;14 Agustus 2010 pukul 2:35 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah: 44)&lt;br /&gt;Saya insyaallah mengutamakan dalil Al-quran tersebut, karena Al-quran kedudukannya lebih tinggi dari hadits, dan Al-Quran Dijaga Oleh Allah dari dirubah oleh tangan mahlukNya sampai hari kiamat, betulkan ustadz?&lt;br /&gt;kemudian saya mengesampingkan hadits berikut ini ustadz:&lt;br /&gt;“Akan datang sesudahku para pemimpin, mereka tidak mengambil petunjukku dan juga tidak melaksanakan sunnahku. Dan kelak akan ada para pemimpin yang hatinya seperti hati setan dalam jasad manusia.” Maka aku (Hudzaifah) berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang aku perbuat jika aku mendapati hal ini?” Beliau bersabda: “Hendaklah engkau mendengar dan taat kepada pemimpinmu walaupun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas, tetaplah dengar dan taat kepadanya.” (HR. Muslim dari Hudzaifah Ibnul Yaman radliyallahu’anhu)&lt;br /&gt;sebab hadits tidak dijaga Allah dari kejahilan tangan mahlukNya, betul kan ustadz?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hadits yg saya sebut diatas sangat bertentangan dengan amar ma’ruf nahi munkar.&lt;br /&gt;kemudian saya mau tanya pak ustadz,&lt;br /&gt;apakah pemimpin seperti SBY itu sah kepemimpinannya?&lt;br /&gt;soalnya dia kan mengemis untuk dipilih jadi pemimpin?&lt;br /&gt;mohon dijwb ya ustadz..&lt;br /&gt;smuga kita slalu diberi hidayah oleh Allah swt (Subhanahu wa Ta’ala).. aamiin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;fatal pak ustadz, hadits hadits yg ustadz sebut ada yg bertentangan dg alquran…&lt;br /&gt;semoga Allah memberi kita hidayah.. aamiin..&lt;br /&gt;menurut saya, POLRI KAFIR karena memutuskan hukum tidak berdasar hukum yg diturunkan Allah.. yaitu alquran.&lt;br /&gt;jika kita tidak mengakui POLRI KAFIR berarti kita mengingkari alquran surat al-maidah ayat 44 yang berbunyi:&lt;br /&gt;“barang siapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang orang yang kafir” ..naudzubillah min dhalik…&lt;br /&gt;ya Allah tunjukkanlah kebenaran!&lt;br /&gt;musnahkan kebathilan.. amiin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;nasihatonline says:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;15 Agustus 2010 pukul 6:02 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjawab syubhat-syubhat ini kami rinci dalam beberapa poin berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ungkapan “Al-Qur’an kedudukannya lebih tinggi dari Al-Hadits”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan ini tidak sepenuhnya benar. Tetapi harus dirinci:&lt;br /&gt;Pertama: Dari sisi keutamaan, tidak diragukan lagi bahwa Al-Qur’an lebih tinggi dari Al-Hadits dari segi keutamaannya.&lt;br /&gt;Kedua: Dari sisi ihtijaj (sebagai sumber hujjah atau dalil), maka kedudukannya sama dengan Al-Qur’an. Sehingga orang yang taat kepada Al-Qur’an berarti dia taat kepada Al-Hadits. Sebaliknya, orang yang menolak Al-Hadits itu artinya dia menolak Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa demikian? Karena Allah Ta’ala sendiri telah menegaskan hal tersebut dalam banyak sekali ayat dalam Al-Qur’an, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang dibawa oleh Rasul kepadamu, ambillah dan apa yang kamu dilarang olehnya maka tinggalkanlah.” (Al-Hasyr: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, orang yang mengesampingkan Al-Hadits itu artinya dia mengesampingkan Al-Qur’an, karena dia tidak mau taat kepada perintah Allah dalam Al-Qur’an untuk menerima semua yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, baik Al-Qur’an maupun Al-Hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olehnya, mengingkari hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam adalah kekafiran terhadap Al-Qur’an yang diturunkan Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Benarkah Al-Hadits tidak dijaga keasliannya sebagaimana Al-Qur’an?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Antum terbiasa membaca kitab-kitab Ahlus Sunnah maka Antum akan tahu penjelasan ulama bahkan kesepakatan seluruh ulama bahwa Al-Hadits juga dijaga keasliannya sebagaimana Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kami yang menurunkan adz-dzikr dan kami pula yang menjaganya.” (Al-Hijr: 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah menjelaskan makna adz-dzikr dalam ayat di atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah semestinya orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir mengimani bahwa apa yang telah Allah jamin untuk menjaganya maka ia tidak akan hilang selamanya, seorang muslim tidak meragukan hal itu. Sedang perkataan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam semuanya adalah wahyu, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan tiadalah yang diucapkan oleh Nabi menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4) Jadi, wahyu berdasarkan kesepakatan (ijma’) seluruh umat Islam adalah dzikr, dan ad-dzikr itu terjaga berdasarkan nash. Maka perkataan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga terjaga dengan penjagaan Allah ‘Azza wa Jalla karena pentingnya penjagaan tersebut, maka semua hadits telah tersampaikan kepada kita.” (Al-Ihkam, 2/201)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فما بعث الله به رسوله من الكتاب والحكمة محفوظ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang Allah utus dengannya Rasul-Nya dari Al-Qur’an dan Al-Hikmah (Sunnah) maka itu terjaga.” (Majmu’ Al-Fatawa, 27/169)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jika demikian adanya, maka Al-Hadits yang shahih selamanya tidak bertentangan dengan al-Qur’an, hanya kita saja yang bodoh sehingga mengira ada pertentangan antara keduanya. Karena tidak mungkin Allah Ta’ala menurunkan wahyu dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits kemudian terjadi kontradiksi antara sesama wahyu Allah Ta’ala yang sama-sama terjaga dari perubahan oleh tangan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi kalau dikatakan bertentangan dengan amar ma’ruf nahi munkar, karena ma’ruf adalah apa yang dipandang ma’ruf oleh Al-Qur’an dan Al-Hadits, bukan menurut pandangan kita yang sempit. Demikian pula yang munkar adalah apa yang dipandang munkar oleh Al-Qur’an dan Al-Hadits, bukan menurut selera kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Oleh karena itu, makna ayat Al-Maidah: 44 jangan dipahami dengan akal sendiri, tapi rujuklah kepada pemahaman Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat, karena mereka lebih tahu dengan al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat yang mulia Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma menjelaskan makna ayat tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنه ليس كفراً ينقل عن ملة : (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ) كفر دون كفر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud ayat ini bukanlah kekufuran yang mengeluarkan dari agama (murtad), “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir; maknanya kekufuran di bawah kekufuran (yakni kufur kecil).” (HR. Al-Hakim, 2/313, beliau menshahihkannya dan disepakati oleh Al-Imam Adz-Dzahabi, juga dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, 6/113)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula yang dipahami oleh ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti yang dijelaskan oleh Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin dan Asy-Syaikh Muqbil di atas, bahwa penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah Ta’ala tidaklah langsung menjadi murtad. Maka sungguh lancang sekali orang-orang yang mudah mengkafirkan pemerintah muslim, PNS, maupun kepolisian di negeri-negeri kaum muslimin demi untuk meningkari sahnya kepemimpinan seorang muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya tidak ada teladan mereka dalam hal mudah mengkafirkan ini kecuali kaum Khawarij, sebagaimana mereka memahami surat Al-Maidah: 44 sesuai pemahaman Khawarij. Al-Imam Al-Jasshash rahimahullah berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقد تأولت الخوارج هذه الآية على تكفير من ترك الحكم بما أنزل الله من غير جحود&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Khawarij mentakwikan ayat ini untuk mengkafirkan orang yang meninggalkan hukum Allah meskipun dia tidak mengingkari (hukum Allah tersebut).” (Ahkamul Qur’an, 2/534)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bertaubatlah saudaraku dari pemahaman sesat ini, Allahu yahdiyk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: blue;"&gt;Abu Taimiyyah Arif bin Suhadi Al Kalasany says:&lt;/div&gt;22 Agustus 2010 pukul 6:31 am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah.&lt;br /&gt;Orang yang menentang hadits shahih dg alasan bertentangan dg Al Qur’an berarti menganggap dirinya lebih tahu tentang Al Qur’an drpd Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam yg Allah utus unt mengamalkan dan menerangkang Al Qur’an. Apakah ada kengawuran yg lebih ngawur dr ini??!!&lt;br /&gt;Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;nasihatonline says&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;22 Agustus 2010 pukul 8:41 am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, ternyata pemikiran Khawarij zaman sekarang sama dengan yang dahulu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فان الخوارج ينتحلون اتباع القرآن بآرائهم ويدعون السنن التي يزعمون انها تخالف القرآن&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;b style="color: red;"&gt;Sesungguhnya Khawarij memahami Al-Qur’an dengan akal-akal mereka dan meninggalkan sunnah/hadits yang mereka sangka menyelisihi Al-Qur’an.” (Lihat Al-Fatawa, 28/491)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: blue;"&gt;dwi says:&lt;/div&gt;16 Februari 2011 pukul 7:57 am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu’alaikum wr, wb&lt;br /&gt;pa ustadz, menarik tulisannya, saya ada pertanyaan sedikit, yaitu:&lt;br /&gt;1. Apa kedudukan kedua hadist ini?, apabila shohih, siapa yg men-shohikannya?&lt;br /&gt;a. Wajib menaati penguasa muslim meskipun zalim dan fasik dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah. Adapun jika dia perintahkan berbuat maksiat maka tidak boleh taat kepada siapapun juga. Kenapa demikian? Karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah berpesan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قلنا يا رسول الله : أرأيت إن كان علينا أمراء يمنعونا حقنا ويسألونا حقهم ؟ فقال : اسمعوا وأطيعوا . فإنما عليهم ما حملوا وعليكم ما حملتم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami bertanya, wahai Rasulullah, “Apa pendapatmu jika para pemimpin kami tidak memenuhi hak kami (sebagai rakyat), namun tetap meminta hak mereka (sebagai pemimpin)?” Maka Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda, “Dengar dan taati (pemimpin negara kalian), karena sesungguhnya dosa mereka adalah tanggungan mereka dan dosa kalian adalah tanggungan kalian.” (HR. Muslim dari Wail bin Hujr -radhiyallahu’anhu-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. “Akan datang sesudahku para pemimpin, mereka tidak mengambil petunjukku dan juga tidak melaksanakan sunnahku. Dan kelak akan ada para pemimpin yang hatinya seperti hati setan dalam jasad manusia.” Maka aku (Hudzaifah) berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang aku perbuat jika aku mendapati hal ini?” Beliau bersabda: “Hendaklah engkau mendengar dan taat kepada pemimpinmu walaupun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas, tetaplah dengar dan taat kepadanya.” (HR. Muslim dari Hudzaifah Ibnul Yaman radliyallahu’anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dari tulisan ustad didapat bahwa apabila pemimpin berhukum selain hukum Allah karena hawa nafsu maka fasik, namun apabila dikarenakan beliau meyakini bahwa hukum Allah sudah tidak cocok lagi dengan zaman ini dan hukum lainnya lebih cocok dan lebih bermanfaat bagi rakyanya maka kafir. Darimana kita bisa mengetahui bahwa SBY tidak berhukum kepada hukum Allah karena hawa nafsunya bukan karena meyakini bahwa hukum allah sudah tidak relevan lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pa ustad apabila kita mengutarakan ketidaksepahaman dengan kebijakan pemimpin (misal: kebijakan ekonomi) dengan memberikan hujjah didepan umum dalam suatu acara dialog ataupun hanya bertukarpikiran dengan kawan2 termasuk perbuatan membuka aib pemimpin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Apakah ustad pernah atau tidak henti-hentinya menasehati sby (cth: dengan surat)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;nasihatonline says:&lt;/div&gt;26 Februari 2011 pukul 1:21 am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kedua hadits tersebut disebutkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya dengan sanad yang bersambung dari rawi-rawi yang tsiqoh menunjukkan beliau menshohihkannya. Dan kitab Shahih Muslim disepakati oleh para ulama sebagai kitab yang paling shahih setelah Shahih Al-Bukhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Justru karena kita belum tahu maka tidak boleh kita mengkafirkan beliau atau memberontak hanya berdasarkan persangkaan atau kira-kira belaka. Dalam hadits Ubadhah bin Shomit radhiyallahu’anhu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;دعانا النبي صلى الله عليه و سلم فبايعناه فقال فيما أخذ علينا أن بايعنا على السمع والطاعة في منشطنا ومكرهنا وعسرنا ويسرنا وأثرة علينا وأن لا ننازع الأمر أهله إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم من الله فيه برهان&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menyeru kami lalu kami pun membai’at beliau. Maka beliau bersabda tentang hal-hal yang dipersyaratkan atas kami, yaitu beliau membai’at kami untuk senantiasa mendengar dan taat kepada pemimpin baik pada saat kami dalam keadaan semangat ataupun malas, baik dalam keadaan susah ataupun lapang, dan dalam keadaan hak-hak kami tidak dipenuhi, serta agar kami tidak berusaha merebut kekuasaan dari pemiliknya, kecuali jika kalian telah melihat kekufuran yang nyata dimana kalian memiliki dalil dari Allah akan kekufuran tersebut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa syarat memberontak kepada penguasa ada empat syarat dan ditambah satu syarat lagi sehingga menjadi lima syarat, Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan kelima syarat tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: “Kalian melihat (kekufuran yang nyata)”, maknanya harus berdasar ilmu (yaitu benar-benar melihat). Adapun sekedar persangkaan maka tidak boleh memberontak kepada penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Hendaklah kita tahu bahwa yang dilakukannya adalah benar-benar kekafiran, bukan kefasikan. Adapun kefasikan (dosa besar yang tidak sampai kepada derajat kekafiran), meskipun para penguasa melakukannya tidak boleh memberontak terhadap mereka; andaikan penguasa meminum khamar, berzina, menzhalimi manusia, tetap tidak boleh memberontak terhadap mereka. Yang dibolehkan hanyalah jika kita melihat kekufuran yang benar-benar nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Kekafiran tersebut nyata. Maknanya adalah kekufuran yang jelas dan nampak, terang (tidak bisa diartikan lain). Adapun perbuatan kekufuran yang masih mungkin untuk ditafsirkan lain maka tidak boleh memberontak kepada penguasa. Yakni, andaikan mereka melakukan kekufuran, tetapi kekufuran tersebut masih belum jelas (multi tafsir), maka tidak boleh kita memerangi atau memberontak terhadap mereka, dan kita takwilkan hal tersebut sesuai penakwilan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: “Kalian memiliki dalil dari Allah”. Yakni kita memiliki dalil yang pasti bahwa perbuatan tersebut merupakan kekufuran (menurut Al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima: Memiliki kemampuan. Jika kita tidak memiliki kekuatan maka tidak boleh memberontak, karena yang demikian itu termasuk menjatuhkan diri dalam kebinasaan. Manfaat apakah yang bisa kita dapatkan jika kita memberontak kepada seorang penguasa yang kita lihat melakukan kekufuran yang jelas dan berdasarkan dalil dari Allah, hanya dengan menggunakan pisau dapur sedang dia menggunakan tank-tank lapis baja dan senjata-senjata otomatis, apakah ada manfaat pemberontakan tanpa kemampuan? Tentu tidak ada manfaatnya. (Lihat Syarhu Riyadhis Shalihin, bab. 23 hadits ke-186 dengan diringkas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kalau hal itu dilakukan di depan umum hal itu tidak boleh sebagaimana yang telah kami jelaskan pada artikel: Tuntunan Islam dalam Menasihati Penguasa (Sebuah Renungan bagi Para Pencela Pemerintah) http://nasihatonline.wordpress.com/2010/07/05/tuntunan-islam-dalam-menasihati-penguasa-sebuah-renungan-bagi-para-pencela-pemerintah/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Faqihuz Zaman Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Mempublikasikan nasihat yang kita sampaikan kepada pemerintah terdapat dua mafsadat (kerusakan). Pertama: Hendaklah setiap orang khawatir, jangan sampai dirinya tertimpa riya’, sehingga terhapus amalannya. Kedua: Jika pemerintah tidak menerima nasihat tersebut, maka jadilah itu sebagai alasan bagi masyarakat awam untuk menentang pemerintah. Pada akhirnya mereka melakukan revolusi (pemberontakan) dan terjadilah kerusakan yang lebih besar.” [Dari kaset Asilah haula Lajnah Al-Huquq As-Syar’iyah, sebagaimana dalam Madarikun Nazhor, (hal. 211)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahul Muwaffiq.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-4580501513258153701?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/4580501513258153701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/4580501513258153701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/05/pemerintah-indonesia-masihkah-layak.html' title='Pemerintah Indonesia, Masihkah Layak Ditaati?'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-XGiXL4IAA4I/Tcfl0xirIOI/AAAAAAAAAEU/Sa9WnCkRLg4/s72-c/island-ed%2B1.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-6223129568126702829</id><published>2011-05-06T15:40:00.000-07:00</published><updated>2011-05-06T15:40:23.847-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pergaulan'/><title type='text'>Hati-hati dari Teman yang Buruk</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-KcWlbX5NIgg/TcR4m8ZPMrI/AAAAAAAAAEI/5oby5myyZIc/s1600/b1.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/-KcWlbX5NIgg/TcR4m8ZPMrI/AAAAAAAAAEI/5oby5myyZIc/s200/b1.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah n menerangkan bahwa teman dapat memberikan pengaruh negatif ataupun positif sesuai dengan kebaikan atau kejelekannya. Beliau n menyerupakan teman bergaul atau teman duduk yang baik dengan penjual minyak wangi. Bila duduk dengan penjual minyak wangi, engkau akan dapati satu dari tiga perkara sebagaimana tersebut dalam hadits. Paling minimnya engkau dapati darinya bau yang harum yang akan memberi pengaruh pada jiwamu, tubuh dan pakaianmu. Sementara kawan yang jelek diserupakan dengan duduk di dekat pandai besi. Bisa jadi beterbangan percikan apinya hingga membakar pakaianmu, atau paling tidak engkau mencium bau tak sedap darinya yang akan mengenai tubuh dan pakaianmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian jelaslah, teman pasti akan memberi pengaruh kepada seseorang. Dengarkanlah berita dari Al-Qur`an yang mulia tentang penyesalan orang zalim pada hari kiamat nanti karena dulunya ketika di dunia berteman dengan orang yang sesat dan menyimpang, hingga ia terpengaruh ikut sesat dan menyimpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan ingatlah hari ketika itu orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, andai kiranya dulu aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrabku. Sungguh ia telah menyesatkan aku dari Al-Qur`an ketika Al-Qur`an itu telah datang kepadaku.’ Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (Al-Furqan: 27-29)&lt;br /&gt;‘Adi bin Zaid, seorang penyair Arab, berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu engkau bertanya tentang (siapa) seseorang itu, namun tanyalah siapa temannya Karena setiap teman meniru temannya. Bila engkau berada pada suatu kaum maka bertemanlah dengan orang yang terbaik dari mereka Dan janganlah engkau berteman dengan orang yang rendah/hina niscaya engkau akan hina bersama orang yang hina&lt;br /&gt;Karenanya lihat-lihat dan timbang-timbanglah dengan siapa engkau berkawan.&lt;br /&gt;Dampak Teman yang Jelek Ingatlah, berteman dengan orang yang tidak baik agamanya, akhlak, sifat, dan perilakunya akan memberikan banyak dampak yang jelek. Di antara yang dapat kita sebutkan di sini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memberikan keraguan pada keyakinan kita yang sudah benar, bahkan dapat memalingkan kita dari kebenaran. Sebagaimana Allah k berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sebagian mereka (penghuni surga) menghadap sebagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) memiliki seorang teman. Temanku itu pernah berkata, ‘Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang yang membenarkan hari berbangkit? Apakah bila kita telah meninggal dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, kita benar-benar akan dibangkitkan untuk diberi pembalasan.” Berkata pulalah ia, “Maukah kalian meninjau temanku itu?" Maka ia meninjaunya, ternyata ia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala. Ia pun berucap, “Demi Allah! Sungguh kamu benar-benar hampir mencelakakanku. Jikalau tidak karena nikmat Rabbku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret ke neraka.” (Ash-Shaffat: 50-57)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarkanlah kisah wafatnya Abu Thalib di atas kekafiran karena pengaruh teman yang buruk. Tersebut dalam hadits Al-Musayyab bin Hazn, ia berkata, "Tatkala Abu Thalib menjelang wafatnya, datanglah Rasulullah n. Beliau dapati di sisi pamannya ada Abu Jahl bin Hisyam dan Abdullah bin Abi Umayyah ibnil Mughirah. Berkatalah Rasulullah n, ‘Wahai pamanku, ucapkanlah Laa ilaaha illallah, kalimat yang dengannya aku akan membelamu di sisi Allah.’ Namun kata dua teman Abu Thalib kepadanya, ‘Apakah engkau benci dengan agama Abdul Muththalib?’ Rasulullah n terus menerus meminta pamannya mengucapkan kalimat tauhid. Namun dua teman Abu Thalib terus pula mengulangi ucapan mereka, hingga pada akhirnya Abu Thalib tetap memilih agama nenek moyangnya dan enggan mengucapkan Laa ilaaha illallah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Teman yang jelek akan mengajak orang yang berteman dengannya agar mau melakukan perbuatan yang haram dan mungkar seperti dirinya. Allah k berfirman tentang munafikin:&lt;br /&gt;“Mereka menginginkan andai kalian kafir sebagaimana mereka kafir hingga kalian menjadi sama.” (An-Nisa`: 89)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tabiat manusia, ia akan terpengaruh dengan kebiasaan, akhlak, dan perilaku teman dekatnya. Karenanya Rasulullah n bersabda:&lt;br /&gt;الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ&lt;br /&gt;“Seseorang itu menurut agama teman dekat/sahabatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia bersahabat1.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 927)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Melihat teman yang buruk akan mengingatkan kepada maksiat sehingga terlintas maksiat dalam benak seseorang. Padahal sebelumnya ia tidak terpikir tentang maksiat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Teman yang buruk akan menghubungkanmu dengan orang-orang yang jelek, yang akan memudaratkanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Teman yang buruk akan menggampangkan maksiat yang engkau lakukan sehingga maksiat itu menjadi remeh/ringan dalam hatimu dan engkau akan menganggap tidak apa-apa mengurangi-ngurangi dalam ketaatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Karena berteman dengan orang yang jelek, engkau akan terhalang untuk berteman dengan orang-orang yang baik/shalih sehingga terluputkan kebaikan darimu sesuai dengan jauhnya engkau dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Duduk bersama teman yang jelek tidaklah lepas dari perbuatan haram dan maksiat seperti ghibah, namimah, dusta, melaknat, dan semisalnya. Bagaimana tidak, sementara majelis orang-orang yang jelek umumnya jauh dari dzikrullah, yang mana hal ini akan menjadi penyesalan dan kerugian bagi pelakunya pada hari kiamat nanti. Sebagaimana sabda Rasulullah n:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ تَعَالَى فِيْهِ، إِلاَّ قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً&lt;br /&gt;“Tidak ada satu kaum pun yang bangkit dari sebuah majelis yang mereka tidak berzikir kepada Allah ta’ala dalam majelis tersebut melainkan mereka bangkit dari semisal bangkai keledai2 dan majelis tersebut akan menjadi penyesalan bagi mereka." (HR. Abu Dawud. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 77)&lt;br /&gt;Demikian… Semoga ini menjadi peringatan!&lt;br /&gt;(Dinukil secara ringkas dengan perubahan dan tambahan oleh Ummu Ishaq Al-Atsariyah dari kitab Al-Mukhtar lil Hadits fi Syahri Ramadhan, hal. 95-99)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Seseorang akan berperilaku seperti kebiasaan temannya dan juga menurut jalan serta perilaku temannya. Maka hendaknya setiap kita merenungkan dan memikirkan dengan siapa kita bersahabat. Siapa yang kita senangi agama dan akhlaknya maka kita jadikan ia sebagai teman, dan yang sebaliknya kita jauhi. Karena yang namanya tabiat akan saling meniru dan persahabatan itu akan berpengaruh baik ataupun buruk. (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Az-Zuhd, bab 45)&lt;br /&gt;2 Sama dengan bangkai keledai dalam bau busuk dan kotornya. ('Aunul Ma'bud, kitab Al-Adab, bab Karahiyah An Yaqumar Rajulu min Majlisihi wala Yadzkurullah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asysyariah.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-6223129568126702829?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/6223129568126702829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/6223129568126702829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/05/hati-hati-dari-teman-yang-buruk.html' title='Hati-hati dari Teman yang Buruk'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-KcWlbX5NIgg/TcR4m8ZPMrI/AAAAAAAAAEI/5oby5myyZIc/s72-c/b1.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-9005455711963262729</id><published>2011-05-06T07:41:00.000-07:00</published><updated>2011-05-06T07:41:10.383-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akhwat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>Kecantikan Haqiqi seorang Wanita</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-xii_c30o6Ek/TcQG60lKd-I/AAAAAAAAAEA/IbZOaChO_rI/s1600/gambar_pemandangan_sungai.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-xii_c30o6Ek/TcQG60lKd-I/AAAAAAAAAEA/IbZOaChO_rI/s200/gambar_pemandangan_sungai.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Kecantikan adalah impian para wanita,&lt;br /&gt;Mereka berdandan, berhias, menunjukkan perhiasan dan  kemolekan tubuh&lt;br /&gt;Hanya untuk mendapatkan gelar ratu kecantikan&lt;br /&gt;Tidakkah mereka mengetahui kecantikan yang hakiki?&lt;br /&gt;Inilah nasehat seorang ayah kepada puterinya&lt;br /&gt;Akan makna kecantikan yang hakiki&lt;span id="more-96"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: right;"&gt;&lt;a href="http://dzakhirah.files.wordpress.com/2008/11/syair1.gif"&gt;&lt;img alt="syair1" class="alignright size-full wp-image-100" height="171" src="http://dzakhirah.files.wordpress.com/2008/11/syair1.gif" title="syair1" width="452" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h4&gt;&lt;strong&gt;Kecantikan jiwa lebih tinggi nilainya &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Wahai puteriku, jika engkau menginginkan kecantikan menghiasi tubuh dan akalmu&lt;br /&gt;Tinggalkanlah kebiasaan bertabarruj (bersolek), karena kecantikan jiwa itu lebih tinggi dan lebih mulia&lt;br /&gt;(Hal ini sebagaimana) bunga buatan yang dibuat oleh para penghiasnya,  namun bunga yang berada di taman tidak ada yang menyaingi keindahan dan  bentuknya&lt;br /&gt;Wahai putriku jadilah engkau seperti matahari yang menyinari manusia, baik yang mulia maupun yang hina&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: right;"&gt;&lt;a href="http://dzakhirah.files.wordpress.com/2008/11/syair2.gif"&gt;&lt;img alt="syair2" class="alignright size-full wp-image-102" height="176" src="http://dzakhirah.files.wordpress.com/2008/11/syair2.gif" title="syair2" width="453" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;Rasa malu dan sikap lemah lembut adalah perangai terpuji &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Jadikanlah rasa malu sebagai perangaimu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Karena rasa malu lebih utama dalam diri seorang wanita&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tidak ada kebahagiaan sedikitpun pada seorang gadis jika rasa malu sudah lenyap darinya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dan jika engkau melihat seorang yang tertimpa kesusahan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ulurkanlah kepadanya bantuan dan iringilah dengan cucuran air mata kebaikan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Karena air mata yang keluar dari rasa kebaikan lebih indah dalam pipi dan lebih cantik dan lebih tinggi nilainya dari permata&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dialihbahasakan oleh Abu Hasan Arif dari kitab &lt;em&gt;al-Adwa fil Lughatil Arabiyyah&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;(Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 25 hal. 51)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-9005455711963262729?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/9005455711963262729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/9005455711963262729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/05/kecantikan-haqiqi-seorang-wanita.html' title='Kecantikan Haqiqi seorang Wanita'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-xii_c30o6Ek/TcQG60lKd-I/AAAAAAAAAEA/IbZOaChO_rI/s72-c/gambar_pemandangan_sungai.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-182499601005924861</id><published>2011-05-06T07:16:00.000-07:00</published><updated>2011-05-06T07:16:04.581-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pergaulan'/><title type='text'>Pengaruh Teman Yang Baik</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-uixsN4M-Wik/TcQCUptYyHI/AAAAAAAAAD8/TmDH_yPTopQ/s1600/lombok2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="110" src="http://2.bp.blogspot.com/-uixsN4M-Wik/TcQCUptYyHI/AAAAAAAAAD8/TmDH_yPTopQ/s200/lombok2.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;bersahabat_teman_dekatTeman bergaul dan lingkungan yang Islami, sungguh sangat mendukung seseorang menjadi lebih baik dan bisa terus istiqomah. Sebelumnya bisa jadi malas-malasan. Namun karena melihat temannya tidak sering tidur pagi, ia pun rajin. Sebelumnya menyentuh al Qur’an pun tidak. Namun karena melihat temannya begitu rajin tilawah Al Qur’an, ia pun tertular rajinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah Agar Bergaul dengan Orang-Orang yang Sholih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menyatakan dalam Al Qur'an bahwa salah satu sebab utama yang membantu menguatkan iman para shahabat Nabi adalah keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah mereka. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آَيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nyapun berada ditengah-tengah kalian? Dan barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. Ali 'Imran: 101).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah juga memerintahkan agar selalu bersama dengan orang-orang yang baik. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur)." (QS. At Taubah: 119).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berteman dengan Pemilik Minyak Misk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasehati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandangnya Saja Sudah Membuat Hati Tenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama pun memiliki nasehat agar kita selalu dekat dengan orang sholih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.”[2] Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang sholih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang sholih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang sholih lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Abdullah bin Al Mubarok mengatakan, “Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.”[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim mengisahkan, “Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan sempit dalam menjalani hidup, kami segera mendatangi Ibnu Taimiyah untuk meminta nasehat. Maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah Siapa Teman Karibmu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ 3545).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Ghozali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pandai-pandailah memilih teman bergaul. Jauhilah teman bergaul yang jelek jika tidak mampu merubah mereka. Jangan terhanyut dengan pergaulan yang malas-malasan dan penuh kejelekan. Banyak sekali yang menjadi baik karena pengaruh lingkungan yang baik. Yang sebelumnya malas shalat atau malas shalat jama’ah, akhirnya mulai rajin. Sebaliknya, banyak yang menjadi rusak pula karena lingkungan yang jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah mudahkan dan beri taufik untuk terus istiqomah dalam agama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusun di Sakan 27, KSU, Riyadh, KSA, pada 26 Syawal 1431 H (4/10/2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.remajaislam.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 4/324, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Siyar A’lam An Nubala’, 8/435, Mawqi’ Ya’sub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Ta’thirul Anfas min Haditsil Ikhlas,  Sayyid bin Husain Al ‘Afani, hal. 466, Darul ‘Affani, cetakan pertama, tahun 1421 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Lihat Shahih Al Wabilush Shoyyib, antara hal. 91-96, Dar Ibnul Jauziy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Tuhfatul Ahwadzi, Abul ‘Ala Al Mubarakfuri, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut, 7/42&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-182499601005924861?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/182499601005924861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/182499601005924861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/05/pengaruh-teman-yang-baik.html' title='Pengaruh Teman Yang Baik'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-uixsN4M-Wik/TcQCUptYyHI/AAAAAAAAAD8/TmDH_yPTopQ/s72-c/lombok2.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-558662224459162014</id><published>2011-05-03T05:11:00.000-07:00</published><updated>2011-05-04T07:01:27.172-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hidayah'/><title type='text'>Begitu Mahalnya Hidayah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-8zlgz8tCzI0/TcFb6p2Y-tI/AAAAAAAAADs/aH58A31cTzE/s1600/batudipantai.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="135" src="http://2.bp.blogspot.com/-8zlgz8tCzI0/TcFb6p2Y-tI/AAAAAAAAADs/aH58A31cTzE/s200/batudipantai.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pernahkah terpikirkan bahwa kita tengah berada dalam anugerah yang tiada ternilai dari Dzat yang memiliki kerajaan langit dan bumi, sementara begitu banyak orang yang dihalangi untuk memperolehnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa tahu ajaran yang benar dari agama Islam ini. Tahu ini haq, itu batil... Ini tauhid, itu syirik.... Ini sunnah, itu bid'ah... Lalu kita dimudahkan untuk mengikuti yang haq dan meninggalkan yang batil. Sementara, banyak orang tidak mengerti mana yang benar dan mana yang sesat, atau ada yang tahu tapi tidak dimudahkan baginya untuk mengamalkan al-haq, malah ia gampang berbuat kebatilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat berjalan mantap di bawah cahaya yang terang-benderang, sementara banyak orang yang tertatih meraba dalam kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu apa tujuan hidup kita dan kemana kita kan menuju. Sementara, ada orang-orang yang tidak tahu untuk apa sebenarnya mereka hidup. Bahkan kebanyakan mereka menganggap mereka hidup hanya untuk dunia, sekadar makan, minum, dan bersenang-senang di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa namanya semua yang kita miliki ini, wahai saudariku, kalau bukan anugerah terbesar, nikmat yang tiada ternilai? Inilah hidayah dan taufik dari Allah l kepada jalan-Nya yang lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Tanzil-Nya, Allah l berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Al-Baqarah: 213)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fadhilatusy Syaikh Al-’Allamah Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t menerangkan dalam tafsirnya bahwa hidayah di sini maknanya adalah petunjuk dan taufik. Allah l berikan hidayah ini kepada orang yang pantas mendapatkannya, karena segala sesuatu yang dikaitkan dengan kehendak Allah l maka mesti mengikuti hikmah-Nya. Siapa yang beroleh hidayah maka memang ia pantas mendapatkannya. (Tafsir Al-Qur’anil Karim, 3/31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah ketika menjelaskan ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beliau berkata, “Allah l tidak meletakkan hidayah di dalam hati kecuali kepada orang yang pantas mendapatkannya. Adapun orang yang tidak pantas memperolehnya, maka Allah l mengharamkannya beroleh hidayah tersebut. Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Memiliki hikmah, Maha Mulia lagi Maha Tinggi, tidak memberikan hidayah hati kepada setiap orang, namun hanya diberikannya kepada orang yang diketahui-Nya berhak mendapatkannya dan dia memang pantas. Sementara orang yang Dia ketahui tidak pantas beroleh hidayah dan tidak cocok, maka diharamkan dari hidayah tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh yang mulia melanjutkan, “Di antara sebab terhalangnya seseorang dari beroleh hidayah adalah fanatik terhadap kebatilan dan semangat kesukuan, partai, golongan, dan semisalnya. Semua ini menjadi sebab seseorang tidak mendapatkan taufik dari Allah l. Siapa yang kebenaran telah jelas baginya namun tidak menerimanya, ia akan dihukum dengan terhalang dari hidayah. Ia dihukum dengan penyimpangan dan kesesatan, dan setelah itu ia tidak dapat menerima al-haq lagi. Maka di sini ada hasungan kepada orang yang telah sampai al-haq kepadanya untuk bersegera menerimanya. Jangan sampai ia menundanya atau mau pikir-pikir dahulu, karena kalau ia menundanya maka ia memang pantas diharamkan/dihalangi dari hidayah tersebut. Allah k berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka tatkala mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan hati-hati mereka.” (Ash-Shaf: 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan begitu pula Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada awal kalinya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (Al-An’am: 110) [I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, 1/357]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu engkau ketahui, hidayah itu ada dua macam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hidayah yang bisa diberikan oleh makhluk, baik dari kalangan para nabi dan rasul, para da’i atau selain mereka. Ini dinamakan hidayah irsyad (bimbingan), dakwah dan bayan (keterangan). Hidayah inilah yang disebutkan dalam ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) benar-benar memberi hidayah/petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy-Syura: 52)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hidayah yang hanya bisa diberikan oleh Allah l, tidak selain-Nya. Ini dinamakan hidayah taufik. Hidayah inilah yang ditiadakan pada diri Rasulullah n, terlebih selain beliau, dalam ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) tidak dapat memberi hidayah/petunjuk kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah lah yang memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Al-Qashash: 56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang namanya manusia, baik ia da'i atau selainnya, hanya dapat membuka jalan di hadapan sesamanya. Ia memberikan penerangan dan bimbingan kepada mereka, mengajari mereka mana yang benar, mana yang salah. Adapun memasukkan orang lain ke dalam hidayah dan memasukkan iman ke dalam hati, maka tak ada seorang pun yang kuasa melakukannya, karena ini hak Allah l semata. (Al-Qaulul Mufid Syarhu Kitabit Tauhid, Ibnu Utsaimin, sebagaimana dinukil dalam Majmu’ Fatawa wa Rasa’il beliau, 9/340-341)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, bersyukurlah kepada Allah l ketika engkau dapati dirimu termasuk orang yang dipilih-Nya untuk mendapatkan dua hidayah yang tersebut di atas. Karena berapa banyak orang yang telah sampai kepadanya hidayah irsyad, telah sampai padanya dakwah, telah sampai padanya al-haq, namun ia tidak dapat mengikutinya karena terhalang dari hidayah taufik. Sementara dirimu, ketika tahu al-haq dari al-batil, segera engkau pegang erat yang haq tersebut dan engkau empaskan kebatilan sejauh mungkin. Berarti hidayah taufik dari Rabbul Izzah menyertaimu. Tinggal sekarang, hidayah itu harus engkau jaga, karena ia sangat bernilai dan sangat penting bagi kehidupan kita. Ia harus menyertai kita bila ingin selamat di dunia, terlebih di akhirat. Bagaimana tidak? Sementara kita di setiap rakaat dalam shalat diperintah untuk memohon kepada Allah l hidayah kepada jalan yang lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunjukilah (berilah hidayah) kami kepada jalan yang lurus.” (Al-Fatihah: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila timbul pertanyaan, bagaimana seorang mukmin meminta hidayah di setiap waktu shalatnya dan di luar shalatnya, sementara mukmin berarti ia telah beroleh hidayah? Bukankah dengan begitu berarti ia telah meminta apa yang sudah ada pada dirinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Katsir t memberikan jawabannya: Allah l membimbing hamba-hamba-Nya untuk meminta hidayah, karena setiap insan membutuhkannya siang dan malam. Seorang hamba butuh kepada Allah l setiap saat untuk mengokohkannya di atas hidayah, agar hidayah itu bertambah dan terus-menerus dimilikinya. Karena seorang hamba tidak dapat memberikan kemanfaatan dan tidak dapat menolak kemudaratan dari dirinya, kecuali apa yang Allah l kehendaki. Allah k pun membimbing si hamba agar di setiap waktu memohon kepada-Nya pertolongan, kekokohan, dan taufik. Orang yang bahagia adalah orang yang diberi taufik oleh Allah k untuk memohon hidayah, karena Allah k telah memberikan jaminan untuk mengabulkan permintaan orang yang berdoa kepada-Nya di sepanjang malam dan di pengujung siang. Terlebih lagi bila si hamba dalam kondisi terjepit dan sangat membutuhkan bantuan-Nya. Ini sebanding dengan firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya…” (An-Nisa’: 136)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat ini, Allah k memerintahkan orang-orang yang telah beriman agar tetap beriman. Ini bukanlah perintah untuk melakukan sesuatu yang belum ada, karena yang dimaukan dengan perintah beriman di sini adalah hasungan agar tetap tsabat (kokoh), terus-menerus dan tidak berhenti melakukan amalan-amalan yang dapat membantu seseorang agar terus di atas keimanan. Wallahu a’lam. (Tafsir Al-Qur’anil 'Azhim, 1/38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbahagialah dengan hidayah yang Allah l berikan kepadamu dan jangan biarkan hidayah itu berlalu darimu. Mintalah selalu kekokohan dan keistiqamahan di atas iman kepada Dzat Yang Maha Mengabulkan doa. Teruslah mempelajari agama Allah k. Hadirilah selalu majelis ilmu. Dekatlah dengan ulama, cintai mereka karena Allah k. Bergaullah dengan orang-orang shalih dan jauhi orang-orang jahat yang dapat merancukan pemahaman agamamu serta membuatmu terpikat dengan dunia. Semua ini sepantasnya engkau lakukan dalam upaya menjaga hidayah yang Allah k anugerahkan kepadamu. Satu lagi yang penting, jangan engkau jual agamamu karena menginginkan dunia, karena ingin harta, tahta, dan karena cinta kepada lawan jenis. Sekali-kali janganlah engkau kembali ke belakang. Kembali kepada masa lalu yang suram karena jauh dari hidayah dan bimbingan agama. Ingatlah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan.” (Yunus: 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Al-Imam Al-’Allamah Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi t, “Kebenaran dan kesesatan itu tidak ada perantara antara keduanya. Maka, siapa yang luput dari kebenaran mesti ia jatuh dalam kesesatan.” (Mahasinut Ta’wil, 6/24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa persangkaanmu dengan orang yang tahu kebenaran dari kebatilan, semula ia berjalan di atas kebenaran tersebut, berada di dalam hidayah, namun kemudian ia futur (patah semangat, tidak menetapi kebenaran lagi, red.) dan lisan halnya mengatakan ‘selamat tinggal kebenaran’? Wallahul Musta’an. Sungguh setan telah berhasil menipu dan mengempaskannya ke jurang yang sangat dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, di atas ketaatan kepada-Mu. Amin ya Rabbal ‘alamin ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-558662224459162014?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/558662224459162014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/558662224459162014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/05/begitu-mahalnya-hidayah.html' title='Begitu Mahalnya Hidayah'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-8zlgz8tCzI0/TcFb6p2Y-tI/AAAAAAAAADs/aH58A31cTzE/s72-c/batudipantai.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-216162401000265467</id><published>2011-04-28T07:45:00.000-07:00</published><updated>2011-05-04T07:21:34.887-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerimin hati'/><title type='text'>Macam-macam Hati dan Kriterianya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-4fN3nw9OMGg/TcFguJeC21I/AAAAAAAAADw/dq0lJlGHw88/s1600/nature_wallpaper.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="135" src="http://1.bp.blogspot.com/-4fN3nw9OMGg/TcFguJeC21I/AAAAAAAAADw/dq0lJlGHw88/s200/nature_wallpaper.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Hubungan hati dengan organ-organ tubuh lainnya, laksana raja yang bertahta diatas singgasana yang dikelilingi para punggawanya. Seluruh anggota punggawa bergerak atas perintahnya. Dengan kata lain, bahwa hati itu adalah pengendali dan sekaligus sebagai pemberi komando terdepan yang setiap anggota tubuh berada di bawah kekuasaannya. Di hati inilah anggota badan lainnya mengambil keteladanannya, baik dalam ketaatan atau penyimpangan. Organ-organ tubuh lainnya selalu mengikuti dan patuh dalam setiap keputusan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nabi Shallallohu'alahiwasallam bersabda: "Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka baiklah tubuh manusia itu, akan tetapi bila daging itu rusak maka rusak pula tubuh manusia. Ketahuilah bahwa sesungguhnya segumpal daging itu adalah hati."[HR. Bukhari-Muslim].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengelompokan Hati Manusia&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hati manusia terbagi menjadi tiga klasifikasi: Qalbun Shahih (hati yang suci), Qalbun Mayyit (hati yang mati), dan Qalbun Maridl (hati yang sakit).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama, Qalbun Shahih&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;yaitu hati yang sehat dan bersih (hati yang sehat) dari setiap nafsu yang menentang perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan dari setiap penyimpangan yang menyalahi keutamaan-Nya. Sehingga ia selamat dari pengabdian kepada selain Allah, dan mencari penyelesaian hukum pada selain rasul-Nya. Karenanya, hati ini murni pengabdiannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik pengabdian secara iradat (kehendak), mahabbah (cinta), tawakkal (berserah diri), takut atas siksa-Nya dan mengharapkan karunia-Nya. Bahkan seluruh aktivitasnya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Jika mencintai maka cintanya itu karena Allah, dan jika membenci maka kebenciannya itupun karena Allah, jika memberi atau bersedekah, hal itu karena-Nya dan jika tidak memberi, juga karena Allah. Dan tidak hanya itu saja, tapi diiringi dengan kepatuhan hati dan bertahkim kepada syari'at-Nya. ia mempunyai landasan yang kuat dan prinsip tersendiri dalam menjadikan Muhammad Shallallohu'alahiwasallam sebagai suri tauladan dalam segala hal. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahului Allah dan rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."[QS. Al-Hujurat:1].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ciri-ciri Qalbun Shahih&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Apabila hati pergi meninggalkan dunia menuju dan berdomisili di alam akhirat, sehingga seakan ia termasuk penduduknya. Ia datang ke dunia fana ini bagaikan seorang asing yang kebetulan singgah sebentar sebelum meneruskan perjalanan menuju alam akhirat. Sebagaimana telah diwasiatkan Nabi Shallallohu'alahiwasallam kepada Abdullah bin Umar : "Jadikanlah dirimu di dunia ini seakan-akan kamu orang asing atau orang yang sedang menyeberangi suatu jalan." [HR. Bukhari].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Jika ia tertinggal wirid, atau sesuatu bentuk peribatan lainnya, maka ia merasakan sakit yang tiada terperi ,melebihi sakitnya orang yang tamak dan kikir saat kehilangan barang kesayangannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Ia senantiasa rindu untuk dapat mengabdikan diri di jalan Allah, melebihi keinginan orang yang lapar kepada makanan dan minuman. Yahya bin Mu'adz berkata: "Barangsiapa yang merasa berkhidmat kepada Allah, maka segala sesuatupun akan senang berkhidmat kepadanya, dan barang siapa tentram dan puas dengan Allah maka orang lain tentram pula ketika melihat dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Apabila tujuan hidupnya hanya untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Bila sedang melakukan sholat, maka sirnalah semua kegundahannya dan kesusahan kaena urusan dunia. Sebab di dalam sholat telah ia temukan kenikmatan dan kesejukan jiwa yang suci.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. Sangat menghargai waktu dan tidak menyia-nyiakanya, melebihi rasa kekhawatiran orang bakhil dalam menjaga hartanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7. Tidak pernah terputus dan futur (malas) untuk mengingat Allah Idan berdzikir kepada-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;8. Lebih mengutamakan pada pencapaian kualitas dari suatu amal perbuatan daripada kuantitas. ia lebih condong pada keikhlasan dalam beramal, mengikuti petunjuk syari'at rasulullah Shallallohu'alahiwasallamdi samping ia selalu merenungi segala bentuk karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan mengakui tentang kelalaian dan keteledorannya dalam memenuhi hak-hak Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedua, Qalbun Mayyit&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Qalbun Mayyit (hati yang mati) adalah kebalikan dari hati yang sehat, hati yang mati tidak pernah mengenal Tuhannya, tidak mencintai atau ridha kepada-Nya. dan ia berdiri berdampingan dengan syahwatnya dan memperturutkan keinginan hawa nafsunya, walaupun hal ini menjadikan Allah Subhanahu wa Ta'ala marah dan murka akan perbuatannya. Ia tidak peduli lagi apakah Allah ridha atau murka terhadap apa yang dikerjakannya, sebab ia memang telah mengabdi kepada selain Allah. Jika mencintai didasarkan atas hawa nafsu, begitu pula dengan membenci, memberi. Hawa nafsu lebih didewa-dewakan daripada rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hati jenis ini adalah hati yang jika diseru kepada jalan Allah, maka seruan itu tidaklah berfaedah sedikitpun, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menutup hati mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: " Dan diantara mereka ada orang yang mendengar (bacaanmu), padahal kami telah meletakkan tutup di atas hati mereka sehingga mereka tidak memahaminya) dan kami letakkan sumbatan di telinganya dan jikalaupun mereka melihat segala tanda kebenaran mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu'."[QS. Al-An'am:25].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ayat ini menunjukkan, bahwa ada manusia yang tidak mempergunakan hatinya untuk memahami ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan tidak mempergunakan telinganya untuk mendengar perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Juga tidak mau melihat kebenaran yang telah disampaikan. Seperti difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala: "(Mereka berkata:) Hati kami tertutup dari ajakan yang kamu serukan kepada kami, dalam telinga kami ada sumbatan, dan diantara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu, sesungguhnya kami bekerja pula."[QS. Fushilat:5].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala akan membiarkan mereka dalam kegelapan dan mereka sedikitpun tidak akan mendapatkan cahaya iman. "Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya. Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka. Dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat, mereka tuli, bisu dan buta, maka mereka tidaklah kembali kepada jalan yang benar.” [Al-Baqarah:17-18].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketiga, Qalbun Maridl&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Qalbun Maridl (hati yang sakit) adalah hati yang sebenarnya memiliki kehidupan, namun di dalamnya tersimpan benih-benih penyakit berupa kejahilan. Hati yang sedang di cekam sakit akan mudah menjadi parah apabila tidak diobati dengan hikmah dan maud'izah. Seperti difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan setan, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang keras hatinya."[QS. Al-Hajj:53].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena sesungguhnya apa yang disisipkan oleh setan kedalam hati manusia itu, akan membuat sesuatu menjadi syubhat (sesuatu yang meragukan), seperti penyakit ragu dan sesat. Begitu hati menjadi lemah karena penyakit yang diidap, maka setanpun mudah merasuk kedalam hati lalu menghidupkan fitnah dalam hati tersebut. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafiq, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di madinah (dari menyakitimu) niscaya kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka. Kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar."[Al-Ahzab:60].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun demikian hati orang-orang yang seperti itu belumlah mati sebagaimana hati orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, akan tetapi bukan pula hati sehat, seperti sehatnya hati orang-orang yang beriman. Sebab di dalam hati mereka terdapat penyakit syubhat dan syahwat. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Sehingga berkeinginanlah orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya."[QS. Al-Ahzab:32].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ciri-ciri Qalbun Maridl&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Boleh jadi hati manusia sedang sakit , bahkan tanpa disadari. Lebih tragis bahwa hatinya sebenarnya mati, namun si empunya tidak menyadari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanda-tanda spesifik hati yang sedang sakit atau mati adalah jika ia tidak merasa sakit dan pedih oleh goresan-goresan pisau kemaksiatan, Hal itu disebabkan karena hatinya telah rancu dan teracuni, sehingga tidak dapat lagi membedakan antara nilai kebenaran dan aqidahnya yang batil. Hal ini seperti ditafsirkan oleh Mujahid dan Qatadah tentang firman Allah yang berbunyi: "Fi Qulubihim Maradhun"[QS.Al-Baqarah:10]. artinya: "Dalam hati mereka terdapat penyakit." “Ayat ini menunjukkan adanya keraguan yang tumbuh dalam hati manusia tentang kebenaran.” Bahkan ia melihat kebenaran bagai sesuatu yang sangat bertentangan dengan kehendaknya. Kebenaran itu dilihat dari sisi lain yang terasa merugikan dirinya. sehingga dalam kondisi seperti ini ia lebih menyukai kebatilan dan kemudharatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Faktor-faktor penyebab sakitnya hati&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyebab timbulnya penyakit di hati adalah dikarenakan banyaknya fitnah yang selalu dibidikkan pada hati. Fitnah-fitnah tersebut dapat berupa: fitnah syahwat, dimana reaksinya amat keras sampai dapat merancukan niat dan iradat (kehendak) seseorang. Dan yang lain adalah fitnah syubhat (keragu-raguan) yang menyebabkan kacaunya persepsi dan i’tiqad (keyakinan).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Racun Hati&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap kemaksiatan adalah racun dan yang merupakan penyakit dan perusak kesucian hati. Dan racun-racun hati yang paling banyak ditemukan dan reaksinya cukup keras bagi kelangsungan hidup hati ada empat macam yaitu:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Berlebihan dalam berbicara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak berbicara adalah salah satu faktor yang menyebabkan hati menjadi keras, sebagaimana sabda rasulullah Shallallohu'alahiwasallam :”Janganlah memperbanyak kata (bicara) selain dzikrullah, karena banyak bicara selain dzikrullah menjadikan hati keras. Dan orang yang terjauh dari Allah adalah yang berhati keras.”[HR. Tirmidzi dari Ibnu Umar]. kemudian juga dengan banyak berbicara terkadang membuat seseorang mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan dan tanpa dipertimbangkan sebelumnya, sehingga melahirkan kerugian dan penyesalan. Umar bin Kahttab ra pernah berkata: “Barang siapa yang banyak bicaranya, maka banyak kesalahannya, sehingga nerakalah sebaik-baik tempat bagi mereka.” Hal ini ditegas juga dalam sebuah hadits , bahwa rasulullah Shallallohu'alahiwasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan yang menyebabkan ia tergelincir kedalam neraka lebih jauh antara timur dan barat.” [muttafaq ‘alaihi, dari Abu Hurairah t]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Berlebihan dalam memandang sesuatu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkan kepada setiap mukmin dan mukminah untuk menundukkan pandangannya yang demikian itu lebih suci bagi hati-hati mereka. Dan juga mereka akan merasakan manisnya iman, sebagaimana sabda rasulullah Shallallohu'alahiwasallam : “Barangsiapa yang menahan pandangannya karena Allah, maka dia akan diberikan oleh Allah rasa manisnya iman yang ia rasakan dalam hatinya, sampai dimana ia manghadap kepada-Nya.” [HR. Ahmad]. Sekarang bagaimana jika perintah itu dilanggar, maka jelas akan menyebabkan fitnah bagi hati pelakunya. yaitu, rusaknya kesucian hati itu sendiri oleh angan-angan dan keindahan semu yang dibisikkan setan, lupa terhadap hal yang menjadi kemaslahatan. Lalu ia berbuat melampaui batas sehingga hilanglah akal sehatnya dan menyebabkan ia menjadi pengabdi hawa nafsu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:”Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas.”[QS. Al-Kahfi:28].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Berlebihan dalam makan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedikit makan dapat melunakkan hati, menajamkan otak, merendahkan nafsu birahi dan melemahkan nafsu amarah. Sedangkan bila banyak makan, bahkan sampai kekenyangan akan berakibat sebaliknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari Miqdam bin Ma’di Karib dia berkata, bahwa ia mendengar rasulullah Shallallohu'alahiwasallam bersabda: “Anak adam tidak memenuhi wadah yang lebih buruk, daripada ia memenuhi perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap saja untuk menguatkan tulang rusuknya. Jika memang tidak memungkinkan, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk nafasnya.”[HR. Ahmad dan Tirmidzi].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alangkah banyak kemaksiatan yang tersulut akibat makan yang berlebihan dan menghalangi ketaatan manusia kepada Sang Khalik. Karenanya siapa yang mampu menjaga perutnya dari sifat serakah, maka ia benar-benar membuktikan bahwa dirinya mampu menjaga diri dari keburukan yang lebih fatal lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibrahim bin Adham berkata:”Barangsiapa mampu mengendalikan perutnya, maka ia mampu pula mengendalikan agamanya, dan barang siapa yang mampu menguasai rasa lapar (tidak makan berlebihan) maka ia dapat menguasai akhlak-akhlak yang baik, sebab maksiat kepada Allah itu jauh dari orang-orang yang lapar (yang mampu syahwat perutnya).”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Berlebihan dalam bergaul&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Betapa tragis suatu pergaulan yang dapat merampas kenikmatan yang telah ada, karenanya timbul benih-benih permusuhan dan kebencian yang terpendam sehingga menyesakkan rongga-rongga dada. Namun rasa itu sulit dihindari terutama oleh hati yang sudah terluka. Demikian juga berlebih-lebihan dalam pergaulan dapat mendatangkan kerugian di dunia dan akhirat. Seyogyanya bagi seorang hamba dapat mengambil hikmah dari setiap pergaulan. usahakanlah untuk bersikap bijak dan dapat menempatkan diri dalam menghadapi berbagai karakter teman sepergaulan. Dimana karakter-karakter tersebut ada empat golongan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- Terhadap orang yang jika kita membutuhkan bergaul dengannya, laksana kebutuhan kita terhadap makanan, kita tidak dapat lepas darinya dalam sehari semalam. Mereka itu adalah Para Ulama yang memiliki cakrawala pengetahuan yang luas tentang ilmu Agama, mengetaui tipu daya setan dan segala macam bentuk penyakit hati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- Terhadap orang yang jika kita bergaul dengannya seperti kebutuhan kita akan obat, Kita mengharapkannya dikala kita sedang sakit saja, tetapi bila badan kembali sehat maka mereka tidak kita butuhkan lagi. mereka ini adalah dari orang yang kehadirannya kita nantikan berkaitan dengan masalah kemaslahatan hidup dan kehidupan, seperti untuk saling bekerjasama atau sebagai mitra kerja dalam berniaga, bertani, bermusyawarah dan masalah-masalah lain dalam hal muamalah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- Terhadap orang yang jika kita bergaul dengannya, tidak ubahnya seperti penyakit. Golongan ini terbagi menjadi beberapa jenis dan tingkatan, bergantung pada intesitasnya terhadap jiwa kita. Diantara mereka adalah yang bersifat individualis dan egoistis. Jika bergaul dengannya hendaklah kita waspada dan berlaku bijak dalam menghadapinya. Hal ini bukan berarti kita harus menghindar dan tidak mau bergaul dengannya, tetapi jagalah jangan sampai diri kita terbawa oleh pengaruh kepribadiannya, karena akan merugikan kita dalam hal agama dan dunia. oleh karena itu sebaiknya orang-orang yang masuk dalam tipe ini hendaklah dujauhi jika ingin selamat agama dan dunia kita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- Terhadap orang yang bila kita bergaul dengannya akan membawa kefatalan, sebab ia laksana ular berbisa. Andaikan kita sampai terkena patuknya, kemudian kita berhasil menemukan penawarnya maka selamatlah kita, tetapi jika tidak, inilah bencana bagi kita. Golongan ini banyak berkeliaran di sekitar kita. Mereka adalah Ahli bid’ah yang sesat dan menyesatkan, menyimpang dari sunnah rasulullah Shallallohu'alahiwasallam. Mereka pandai membolak-balikkan fakta, sunnah mereka jadikan bid’ah dan bid’ah mereka jadikan sunnah. Bagi orang yang berakal tidak layak untuk bergaul ataupun duduk-duduk bersama mereka. Jika itu tetap dilakukan maka akan sakitlah hati bahkan bisa menyebabkan hatinya menjadi mati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kiat Menjadikan Hati Tetap Hidup&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketahuilah, bahwa hati yang hidup (hati yang sehat) hanya akan diperoleh dengan ilmu dan ikhtiar (usaha). Adapun usaha tersebut yang bisa dilakukan untuk menjadikan hati tetap hidup adalah:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Dzikrullah dan Tilawatil Qur'an.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan senantiasa dzikrullah (menyebut dan mengingat Allah) bagi seorang hamba manfaatnya sangatlah besar. Sebagaimana Dia berfirman: "Ingatlah, bahwa hanya dengan selalu mengingat Allah, hati menjadi tentram."[QS. Ar-Ra'du:28]. Al-Imam Syamsuddin Ibnul Qoyyim berkata: ”Sesungguhnya dzikir adalah makanan pokok bagi hati dan ruh, apabila hamba Allah gersang dari siraman dzikir, maka jadilah ia bagaikan tubuh yang terhalang untuk memperoleh makanan pokoknya."Dan Imam Hasan Al-Bashri berkata:"Lunakkanlah hatimu itu dengan berdzikir".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kendatipun dzikrullah adalah salah satu bentuk ibadah yang termudah dan ringan, akan tetapi pahala dan keutamaan yang didapatkan melebihi amalan-amalan lainnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: ”Sesungguhnya mengingat-ingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadat yang lain)."[Qs. Al-Ankabut:45].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebaik-baik dzikir adalah membaca Al-Qur'an, karena Al-Qur'an mengandung berbagai khasiat penyembuh hati dari semua penyakit kegundahan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman; "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman."[QS. Yunus:57].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Beristighfar&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hakikat istighfar adalah untuk memohon maghfirah (ampunan), dan batasan maghfirah adalah penjagaan dari keburukan yang diakibatkan dari dosa-dosa. Dan barangsiapa yang meminta ampun kepada-Nya selama memenuhi syaratnya pasti Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan ampunan. Firman-Nya: "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia meminta ampun kepada Allah niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."[QS. An-Nisa’:110].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hendaklah seseorang itu memperbanyak istighfar kepada-Nya dimanapun berada, sebab seseorang itu tidak tahu dimana tempat maghfirah Tuhannya turun. sebagaimana rasulullah Shallallohu'alahiwasallam bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya aku selalu mohon ampunan kepada Allah sehari semalam lebih dari tuju puluh kali." [HR. Bukhari].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;‘Aisyah � berkata: "Beruntunglah orang yang mendapat dalam buku catatan amal perbuatannya memuat istighfar yang banyak." Qatadah berkata:"Sesunggunhya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepadamu tentang penyakitmu dan obat penangkalnya. Adapun penyakitmu adalah dosa-dosa, sedangkan obatnya adalah istighfar."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Do'a&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku niscaya Aku perkenankan bagimu. "[QS. Al-mukmin:60].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kepada kita agar berdo'a kepada-Nya dan Dia akan memenuhi permohonan hamba-Nya. berkenaan dengan ini rasulullah Shallallohu'alahiwasallam bersabda: "Tidaklah seorang Muslim pun berdo'a dengan do'a yang di dalamnya tidak berisi dosa dan pemutus tali silaturahmi melainkan Allah memberikan kepadanya salah satu dari tiga perkara: Allah akan menyegerakan permohonannya itu (diperoleh di dunia) atau Allah akan menyimpannya untuknya di akhirat kelak, atau Dia memalingkan darinya keburukan yang setimpal dengan do'anya itu."[HR. Ahmad, hadits shahih]. Dalam ayat yang sama Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:" Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (tidak mau berdo'a kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan terhina."[QS. Al-mukmin:60]. Orang-orang yang tidak mau berdo'a kepada-Nya maka mereka yang dikatakan Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah termasuk orang yang sombong, dan mereka mendapatkan murka dari-Nya. sebagaimana rasulullah Shallallohu'alahiwasallam bersabda: "Barang siapa yang tidak mau meminta (memohon kepada Allah), maka Allah murka terhadap-Nya." [HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Bershalawat kepada Nabi Shallallohu'alahiwasallam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala bershalawat (menyebut dan memuji di hadapan para malaikat) sepuluh kali, bagi orang bershalawat kepada rasul-Nya (sekali). Sebagaimana sabda beliau Shallallohu'alahiwasallam : ”Barang siapa yang bershalawat untukku satu kali. Maka Allah akan bershalawat sepuluh kali lipat."[HR. Muslim]. Karena yang demikian itu, setiap satu kebaikan nilainya akan dilipat gandakan sepuluh kalinya, dan bershalawat untuk Nabi Shallallohu'alahiwasallam termasuk kebaikan yang tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Qiyamullail&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika seseorang tetap melakukan shalat malam, maka wajahnya akan bercahaya dan dia juga akan merasakan kenikmatan beribadah dalam hatinya, sebagaimana yang dituturkan oleh para Ulama Salaf berikut ini:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Abu Sulaiman berkata: “Malam hari bagi orang yang sering beribadat di dalamnya, itu lebih nikmat daripada permainan bagi mereka yang suka hidup bersantai-santai. Seandainya tanpa malam aku tak suka hidup di dunia ini.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibnul Mukandir: ”Bagiku kelezatan dunia ini hanya ada pada tiga perkara, qiyamullail, bersilaturahmi dengan ikhwan dan shalat berjama’ah.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maroji’:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tazkiyatun Nufus oleh Dr. Ahmad Farid&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Amraadlul Qulub wa Sifaauha oleh Ibnu Thaimiyah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;sumber: Buletin Dakwah Alhujjah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-216162401000265467?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/216162401000265467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/216162401000265467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/04/macam-macam-hati-dan-kriterianya.html' title='Macam-macam Hati dan Kriterianya'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-4fN3nw9OMGg/TcFguJeC21I/AAAAAAAAADw/dq0lJlGHw88/s72-c/nature_wallpaper.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-3991813635455318055</id><published>2011-04-27T17:45:00.000-07:00</published><updated>2011-05-05T20:35:45.221-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ghibah'/><title type='text'>Mari Belajar Tentang "GHIBAH"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Zv1eNXr6ugM/TcNsNNwLpmI/AAAAAAAAAD0/U9qPix2U6-g/s1600/Puncak+Himalaya+Tibet.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-Zv1eNXr6ugM/TcNsNNwLpmI/AAAAAAAAAD0/U9qPix2U6-g/s200/Puncak+Himalaya+Tibet.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ghibah adalah penyakit hati yang memakan kebaikan, mendatangkan keburukan serta membuang waktu sia-sia. Penyakit ini meluas di masyarakat karena kurangnya pemahaman Agama, kehidupan yang semakin mudah dan banyaknya waktu luang. Kemajuan teknologi, telepon misalnya, juga turut menyebarkan penyakit masyarakat ini. Lebih lanjut, ikuti penjelasan berikut ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hakikat Ghibah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ghibah adalah membicarakan orang lain dengan hal yang tidak disenanginya bila ia mengetahuinya, baik yang disebut-sebut itu kekurangan yang ada pada badan, nasab, ucapan hingga pada pakaian. Menyebut kekurangan pada badan seperti mengatakan ia pendek, hitam, kurus dan lain sebagainya. Atau pada agamanya seperti mengatakan ia pembohong, fasik, munafik dan lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kadang orang tidak sadar kalau ia telah melakukan ghibah, dan saat diperingatkan ia mengatakan: "Yang saya katakan ini benar adanya!", padahal Rasulullah Shallallahu 'alahi wa sallam dengan tegas menyatakan perbuatan tersebut adalah ghibah. Ketika ditanyakan kepada beliau, bagaimana jika yang dikatakan itu benar adanya pada orang yang digunjingkan, beliau menjawab:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Jika yang engkau gunjingkan benar adanya pada orang tersebut, maka engkau telah melakukan ghibah, dan jika yang engkau sebut tidak ada pada orang yang engkau sebut, maka engkau telah melakukan dusta atasnya." (HR. Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ghibah tidak terbatas dengan lisan saja, namun juga bisa terjadi dengan tulisan atau isyarat seperti kerdipan mata, gerakan tangan, cibiran bibir dan sebagainya. Sebab intinya adalah memberitahukan kekurangan seseorang kepada orang lain. Suatu ketika ada seorang wanita datang kepada Aisyah r.a. Ketika wanita itu sudah pergi, Aisyah mengisyaratkan dengan tangannya yang menunjukkan bahwa wanita itu berbadan pendek Rasulullah lantas bersabda: "Engkau telah melakukan ghibah!". Semisal dengan ini adalah gerakan memperagakan orang lain seperti menirukan jalan seseorang, cara berbicaranya dan lain-lain. Bahkan yang demikian ini lebih parah daripada ghibah, karena disamping memberitahu kekurangan orang, juga mengandung tujuan mengejek atau meremehkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak kalah meluasnya adalah ghibah dengan tulisan, karena tulisan adalah lisan ke dua. Media massa sudah tidak segan lagi membuka aib seseorang yang paling rahasia sekalipun. Yang terjadi kemudian sensor perasaan malu masyarakat menurun sampai pada tingkat yang paling rendah. Aib tidak lagi dirasakan sebagai aib yang seharusnya ditutupi, perbuatan dosa menjadi makanan sehari-hari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Macam dan Bentuk Ghibah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ghibah mempunyai berbagai macam dan bentuk, yang paling buruk adalah ghibah yang disertai dengan riya' seperti mengatakan: "Saya berlindung kepada Allah dari perbuatan yang tidak tahu malu semacam ini, semoga Allah menjagaku dari perbuatan itu." Padahal maksudnya mengungkapkan ketidaksenangannya kepada orang lain, namun ia menggunakan ungkapan doa untuk mengutarakan maksudnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kadang orang yang melakukan ghibah dengan cara pujian, seperti mengatakan: "Betapa baik orang itu, namun sayang ia mempunyai perangai seperti yang banyak kita miliki, kurang sabar." Ia juga menyebut dirinya dengan maksud mencela orang lain dan mengisyaratkan dirinya termasuk orang-orang shalih yang selalu menjaga diri dari ghibah. Bentuk ghibah yang lain misalnya mengucapkan: "Saya kasihan terhadap teman kita yang selalu diremehkan ini. Saya berdoa kepada Allah agar dia tidak lagi diremehkan." Ucapan seperti ini bukanlah doa, karena jika ia menginginkan doa untuk nya, tentu dia akan mendoakannya dalam kesendirian dan tidak mengutarakan semacam itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ghibah Yang Diperbolehkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama: Melaporkan perbuatan aniaya. Orang yang teraniaya boleh melaporkan kepada hakim dengan mengatakan ia telah dianiaya oleh seseorang. Pada dasarnya ini adalah perbuatan ghibah, namun karena dimaksudkan untuk tujuan yang benar, maka hal ini dibolehkan dalam agama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedua: Usaha untuk mengubah kemungkaran dan membantu seseorang dari perbuatan maksiat, seperti mengutarakan kepada orang mempunyai kekuasaan untuk mengubah kemungkaran: "Si Fulan telah berbuat yang tidak benar, cegahlah dia!" Maksudnya adalah meminta orang lain untuk mengubah kemungkaran. Jika tidak bermaksud demikian, maka ucapan tadi adalah ghibah yang diharamkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keempat: Untuk memperingati atau menasehati kaum muslimin. Contoh dalam hal ini adalah jarh (menyebut cela perawi hadits) yang dilakukan oleh para ulama hadits. Hal ini diperbolehkan menurut ijma' ulama, bahkan menjadi wajib karena mengandung maslahat bagi umat Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kelima: Bila seseorang berterus terang dengan menunjukkan kefasikan dan kebid'ahan, seperti minuman arak, berjudi dan lain-lain, maka boleh menyebut orang tersebut dengan sifat yang dimaksudkan, namun tidak boleh menyebutkan aib-aib yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keenam: Untuk memberi penjelasan dengan dengan suatu sebutan yang telah masyhur pada diri seseorang. Seperti menyebutkan dengan sebutan di bisu, si pincang dan lainnya. Tapi alangkah baiknya bila menyebutnya dengan julukan yang ia senangi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Taubat dari Ghibah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut ijma' ulama ghibah termasuk dosa besar. Pada dasarnya yang melakukan ghibah telah melakukan dua kejahatan: kejahatan terhadap Allah Ta'ala karena telah melakukan perbuatan yang jelas dilarang olehNya dan kejahatan terhadap hak manusia. Maka langkah pertama yang harus diambil untuk menghindari maksiat ini adalah dengan taubat yang mencangkup tiga syarat, yaitu meninggalkan perbuatan tersebut, menyesali perbuatan yang telah dilakukan, dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya, harus diikuti langkat kedua untuk menebu kejahatannya atas hak manusia, yaitu dengan mendatangi orang yang digunjingnya kemudian meminta maaf atas perbuatannnya dan menunjukkan penyesalannya. Ini dilakukan bila orang yang dibicarakan mengetahui bahwa ia telah dibicarakan. Namun apabila ia belum mengetahui, maka bagi yang melakukan ghibah atasnya hendaknya mendoakannya dengan kebaikan dan berjanji pada dirinya untuk mengulanginya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kiat Menghindari Ghibah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk mengobati kebiasaan ghibah yang merupakan penyakit yang sulit dideteksi dan diobati ini, ada beberapa kiat yang bisa dilaksanakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama: Selalu mengingat bahwa perbuatan ghibah adalah penyebab kemarahan dan kemurkaan Allah serta turunnya azab dariNya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedua: Bahwasanya timbangan kebaikan pelaku ghibah akan pindah kepada orang yang digunjingnya. Jika ia tidak sama sekali mempunyai kebaikan sama sekali, maka diambil dari timbangan kejahatan orang yang digunjingnya dan ditambahkan kepada timbangan kejahatannya. Jika mengingat hal ini selalu, niscaya seseorang akan berfikir seribu kali untuk melakukan perbuatan ghibah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketiga: Hendaknya orang yang melakukan perbuatan ghibah mengingat dulu aib dirinya sendiri dan segera berusaha memperbaikinya. Dengan demikian akan timbul perasaan malu pada diri sendiri bila membuka aib orang lain, sementara dirinya sendiri masih mempunyai aib.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keempat: Jika aib orang yang hendak digunjingnya tidak ada pada dirinya sendiri, hendaknya ia segera bersyukur kepada Allah karena Dia telah menghindarkannya dari aib tersebut, bukannya malah mengotori dirinya dengan aib yang lebih besar yang berupa perbuatan ghibah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kelima: Selalu ingat bila ia membicarakan saudaranya, maka ia seperti makan bangkai saudaranya, sebagaimana yang difirmankan Allah: "Dan janganlah sebagian kamu menggunjingkan sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?" (Al-Hujurat: 12).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keenam: Hukumnya wajib mengingatkan orang sedang melakukan ghibah, bahwa perbuatan tersebut hukumnya haram dan dimurkai Allah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketujuh: Selalu mengingat ayat-ayat Allah dan hadits-hadits yang melarang ghibah dan selalu menjaga lisa agar tidak terjadi ghibah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mudah-mudahan Allah menjauhkan kita dari perbuatan yang tidak terpuji ini, amin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Abdul Malik bin Muhammad Al Qasim &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-3991813635455318055?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/3991813635455318055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/3991813635455318055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/04/mari-belajar-tentang-ghibah.html' title='Mari Belajar Tentang &quot;GHIBAH&quot;'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Zv1eNXr6ugM/TcNsNNwLpmI/AAAAAAAAAD0/U9qPix2U6-g/s72-c/Puncak+Himalaya+Tibet.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-4018171029748924556</id><published>2011-04-25T21:13:00.000-07:00</published><updated>2011-04-25T21:18:26.966-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tauhid'/><title type='text'>PEMBAGIAN TAUHID dan Penyimpangan-Penyimpangannya</title><content type='html'>Para pembaca semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah baik dari kalangan salaf maupun khalaf setelah meneliti dalil-dalil baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah tentang Tauhid mereka menyimpulkan bahwa Tauhid itu dibagi menjadi tiga, yaitu Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Al-Asma’ Wa Ash Shifat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara Pernyataan Ulama Salaf Tentang Pembagian Tauhid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al-Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath-Thahawi rahimahullah (wafat tahun 321 H).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam salah satu karya monumentalnya, Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah, Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi menegaskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita katakan tentang tauhidullah dalam keadaan meyakini dengan taufiq Allah, bahwa sesungguhnya Allah adalah Esa tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada sesuatupun yang semisal dengan-Nya, tidak ada sesuatupun yang bisa mengalahkannya, tidak ada ilah selain Dia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan tentang pernyataan Al-Imam  Ath-Thahawi rahimahullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah adalah Esa tidak ada sekutu bagi-Nya” meliputi tiga jenis tauhid sekaligus, karena Allah Esa dalam Rububiyyah-Nya, dalam Uluhiyyah, dan dalam Al-Asma wa Ash-Shifat -Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada sesuatupun yang semisal dengan-Nya” ini adalah Tauhid Al-Asma` wa Ash-Shifat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada sesuatupun yang bisa mengalahkannya“, ini adalah Tauhid Ar-Rububiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada ilah selain Dia” ini adalah Tauhid Al-Uluhiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Al-Imam ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah Al-’Ukbari rahimahullah (wafat tahun 387 H) dalam karya besarnya yang berjudu l-Ibanatul Kubra, beliau mengatakan: “Bahwa dasar iman kepada Allah yang wajib atas makhluk (manusia dan jin) untuk meyakininya dalam menetapkan keimanan kepada-Nya, ada tiga hal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Seorang hamba harus meyakini Rububiyyah-Nya, yang dengan itu dia menjadi berbeda dengan atheis yang tidak menetapkan adanya pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Seorang hamba harus meyakini Wahdaniyyah-Nya, yang dengan itu dia menjadi berbeda dengan jalannya orang-orang musyrik yang mengakui sang Pencipta namun menyekutukan-Nya dengan beribadah kepada selain-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Meyakini bahwa Dia bersifat dengan sifat-sifat yang Dia harus bersifat dengannya, berupa sifat Ilmu, Qudrah, Hikmah, dan semua sifat yang Dia menyifati diri-Nya dalam kitab-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan Tentang Makna Tiga Macam Tauhid tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tauhid Ar-Rububiyyah, adalah keyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla adalah satu-satunya Rabb. Makna Rabb adalah Dzat yang Maha Menciptakan, yang Maha Memiliki dan Menguasai, serta Maha Mengatur seluruh ciptaan-Nya.  Ayat-ayat yang menunjukkan tauhid Ar-Rububiyyah sangat banyak, di antaranya (artinya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Rabb kalian hanyalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia beristiwa` di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, hak mencipta dan memerintah hanyalah milik Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam. [Al-A’raf: 54]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum musyrikin Quraisy juga mengakui Tauhid Rububiyyah berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla (artinya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” [Al-’Ankabut: 61]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat diatas bisa disimpulkan bahwa kaum musyrikin mengakui bahwa hanya Allah-lah satu-satunya Yang Maha Menciptakan, Maha Mengatur, dan Maha Memberi Rizki. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 6/294)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyimpangan Dalam Tauhid Rububiyyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyimpangan dalam tauhid rububiyyah yaitu dengan meyakini adanya yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta ini selain Allah Azza wa Jalla dalam hal yang hanya dimampui oleh Allah Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti keyakinan bahwa penguasa dan pengatur Laut Selatan adalah Nyi Roro Kidul. Ini suatu keyakinan yang bathil. Barangsiapa meyakini bahwa penguasa dan pengatur laut selatan adalah Nyi Roro Kidul maka dia telah berbuat syirik (menyekutukan Allah Azza wa Jalla) dalam Rububiyyah-Nya. Karena hanya Allah-lah Yang Menguasai dan Mengatur alam semesta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga barangsiapa meyakini bahwa yang mengatur padi-padian adalah Dewi Sri, berarti ia telah syirik dalam hal Rububiyyah-Nya, karena hanya Allah-lah Yang Maha Menciptakan dan Mengatur alam semesta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meyakini bahwa benda tertentu bisa memberi perlindungan dan pertolongan terhadap dirinya seperti jimat, keris, cincin, batu, pohon, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serta keyakinan bahwa sebagian para wali bisa memberi rizki, dan bisa pula memberi barokah, juga termasuk kesyirikan dalam Rububiyyah-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tauhid Al-Uluhiyyah, adalah keyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla adalah satu-satu-Nya Dzat yang berhak diibadahi dengan penuh ketundukan, pengagungan, dan kecintaan. Dinamakan juga dengan Tauhidul ‘Ibadah atau Tauhidul ‘Ubudiyyah, karena hamba wajib memurnikan ibadahnya hanya kepada Allah Azza wa Jalla semata. Ayat-ayat Al-Qur`an yang menunjukkan tauhid jenis ini sangat banyak, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah.” [Muhammad: 19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga firman Allah Azza wa Jalla:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beribadahlah kalian hanya kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” [An-Nisa`: 36]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabbul ‘Alamin adalah satu-satu-Nya Dzat yang berhak dan pantas untuk diibadahi. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla memerintahkan umat manusia untuk beribadah hanya kepada-Nya, karena Dia adalah Rabb. Termasuk juga Allah Azza wa Jalla memerintahkan kepada kaum musyrikin arab, yang mengakui bahwa Allah Azza wa Jalla sebagai Rabb satu-satunya, untuk mereka beribadah hanya kepada-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai umat manusia, beribadahlah kalian kepada Rabb kalian.” [Al-Baqarah: 21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyimpangan-penyimpangan dalam tauhid uluhiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyimpangan dalam tauhid jenis ini yaitu dengan memalingkan ibadah kepada selain Allah Azza wa Jalla seperti berdoa kepada kuburan atau ahli kubur, meminta pertolongan kepada jin, meminta barokah kepada orang tertentu, menyandarkan nasibnya (bertawakkal) kepada benda tertentu, seperti batu, jimat, cincin, keris, dan semacamnya. Karena do’a dan tawakkal termasuk ibadah, maka harus ditujukan hanya kepada Allah Azza wa Jalla semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tauhid Al-Asma` wa Ash-Shifat, adalah keyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla memiliki nama-nama yang indah (al-asma`ul husna) dan sifat-sifat yang mulia sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya, sebagaimana yang Allah Azza wa Jalla beritakan dalam Al-Qur`an, atau sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah r dalam hadits-haditsnya yang shahih. Sekaligus meyakini dan beriman bahwa tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara sekian banyak ayat Al-Qur`an yang menunjukkan tauhid ini, firman Allah Azza wa Jalla:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya milik Allah al-asma`ul husna, maka berdo’alah kalian kepada-Nya dengan menyebutnya (al-asma`ul husna) dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (mengimani) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” [Al-A’raf: 180]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Asy Syura: 11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyimpangan dalam tauhid Al-Asma’ wa Ash Shifat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tidak meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla mempunyai sifat-sifat yang sempurna tersebut. Padahal telah disebutkan dalam Al-Qur’an atau dalam hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam yang shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-       Menyerupakan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Padahal Allah Azza wa Jalla telah berfiman (artinya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Asy Syura: 11].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-       Menyelewengkan atau menta’wil makna Al-Asma’ul Husna, yang berujung pada peniadaan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-     Menentukan cara dari sifat-sifat Allah Azza wa Jalla, yang bermuara pada penyerupaan dengan makhluk-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=506" target=_blank"&gt;sumber&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-4018171029748924556?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/4018171029748924556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/4018171029748924556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/04/pembagian-tauhid-dan-penyimpangan.html' title='PEMBAGIAN TAUHID dan Penyimpangan-Penyimpangannya'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-4758239511773026091</id><published>2011-04-22T17:57:00.000-07:00</published><updated>2011-04-23T05:33:40.955-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><title type='text'>Download Ebook dan Ceramah Islam</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Ebook Islam &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.islamhouse.com%2ffiles%2fid%2fih_books%2fsingle%2fid_the_book_of_tawheed.pdf&amp;amp;rct=j&amp;amp;q=kitab%20tauhid%20download&amp;amp;ei=qswytcwlmyppraepplnidq&amp;amp;usg=afqjcnfc447a9ygo6t0enfofhre6beathg&amp;amp;sig2=kergrjrk0ni-rjyubwf-9q&amp;amp;cad=rja/" target="_blank&amp;quot;"&gt;Kitab Tauhid&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.islamhouse.com/d/files/id/ih_articles/id_haqeh_of_sairk.pdf" target="_blank&amp;quot;"&gt;Hakikat Syirik dan Macam-Macamnya&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.islamhouse.com/d/files/id/ih_books/single/id_Meniti_Jalan_Menuju_Tauhid.pdf" target="_blank&amp;quot;"&gt;Meniti Jalan Tauhid &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.islamhouse.com/d/files/id/ih_books/single/id_Pandangan_Ulama_Syafiyah_Tentang_Syirik.pdf" target="_blank&amp;quot;"&gt;Pandangan Ulama Syafi'iyah Terhadap Syirik&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.islamhouse.com/d/files/id/ih_books/chain/Summary_of_the_Islamic_Fiqh_Tuwajre/id_01_summary_of_the_islamic_fiqh_tuwajre.pdf" target="_blank&amp;quot;"&gt;Tauhid dan Keimanan&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.islamhouse.com/d/files/id/ih_books/single/id_montheism_first.zip" target="_blank&amp;quot;"&gt;Tauhid Prioritas Pertama dan Utama &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.islamhouse.com/d/files/id/ih_books/single/id_Tauhid_01.pdf" target="_blank&amp;quot;"&gt;Pelajaran Tauhid&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.islamhouse.com/d/files/id/ih_books/single/id_Hal_Hal_Yang_Merusak_Aqidah.pdf"&gt;Hal-hal yang Merusak Aqidah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.islamhouse.com/d/files/id/ih_books/single/id_fundament_als_of_the_belief_of_ahlu_alsunnah_and_aljamah.pdf"&gt;Prinsip-prinsip Aqidah Ahlussunnah&amp;nbsp;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/get/lXWEDGMf/Meraih_Kemuliaan_Melalui_Jihad.html" target="_blank&amp;quot;"&gt;Jihad Bukan Kenistaan&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-4758239511773026091?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/4758239511773026091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/4758239511773026091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/04/download-ebook-dan-ceramah-islam.html' title='Download Ebook dan Ceramah Islam'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-2792360987176673327</id><published>2011-04-22T07:09:00.000-07:00</published><updated>2011-04-22T07:29:52.112-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerimin hati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='futur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='istiqomah'/><title type='text'>Dikala Keistiqomahan Mulai Luntur</title><content type='html'>Sesungguhnya fenomena berpaling dari komitmen pada agama ini sungguh  telah menyebar di kalangan kaum muslimin. Berapa banyak manusia mengeluh  akan kerasnya hati setelah sebelumnya tentram dengan berdzikir pada  Allah, dan taat kepada-Nya. Dan berapa banyak dari orang-orang yang dulu  beriltizam (komitmen pada agama) berkata, “Tidak aku temukan lezatnya  ibadah sebagaimana dulu aku merasakannya”, yang lain bekata, “Bacaan  al-qur’an tidak membekas dalam jiwaku”, dan yang lain juga berkata, “Aku  jatuh ke dalam kemaksiatan dengan mudah”, padahal dulu ia takut berbuat  maksiat.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7007675374207478812&amp;amp;postID=2792360987176673327" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dampak penyakit ini nampak pada mereka, diantara ciri-cirinya adalah :&lt;br /&gt;1. Mudah terjatuh dan terjerumus dalam kemaksiatan dan hal-hal yang  diharamkan (Allah), bahkan dia terus melakukannya padahal dahulu dia  sangat takut terjerumus kedalamnya.&lt;br /&gt;2. Merasakan kerasnya hati, nasehat tentang kematian tidak berbekas  sama sekali dalam hatinya, demikian juga melihat jenazah dan kuburan.&lt;br /&gt;3. Tidak mantap dalam beribadah, sehingga anda (akan mendapati orang  seperti ini) tidak menemukan “kelezatan” dalam menunaikan sholat,  membaca al-Qur’an, dan lainnya, serta malas (melakukan) ketaatan dan  ibadah, bahkan mengabaikannya dengan mudah, padahal ia dulu giat serta  bersemangat melakukannya.&lt;br /&gt;4. Lalai dari berdzikir kepada Allah, serta tidak menjaga lagi  dzikir-dzikir syar’iyah (seperti dzikir pagi dan petang, pent) padahal  dulu ia giat dan bersemangat melakukannya.&lt;br /&gt;5. Memandang rendah kebaikan dan tidak perhatian kepada amal  kebajikan yang mudah dilakukan padahal dulu dia orang yang paling teguh  dan rajin.&lt;br /&gt;6. Selalu dibayangi oleh rasa takut pada waktu tertimpa musibah atau  problematika, padahal dulu ia tegar serta teguh imannya kepada takdir  Allah.&lt;br /&gt;7. Hatinya cenderung kepada dunia dan sangat mencintainya hingga ia  akan merasa sangat sedih sekali jika ada sesuatu dalam kehidupan dunia  ini yang luput darinya, padahal dulu ia sangat terikat kepada akhirat  dan kepada kenikmatan yang ada di dalamnya, Allah Ta’ala telah berfirman  :&lt;br /&gt;“Tetapi kalian memilih kehidupan dunia, sedang kehidupan  akherat adalah lebih baik dan lebih kekal.” ( al-A’la : 16-17 )&lt;br /&gt;8. Terlalu berlebihan dalam memperhatikan kehidupan dunianya baik  dalam masalah makan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan kendaraan,  padahal dulu ia lebih mengutamakan untuk mempercantik akhlaqnya dan  untuk komitmen serta berpegang teguh pada agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi sebenarnya dampak penyakit ini. Dan sungguh Nabi  –shollallahu alaihi wa sallam- telah berlindung dari al-Haur ba’da al  Kaur. Dari ‘Abdullah bin Sarjas –radhiallahu anhu- ia berkata,&lt;br /&gt;“Rasulullah –shollallahu alaihi wa sallam- jika bepergian berlindung  dari kesukaran perjalanan, kesedihan saat kembali dan dari al-Haur ba’da  al Kaur (lemah/malas dalam beribadah setelah dulunya semangat/rajin).”&lt;br /&gt;Dalam riwayat at-Tirmidzi :&lt;br /&gt;“… dan dari al haur ba’da al kaun..”.&lt;br /&gt;Berkata Nawawi, “Kedua hadits ini adalah hadits yang disebutkan oleh  para ahli hadist, ahli bahasa dan ahli gharibul hadits/lafadh asing  dalam hadits.” (Syarh Muslim 9/119)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu  apakah makna al-Haur ba’da al-Kaur? &lt;br /&gt;Ibnul Faris berkata : “al-Haur” artinya adalah : kembali, Allah- azza wa jalla- berfirman :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya ia menyangka bahwa ia sekali-kali tidak akan kembali, tetapi tidak…” (al-Insyqaaq : 14)&lt;br /&gt;Orang Arab  berkata :&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Maknanya kebatilan itu kembali dan berkurang. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Jika dikatakan :&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Kami berlindung kepada Allah dari al haur.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna al-Haur adalah berkurang setelah bertambah. (Mu’jamu Maqayis al-Lughah 2/117)&lt;br /&gt;Ibnu Mandzur menjelaskan dalam “Lisanul ‘Arob” (4/217), ia berkata :  “Dan dalam hadits :&lt;br /&gt;“Kami berlindung kepada Allah –azza wa jalla- dari al Haur setelah al Kaur”&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Maknanya adalah dari berkurang setelah bertambah, atau dari kerusakan urusan kami setelah kebaikan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At-Tirmidzi menafsirkan dengan perkataannya : “Dan makna perkataannya  : ‘al-Haur ba’da al-Kaun atau al-Kaur, kedua kata itu (al-Kaun dan  al-Kaur) mempunyai satu arti, yaitu kembali/berpaling dari keimanan  menuju kekafiran, dari ketaatan menuju kemaksiatan.’” (Sunan at-Tirmidzi  498/5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, makna al Haur ba’da al Kaur adalah perubahan keadaan  manusia dari iman kepada kekafiran, atau dari takwa dan kebaikan kepada  perbuatan rusak dan buruk, atau dari hidayah kepada kesesatan. Dan dalam  hal ini manusia berbeda-beda tingkatannya, maka jika seseorang  mundur/berpaling ke belakang dikhawatirkan ia menutup akhir kehidupannya  dengan hal yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan satu hal yang telah diketahui bahwa amal-amal (seseorang) dilihat  pada akhir kehidupannya, dari Sahl bin Sa’ad –radhiallahu anhu-, bahwa  Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- bersabda :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya seorang laki-laki dulunya beramal dengan amal penghuni  neraka, dan sesungguhnya ia adalah penghuni surga, dan ia dulu  mengerjakan amalan penghuni surga, padahal ia adalah penghuni neraka,  sesungguhnya amal-amal itu (tergantung) pada akhirnya.” (HR. al-Bukhari  6607)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah –radhiallohu anhu- bahwa Rasulullah –shollallahu alaihi wa sallam- berkata :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya ada seseorang yang dia beramal dengan amalan penghuni  surga dalam jangka waktu yang lama tapi diakhir hayatnya dia melakukan  perbuatan penghuni neraka dan ada juga orang yang dahulunya berbuat  perbuatan penghuni neraka tapi dia akhiri hidupnya dengan perbuatan  penghuni surga.” (HR. Muslim 2651 dan Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nash-nash hadits diatas dan selainnya menerangkan kepada kita bahwa  yang paling menentukan amal seseorang itu bukan dari apa yang  dilakukannya semasa hidupnya tetapi dalam keadaan bagaimana ia  mengakhiri hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu pembahasan masalah ini sangat penting sekali, jangan  sampai ada seseorang diantara kita yang mengira ia telah sukses melalui  jembatan dan sampai di daratannya dengan aman disebabkan komitmennya  terhadap agama, serta selamat dari kesesatan dan dari al Haur ba’dal  Kaur.&lt;br /&gt;Keteguhan/kekokohan hanya dari Allah –azza wa jalla- semata. Allah  –azza wa jalla- menguatkan/meneguhkan nabi-Nya, Dia berfirman :&lt;br /&gt;“Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka”. (al-Isra’ : 74)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu Rasulullah –shollallahu alaihi wa sallam- mengajarkan  kepada kita agar kita memohon pertolongan kepada Allah –azza wa jalla-  agar Dia mengokohkan kita diatas agama Islam, beliau –shollallahu alaihi  wa sallam- bersabda :&lt;br /&gt;“ Wahai yang meneguhkan hati, teguhkanlah hati kami diatas agama-Mu” (HR.  Ahmad dan Ibnu Majah)&lt;br /&gt;Dan sering kali beliau –shollallahu alaihi wa sallam- berkata tatkala bersumpah :&lt;br /&gt;“Tidak, demi Dzat Yang Membolak-balikkan hati.” (HR al-Bukhari 7391)&lt;br /&gt;Diantara  doa  Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami untuk taat kepadamu . (HR Muslim 2654)&lt;br /&gt;Seorang yang beriman harus berusaha memeriksa hatinya dan mengetahui  penyakit serta penyebab sakit hatinya, dan berusaha untuk mengobatinya  sebelum hatinya menjadi keras dan akhir hidupnya menjadi jelek. Maka apa  penyebab al-Haur ba’dal Kaur ? dan apa obatnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab-sebab al-Haur ba’dal Kaur adalah :&lt;br /&gt;1. Lemah Iman.&lt;br /&gt;Lemah iman adalah penyebab kerasnya hati, mudah jatuh dalam kemaksiatan  dan malas dari ketaatan, tidak mendapatkan pengaruh dari (membaca)  al-Qur’an dan shalat. Lemah iman juga mengurangi rasa takut dia kepada  Allah –azza wa jalla-. Lemah iman juga penyebab banyaknya terlibat debat  dan berbantah-bantahan, tidak adanya perasaan merasa bertanggung jawab  kepada Allah –azza wa jalla- dan beberapa fenomena lainnya. Hal ini juga  disebabkan sikap menjauh dari teman yang shalih serta majelis ilmu, dan  tersibukkan dengan urusan-urusan dunia serta panjang angan-angan, dan  terjerumus dalam hal-hal yang di haramkan. Maka apabila iman seseorang  lemah, maka berubahlah keadaannya, dari hal yang baik &amp;amp; istiqamah  menjadi tersesat dan berpaling. Maka suatu keharusan (bagi seorang  muslim yang merasakan lemahnya iman) untuk mengobatinya. Caranya adalah  dengan ikhlas (kepada Allah) dan membaca serta merenungkan al-Qur’an  kemudian takut kepada (siksaan) Allah  dan bertaubat dari dosa,  kemaksiatan, takut terhadap akhir kesudahan yang buruk serta mengingat  mati dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jauh Dari Suasana Yang Penuh Dengan Keimanan.&lt;br /&gt;Seperti majelis ilmu, masjid, al-Qur’an, teman yang shalih, shalat  malam, dzikir dan lainnya. Jauh dari suasana yang penuh keimanan ini  akibatnya adalah berbalik kebelakang (kembali kepada kemaksiatan).&lt;br /&gt;Maka apabila seseorang jauh dari temannya yang shalih dalam waktu  yang lama lantaran bepergian jauh atau suatu tugas atau semisalnya ia  akan kehilangan suasana yang penuh keimanan yang mengakibatkan lemahnya  iman dan tidak iltizam lagi, apabila ia tidak segera memperbaiki  jiwanya. Berkata al-Hasan al-Basri : ” Teman-teman kita lebih mahal  (nilainya) dibanding dengan keluarga kita, (hal ini disebabkan) karena  keluarga kita hanya mengingatkan kita kepada dunia, sedangkan  teman-teman kita mengingatkan kita kepada akhirat”.&lt;br /&gt;Maka selayaknya seorang muslim menjaga komitmennya terhadap agama  dengan cara bersungguh-sungguh dan berusaha menjumpai lingkungan yang  penuh keimanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pengaruh Lingkungan (Yang Jelek)&lt;br /&gt;Jika seorang yang beriltizam berada ditengah lingkungan jelek, yaitu ia  hidup bercampur dengan manusia yang bangga dengan kemaksiatan yang  dilakukannya dan asyik berdendang dengan lagu-lagu &amp;amp; nyayian,  merokok, membaca majalah, lidahnya menggunjing &amp;amp; mencela orang yang  beriman, dan apabila ia menghadiri suatu majlis undangan atau acara  pernikahan (dikalangan mereka), didapatinya kemungkaran,  pembicaraan-pembicaraan mengenai perdagangan, jabatan, harta serta  masalah-masalah dunia yang mengakibatkan terjatuhnya hati dalam cinta  yang mendalam pada dunia, jika demikian keadaannya maka hati berubah  menjadi keras, dan akhirnya berbalik dari komitmen terhadap agama dan  kebaikan kepada cinta dunia dan kemaksiatan. Dan apabila ia diuji dengan  harta, dengan istri yang lemah imannya atau anak-anak yang sama dengan  ibunya dia tidak mampu teguh bahkan mundur dan meninggalkan kebaikan dan  keistiqomahan. Jika dia berkumpul dengan keluarga, tetangga dan  teman-temannya yang jelek, mendengar kata-kata yang menyakitkan, ejekan,  dan mendapatkan nasehat-nasehat yang menghalanginya untuk beriltizam,  maka akibatnya ia mundur dari beriltizam dan berbalik hingga merugi di  dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Lemah Dalam Pendidikan Yang Benar (Sesuai Agama).&lt;br /&gt;Jika seorang muslim tidak menjaga dirinya dengan pemeliharaan,  pendidikan dan perjuangan, ia akan mundur dan berbalik. Maka ia harus  meluangkan waktunya sesaat untuk bertaqarrub/mendekatkan diri kepada  Allah, menginstropeksi dirinya, mohon ampun dan bertaubat. Dan ia harus  meluangkan waktu untuk mendapatkan ilmu agama, mempelajarinya,  membacanya dan mengulangi pelajarannya. Dan ia harus meluangkan waktunya  sesaat untuk berdakwah, sesaat untuk berdzikir dan membaca al-Qur’an,  hingga ia dapat menjaga amalannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  Memandang Remeh Dosa-Dosa Dan Perbuatan Maksiat.&lt;br /&gt;Abdullah bin Mubarak berkata :&lt;br /&gt;Aku melihat dosa-dosa itu mematikan hati,&lt;br /&gt;Mengerjakannya terus-menerus menimbulkan kehinaan&lt;br /&gt;Adapun meninggalkan dosa adalah kehidupan bagi hati&lt;br /&gt;Dan mendurhakai dosa adalah baik bagi jiwamu&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim –rahimahullah- berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya diantara dampak negatif dosa adalah melemahkan  perjalanan hati (seseorang) menuju negeri akhirat atau menghalanginya  atau memutuskannya dari perjalanan itu. Dan kadang kala dosa juga bisa  memutar balikkannya ke arah belakang (maksiat dan kekufuran). Hati itu  akan berjalan menuju Allah dengan kekuatannya, jika hati itu sakit  lantaran dosa-dosa lemahlah kekuatan yang menjalankannya”. (al-Jawabul  Kahfi hal 140)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meremehkan dosa-dosa akan berdampak buruk bagi seseorang, diantaranya  menyebabkan bertambahnya dosa, menjauhkan seseorang dari jalan taubat,  dan mengajak untuk tidak menjauh dari pelaku dosa. Lalu ia akan asyik  bersahabat dan duduk bersama mereka (para pelaku dosa dan maksiat).  Bahkan dosa-dosa tersebut mengajaknya untuk menjauh dari orang shalih  dan bertaqwa. Dan ini adalah penyebab utama seseorang tidak istiqomah di  atas jalan yang lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tertipu Dan Kagum Terhadap Diri Sendiri&lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi bahwa menghadiri majelis ilmu dan berteman dengan  orang shalih menunjukkan bahwa pada diri orang tersebut terdapat  kebaikan, akan tetapi jika telah masuk perasaan tertipu dan bangga  terhadap diri sendiri maka hal ini akan memberi pengaruh jelek terhadap  pelakunya. Jika sudah demikian, ia akan merasa telah sempurna dan tidak  merasa butuh berbuat kebaikan dan beramal shalih lagi. Dan jika  seseorang telah kagum terhadap dirinya sendiri maka akan hilang dari  dirinya perasaan takut terhadap akhir kesudahan yang jelek dan ia akan  merasa aman terhadap kesesatan setelah mendapatkan petunjuk. Hal ini  merupakan tanda lemahnya hati dan penyebab seseorang itu mundur  kebelakang tidak istiqamah lagi. Jika seseorang kagum terhadap dirinya  ia akan tersibukkan dengan mencari aib-aib orang lain dan menyepelekan  untuk memperbaiki aib dalam dirinya. &lt;br /&gt;Maka seseorang harus mengobati jiwanya dengan membuang rasa bangga  terhadap diri sendiri kemudian bersikap tawadhu’, takut serta  memperbaiki aibnya dan bertaubat kepada Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Berteman Dengan Orang-Orang Jahat&lt;br /&gt;Seorang teman mempunyai peranan penting dalam membentuk serta  mempengaruhi kepribadian sahabatnya. Jika seorang teman melihat  film-film dan majalah-majalah yang memberikan mudharat/bahaya (bagi  agamanya), mendengarkan lagu-lagu dan musik, maka ia akan mempengaruhi  sahabatnya. Dan terkadang hal-hal yang dilakukan temannya menyelisihi  syariat agama tapi ia berbasa-basi dan tidak mengingkarinya, terkadang  ia melihat temannya tidak taat beribadah dan meninggalkan sunnah-sunnah  nabi, maka ia pun terpengaruh dan meninggalkan keistiqamahannya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu seseorang harus memilih teman yang shalih yang  membantunya untuk taat kepada Allah, dalam hadits yang shahih disebutkan  bahwa :&lt;br /&gt;“Seseorang itu mengikuti agama temannya, maka hendaknya seseorang melihat siapa temannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Ada sebab-sebab lainnya yang menyebabkan seseorang meninggalkan keistiqomahan, diantaranya :&lt;br /&gt;- lemahnya kesungguhan dalam berpegang teguh (terhadap agama) dan tidak  sabar atas kesulitan-kesulitan dan musibah yang menimpanya.&lt;br /&gt;- Panjang angan-angan, berlebih-lebihan dalam menerapkan hukum agama terhadap dirinya diluar batas kemampuan (ekstrim).&lt;br /&gt;- Penyakit-penyakit hati dan lisan yang menimpanya.&lt;br /&gt;- Kepribadian yang lemah dan sikap selalu mengekor kepada orang lain.&lt;br /&gt;- Kegagalan-kegagalan yang menimpa pada masa lalu dan dia sulit keluar darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Bagaimana Cara Penyembuhannya?&lt;br /&gt;Disaat kita menyebutkan hal-hal yang menyebabkan ketidak istiqamahan, kita juga menemukan cara-cara untuk mengobatinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemah iman obatnya adalah menguatkan keimanan. Penyakit menjauhi dari  lingkungan yang penuh dengan suasana keimanan obatnya adalah mencari dan  menjaga serta meningkatkan lingkungan yang penuh dengan suasana  keimanan. Penyakit yang disebabkab oleh lingkungan (yang jelek) obatnya  adalah sabar serta menambah keistiqamahan dan bersandar kepada Allah.  Lemah dalam pendidikan yang benar obatnya adalah bersungguh-sungguh  dalam mencari pendidikan yang benar sesuai dengan agama dan mengatur  waktu serta bersungguh-sungguh memperbaiki jiwa. Dosa-dosa dan maksiat  obatnya adalah taubat dan mohon ampun dan tidak meremehkan dosa-dosa  tersebut. Adapun penyakit hati dan lisan yang mengakibatkan perbuatan  jelek maka obatnya adalah membebaskan diri darinya dan dengan bertaubat  yang benar. Adapun teman yang jelek maka obatnya adalah memilih teman  yang baik dan shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapula Cara Lainnya Untuk Mengobati Sikap Tidak Istiqamah&lt;br /&gt;1. Ikhlas dan jujur kepada Allah, hal ini adalah sebab terpenting untuk istiqamah dan menjadi baik :&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya yang mendapatkan kesulitan dalam meninggalkan maksiat yang  disukainya dan yang sering dilakukannya adalah seseorang yang  meninggalkannya bukan karena Allah. Adapun seseorang yang meninggalkan  hal tersebut dengan jujur, ikhlas dari hatinya karena Allah, ia hanya  merasakan kesulitan di awal kali ia meninggalkannya. Ini semua untuk  mengujinya, apakah ia jujur dalam meninggalkannya ataukah hanya  berdusta, jika ia sabar dalam menghadapi kesulitan ini sebentar saja, ia  akan memperoleh kelezatannya”. (Al-Fawaid : 99)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Takut kepada akhir kesudahan/kematian yang jelek (su’ul khatimah)&lt;br /&gt;Seorang yang beriman dan jujur harus takut dari akhir kesudahan yang  buruk, dan waspada dari penyebabnya. Allah –subhanahu wa ta’ala-  berfirman :&lt;br /&gt;“(Ya Allah) wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang salih”. (Yusuf : 101)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam Sufyan ats-Tsauri –rahmahullah- menangis hingga subuh, tatkala ia ditanya, ia menjawab :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya aku menangis karena takut su’ul khatimah / mati dalam  keadaan beramal buruk”. (Kitabul aqibah, karya Abdul Haq al-Isbaili 178)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam al-Barbahari –rahimahullah- berkata :&lt;br /&gt;Dan ketahuilah, bahwa sepatutnya seseorang ditemani perasaan takut  selamanya, karena ia tidak mengetahui mati dalam keadaan bagaimana,  dengan amalan apa ia mengakhiri hidupnya, dan bagaimana ia bertemu Allah  nantinya sekalipun ia telah mengamalkan segala amal kebaikan. (Syarhu  Sunnah 39)&lt;br /&gt;Rasa takut dari akhir kesudahan yang buruk memiliki banyak dampak  positif. Perasaan ini akan mendorong seseorang untuk berserah diri  kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- serta menghadap kepada-Nya dengan  selalu berdoa kepada-Nya. Perasaan takut ini akan mengajaknya untuk  bersungguh-sungguh dalam ketaatan dan menambah sikap istiqamah dan  kebaikan, dan takut dari berbalik mundur kebelakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berdoa&lt;br /&gt;Berdo’a kepada Allah agar melindungi kita dari “al-haur badal kaur”. Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- berdo’a :&lt;br /&gt;“Dan kami berlindung dari al-haur badal kaur” (HR Ahmad dan Muslim 1343, Tirmidzi, Nasai dan lainnya)&lt;br /&gt;Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- juga banyak berdoa :&lt;br /&gt;“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati kokohkanlah hatiku diatas agama-Mu” (HR Tirmidzi)&lt;br /&gt;Kita juga diperintah untuk memohon kepada Allah –subhanahu wa taala-  agar Dia memperbaharui keimanan dalam hati kita, Rasulullah –shollallahu  alaihi wa sallam-bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya iman dapat menjadi usang dalam rongga (hati) kalian,  sebagaimana baju dapat menjadi usang, maka mintalah kepada Allah agar  Dia memperbaharui keimanan dalam hati kalian”. (HR Hakim, terdapat juga  dalam as-silsilah as-Shahihah karya al-Albani no 1585), maka hendaknya  kita memperbanyak berdoa kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kontinyu dalam beramal shalih dan memperbanyak amal shalih.&lt;br /&gt;Sesungguhnya amal shalih yang dilakukan secara kontinyu oleh seseorang  adalah lebih disukai oleh Allah, sebagaimana sabda Nabi –shollallahu  alaihi wa sallam- :&lt;br /&gt;“Amal yang paling disukai Allah adalah yang kontinyu walaupun sedikit ….” (Muttafaqun alaihi)&lt;br /&gt;Jika seorang muslim kontinyu dalam beramal shalih sesungguhnya ia  akan hidup dalam kebaikan dan keistiqamahan, jika ia lemah dan tertimpa  rasa putus asa, maka amal-amal kebaikan yang ia lakukan secara kontinyu  ini akan menjadi tiang penyangga untuk istiqamah, mengembalikan jiwa  (yang putus asa), dan menguasai jiwanya. Maka sepatutnya bagi seorang  muslim untuk memperhatikan dalam mengerjakan amal-amal shalih beberapa  perkara ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Bersegera dan berlomba-lomba dalam beramal shalih, Allah berfirman :&lt;br /&gt;“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga …” (Ali Imran : 133)&lt;br /&gt;b. Dan terus beramal shalih serta menjaganya :&lt;br /&gt;“Senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku (Allah) dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya…” (HR Bukhari 6137)&lt;br /&gt;c. Lalu bersungguh-sungguh dalam beramal shalih dan memperbanyaknya  kemudian bervariasi dalam beramal shalih supaya tidak membosankan  jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Ibnu Mas’ud berkata :&lt;br /&gt;“Dahulu Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- tidak terus menerus dalam  memberi nasehat lantaran khawatir kejenuhan menimpa kami”. (Bukhari 68)&lt;br /&gt;Maka seorang muslim harus mengambil bagian untuk duduk dalam majelis  ilmu yang memberikannya nasehat, dan dibacakan kepadanya kitab-kitab  tentang hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ada juga cara lain untuk mengobati fenomena ketidak istiqamahan ini, diantaranya :&lt;br /&gt;Berdzikir kepada Allah, merenungkan kehinaan dunia, mengoreksi diri, beramal dan aktif berdakwah.&lt;br /&gt;Akhirnya segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Kita berlindung kepada Allah dari al-Haur ba’dal Kaur.&lt;br /&gt;Ya Allah (yang membolak-balikkan hati). Tetapkanlah hati-hati kami untuk  selalu ta’at kepada-Mu. Dan wafatkanlah kami dalam keadaan Husnul  Khotimah. (al-Asholah Edisi 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://majalahislami.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7007675374207478812-2792360987176673327?l=elilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/2792360987176673327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7007675374207478812/posts/default/2792360987176673327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elilmu.blogspot.com/2011/04/keistiqomahan-mulai-luntur.html' title='Dikala Keistiqomahan Mulai Luntur'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05670889681445008826</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7007675374207478812.post-4007221817199744593</id><published>2011-04-22T04:22:00.000-07:00</published><updated>2011-04-22T04:22:44.592-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manhaj'/><title type='text'>“Apa Perbedaan Antara Manhaj, Aqidah Dan Uslub Da’wah”</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;APA PERBEDAAN ANTARA MANHAJ, AQIDAH DAN USLUB DA’WAH&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Al-Halaby Al-Atsary&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Al-Halaby Al-Atsary dita : Aku ialah pemula dalam menuntut ilmu syar’i, dgn ini kuharap anda dpt menerangkan perbedaan antara manhaj dan aqidah, dan apakah ada beda antara uslub dakwah dan manhaj dakwah?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jawaban.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Manhaj dakwah ialah penyampaian materi ilmiyyah yg mrpk landasan dasar berpijak aqidah. Sangat Mustahil suatu aqidah yg benar diletakkan dalam suatu tempat yg batil kemudian aqidah ini tetap bersih, umpamakan kita meletakkan air yg bersih lagi jernih di dalam sebuah gelas yg bernajis dan kotor sekelilingnya, apakah air tadi tetap bersih dan jernih atau berubah menjadi kotor disebabkan najis dan kotoran yg melekat di gelas tadi ? Begitu jugalah hubungan antara manhaj dan aqidah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagaimana kita ketahui bahwa aqidah yg dibawa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan diterima oleh para sahabat melaui proses talaqqi tentulah melalui cara-cara tertentu yg disebut dgn manhaj (metode). Maka kedua hal ini tdk dpt dipisahkan satu sama lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika terkadang berpisah satu sama lain dalam realita atau situasi dan kondisi tertentu tetapi sebenar kedua akan tetap saling memepengaruhi satu sama lainnya. Ha ada dua kemungkinan :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama: Aqidah salaf yg merubah suatu manhaj menyimpang sehingga menjadi bermanhaj salafi, atau kemungkinan kedua : Malah sebalik manhaj menyimpang yg merubah aqidah salaf. Nauzubillah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yaitu berubah seseorang yg manhaj menyimpang dgn aqidah yg menyimpang menjadi selamat manhaj seperti aqidah yg selamat (dgn mengikuti aqidah yg benar) atau sebalik aqidah mengikuti manhaj yg keliru sehingga aqidah menjadi menyimpang pula. ini poin pertama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun poin kedua, yakni dalam bergaul dan menyikapi manusia dalam permasalahan ini ada beberapa sikap:&lt;
